
Jam 1 malam, Aidan masih terjaga. Dia sedang membuka laptopnya. Melihat salinan file rahasia milik ayahnya yang dia simpan mengenai proyek itu. Proyek yang membuat Rayden jarang pulang ke rumah. Ia melihat perkembangan mesin itu masih belum lengkap.
Aidan membuka banyak situs mengenai mesin waktu atau jurnalis yang membahas penjelajah waktu. Dari apa yang dia dapatkan, penjelajah waktu atau time travel memang bisa jadi ada. Tetapi mungkin ada resiko besar yang timbul dari tindakan gila itu.
"Aku selalu bertanya-tanya kenapa Papa membuat mesin ini, apa tujuan Papa? Apa dia sengaja hanya menciptakan atau sekedar ingin mengoleksi?" gumam Aidan berpikir keras.
Seketika ia mendapat satu alasan yang masuk akal yaitu,
"Apa Papa ingin ke masa terus mau menghalangi kelahiran ku?"
"Nggak! Kata Mama dulu, Papa sangat bahagia di hari kelahiran ku,"
"Maka dari itu, mungkin Papa mau ke masa depan untuk melihat bagaimana dia meninggal?" pikir Aidan.
"Cih, mesin ini tidak boleh beroperasi ke masa depan saja, aku harus segera mencuri mesin ini dan menambah operasi menuju ke masa lalu!" Aidan pun merancang semua yang dia dapatkan, memutar otak jeniusnya sambil tertawa terbahak-bahak lalu menyeringai.
"Yeah, akhirnya aku bisa mengubah takdirku," senyum Aidan tipis dan memandangi hasil rancangannya. Ia pun melihat hape kemudian mengirim pesan ke kontak Qila. Menyuruhnya pulang ke rumah dengan alasan dua bayinya sakit diare.
"Sekarang terserah kamu, mau pulang ke sini atau tidak, takdir kita akan secepatnya berubah. Aku tidak sabar apa yang akan terjadi setelah aku mengubah masa lalu, mungkin sekarang aku dan kamu gak akan dijerat pernikahan ini," ucap Aidan lalu memandangi foto Hana dan meneguk anggur merah di tangannya.
"Dan aku, mungkin akan menikah dengan Hana, hahaha." Aidan memang menyukai Hana, tapi dilihat dari sorot matanya yang menyiratkan obsesi yang besar. Cowok setengah mabuk itu lanjut mengecek isi file rahasia ayahnya.
Sementara di rumah Bram, Qila tiba-tiba terbangun. Ia beranjak duduk dan melihat jam sudah pukul 2 subuh. Qila keluar dari kamar, pergi membasahi tenggorokannya yang haus. Setelah buang air kecil juga, Qila kembali ke kamarnya.
Saat ingin tidur, Qila sejenak membuka hapenya. Seketika bola matanya melebar sempurna melihat isi teks pesan dari Aidan.
"Sa-sakit? Mereka demam?" Qila yang mengantuk tadi segera membasuh muka lalu memakai sweater tebal. Kemudian dengan panik, ia lari ke kamar Bram. Qila ingin meminta Bram mengantarnya pulang tetapi saat mau mengetuk pintu, Qila menarik tangannya.
"Nggak, aku gak bisa ngerepotin Om Bram terus." Qila pun keluar dari rumah. Ia melihat hanya ada mobil milik Bram.
"Duh, aku pakai apa ke sana?" gumam Qila dan melihat pesan Aidan.
"Apa aku telepon Aidan terus jemput aku di sini?"
"Ta-tapi, nanti Aidan salah paham kalau dia tahu aku tinggal di rumah orang, apalagi pemilik rumah seorang laki-laki," ucap Qila sedikit bingung.
"Gak, aku gak boleh lama-lama di sini, aku harus cepat sampai ke sana!" Qila pun berlari mencari tumpangan. Meskipun tumitnya masih terluka dan berjalan pincang, Qila lebih memikirkan kondisi dua buah hatinya.
"Pak! Pak!" panggil Qila berteriak ke kelompok pengojek yang masih nongkrong di parkiran. Mereka tampak terkejut didatangi oleh cewek seperti Qila. Rambut panjang berantakan, sweater putih yang besar dan juga wajah yang putih pucat.
"Pak! Boleh gak antar saya pulang?" Qila memohon.
"Emang adek ini dari mana? Kenapa panik dan buru-buru begitu?" tanya pak ojek.
"Maaf, Pak, saya dari rumah teman, tapi karena tidak ada kendaraan yang bisa dipakai, saya akhirnya ke sini cari tumpangan. Tolong ya Pak, antarin saya sekarang, saya harus pulang cepat, takutnya anak saya tambah sakit," jelas Qila jujur saja.
"Hei, cepat tuh, antarin dia, kasihan," suruh temannya.
"Baiklah, mari sini saya antar kamu pulang," setuju Pak ojek itu sambil memberi helm.
"Makasih, Pak!" Qila pun naik dan diantarkan menuju ke apartemennya. Tidak memakan waktu banyak, motor ojek itu sampai juga di depan gedung apartemen.
"Ini, Pak, ongkosnya, makasih udah antarin saya, permisi." Qila meninggalkan ojek setelah memberi uang. Terlihat Pak Ojek tercengang karena penumpangnya ternyata anak orang kaya. Tapi sejenak ia terdiam.
"Ehh, tadi dia bilang anak? Gadis muda itu sungguh punya anak?" Pak Ojek terheran-heran karena Qila tampak seumuran dengan anaknya tapi Qila sudah memiliki anak dan tidak seperti anaknya yang masih sibuk sekolah.
Pak Ojek pun pergi mencari penumpang baru. Sedangkan Qila telah sampai di apartemen Aidan.
BRAK!
Pintu terdengar dibuka. Qila yang sudah masuk segera menuju ke kamar Aidan.
"Aiko!" ucap Qila membuka pintu kamar lalu berjalan ke tempat tidur buah hatinya. Qila pun mengetes suhu tubuh Aiko dan Aila yang terlelap di sana, namun semuanya normal dan tidak ada tanda-tanda demam sedikitpun.
"Alhamdulillah, kalian baik-baik saja." Senyum Qila lega namun seketika tersentak kaget mendengar suara Aidan dari belakangnya.
"Hoh, ternyata kamu bisa pulang sendiri ke sini, Qila,"
"Dari mana saja kamu?"
Qila mundur dan sedikit takut pada Aidan yang maju mendekat. Senyum ayah dari anaknya itu sedikit aneh.
Qila pun menelan ludah sambil berpikir ingin membawa Aiko dan Aila ke tempat Bram daripada di sini bersama Aidan, yang ternyata suaminya itu sengaja membohonginya.
.
2 Bab dulu ya, tiga episodenya nanti di siang\sore, karena author udah ngantuk banget, dan gak kuat ngetiknya🙏jangan lupa like ya, terima kasih💓
.
.
Bonus Visual.
Maaf ya kalau kurang sesuai🙏😄
Qila : 16 tahun
Manis gulali seperti Ibunya
Aidan : 17 tahun
Muka bule kek bapaknya dan Aiko.
Bram : 27 tahun
Lahir di waktu yang sama dengan Aidan
a. Wajah asli Bram😘
Cool dan penyayang
b. Wajah palsu Bram😍
Kalem dan perhatian
Keyra Zaffaniya
Cantik dan Sok Dewasa
Sedikit cerewet, muka bule bapaknya.
Mau pakai gambar artis Korea, author bingung pilih yang mana soalnya gambarnya pada cantik dan ganteng semua😅hehe