
"Orang itu bukan cuma mengincar Qila, tapi mesin waktu buatan ayah lu. Dia licik dan sangat jahat, Aidan!"
"Apa? Incar mesin waktu juga? Lu serius?" Kaget Aidan.
"Ya, gue serius, Aidan. Dan sekarang gue heran, dari mana dia tahu ada mesin waktu yang dibuat oleh Om Rayden, padahal gue gak pernah membocorkan ini pada siapa pun, bahkan lu tau sendiri, Om Rayden gak se-ceroboh itu membiarkan informasi ini bocor ke orang lain,"
"Dan gue rasa, Dokter bernama Bram itu bukan seorang Dokter tetapi orang yang punya hubungan dengan Black."
Aidan diam dan mulai memikirkan setiap kata dari ucapan Evan. 'Black dan Bram, dua orang ini saling tahu menahu tentang Qila, dan memiliki misi yang berbeda, apa jangan-jangan dua orang ini adalah bawahan ayah dulu? Motif Black sepertinya ingin balas dendam, sedangkan Bram tampaknya ingin menggagalkannya. Sial, siapa mereka sesungguhnya?' pikir Aidan mulai sakit kepala memikirkannya. Cowok itupun terkejut melihat Evan pingsan, bersamaan Dokter datang.
"Aidan, lu mau kemana?" tanya Keyra menahannya.
"Gu-gue mau pergi ke tempat ayah," ucap Aidan mau membicarakan itu ke Rayden.
"Jangan dulu deh, lu pulang sekarang ke rumah, Mama kayaknya pengen bicara sama lu,"
"Okeh deh." Aidan terpaksa nurut dan secepatnya pulang ke rumah. Tiba di rumah, Arum berlari mendekatinya.
"Mama, ada apa? Kok panik gini?" tanya Aidan ikut cemas melihat Ibunya itu.
"Aidan, sekarang kamu harus bicara sama Kinan dan minta maaf pada Kinan," ucap Arum memberi teleponnya.
"Ta-tapi, Ma, aku belum berani bicara sama Tante Kinan," tolak Aidan.
"Aidan, pliss, Nak, bicara sekarang pada Kinan, kalau tidak, Kinan dan Wira akan bercerai. Besok Kinan akan pulang ke sini dan mengurus surat-suratnya. Mama gak tega lihat masalah ini tambah gede. Apalagi kalau Qila sudah ditemukan dan melihat orang tuanya cerai, Mama yakin, perasaan is-istrimu akan lebih hancur lagi."
Aidan mengangguk cepat. Dalam hatinya ia sedikit senang melihat Ibunya sangat mengkhawatirkan tetangganya dan tampak sudah sangat menerima Qila sebagai menantu di keluarganya.
"Baik, Ma." Aidan pun bicara kepada Kinan. Terlihat Aidan terus minta maaf dan menenangkan Ibu mertuanya itu. Membujuk Kinan untuk menahan keinginannya itu dan memberinya kesempatan untuk diberi kepercayaan.
"Non, mari turun makan malam," ajak Bik Inah masuk ke dalam kamar gadis itu yang sedang menyusui Aiko.
"Bik...." lirih Qila menunduk.
"Hmm, kenapa, Non? Kenapa menangis?"
"Gak tau, Bik. Tiba-tiba aja pengen nangis gini," ucap Qila mengusap air matanya. Lalu melihat Bik Inah.
"Bik, apa di bawah ada Om Bram?" tanya Qila.
"Maaf, Non. Tuan Bram tadi pergi keluar dan gak tau kemana perginya," ucap Bik Inah yang sempat berpapasan dengan Bram yang memakai serba hitam dan menenteng ransel kecil. Tetapi, Bik Inah tadi sedikit terkejut karena sempat melihat netra mata Bram yang berwarna biru bukan hitam.
"Tuh, kan, Bik, pasti Om Bram marah jadi pergi dari rumah, hiks," isak Qila.
"Non gak usah sedih atuh, Tuan Bram mungkin sedang keluar mengerjakan tugas," hibur Bik Inah.
"Ta-tapi setidaknya, Om Bram kasih tau Qila, jangan main pergi begitu aja," keluh Qila sambil mengusap kepala Aiko.
"Mungkin sebenarnya Tuan mau masuk ke sini, tapi karena mungkin Nona Qila lagi menyusui dede Aila, jadinya Tuan gak berani masuk," ucap Bik Inah melihat Aila main tengkurap di belakang Ibunya. Bayi perempuan yang begitu menggemaskan.
"Hmm, bisa jadi sih Bik," ucap Qila mulai tenang.
"Haha, kalau begitu, Nona Qila gak usah sedih lagi." Hibur Bik Inah mengelus lengan Qila. Qila mengangguk dan tersenyum. Meskipun begitu, Qila tetap sedih tidak melihat Bram pergi, pria yang saat ini sedang menaiki kereta menuju ke tempat mesin waktu itu berada. Bram yakin sepenuhnya kalau saat ini Black juga susah lama menunggunya muncul di hadapannya.
"Evan, gue gak nyangka, Black yang dulu itu sebenarnya dirimu sendiri."
"Jika seandainya mesin itu tidak bisa aku curi, setidaknya aku bisa menggunakannya lagi dan membawamu kembali ke masa depan. Entah apa lagi dampak yang akan kita terima nanti." Bram mengintip isi tasnya yang berisi kotak data penting yang sama waktu dia mengaktifkan mesin waktu di masa depan. Dalam setahun ini, ia akhirnya berhasil merancangnya kembali dan siap dipakai untuk kembali ke masa depan dan berharap tidak terlempar ke waktu yang salah atau berbeda lagi. Tetapi jika terjadi kesalahan lagi, Bram harap dirinya terlempar ke tahun sebelum istri dan anak sulungnya mengalami kecelakaan.