
"Hai, Nona Key! Beneran lo mau nunggu Aidan di sini? Dan juga emang gak masalah nih kalau kita masuk gitu aja?" Seorang gadis lumayan cantik dan tinggi bertanya pada Keyra sambil duduk santai di sofa, serta melihat Keyra berdiri dan mengamati isi apartemen saudara kembarnya yang lebih bersih dan rapih daripada sebelumnya.
"Lo santuy aja lah, gue udah sering kok ke sini tanpa harus minta izin sama Aidan. Lagian, gue yakin tuh bocah pasti nginap di sini dan ngumpetin kardus itu di sini."
Qila yang masih berdiri di tempatnya, ia sangat terkejut mendengar ucapan Keyra yang sudah mengetahui kejadian kemarin.
"Hmm, kira-kira dia kemana ya? Di sekolah gak ada, di sini juga gak ada. Apa jangan-jangan ada masalah lagi dengan Alpha?" gumam cewek itu yang membantu Keyra. Memiliki kemampuan IT Yang sebanding dengan IQ Evan. Walau beda kelas dengan Keyra, tapi cewek itu tetaplah primadona di kelasnya sendiri dan juga sering bersaing dengan Evan.
"Ck, gue berharap bocah yang satu itu mati aja daripada hidup nyusahin Aidan terus," decak Keyra lebih tidak suka Alpha daripada Raiqa.
"Astaga, dia cantik-cantik tapi punya sisi sadis seperti itu. Memang pantas jadi putri kesayangan Tuan Rayden yang sama-sama kejam." Cewek itu bergumam kecil, ia sedikit takut pada Keyra. Apalagi Qila yang juga mendengar itu perlahan menjauhi pintu. Rasa takutnya bertambah berkali lipat.
'Kak Keyra sangat membenci Alpha, lalu bagaimana denganku nanti? Apa dia juga akan membunuhku yang sudah melahirkan anak dari saudara kembarnya ini?' batin Qila bergegas menggendong Aiko dan Aila dengan hati-hati. Namun karena terburu-buru, Aila tiba-tiba bangun dan merengek.
"Oeekkkh!"
Deg!
Qila segera menutup mulut Aila dengan tangannya agar suaranya itu tidak terdengar keras. Tetapi Keyra masih sempat mendengar suara tangisnya.
"Lo kenapa?" tanya cewek tinggi itu melihat Keyra terkejut.
"Barusan gue denger sesuatu deh," ucap Keyra melihat ke arah pintu kamar Aidan lalu berjalan perlahan ke sana.
"Dengar apaan?" Cewek itu pun kemudian berjalan ke tempat Keyra berdiri.
"Kalau gak salah, kayak ada suara bayi, lo dengar gak tadi?" tanya Keyra sedikit ragu-ragu.
"Mungkin suaranya dari apartemen sebelah," ucap cewek itu menunjuk jendela yang terbuka yang sama seperti jendela di kamar Aidan yang juga terbuka.
Untuk memastikannya, Keyra pun jalan ke jendela kemudian melihat ke samping kanan dan kiri. Sontak dua matanya berhenti ke satu jendela milik kamar Aidan.
"Hei, Nona Keyra, lo mau ngapain?" tanya cewek itu menangkap ujung jaket Keyra yang mau menyebrangi ke jendela kamar Aidan.
"Gue mau ngecek isi kamarnya Aidan," ucap Keyra menunjuk.
"Kenapa gak lewat pintu aja sih?" Balas Cewek itu menunjuk dan melirik ke bawah yang curam karena apartemennya berada di lantai tujuh.
"Lo cek aja deh, pintunya ke kunci! Cuma Aidan yang bisa buka!" kata Keyra lalu melepaskan tangan rekannya itu. Tindakannya itupun membuat Qila yang berdiri di dekat jendela ingin sekali menutup jendelanya, namun jika ia lakukan itu, hanya dapat membuat Keyra tambah curiga dengan isi kamar Aidan.
'Duh, aku harus gimana nih?' pikir Qila bingung mau bersembunyi di mana. Ia ingin menghubungi Aidan tetapi Aila sedang menyusu padanya dan lagi, jika ia bergerak sedikitpun, bisa saja bayi perempuan itu merengek lebih kencang. Itulah mengapa Qila memberikan Aila pada Bram karena ia tidak mampu mengurus dua bayi. Situasinya sekarang lebih buruk daripada kondisinya waktu ia mengandung si kembar mungil dulu. Memang sulit untuk Qila mengurus Aila yang suka rewel tiap bayi itu terbangun.
"Hai, Nona Key!" panggil rekannya itu membuat Keyra menoleh dan tidak jadi menyebrang.
"Kenapa sih manggil gue?" desis Keyra sedikit kesal namun ekspresinya itupun berubah setelah mendengar penjelasan rekannya.
"Coba lo putar knopnya, kayaknya ini terkunci dari dalam deh,"
"Masa sih?" Keyra pun memegang knop itu dan benar saja pintu terasa dikunci dari dalam.
"Wah, gila. Ini udah gak bener!" decak Keyra memaksa pintu itu terbuka, membuat Qila pun tidak punya pilihan lain selain bersembunyi lagi di dalam kamar mandi. Membawa Aiko dan Aila sambil masih menyusui putri kecilnya, tidak seperti Aiko yang sangat terlelap dalam mimpinya.
"Gak bener? Maksudnya?" tanya rekannya tidak paham.
"Gue khawatir rumor itu benar adanya!" kata Keyra menjawab cepat.
"Rumor? Rumor apaan?" tanyanya lagi sambil garuk-garuk kepala.
Keyra mendecit lalu menatap rekannya itu dan mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan tentang hubungan terlarang antara Aidan, Evan dan Raiqa. Rumor yang dibuat oleh Alpha untuk menjatuhkan nama baik tiga cowok yang mendapat gelar kandidat suami idaman di masa depan.
"Cih, tapi ini buktinya! Gue yakin, pasti di dalam ada Aidan dan Evan! Gue gak bisa biarkan mereka melakukan hal bejad kayak gitu!" ujar Keyra marah kemudian menggedor pintu sekeras mungkin. Membuat Qila susah payah menenangkan Aila yang mau menangis.
"Woi, Aidan! Keluar lo! Keluar lo, Evan!"
"Keluar kalian kaMpret!" Panggilnya membentak habis-habisan dan memenuhi isi apartemen dengan suara teriakannya.
"Kalau kalian berdua gak keluar juga! Gue bakal laporin hal ini ke Papa!" ancam Keyra membuat Qila bergetar ketakutan. Ia yang berusaha menenangkan Aila dan Aiko, namun ia sendiri yang ingin menangis sekarang.
"Laporin soal apa?" tanya seseorang di belakang. Sontak saja Keyra dan rekannya itu berbalik badan melihat Aidan dan Evan baru memasuki apartemennya dengan tatapan sinis mematikan. Rekan Keyra pun sedikit mundur dan mendekati Keyra. Ia memang bersaing dengan Evan, tapi ia sebenarnya takut pada dua cowok itu. Takut dibuat babak belur seperti Alpha. Terlebih lagi, Evan itu cowok yang tidak pandang bulu. Mau itu cowok atau cewek, Evan tetap akan memberi pelajaran bagi mereka yang mencari masalah dengannya.
Dengan percaya diri, Keyra maju dan menunjuk lurus ke Aidan sambil melirik sinis Evan.
"Dari mana lo berdua? Kenapa gak hadir di sekolah hari ini?" tanya Keyra dengan tatapan curiga.
"Gak dari hotel, kan?" tebaknya langsung.
"Hotel? Apa maksud lo, Key?" tanya Evan berdiri di sebelah Aidan yang berusaha tetap tenang walau dalam hatinya sedang panik adanya Keyra di apartemennya.
"Anu, sepertinya gue udah gak dibutuhkan di sini, jadi gue ke sekolah duluan ya, Nona Key," ucap rekannya tidak mau terkena imbas dari perdebatan saudara kembar itu.
"Berhenti!" bentak Evan merentangkan satu tangannya dan menatap tajam cewek saingannya itu.
"Oh oke," ucapnya nurut dan menelan ludah sendiri.
"Cih, gak usah pura-pura bloon, jujur ajah deh," ucap Keyra duduk di sofa dengan santainya.
"Jujur apa sih?" tanya Aidan dan Evan bersamaan.
Melihat wajah kebingungan dua cowok itu membuat Keyra tambah sebal. Ia pun mengalihkan topik pembicaraan dengan melemparkan beberapa foto dari rekaman cctv rumahnya.
Bola mata Aidan membulat sempurna dan segera mengambil foto-foto itu kemudian mengamatinya dengan teliti. Ekspresinya yang terkejut itu membuat Keyra dan rekannya sedikit puas.
"Da-dari mana lo dapat foto ini, Key?" tanya Evan mengambil satu foto yang menunjukkan Aidan memeluk sebuah kardus di dadanya dan ada kepala bayi juga yang berhasil diperjelas.
"Tanya sendiri sama cowok di sebelah mu itu." Keyra menunjuk Aidan yang masih syok. Tatapan Evan pun pindah melihat sahabatnya itu. Ia pun berbisik-bisik dan bertanya apakah kardus ini memiliki hubungan dengan dua bayinya?
Aidan pun mengangguk kecil dan balas berbisik. "Benar, kardus ini milik Aiko, waktu itu gue dapat di depan rumah. Karen gue bingung, jadinya gue bawa ke sini deh, Van," bisik Aidan.
"Ehem, sorry, kayaknya kardus ini mirip deh sama yang ada di foto itu, Nona Key," sahut rekannya mengambil kotak di atas lemari es.
"Woy! Jangan sentuh itu!" teriak Aidan lantang dan marah.
"So-sorry," ucap rekan Keyra segera menjauh dari tempatnya. Tapi tidak untuk Keyra yang mengambil kardus itu dengan berani.
"KEYRA!" bentak Aidan tambah marah. Suaranya itu bahkan sampai ke telinga Qila dan juga ke luar apartemen.
"Wah, kayaknya ada sesuatu yang lo sembunyikan dari gue ya, Ai." Keyra melangkah maju. Berdiri dengan kokoh di depan Aidan yang merah padam. Aidan pun ingin merebut kardus itu namun Keyra melemparnya ke rekannya kemudian saling menatap tajam satu sama lain.
"Aidan, siapa dan di mana bayi yang lo bawa itu?!" tanya Keyra serius hingga ia tidak menyadari Evan yang diam-diam masuk ke dalam kamar sebab tidak mau telinganya sakit lagi mendengar pertengkaran kakak beradik itu.
"Loh, kemana Qila?" gumam Evan terkejut melihat kamarnya yang kosong. Ia pun mendekati kamar mandi dan memanggil Qila dengan suara yang kecil.
"Hai, Qila. Lo ada di dalam kan?"
Qila yang sibuk menyusui Aila segera bersandar di pintu sebelum Evan masuk melihatnya yang bertelangjang dada, sedangkan Aiko diletakkan di atas pahanya.