
"Papa dan Mama kemana ya, Bik? Akhir-akhir ini kok kadang keluar pagi-pagi?" Hana bertanya dan membuka akun sosmed. Seperti biasa masuk ke dalam grup chat gengnya.
"Nyonya dan Tuan ke tempat Nona Qila berada, Nona Hana," ucap pembantu tersenyum.
"Cih, Qila lagi, Qila lagi! Dasar tukang ngerepotin orang! Suruh aja sih dia pulang ke sini daripada dia tinggal di rumah temannya terus!" celetuk Hana yang belum tahu apa-apa, sama seperti pembantu juga.
"Oh ya, Bik! Kalau Kak Raiqa udah pulang, gak?"
"Tuan Raiqa dari kemarin belum pulang, Non." Jawab pembantu.
"Ishh, adik dan kakak sama aja! Sama-sama nyusahin!" gerutu Hana kesal karena semenjak Qila sakit kemarin itu, Raiqa belum pulang dan tidak pernah masuk sekolah. Oleh karena itu, Wira pergi mencarinya sekarang.
"Ya udah deh, Hana berangkat ke sekolah sendirian." Hana menenteng tasnya lalu keluar dari rumah. Kebetulan, Hana tidak sengaja melihat Arum yang berada di halaman rumah sambil menyiram tanaman.
"Pagi, Tante," sapa Hana.
"Ehh, pagi, Hana. Udah mau ke sekolah sekarang?" tanya Arum tersenyum ramah.
"Iyah nih, Tante." Hana mengangguk.
"Aduh, kalau saja Aidan ada di rumah, pasti udah Tante suruh antar kamu ke sekolah," kata Arum.
"Ehh, emang Bang Aidan kemana, Tante?" tanya Hana mendekat.
"Itu, dia tinggal di apartemen dan sampai sekarang dilarang pulang sama Papanya. Padahal Aidan itu cuma nakal sedikit doang tapi dikasih hukuman seberat ini. Papa Aidan itu memang orangnya bikin jengkel, Tante saja lima hari yang lalu ditinggal sendirian," celoteh Arum mengerucutkan bibirnya.
"Kemarin aja Tante mau pergi jenguk terus kasih uang bulanannya, tapi Papanya ngelarang juga. Sebel deh punya laki gak pengertian begitu," lanjutnya mengomel seperti biasanya.
Hana pun menyentuh dagu. 'Hmm, sepertinya Tante belum tahu kalau di apartemen Bang Aidan ada bayi, apa aku kasih tahu aja? Eh tapi, gimana kalau bayi itu udah gak ada?' batin Hana ragu-ragu karena belakangan ini ia belum pernah ke apartemen itu.
"Hmm, Hana? Lagi mikirin apa?" tanya Arum menjentikkan jarinya di depan wajah Hana.
"Eh, itu, Tante-" ucap Hana berniat ingin mengatakannya tapi tiba-tiba seseorang menepuk bahu Arum.
"Ma, masuk gih, itu si Papa cariin Mama, sekarang Keyra pergi sekolah dulu," ucap Keyra datang merusak suasana Ibunya yang asik mengobrol sama calon menantu pilihannya.
"Ehhh kalau begitu, Keyra perginya bareng Hana ya," mohon Arum tersenyum.
"Gak deh, Ma. Keyra ada teman yang mau dijemput, suruh aja dia pakai taksi," tolak Keyra dan mencium tangan Ibunya.
"Keyra! Kamu jangan gini dong, Hana itu calon ipar kamu tau, Mama dan Kinan itu pernah loh jodohkan Aidan sama Hana," bisik Arum.
Keyra tersenyum remeh dan melihat sinis Hana. "Calon menantu Mama bukan berwajah tembok." Lalu gadis itu berangkat membawa motornya.
"Ihh, Keyra!" Pekik Arum gemas.
"Maaf, Tante, gak usah dipaksa, Hana bisa kok pergi ke sekolah bareng teman. Kebetulan juga mereka udah ada di sana," ucap Hana menunjuk mobil gengnya yang datang.
"Aduh, yang diucapkan Keyra jangan disimpan ke hati ya, Hana,"
"Ya, Tante. Gak apa-apa kok. Kalau begitu, Hana pergi dulu. Mari, Tante." Hana buru-buru pergi karena di dekat pintu rumah Aidan sudah ada Rayden di sana. Tatapannya menyeramkan dan ucapan Keyra yang tadi sedikit aneh.
"Qila, kamu gak ke sekolah?" tanya Kinan yang berada di dapur, membuat nasi goreng untuk sarapan pasutri muda itu.
"Gak, Ma. Qila masuknya minggu depan aja," ucap Qila duduk di kursi meja makan karena di kamarnya ada Aidan yang sedang mandi sedangkan bayi mungilnya masih tidur pulas.
"Tapi ..."
"Udah, gak usah cemas, Mama senang banget dan gak ngerasa repot jagain mereka. Kamu masih muda, perlu banyak belajar lagi. Sekarang pergi pakai seragam, terus berangkatnya bareng Aidan." Bujuk Kinan sedikit memaksa.
"Baik, Ma. Tapi kalau Mama capek, tinggal telepon Qila ya,"
"Iyah, sana ... cepat pergi bersiap sebelum Aidan berangkat duluan ke sekolah."
"Baik, terima kasih, Ma." Qila berdiri dan memeluk Ibunya. Setelah itu, ia pergi ke kamar dan tidak sengaja berpapasan dengan Aidan di pintu, tetapi suaminya itu cuma diam dan melewatinya. Pergi ke dapur untuk sarapan duluan.
"Aidan, nanti pulang sekolah, kalian harus bareng ya," kata Kinan pada menantunya itu.
"Ya, Tante," ucap Aidan kemudian keluar dari apartemen.
"Mah, Qila pergi sekolah dulu, assalamualaikum," pamit Qila mencium tangan Ibunya yang tampak kecewa pada Aidan karena cara bicaranya yang dingin.
"Waalaikum salam, hati-hati di jalan ya, Qila."
"Yah, Mama. Dah." Qila menutup pintu apartemen lalu berlari cepat menyusul Aidan yang sudah sampai di parkiran. Tapi motor cowok itu sudah tidak ada.
"Huft, sudah aku duga, pasti akan ditinggal seperti ini," keluh Qila jalan menunduk dan memegang dadanya yang sakit. Benar-benar seperti istri yang dianggap tidak ada.
Namun beberapa langkah, tiba-tiba ada yang memasangkan helm di kepalanya. Qila terkejut, spontan ia mendongak dan melihatnya adalah ...
"Kak Aidan?" Qila dengan senang menyinggung senyum di bibirnya. Gara-gara menunduk, ia tidak menyadari didekati suaminya sendiri.
"Naik," suruh Aidan naik ke motor besar barunya.
"Ba-baik." Saat mau mengangkat kakinya, tiba-tiba kepalanya pusing membuat Qila ingin jatuh tapi Aidan menangkap bahunya.
"Apa kamu tidak bisa naik dengan benar?" tanya Aidan tajam.
"Ma-maaf," ucap Qila pun naik cepat.
"Jangan bengong dan jangan lupa pegangan," ucap Aidan dan menyalakan mesin motornya. Ia pun tersentak ketika dua tangan Qila memeluk pinggangnya karena gadis itu lagi-lagi merasa pusing akibat waktu tidurnya yang sedikit saja.
"Heh! Aku tidak menyuruhmu memelukku! Lepaskan!" bentak Aidan marah.
"Te-terus gimana mau pegangan?" tanya Qila dengan wajah yang lugu.
"Pegang itu! Tapi jangan ditarik!" ujar Aidan sinis.
"Baik, maaf yang tadi." Angguk Qila memegang sedikit jaket Aidan. Hanya itu saja masih berbahaya, tapi demi Aidan tidak marah lagi, Qila mencoba menurut saja. Walaupun harus dibentak, tapi dalam hatinya, Qila senang bisa berangkat bersama, meksipun nanti ia akan diturunkan di persimpangan dekat sekolah. Aidan tentu tidak mau Hana melihatnya datang bersama Qila. Sedangkan Bram merasa kini senang keinginan Qila yang terwujud, walau ia sendiri tidak hadir ke pernikahan itu.
.
Om Bram blike : Selamat ya Qila udah nikah sama ayahnya si kecil twins, sekarang kamu tinggal bikin Aidan bucin🤗tapi kalau Aidan emang gak bisa bucin, gak papa kok, kamu bisa selingkuh sama Om Bram nanti🥰
Author : Gitu amat genitnya😒minta disentil ini😂
Aidan juga, rada-rada tsundere ya🤭niatnya mau ninggalin, ehh tetap pergi bareng🌝jangan galak-galak amat ya pipih kecil🥺