
"Jadi bayi itu benar-benar titipan?" tanya Evan.
'Duh, Qila. Jangan sampai kau katakan yang aneh-aneh! Kalau kau lakukan itu, aku tidak akan pernah memaafkan mu!' desis Aidan.
"Be-benar, Kak. Tapi aku ti-tidak tahu siapa yang sudah menitipkannya pada Kak Aidan." Aidan pun menghela nafas mendengar jawaban Qila.
"Kira-kira, kau tahu kapan bayi itu sampai ke tangan Aidan?" tanya Evan lagi.
Qila meremas jemarinya dengan gelisah lalu menjawab lirih, "Ma-maaf, aku tidak tahu, Kak!" ucap Qila terbata-bata.
"Haiss, sepertinya aku sudah tahu kenapa kemarin gerak-geriknya aneh, ternyata dia menyimpan bayi kembar milik seseorang di sini!" gemas Evan yang sedikit gatal ingin menjitak kepala Aidan.
'Ba-bayi kembar?' Kaget Aidan lalu menengok ke belakang. Ia pun kembali ke Bram dan melihat dua bayi di pangkuan Bram.
"Kenapa kau memandangi mereka seperti itu?" tanya Bram mendongak.
Aidan menyentuh dagu dan menyipitkan kedua matanya. Menganalisa wajah dua bayi di depannya yang lumayan mirip.
"Hai, Dok! Menurutmu, apakah bayi ini kembar?" tanya Aidan pada Bram.
"Hm, memang bagaimana menurut anda?" tanya Bram balik.
Aidan pun menjawab cepat, "Lumayan sih, tapi di dunia ini terkadang kita memiliki kembaran yang tidak sedarah hahaha," tawa Aidan merasa dua bayi itu kembar tapi bukan sebuah masalah baginya. Namun seketika tawanya itu sirna saat Bram bicara.
"Tapi menurutku, dua anak ini kembar identik dan —"
"Dan apa, Dok?" tanya Aidan sedikit syok.
"Tu-tunggu, apa maksudmu ini?" ujar Aidan meraih kerah leher Bram lalu melotot dengan tatapan geram dan tak peduli rengekan Aiko dan Aila.
Bram pun dengan tenang dan santai menepis tangan Aidan lalu memberikan sebuah surat di atas meja.
"Bayi ini adalah saudara kembarnya," ucap Bram menunjuk Aiko lalu Aila.
"Sa-saudara kembar? Maksudnya, Ibu mereka juga sama gitu?" tanya Aidan memegang dadanya yang berdegub kencang.
"Benar, dua anak ini terlahir di waktu yang sama juga dan darah dagingmu, Tuan Aidan Zaffanio." Senyuman Bram kian menghilang dan berganti dengan ekspresi datarnya. Ia berdiri dan meletakkan Aiko dan Aila ke tangan Aidan lalu menunjuk surat di atas meja.
"Kau pasti marah pada perempuan yang telah melahirkan mereka, tapi sejujurnya, ia juga tidak pernah menyangka akan mengandung anak darimu, apalagi menerima peleceh*n darimu tahun lalu," tutur Bram lalu melihat Aidan. Ia pun sedikit mundur tatkala Aidan menunjukkan kemarahannya.
Cowok tampan itu menaruh dua bayi kembar itu di atas sofa lalu menerjang Bram dengan sebuah pukulan keras tepat di wajah kirinya.
"Berengsek! Katakan, siapa perempuan itu!!" desak Aidan mencengkram kerah leher Bram lagi. Emosinya berhasil dipancing pagi ini dan itu membuat Qila ketakutan. Ia yang baru saja masuk dan berdiri di dekat Evan langsung lemas melihat Aidan yang marah besar dan memancarkan kebencian luar biasa di matanya. Ini yang sangat Qila khawatirkan dari dulu jika jujur tentang kondisinya. Qila takut dibunuh.
"Katakan! Katakan! Siapa perempuan jal4ng itu!" geram Aidan mendesak dan meninggikan suaranya sampai-sampai Aiko dan Aila kompak menangis kencang.
"Perempuan jal4ng? Siapa yang lo maksudkan itu, Aidan? Dan kenapa lo marah-marah gini?" tanya Evan yang sempat terkejut melihat emosi sahabatnya itu meluap.
....
I feel sorry for you😥