Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
28. Lebih Dari Pacaran



Upacara tidak lama lagi segera dilaksanakan dan semua siswa tak terkecuali para guru telah memasuki lapangan. Di antara siswa kelas 12 yang sudah berbaris, tampak Raiqa yang ada di barisannya itu melihat siswi yang ada dalam daftar nama inisial AM. Tanpa kertasnya, Raiqa sudah menghapalkan nama mereka di dalam kepalanya dan hanya tinggal bertanya pada mereka usai upacara selesai atau pada jam istirahat nanti.


Alih-alih, Raiqa yang sibuk mengamati targetnya, ia pun baru menyadari jika Aidan dan Evan tidak hadir ke lapangan, alias posisi mereka sebagai petugas upacara kosong.


"Hai, Rai!" Raiqa menengok ke belakang ketika seseorang memanggilnya. Rupanya itu Keyra yang menekuk pundaknya.


Sesuai karakter Raiqa yang malas bicara itu, Keyra pun mulai bertanya langsung padanya. "Rai, Aidan dan Evan di mana? Hari ini dua bocah itu yang tugas, tapi kenapa dari tadi gak kelihatan? Lo tau gak kemana tuh dua orang?" tanya Keyra sambil menguyah permen karet.


"Gak!" jawab Raiqa ketus lalu menatap ke depan dan mengabaikan teman satu kelasnya itu yang cemberut.


"Ishh, dia kenapa sih? Kemarin-kemarin Raiqa gak gini amat. Siapa yang sudah buat dia marah?" gumam Keyra meringis kesal lalu tersentak ketika seseorang menepuk pundaknya juga. Keyra menoleh ke teman kelas ceweknya yang nampak mau bicara padanya.


"Ada apa?" tanya Keyra. Cewek itu pun mengatakan jika Aidan dan Evan sedang izin hari ini sehingga posisi mereka digantikan oleh Keyra dan Raiqa.


"What? Gue sama dia gantiin Aidan dan Evan? Lo serius?" tanya Keyra yang kurang minat mengambil posisi Aidan. Cewek itu menganggukkan kepala dan tersenyum. Terpaksa, Keyra dan Raiqa maju menggantikan posisi yang kosong. Itu membuat Hana yang berada di barisannya sedikit terkejut melihat kakaknya ada di posisi Aidan. Geng Hana yang satu barisan dengannya pun terheran-heran dan bertanya-tanya di mana Aidan dan Evan berada. Sedangkan Hana menundukkan sedikit kepalanya dan berpikir, 'Apa mungkin Bang Aidan bolos gara-gara aku tolak kemarin perasaannya itu?' batinnya merasa sedikit bersalah.


Tapi yang sebenarnya terjadi, Aidan dan Evan sedang melaju ke apartemennya untuk menemui Qila. Namun di tengah-tengah perjalanan, ada saja masalah yang datang menghampirinya. Siapa lagi kalau bukan anggota Alpha yang juga bolos demi mengejar Aidan atas perintah ketua mereka untuk balas dendam ke Aidan yang bulan lalu mempermalukan organisasi mereka sebagai kelompok paling sampah di kota. Hanya Alpha yang berani membuat masalah dengannya karena ketua Alpha merupakan anak dari lawan bisnis Rayden hingga Alpha tidak takut pada Aidan dan mengirim puluhan anggota mereka menghajar Aidan dan juga tangan kanannya itu, Evan yang ahli merusak dan meretas sistem mereka. Apalagi Aidan menang tanding melawannya hingga Alpha dirawat di rumah sakit saat ini.


Pukul sembilan pagi, waktu istirahat telah tiba. Jam pelajaran pertama berhasil dilalui dengan lancar oleh Raiqa dan Keyra tanpa adanya kehadiran Aidan dan Evan di kelas.


"Woi, Raiqa! Sebentar!" Tahan Keyra berdiri di depan Raiqa yang mau keluar dari kelas.


"Apa?" tanya Raiqa datar.


"Lo udah dapat pesan dari Aidan dan Evan, gak?" Bertanya sambil menunjukkan hapenya pada Raiqa.


"Gak," jawabnya datar lagi.


"Ta-tapi lo tau 'kan mereka ada di mana?"


"Gak!" Menjawab sinis kemudian berlalu pergi meninggalkan Keyra yang mendengkus sebal.


"Cih, tadi pagi mereka bersama, tapi kenapa sekarang terlihat bermusuhan? Apa yang sudah terjadi?" gumam Keyra melipat kedua tangan di depan dadanya sambil memandangi punggung Raiqa yang menjauh.


"Astaga! Aku lupa! Ada seseorang yang harus aku temui hari ini!" Keyra berlari ke arah lain sebelum orang yang ia cari untuk membantunya berubah pikiran. Sementara Raiqa berjalan sendirian di koridor sekolah untuk melakukan tugasnya, namun tidak sengaja ia berpapasan dengan Hana yang berjalan sendirian saja.


"Hai, Bang!" sapa Hana mendekat.


"Oh, kenapa?" tanya Raiqa sambil mencari siswi pertama yang ada di urutan paling atas di dalam daftar inisial AM.


"Tadi kenapa Bang Rai jadi petugas upacara? Kemana Bang Aidan sama Evan?" tanya Hana ingin tahu.


"Entah, gue gak tau kemana mereka pergi," ucap Raiqa mulai berjalan beriringan di samping Hana yang menunduk lesu.


"Itu, apa mungkin Bang Aidan bolos karena Hana ya?"


"Hah, kenapa tiba-tiba karena kamu?" tanya Raiqa mengangkat sebelah alisnya.


"Habisnya kemarin itu Hana tolak ajakannya, Bang,"


"Ajakan apa?" tanya Raiqa spontan memegang dua bahu Hana dan menatap adiknya dengan serius dan juga cemas.


"Itu loh, ajakan buat pacaran, tapi Hana langsung tolak,"


"Apa mungkin Bang Aidan sakit hati jadi gak niat masuk kelas gara-gara Hana ya?"


Hana semakin menunduk, merasa takut jika Raiqa juga marah sudah membuat sahabatnya itu kecewa. Tapi Raiqa lebih keras menekan bahu Hana dan kembali bertanya.


"Hana, abang mau tanya sesuatu, tapi kamu harus jawab jujur,"


"Jujur tentang apa, Bang?" tanya Hana.


"Apa Aidan pernah mengajakmu lebih dari ajakan pacaran?" tanya Raiqa memikirkan ucapan Evan.


"Hah? Lebih dari pacaran? Maksudnya apa sih? Ngajak Hana nikah, gitu?" tebak Hana kurang paham.


Raiqa pun melepaskan pegangannya dari bahu Hana lalu menghela nafas lega sudah mendengar ucapan Hana.


"Abang pikir kamu pernah diajak ke hotel bareng Aidan terus bikin dedek gitu," ucap Raiqa sedikit cengengesan.


"Dih, apaan sih! Bang Rai nyebelin banget! Mana mungkin Hana sepolos itu mau terima ajakan seperti itu, Hana bukan si bodoh Qila, Hmp!" Hana memalingkan wajah dan pergi dengan kesal.


'Huft, sepertinya apa yang dikatakan Evan itu tidak benar. Aku yakin, Hana bukan orangnya. Lagipula, setahun penuh ini, tidak ada hal aneh yang terjadi pada kondisi tubuh Hana. Perempuan itu pasti orang lain dan dia ada di salah satu daftar ini.' Raiqa membatin lega sambil melihat buku di tangannya. Ia pun pergi mengerjakan tugasnya supaya bisa bermain game sebelum posisinya sebagai pemain nomor satu paling atas yang hebat tidak direbut orang lain.


Di sisi lain, Aidan dan Evan baru saja selesai meladeni anggota Alpha. Mereka nampak terkapar di tanah dan pingsan tidak sadarkan diri setelah dihajar habis-habisan oleh Aidan dan Evan.


"Ck, Alpha memang gak ada kapok-kapoknya! Gue lagi susah gini masih ajah cari masalah! Maunya apa sih? Udah masuk rumah sakit berkali-kali, tapi gak sadar-sadar juga. Apa gue harus pindahin dia ke demensi lain biar kapok?" decak Aidan menyapu seragamnya yang kotor lalu melihat Evan yang memungut lencana mereka kemudian membuangnya ke tempat sampah.


"Ck, tiada hari tanpa perkelahian." Evan mendecak sebal lalu menatap Aidan yang melihat jam tangannya. Karena sudah tidak ada waktu banyak lagi untuknya, Aidan dan Evan pergi sambil membawa motor Alpha karena mobil Evan sudah babak belur dan perlu dikirim ke bengkel. Tapi yang lebih penting dulu, adalah ke apartemen Aidan dan berharap tidak ada lagi yang menghambatnya.


Qila yang masih di apartemen, gadis itu nampak duduk di lantai sambil membuka buku-buku pelajarannya. Belajar sebentar di depan Aiko dan Aila yang tampak terlelap. Terlihat wajah Qila berseri-seri karena kehadiran dua bayinnya yang menemaninya. Di tengah konsentrasinya menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba ada langkah seseorang mendekati pintu kamarnya. Langkah itu semakin mendekat.


"Apa itu Kak Aidan yang datang?" Qila berdiri dan mengintip lubang kaca kecil di pintu. Seketika detak jantungnya berpacu kencang melihat sosok di luar sana yang berdiri adalah saudara kembar Aidan.


"Ka-kak Keyra? Ke-kenapa di-dia ada di sini?"