
"Gimana? Bang Aidan bisa gak?" tanya Hana yang kembali menghubungi Aidan.
Aidan tampak ragu menjawab keinginan Hana karena Aiko di pangkuannya sedang bawel lagi.
"Duh, kamu ini mirip juga kayak Ibumu, kerjaannya cuma bisa ganggu orang!" Kesal Aidan mencubit paha Aiko. Bayi yang belum genap empat bulan itu spontan mengerang kesakitan.
"Bang! Bang Aidan!" panggil Hana yang terkejut mendengar tangisan bayi itu kesakitan. Aidan tersadar dan ikut terkejut melihat bekas cubitannya meninggalkan tanda merah.
'Owekhhh, owekhhh,' tangis Aiko makin keras.
"Bang Aidan, ngapain di situ? Kenapa ada bayi? Bang Aidan masih jagain anak orang ya?" tanya Hana. Tapi Aidan tidak menjawab pertanyaannya dan malah menyuruh Hana bersiap saja.
"Oh itu, kamu siap-siap aja ke sana, nanti aku datang mengajarimu dan bawakan buku yang kamu minta, tidak usah datang ke sini, dah."
"Ta-tapi-" Hana belum selesai tapi panggilan itu sudah diputuskan Aidan yang tampak cowok itu masuk ke dalam kamar dan mencari botol susu bayinya.
"Cih, Qila taruh di mana sih botolnya?" desis Aidan mencari ke laci meja dan membiarkan Aiko menangis di dekat Aila yang akhirnya terbangun dan ikutan merengek.
"Arghhh, kalian berdua bisa diam gak sih?!" bentak Aidan membuat dua bayi mungil itu terguncang hebat. Terutama dada Aiko membusung naik dan Aila yang matanya melotot.
"Cih, gini dong, kalau gini kan enak," acuh Aidan tidak sadar atas tindakannya yang keterlaluan itu bisa memperburuk keadaannya sendiri. Benar saja, Aiko dan Aila lanjut menangis, lebih kencang dari tangisan sebelumnya.
"Arghhh, kenapa menangis terus sih?" Aidan yang panik bercampur kesal, ia pun mengeluarkan hapenya dan mencoba menghubungi Qila tetapi hape istrinya itu terdengar berada di bawah bantal.
"AKHHHHHHH! DASAR BODOH! APA DIA SENGAJA?!"
Aidan menjambak rambutnya dan berhenti ketika mendapat pesan dari Hana jika gadis itu mau datang ke apartemennya.
"Ah sial, gimana nih?" Aidan lebih panik akan hal itu daripada mencemaskan tangis dua bayinya. Ia pun membawa Aiko dan Aila keluar lalu menyalakan televisi. Menggendong dua bayi itu dan ikut menyanyikan sebuah lagu yang disiarkan di dalam sebuah acara tv. Tetapi itu tidak mempan karena bayi itu menangis akibat ketakutannya.
"Ahh, kalian bisa diam gak sih!" bentak Aidan lagi.
"Kak Aidan, apa yang terjadi?!" tanya Qila yang sudah kembali dan cepat-cepat menghampirinya. Aidan pun menyerahkan Aiko dan Aila.
"Dasar istri lambat, dari mana saja kamu?" tanya Aidan tak lupa mengatainya dengan kata-kata sinisnya itu.
"Kamu pasti sengaja kan lama-lama di luar supaya aku kerepotan di sini, iya kan?" Tunjuk Aidan ke kening Qila.
"Maaf, tadi aku lapar jadi makan sebentar di luar," ucap Qila menunduk.
"Sebentar, Kak Aidan mau kemana?" Tahan Qila.
"Kamu ini memang buta ya? Lihat, aku sedang mau keluar, minggir sana! Jangan halangi pintu." Mendorong Qila lagi. Padahal gadis itu sedang menggendong dua bayi, tetapi Aidan dengan sombong, berjalan acuh tak acuh
"Tunggu, Kak, apa tidak bisa pergi nanti saja?" Tahan Qila.
"Mau kamu apa sih?" tanya Aidan dengan tatapan jengkel.
"Itu, Kak, aku tidak bisa jaga mereka sendirian, apalagi dua-duanya lagi nangis dan juga aku mau kerjakan tugas," ucap Qila sedikit takut melihat raut wajah Aidan yang merah padam.
"Qila!" Benar saja, ia langsung dibentak membuat dua bayi di tangan Qila meringkuk ketakutan di dada Ibunya.
"Kalau kamu gak bisa jagain, harusnya kamu gak USAH NGELAHIRIN MEREKA! Buang-buang waktu berhargaku saja," ujar Aidan marah dan tidak peduli bagaimana sakitnya dari perkataannya itu.
'BAM'
Qila menunduk mendengar pintu dibanting. Padahal Bram sudah bilang jangan memikirkan dan jangan mendengarkan setiap ucapan Aidan, tetapi air matanya tetap keluar sendiri.
Bukan hanya bersikap dingin, kini Aidan juga berhati kejam. Demi Hana, ayah kecil itu bersedia keluar daripada pergi membelikan popok baru untuk anaknya.
"Maaf, Aiko, Aila, Mama sepertinya tidak punya peluang dapat cinta dari Papa kalian. Tapi gak apa-apa kok, kehadiran Aiko dan Aila udah cukup buat Mama bahagia," ucap Qila tersenyum kepada dua bayinya.
"Yuk, sini biar Mama ganti popok kalian dulu." Qila berbalik badan namun berhenti ketika menyadari sesuatu.
"Astaghfirullah, aku lupa ambil popok kalian di mobil Om Bram!" Qila menepuk dahinya membuat bayi kembarnya tertawa.
"Duh, kalian di sini dulu ya, Mama mau turun dulu. Semoga saja Om Bram masih ada di tempat parkiran." Qila meletakkan Aiko dan Aila di depan televisi. Lalu berdiri membuka pintu apartemen. Sontak saja gadis itu terkejut setelah melihat orang di depannya adalah Bram.
.
Maaf ya kemarin gak update, author agak fluš¤§jadi kurang semangat ngetiknya. Tapi terima kasih kalian selalu menemani authorš¤cerita ini mungkin akan tamat di akhir bulan ini. Maaf bila ada sedikit kata salah atau agak membingungkan tentang Om Genit wkwk. Untuk ingin tau, silahkan baca gendrenya atau sinopsisnya yašterima kasih....
Sekali lagi author bukan asli pengarangnya, ini ditulis sama orang yang beda jadi author tinggal ngetik apa yang dikatakan sang pengarang~
Dan mungkin ada flashback nanti tentang cinta satu malam Aidan dan Qila. Ikuti terus ya...