
"Qila, kamu kenapa?"
"Hei, tolong katakan apa yang membuatmu menangis seperti itu?" Evan bertanya sambil mengetuk pintu di depannya. Ia merasa tidak enak mendengar suara tangis Qila yang terdengar sungguhan. Namun beberapa saat kemudian, pintu di depannya pun terbuka lebar.
Qila keluar dengan wajah yang murung.
"Hei, kamu kenapa, Qila?" tanya Evan lagi.
"I-ini, Kak!" ucap Qila menyodorkan sebuah kartu nama dan tampak tidak mau menjawab pertanyaan Evan.
"Apa ini, Qila?" tanya Evan mengambilnya.
"Itu kontak milik Dokter yang Kak Evan minta tadi," jawab Qila kemudian melirik si kembar yang ada di atas tempat tidur.
Evan pun sedikit lega menerima kontak itu. Kini yang perlu ia lakukan adalah mengetahui di mana Dokter itu berada. Evan ingin bertanya pada Bram, tetapi sebelum itu, Evan masih penasaran apa yang membuat cewek di depannya menangis. Namun sebelum ia lontarkan pertanyaannya itu, Qila tiba-tiba mengambil tasnya di atas lemari.
"Kamu mau kemana, Qila?" tanya Evan menangkap lengannya.
"Ma-maaf, hari ini aku mau pulang dulu," ucap Qila lirih kemudian mendongak, menatap sayu pada Evan yang tampan.
"Kak Evan, apakah Kak Evan bisa jaga sebentar mereka?" Qila menunjuk Aila dan Aiko.
"Tentu bisa, tapi bagaimana jika kamu tunggu Aidan dulu? Biar aku yang nanti mengantarmu pulang," ucap Evan ingin menahan Qila.
"Tidak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri, maaf." Qila menolak dan melepaskan tangan Evan yang menahannya.
Evan pun menghembuskan nafasnya kemudian menemani Qila sampai ke pintu apartemen Aidan.
Sebelum gadis itu pulang, Qila tiba-tiba tersenyum pada Evan. Terlihat manis sekali dan anggun, namun Evan menyadari senyuman itu terasa dipaksakan dan itu membuatnya kasihan dan merasa kalau Qila seperti memiliki beban pikiran yang sangat berat.
'Apa mungkin dia menangis karena teringat seseorang?' pikir Evan.
"Ya udah, Qila pulang dulu, Kak," ucap Qila kemudian berbalik badan, ia ingin cepat-cepat pulang sebelum Aidan datang. Qila takut berhadapan dengan Aidan dan Keyra, takut menerima kemarahan dua saudara kembar itu. Qila berpikir, identitasnya sudah tidak aman lagi. Namun, baru saja ia melangkah, tiba-tiba Evan menyebut namanya, membuat seluruh tubuhnya spontan bergetar hebat. Hanya nama saja, tetapi membuatnya sangat terkejut.
"Aqila Mahira,"
"Itu nama lengkap mu, kan?" tanya Evan kini berdiri di depan Qila yang terdiam.
"Qila, kenapa diam saja?" tanya Evan lagi dengan tatapan biasa. Qila pun mengangguk dan tersenyum tulus.
"Ternyata Kak Evan tahu nama lengkap ku," ucap Qila berusaha tenang meski dalam hatinya ia sedang disuluti kekhawatiran.
"Oh, kamu tersenyum? Apa kamu senang aku mengetahui nama mu itu?" tanya Evan sedikit malu-malu.
Sekali lagi Qila mengangguk, "Ya. Aku senang ada orang yang masih memperhatikan ku. Padahal, jarang sekali nama lengkap ku disebut oleh orang lain. Aku sedikit terharu, Kak." Kata Qila merasa lebih baik, tapi tidak bagi Evan yang sedih melihatnya seperti gadis yang merasa diasingkan.
'Apa di LN, dia tidak punya teman satupun?' pikir Evan sambil memandangi Qila. 'Aku tidak tahu apa yang ku pikirkan ini, tapi Qila seharusnya masuk ke daftar gadis yang berinisial AM, namun kenapa Aidan melewatkannya?'
'Tapi kalau dipikir-pikir, gadis ini tahun lalu berada di luar negeri dan lagipula si Aidan dan Qila tidak begitu akrab, ta-tapi kenapa sekarang keduanya begitu dekat?'
Evan menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh kecurigaannya pada Qila. Gadis lugu yang tidak berdosa itu dan juga gadis yang disukainya itu tidak punya hubungan apapun dengan masalah Aidan.
"Kak Evan? Kenapa geleng-geleng begitu?" tanya Qila belum meninggalkan tempatnya.
"Ah, tidak ada apa-apa kok," ucap Evan tersadar dan tersenyum bodoh.
"Pfft, baiklah. Qila pulang dulu." Qila sedikit tertawa kemudian berjalan pergi dengan langkah yang sedikit dipercepat.
"Hufftt, sekarang aku harus mencari keberadaan Dokter itu." Evan menghela nafas ringan kemudian menutupi pintu apartemen. Selanjutnya, ia mulai mengotak-atik laptopnya di dekat Aiko dan Aila.
"Okeh, anak-anak, mohon jangan rewel saat kakak yang tampan ini bekerja!" ucap Evan pada dua bayi yang terlelap di sebelahnya. Evan dengan kejeniusannya itu, mulai beraksi. Memasukkan segala macam kode rahasia untuk menemukan Bram dan ternyata, Evan menemukan hasil yang tidak terduga, namun begitu sangat memuaskan rasa penasarannya.
"Hai, Evan, di mana Qila?" sahut seseorang datang mendekatinya.
"Hah? Aidan? Lo dari mana saja?" tanya Evan sedikit kaget gara-gara tidak memperhatikan sekitarnya.
"Gue barusan selesai bicara sama Keyra," jawab Aidan duduk di sisi tempat tidur sambil memandangi Aila dan Aiko.
"Apa yang kalian bedua bicarakan?" tanya Evan sambil menyimpan data-data Bram yang diperolehnya.
"Apa lo udah ngomongin masalah ini ke dia?" tebak Evan.
"Hmm, gak. Gue gak berani, Van. Gue takut si Keyra ngadu ke pria tua itu. Kalau itu terjadi, gue pasti udah gak hidup sekarang," ucap Aidan membuat Evan bergidik ngeri membayangkan punya ayah yang killer seperti Rayden.
"Terus, alasan apa yang lo kasih ke Keyra?" tanya Evan ingin tahu.
"Ya ... gue ... kasih tahu aja kalau kita bertiga buka jasa penitipan anak," ucap Aidan cengengesan.
"Astaga, alasan yang gak masuk akal." Timpal Evan karena tahu ketiganya yang masih sekolah tidak mungkin bekerja seperti itu. Mengurus bayi bukanlah hal yang mudah di kerjakan.
"Walau gak masuk akal, tapi gue katakan ini karena terpaksa. Lagipula, gue juga gak mau si Keyra salah paham terus," ucap Aidan cemberut mendengar setiap ucapan Keyra padanya.
"Salah paham? Apanya yang salah paham?" tanya Evan. Aidan pun menjelaskan jika Keyra mengira mereka bertiga menjalin hubungan spesial.
"Hueekkkk, pikiran adek lo liar banget. Sumpah, gak lucu, Ai." Evan merasa mual, sedangkan Aidan tertawa melihat reaksi Evan. "Hahaha, makanya lo cari cewek biar si Keyra gak mikir yang aneh-aneh," tawa Aidan lalu melihat Aiko dan Aila menggeliat. Ia segera mengatup mulutnya sebelum dua bayi itu terbangun.
"Oh ya, Qila kemana, Van?" tanya Aidan kembali.
"Udah pulang tadi," ucap Evan kini menatap layar laptopnya lagi.
"Gimana? Lo udah dapat nomor kontak Dokter itu, gak?" tanya Aidan mendekati Evan dan ikut melihat apa yang didapatkan sahabatnya itu.
"Udah nih, gue udah dapat alamat rumah, identitas aslinya dan juga beberapa titik tempat yang pernah ia datangkan. Namun ada satu yang bakal membuat lo terkejut." Evan menunjuk data yang sudah ia kumpulkan jadi satu.
"Apa itu?" tanya Aidan sedikit kagum.
"Lihat ini!" Sontak kedua mata Aidan terbuka lebar-lebar melihat riwayat sebuah percakapan antara Dokter itu dengan seseorang. Percakapan yang menunjukkan orang itu sedang mengeluh tentang kehamilannya. Dari tanggal dan waktu yang tertera, percakapan itu terjadi di tahun lalu sebelum Aiko dan Aila dilahirkan.