
"Aidan!" panggil Keyra berlari ngos-ngosan di sebelah Alena.
"Kalian berdua? Kenapa ada di sini? Kenapa tidak masuk saja mengambil dua bayi itu? Dan lagi dimana Evan? Kenapa tidak bersama kalian juga?" tanya Aidan di depan gerbang.
"Kita udah kontak Evan, cuman nomornya gak aktif. Mungkin dia udah pulang ke rumah," jawab Keyra.
"Ya udah, kalau begitu biar gue aja yang masuk ambil sendiri," ucap Aidan dan sedikit lega karena Keyra tampak belum melihat wajah si kembar. Tapi sekarang ia resah karena ayahnya sudah melihat wajah Aiko dan Aila.
"Tunggu, Key!"
"Hmm, kamu kenapa, Len?" tanya Keyra.
"Itu, gue pulang duluan ya, nyokap udah cariin gue nih," ucapnya tidak mau masuk.
"Ya udah, kalian berdua pulang saja," suruh Aidan.
"Ehh, gak! Gue juga mau masuk! Nih, Len, lu pulang bawa motor gue aja, ntar gue pulang naik taksi," ucap Keyra memberi kunci motornya.
"Okeh, kalau begitu, gue pulang, dah." Lambai Alena cepat-cepat pergi.
Terpaksa, Aidan membiarkan Keyra ikut masuk bersamanya. Sontak saja, keduanya disambut langsung oleh sekretaris yang memang sudah menunggu kedatangan dua anak atasannya itu yang tertangkap kamera pengawasan mereka.
"Tuan muda Aidan, tolong ikuti saya, ayah tuan muda sejak tadi sudah menunggu anda," ucap sekretaris itu.
"Kalau saya gimana, Om? Apa Papa mau bertemu dengan Keyra juga?" tanya Keyra di samping Aidan.
"Nona Keyra, sepertinya lebih baik pulang ke rumah," kata sekretaris itu menegaskan senyumannya.
"Ahh, gak mau! Keyra mau pulang kalau sudah melihat bayi yang kalian bawa itu!" ujar Keyra terus terang membuat Aidan menepuk wajahnya. Adiknya itu langsung berani blak-blakan kalau sudah berada di sampingnya.
Sekretaris pun tersenyum sangat manis. Sudah paham tingkah Keyra yang keras kepala.
"Ternyata kalian sudah tahu kami mengambil sesuatu dari kalian, tapi baiklah, kalau begitu Nona pergilah dengannya, dia akan membawa anda melihat dua bayi itu," ucap sekretaris menunjuk satu gangsternya.
"Sebentar! Keyra sebaiknya pulang saja deh," ucap Aidan masih ragu memperlihatkan bayi itu pada saudaranya yang kini cemberut tidak karuan.
"Tuan muda, anda tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja. Sekarang ikutlah dengan saya menemui Tuan Rayden," pinta sekretaris itu sedikit memaksa.
Dengan perasaan cemas, Aidan pun menurut saja. Mengikuti sekretaris sambil menyiapkan kata-kata untuk ayahnya. "Sepertinya Papa sudah tahu masalahku, sekarang apa yang akan terjadi padaku? Apa aku akan dibuang selamanya?" gumam Aidan deg-degan.
"Cih, selalu begitu. Dasar ayah tidak konsisten. Katanya sudah tidak mau peduli pada Aidan, tapi masih mau bicara padanya malam ini. Kira-kira, Mama kemana ya? Apa Mama udah sampai di rumah?" gumam Keyra sambil jalan ke tempat si kembar berada.
Kini di depan, Aidan akhirnya berhadapan kembali dengan ayahnya. Tanpa senyuman, pria itu memandangnya dengan tatapan amarah yang suram. Berkali-kali Aidan mencoba tenang, tapi aura ayahnya sangat kuat. Tapi yang sekarang lebih penting, Rayden ingin mendengar Aidan mengatakan secara langsung padanya tentang siapa bayi itu dan sekalian menyuruhnya menikahi Qila besok. Pernikahan yang diatur oleh Wira, yang sekarang pria itu mengurus seorang penghulu untuk menikahkan mereka.
"Kemari dan duduklah di situ." Pinta Rayden menunjuk kursi di depannya. Aidan pun duduk dan seketika terkejut ditodong pistol tepat di depan matanya oleh ayahnya sendiri.
"Aidan, jelaskan pada Papa kenapa ada bayi di apartemen mu?" tanya Rayden menurunkan pistolnya dan duduk dengan cool di depan Aidan.
Sekretaris cuma bisa menepuk wajah melihat cara ayah dan anak itu berhadapan malam ini. Aidan pun perlahan menjelaskan masalahnya yang sesungguhnya.
"Maaf, bukannya aku tidak berani, hanya saja aku masih ragu apakah bayi itu adalah darah daging ku atau bukan, tapi setelah melakukan tes DNA, bayi itu benar-benar anakku," ucap Aidan memberikan hasil DNA di dalam sakunya.
"Tapi jujur, Aidan tidak pernah memperkosa perempuan. Bahkan aku tidak pernah punya niat menghacurkan nama baik keluarga," lirih Aidan menunduk dan diam. Sudah tidak tahu mau mengatakan apa lagi dan tidak berani melihat wajah Rayden. Ia kini hanya menunggu hukuman apa yang patut dijatuhkan untuknya. Tapi yang didengar Aidan, malah hembusan nafas ayahnya yang panjang dan juga kata - kata yang tidak pernah Aidan duga.
"Huft, maaf, ini sepenuhnya salah Papa tidak begitu memperhatikan kalian," ucap Rayden.
"Tapi Papa lumayan bangga padamu karena yang kamu lakukan selama ini sudah cukup baik. Kamu memilih menjaga bayi itu daripada berpikir untuk membuangnya," lanjut Rayden melihat Aidan yang tertegun.
"Jadi, apa yang akan Pa-papa lakukan selanjutnya?" tanya Aidan memandangi ekspresi ayahnya yang tidak kecewa tapi malah menyeringai padanya.
"Tentu saja dua cucu ku itu harus dibawa pulang," ucap Rayden sambil melihat pergerakan Keyra melalui laptop di depannya. Terlihat gadis itu syok hebat di ruangan si kembar.
"Hmm, bukan cuma itu saja, kamu juga boleh kembali ke rumah dan Papa sudah mengembalikan semua aset-asetmu yang dulu disita," ucap Rayden bersandar di kursi dan melihat Aidan yang bengong mendengar semudah itu dirinya menerima kenyataan ini.
"Tapi, ada syaratnya," ucap Rayden menopang dagu. Akhirnya Aidan menghadapi kesulitannya.
"Syarat? Apa itu?" Tanya Aidan mulai was-was.
"Papa mau kamu menikahi Ibunya," ucap Rayden. Aidan menghela nafas kecil lalu berdiri.
"Maaf, itu tidak akan terjadi."
Ekspresi Rayden seketika berubah kecewa. "Kenapa? Apakah kamu tidak mau bertanggung jawab, begitu?" Rayden ikut berdiri.
"Aidan, walau ini kecelakaan, tetap saja ini masuk tindak kriminal! Kamu bisa dipenjara dengan tuduhan Pelecehan! Apalagi umurmu sudah mau masuk 18 tahun. Polisi bisa memproses ini ke pengadilan hukum dan nama keluarga kita akan hancur!" kata Rayden dengan nada tinggi.
Aidan berbalik badan dan menggenggam tangannya. Agak kesal karena Papanya juga terkenal arogan dan kejam, bahkan sering berurusan sama pihak hukum. Tapi karena Rayden cerdik dan ditakuti, ia bisa terbebas dari segala tuduhan.
"Dengar, aku tidak bermaksud ingin menghindari masalah ini, tapi perempuan itu sudah mati! Aku selama seminggu ini mencarinya, tapi keberadaannya tidak bisa aku temukan, jadi untuk menikahinya itu tidak akan terjadi," ucap Aidan balas marah tapi seketika diam mendengar Rayden bicara.
"Lalu, bagaimana jika perempuan itu masih hidup?"
Aidan maju dan menatap ayahnya. "Aku akan memberinya ganti rugi bukan tanggung jawab. Pernikahan bukan cara yang tepat menyelesaikan ini!"
Plak!
Sekretaris meringis melihat Aidan terkena tamparan. Terlihat Rayden benar-benar kesal malam ini. Ia pun segera mendekati Rayden sebelum atasannya itu mengeluarkan pistolnya lagi.
"Cih, jelaskan dia siapa perempuan itu," decak Rayden duduk dan berpaling muka. Aidan cemberut dan mengelus pipinya yang merah. Untung cuma tamparan bukan pukulan maut.
"Tuan Aidan, sebaiknya Tuan pikirkan dulu keputusan ini sebelum menolaknya," ucap sekretaris pada Aidan yang juga berpaling muka.
"Ck, sudah jelas, perempuan itu sudah mati! Lagipula aku juga tidak mencintainya!" kata Aidan dan kemudian...
Srekk
Rayden yang gemas pun melemparkan sesuatu di atas meja. Membuat putra sulungnya diam membeku melihat ada banyak foto seorang gadis yang sangat dia kenal. Foto gadis yang sedang bunting, lalu foto gadis bersama Aiko dan Aila yang baru dilahirkan.
"Ini apa? Kenapa gadis ini mirip Hana?" tanya Aidan dengan seluruh tubuhnya yang bergetar hebat.
"Tuan muda, ini bukan Nona Hana, tetapi Nona Qila yang telah melahirkan dua bayi anda."
Suara gemuruh di luar sana menggelegar bersamaan Aidan yang terjatuh ke belakang. Ia syok, sangat syok sampai seluruh tubuhnya mati rasa. Sedangkan Rayden, sudah tahu bagaimana reaksi putranya.
"Nggak mungkin, nggak mungkin dia orangnya!" ujar Aidan tidak percaya dan merem4s rambutnya kuat-kuat. Jantungnya pun terus berdegup kencang dan dada yang terasa sesak.
"Tapi inilah kenyataannya, Tuan muda. Nona Qila adalah Ibu biologis bayi anda." Ucap sekretaris itu.
"Pa-pantas saja dia begitu bersedia membantuku, ternyata dialah Ibunya." Aidan pun jatuh pingsan. Begitupula Keyra juga pingsan setelah mendengar cerita dari Dokter tentang siapa orang tua si kembar yang berada di dalam box bayi itu.
Rayden membuang nafas panjang melihat dua anaknya pingsan malam ini di markasnya.
"Tuan Rayden, sekarang apa yang akan anda lakukan selanjutnya?" tanya sekretaris itu memapah Aidan.
"Tentu menikah kan mereka berdua besok." Kata Rayden sambil memandangi foto Qila. Gadis mengesankan yang bisa mengurus cucunya itu sendirian di luar negeri.
"Dia lebih hebat dari perkiraan ku." Rayden awalnya melihat Qila itu lemah, tapi setelah masalah ini, ia sadar Qila itu lumayan hebat. Gadis biasanya, sering melakukan aborsi, tapi calon menantunya itu lebih memilih melahirkan cucunya.
.
Senang ya Ray udah jadi kakek-kakek hhe