
"Bayi siapa?" tanya seseorang di belakang Aidan yang memotong ucapan Bram.
Sontak saja suaranya mengagetkan Aidan, Qila dan Bram. Tetapi Bram dengan cepat menstabilkan keseimbangannya, sedangkan Qila dan Aidan masih terperangah melihat Evan datang seorang diri ke apartemennya.
"E-evan? Ngapain lo ada di sini?" tanya Aidan sedikit menghalangi pandangan cowok itu dari Qila dan Aiko.
"Sebagai sahabat, gue cemas sama lo, apalagi kemarin lo di usir dari—" putus Evan dibungkam mulutnya oleh Aidan yang tidak mau Qila tahu kalau dirinya diusir dari keluarganya.
'Diusir? Maksudnya?' batin Qila dan Bram.
"Aihhh, gak usah bahas yang kemarin itu, bodoh!" celetuk Aidan pada Evan yang sedikit cemberut melihat Aidan yang tambah aneh.
Evan pun pindah menatap Qila dan Bram. Ia diam sejenak lalu mengangkat jarinya kemudian menunjuk dua bayi yang ada di tangan Qila dan Bram.
"Oh ya, Ai. Kenapa ada adiknya Raiqa dan pria asing di sini? Dan lagi, siapa dua bayi ini?" tanya Evan lalu melirik Bram yang tenang-tenang saja dan juga meliriknya. Dari raut wajah Evan, Bram tahu jelas kalau cowok berkacama itu manaruh kecurigaan pada Aidan.
'Apa dia menyadari sesuatu?' pikir Qila sudah panik dalam hati.
"Hei, Qila! Aku dengar dari Raiqa kalau kemarin kau baru datang dari luar negeri, tapi kenapa sekarang kau ada di sini dan menggendong bayi?" tanya Evan dengan tatapan yang beda membuat Bram dan Aidan sedikit heran melihat Evan yang nampak tersenyum malu-malu pada Qila.
"Ahhh itu, Qi-qila-" henti Qila ketika Aidan memotong ucapannya.
"Gue yang nyuruh dia datang ke sini dan sekalian gue juga yang panggil Dokter itu," ucap Aidan terpaksa berbohong daripada nama baiknya tercemar nanti.
'Pfft, aku tidak sangka putra sulung Tuan Rayden memiliki kebiasaan seperti ini.' Bram sedikit tertawa dalam hati melihat raut wajah Aidan yang panik dan bingung untuk menjawab pertanyaan Evan.
Evan yang mendengar itu sedikit ragu mempercayai Aidan, tapi jika ia ingat-ingat lagi, Aidan tipe cowok yang tidak suka berbohong.
"Apa itu benar, Qila?" tanya Evan.
Qila pun mengangguk saja. Namun sontak Evan maju dan memegang bahu Qila sambil memandangi sekali-kali wajah Aiko yang agak familiar.
'Apa yang ingin dia lakukan?' pikir Bram dan Aidan yang terkejut atas tindakan Evan itu.
"Qila, cobalah jujur padaku, apa benar kau datang ke sini karena disuruh? Atau dua laki-laki ini yang telah menculik mu ke sini?" tanya Evan malah menganggap Aidan dan Bram berniat jahat pada Qila.
'Ck, kenapa dia bicara begitu sih? Memangnya aku ini penjahat?' decak Aidan menggerutu dalam hati melihat Evan seperti mengkhawatirkan Qila. Sedangkan Bram pun merasa mendapat hal baru jika Evan memiliki rasa spesial pada Qila.
'Daritadi wajahnya selalu berseri-seri jika bicara pada Qila, apa dia menyukainya diam-diam?' batin Bram bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Ka-kak Evan, yang dikatakan Kak Aidan itu benar, hehe…" ucap Qila cengengesan.
'Astaga, dua anak ini memang sepertinya berjodoh,' batin Bram geleng-geleng kepala melihat Qila yang ikut bersandiwara.
"Hahaha… udah gue katakan, tapi lo masih aja gak percaya, dasar!" cetus Aidan tertawa remeh.
"Okay, gue percaya, tapi kenapa ada dua bayi di sini dan kenapa lo manggil Dokter? Apalagi manggil Qila segala? Lo gak ngerencanain buat memeras Qila dan Dokter ini kan, Ai?" Tatap Evan curiga lagi pada Aidan.
"Bayi titipan? Bayi siapa?" tanya Evan kini jalan ke sofa. Duduk santai lalu makan kuaci yang ada di dalam toples yang terletak di atas meja.
Bram yang sudah keram berdiri pun ikut duduk dan masih menggendong Aila. Sedangkan Aidan dan Qila berada di dekat pintu kamar.
'Sekarang apa lagi yang mau kau katakan Tuan muda?' Senyum Bram sambil membatin.
"Ck, ini bayi titipan dari seseorang," ucap Aidan tidak bisa jujur.
"Oh, titipan? Atau jangan-jangan lo pungut dua bayi ini di jalan, kan?" tebak Evan pedas dan membuat Qila sedikit terguncang mendengar bayinya dianggap hasil pungut.
Aidan mengepal tangan kanannya kuat-kuat, ingin sekali menghajar Evan yang sedang tersenyum miring, seakan-akan mengejeknya. Tapi Qila segera bicara.
"Ma-maaf, biarkan Qila yang jawab saja, Kak Aidan lebih baik masuk pakai seragam, takutnya nanti kalian berdua telat ke sekolah."
Karena merasa ini waktunya terlepas dari pertanyaan Evan, Aidan pun menuruti ucapan Qila. Ia masuk dengan membanting sedikit pintu.
BRAK!
"Oekkkk!" tangis Aiko dan Aila karena terkejut
"Tch, dasar sombong, main pergi gitu aja," decit Evan kesal lalu melihat Qila yang jalan ke arah Dokter Bram. Ia pun memperhatikan Qila yang memberi satu buah dot pada bayi yang ada pada Bram.
Sejenak, Evan tertegun melihat Qila menunjukkan senyuman langkanya yang manis itu. Namun seketika berpaling cepat saat Bram menoleh kepadanya.
'Tidak salah lagi, dia menyukainya,' batin Bram menatap Qila dan Evan yang tersipu.
"Maaf, Nona Qila, biarkan saya yang mengurus mereka, Nona lebih baik ke sana dan berikan jawaban anda pada cowok di sana," ucap Bram menunjuk Evan yang sedang menunggu ingin bicara pada Qila.
"Ta-tapi Dok, apa yang mau saya katakan padanya?" tanya Qila bingung.
"Katakan saja apa adanya," ucap Bram tersenyum kecil.
'Apa adanya? Tapi bagaimana?' pikir Qila bingung dan tiba-tiba Evan berdiri lalu menangkap satu tangannya.
"Qila, aku tidak suka menunggu, jadi kemarilah dan jawab pertanyaan ku yang tadi." Evan menarik Qila dan menjauhi Bram. Sementara Aidan, ia terus menggerutu di dalam kamarnya.
"Evan bodoh, kenapa dia datang ke di sini sih?"
"Ck, kalau dia sampai tahu hal ini, hidupku benar-benar sudah berakhir!"
Aidan yang sudah pakai seragam sekolahnya pun segera mengambil tasnya lalu buru-buru keluar dari kamar. Sontak, ia mematung diam melihat Bram seorang diri saja menjaga dua bayi itu.
"Lho, di mana Qila?" tanya Aidan pada Bram. Dokter itupun hanya menunjuk ke arah pintu apartemennya. Aidan pun cepat-cepat berjalan ke arah pintu kemudian sedikit membukanya. Namun tiba-tiba, Aidan berhenti dan tidak jadi keluar saat mendengar obrolan antara Qila dan Evan.