Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
30. Mendekati Qila



Karena ada Evan di luar, Qila pun terpaksa melepaskan mulut kecil Aila dari pucuk dadanya hingga tangis rewelnya kembali pecah dan membuat Keyra yang masih berhadapan dengan Aidan pun sangat-sangat terkejut.


"Oeeekhhh! Oekhhh!" Rengeknya sangat kencang dan berhasil membangunkan Aiko. Tetapi bayi laki-laki itu tidak langsung menangis, melainkan menggeliat resah karena merasa terganggu.


"Maaf ya, Bunda tidak bisa menunjukkan ini pada orang lain. Terutama di depan Kak Evan, tolong kerjasama dulu sama Bunda ya, Aila," ucap Qila berbisik tapi Aila tetap menangis.


Pintu kamar mandi pun terbuka setelah Qila memakai bajunya dan merapikan tampilannya sedikit. Evan menghela nafas lega melihat Qila baik-baik saja dan menggendong dua bayi itu dengan hati-hati.


"Ka-kak Evan, maaf, bagaimana Kak Evan bisa masuk ke sini?" tanya Qila karena merasa pintu ia kunci dari dalam.


"Nih, aku punya kunci kamarnya, jadi aku gampang masuk ke sini." Menjawab malu-malu dan menunjukkan kuncinya yang diambil dari Aidan sebelum masuk ke apartemennya.


"Oh ya, sini biarkan aku gendong yang satunya, Qi," pinta Evan ingin menenangkan Aila. Itung-itung sebagai langkah pertama mendekati Qila dan bisa menunjukkan sisi baiknya pada gadis itu.


"Ta-tapi, apa Kak Evan tahu cara gendongnya?" tanya Qila cemas.


"Tenang saja, di rumah aku sering gendong bayi kakak perempuanku, jadi aku sudah terbiasa," ucap Evan tersenyum.


"Ya udah deh, kalau Kak Evan tidak keberatan, nih tolong bujuk dia," balas Qila tersenyum senang dapat bantuan. Meskipun kecil, tapi Qila senang ada orang yang baik padanya.


'Kak Evan terkenal pelit dan dingin, tapi dia punya sisi baik yang disembunyikan. Pacarnya pasti beruntung punya Kak Evan yang perhatian dan baik hati.' Memuji dalam hati di depan Evan yang terlihat kesusahan juga menenangkan Aila.


"Oh ya Qila, ada yang mau aku tanyakan padamu," ucap Evan melihat Qila yang sedang menidurkan Aiko kembali.


"Tanya apa, Kak?" Qila bertanya sambil mencemaskan Aidan di luar yang masih meladeni saudara kembarnya itu.


"Itu, ini soal Dokter yang tadi pagi."


DeG!


Qila tersentak kaget dan berhenti menyelimuti tubuh mungil Aiko yang terbaring di atas kasur.


"Ke-kenapa Dokter itu, Kak?" tanya Qila terbata-bata.


Evan pun mendekat dan membiarkan Aila menghisap ujung jarinya. Melangkah lebih dekat ke Qila yang tampak berdiri tegang dan takut.


"Ka-kak Evan, mau apa deket-deketin Qila?" tanya Qila mundur sampai terpojok di dekat ranjang.


"Begini, apa kamu kenal sama Dokter itu?"


"Kenal? Maksudnya apa, Kak?" tanya Qila pura-pura tidak mengerti. Tapi ia tahu, Evan sepertinya sedang mencurigainya. Tidak seperti Raiqa yang kini memulai tugasnya memberi pertanyaan yang sama kepada gadis-gadis yang berhasil ia kumpulkan di dalam aula sekolah.


Evan pun berhenti dan hanya memberi jarak satu meter saja. Jarak yang lumayan dekat dan membuat jantung Qila terus berpacu kencang. Bukan karena perasaan cinta, tetapi Qila takut jika rahasianya itu sudah diketahui Evan. Tapi Qila salah mengira, karena Evan malah duduk di tepi ranjang dan bertanya hal yang lain.


"Maksud aku, apa kamu dekat dengan Dokter itu, Qi?" tanya Evan sambil mencubit pipi Aila yang berhasil didiamkan.


"Ke-kenapa Kak Evan tanyakan itu?" tanya Qila gugup.


"Karena ada seseorang yang sedang kami cari, dan aku merasa orang ini memiliki hubungan pada Dokter itu," jelas Evan melihat Qila kemudian pindah melihat Aiko.


"Seseorang? Siapa yang Kak Evan maksudkan?" tanya Qila.


Evan pun menepuk-nepuk kasur di dekatnya. Menyuruh Qila duduk di sebelahnya untuk mendengarkan sesuatu yang ingin ia sampaikan pada adik sahabatnya itu.


"Ada yang ingin aku katakan padamu, tapi kamu harus janji untuk merahasiakannya," ucap Evan serius.


"Ba-baik, Qila janji, Kak." Qila pun duduk dan mendengarkan dengan was-was.


'Apakah Kak Evan sudah mencari tahu siapa Ibu dua bayi ini?' pikir Qila merasa Evan adalah satu-satunya orang yang bisa mengetahui rahasianya tanpa mendengarkan rahasia itu darinya.


Benar saja, Evan memberitahukan tentang dua bayi itu yang memiliki hubungan dengan Aidan. Qila sudah tidak terkejut lagi karena ia telah memperkirakan penjelasan itu.


"Ja-jadi bayi ini anaknya Kak Aidan?" tanya Qila pura-pura syok.


"Benar, kamu lihat sendiri, wajah mereka persis Aidan versi kecil. Tapi, meskipun mereka punya rupa yang sama, Aidan tetap akan melakukan tes DNA dan kita hanya perlu mencari perempuan yang sudah melahirkan dua anak ini untuk mempertanyakan masalah ini kenapa bisa ia memiliki anak dari Aidan," jelas Evan memperlihatkan foto bayi Aidan dari dalam hapenya yang sudah ia siapkan tadi.


"Te-terus, apa hubungannya sama Dokter itu, Kak?" tanya Qila pura-pura lagi.


Evan pun menunjukkan satu foto yang sempat dia ambil dari atas meja. Menampakkan seseorang meletakkan sebuah kardus di depan pintu rumah Aidan. Foto yang sangat jelas membuat Qila terkejut karena tidak sangka ada cctv yang merekam perbuatan Dokter Bram.


"Qila, ini foto dari Keyra yang diambil dari rekaman cctv rumahnya. Kamu bisa lihat di dalam foto ini ada seorang laki-laki. Aku dan Aidan yakin kalau laki-laki ini mungkin adalah Dokter itu yang juga telah membawa bayi perempuan ini ke sini," tutur Evan panjang.


"Ta-tapi, kalau Dokter itu pelakunya, seharusnya dua bayi ini diberikan bersamaan di hari itu juga, Kak," ucap Qila melihat Aila yang sudah hanyut lagi dalam mimpinya.


"Hmm, kamu ada benarnya juga. Tapi mungkin saja ini sudah direncanakan olehnya,"


"Olehnya? siapa yang Kak Evan maksud?" tanya Qila sedikit bergeser dan memberi jarak 1 meter agar lebih aman bicara pada cowok itu.


"Siapa lagi kalau bukan AM yang pasti bersekongkol dengan Dokter itu," ucap Evan melihat foto di tangannya. Berpikir dengan sangat yakin.


"Jadi Qila.... apa kamu masih punya nomor Dokter itu?" tanya Evan ingin melacak keberadaannya.


"Aku sungguh sangat penasaran siapa perempuan yang berani sekali mempertaruhkan nyawanya melahirkan dua anak ini dan membuat masalah besar seperti ini. Dia sungguh pengecut!" Evan merem4s foto itu sampai rusak membuat Qila bergetar ketakutan.


"Ah, kamu kenapa Qila?" tanya Evan terkejut melihat Qila yang terdiam sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ia pun ingin memegang tangan Qila namun dengan cepat tangannya itu ditampar membuat Evan balik terkejut melihat sikap Qila yang aneh. Terutama gadis itu masuk ke dalam kamar mandi tanpa menjawab pertanyaannya dulu.


"Hai, Qila. Kamu kenapa? Apa aku tadi salah bicara?" tanya Evan khawatir dan merasa bersalah mendengar gadis itu menangis di dalam sana.


"Hiks, sepertinya semua orang sangat membenciku, kalau begini, bagaimana aku bisa katakan yang sebenarnya, Om?" Tangis Qila terisak-isak membuat Evan tidak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan gadis itu yang sedang bersandar di balik pintu yang tertutup. Qila semakin bingung pada dirinya sendiri untuk memilih keputusan apa yang lebih baik untuknya. Apakah harus diam saja? Atau mengatakannya pada Evan? Tapi Qila takut pada kebencian semua orang dan tidak tahan juga kalau harus mendengar cacian dari dua pihak keluarga yang pasti akan menganggapnya aib keluarga.


Sedangkan di luar, Aidan, Keyra dan rekannya itu sudah tidak ada di sana karena ketiga remaja SMA itu telah pindah ke cafe terdekat setelah mendengar Aila menangis keras.


Keyra yang duduk di depan Aidan kini tidak sabar ingin mendengar apa maksud dari foto-foto yang dia dapatkan itu dan ingin tahu kenapa ada bayi di apartemennya Aidan. Sementara rekannya itu duduk di kursi lain untuk merekam pembicaraan Aidan dan Keyra yang terdengar sangatlah penting dari hal apapun.


"Aidan, jangan-jangan lo beneran udah—" ucap Keyra memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Sedangkan Aidan terus menenangkan dirinya sambil menyiapkan jawabannya. Apakah ia yang akan jujur sendiri tentang masalah ini?


.