
"Hai, Qila. Kamu tampaknya melupakan ini." Tunjuk Bram pada dua set popok di tangannya.
"Alhamdulillah, makasih, Om!" Qila cepat mengambilnya.
"Ehhh, bentar dulu, jangan ditutup pintunya." Bram menahan pinggir pintu ketika Qila mau menutupnya.
"Kenapa, Om? Mau nagih uang bakso?" tanya Qila polosnya.
"Hahaha, gak lah, Om sebenarnya pengen masuk," ucap Bram menunjuk ke dalam.
"Ngapain, Om?" tanya Qila takut dan mundur sedikit.
"Emhh itu, Om rindu sama Aila dan Aiko, jadi pengen lihat anakmu itu," ucap Bram dan berharap dapat izin masuk.
"Tapi," Qila tampak takut karena hanya dia saja di apartemen itu.
"Gak usah cemas, Om kan bukan penjahat, lagian juga Qila kan pernah tinggal bareng Om di luar negeri, yah... walau cuma sehari doang sih, hehe," kata Bram agak malu. Tiba-tiba ...
'Owekhhh'
"Nah itu suaranya Aila! Pasti dia tahu Papa keduanya datang," ucap Bram ceplas-ceplos.
"Ihh, Papa kedua? Sejak kapan Om jadi Papa kedua anakku?" tanya Qila bergidik geli mendengarnya.
"Aduh, kamu ini gimana sih, Om itu kan dari dulu udah anggap kamu anak angkat, jadi artinya-"
"Artinya, Om itu Kakek Aila bukan Papa kedua!" sambung Qila menegaskan ucapan Bram.
"Hahaha, kamu ini udah pintar bikin orang kesal ya," gemas Bram mengacak rambut Qila dan masuk begitu saja ke apartemen Aidan.
"Lho, Om kemana?" Qila yang memperbaiki tatanan rambutnya pun terkejut tidak melihat Bram di depannya. Namun seketika ia berbalik saat Bram memanggilnya.
"Hei, Qila! Sampai kapan kamu berdiri di situ?"
"Astaghfirullah, Om Bram! Tolong jangan main masuk! Nanti Kak Aidan datang dan bisa salah paham!" Cerocos Qila berkacak pinggang.
"Ululu, lihatlah Ayyilah, Ibumu udah pintar marahin Om, padahal Om ke sini niatnya baik, tapi Ibumu malah bikin muka serem kayak gitu, hahaha," tawa Bram bersama Aila juga ikut tertawa meski tidak tahu apa yang ditertawai pria itu.
"Ihh, sini, jangan pegang-pegang Aila," ucap Qila merebut Aila.
"Ya udah deh, biar Om yang urus Aiko." Bram berdiri dan membawa Aiko menjauhi Qila kemudian ia mengganti popok Aiko sendiri.
"Om, lebih baik Om pulang aja, biar Qila yang urus mereka,"
"Udah, gak usah khawatir, Aidan pergi menemui Hana jadi dia tidak akan pulang cepat," ucap Bram selesai dan tidak menyadari Qila terkejut di sebelahnya.
"Ohh, kamu kenapa?" tanya Bram mengernyit heran.
"Duh, apa tadi Om salah ucap?" tanya Bram pada Qila yang menunduk sedih.
"Jadi begitu, Kak Aidan pergi menemui Hana ya, Om."
'Astaga, apa tadi aku keceplosan?' batin Bram menutup mulutnya.
"Om ..." lirih Qila kini menatapnya sendu.
"Hmm, apa?" tanya Bram gugup.
"Bagaimana Om bisa tahu kemana Aidan pergi?" tanya Qila dan mengusap sisa air matanya.
"I-itu tadi Om gak sempat lihat dia bawa buku, kayaknya itu buat saudara kamu, tapi kamu gak usah khawatir, Qila. Aidan tadi gak lihat Om kok, dan kamu gak perlu mencemaskannya," jelas Bram terbata-bata dan berharap Qila tidak berniat keluar menyusul Aidan.
"Aduhh, perut Om sakit nih, kayaknya mau makan lagi, Qila," ringis Bram pura-pura menekan perutnya.
"Padahal Om tadi habis makan, tapi perutnya masih mau nambah, hahaha," tawa Bram meksipun tidak lucu.
Qila menghembus nafas panjang. Tetapi ia pun tersenyum dan berdiri.
"Ya udah, kalau begitu, Qila siapkan makanan gratis buat Om, tapi setelah makan, Om harus pulang," ucap Qila menunjuk pintu.
"Pasti dong, hahaha." Tawa Bram dan hormat kepada gadis itu yang kemudian menyiapkan makanan untuknya.
"Huft, syukurlah, untung dia tidak curiga." Bram mengelus dada kemudian melihat dua bayi mungil itu yang daritadi memperhatikannya. Bram meletakkan Aila dan memberinya botol kosong untuk dimainkan bayi itu. Kemudian pria itu menatap Aiko. Mata biru bayi itu sangat indah membuat Bram menyinggungkan senyum tipis di bibirnya.
Qila pun keluar ingin memanggil Bram, namun gadis itupun mengernyitkan dahinya melihat pria itu meniup sesuatu di paha Aiko dan mengucapkan sesuatu yang ambigu. "Duh, maafkan Papa mu ya, Aiko." Sayangnya, Qila tidak mendengar ucapan itu dengan jelas.
"Om ... lagi tiup apa?"
Bram terkejut, ia segera menghentikan tindakannya dan mengatup mulutnya. Namun kemudian tertawa konyol.
"Hahaha, ini paha anakmu digigit nyamuk, jadi Om tiup supaya bekasnya hilang," ucap Bram dengan wajah panik dan keringat dingin.
Qila mendekat dan sedikit bingung melihat tanda merah itu seperti bekas cubitan bukan gigitan. Ekspresi gadis itu seketika berubah dingin pada Bram.
"Ihhh, Om habis cubit Aiko ya?!!"
"Ehhh, gak! Ini bekas emang udah ada dan mungkin digigit nyamuk tadi! Mana mungkin Om sejahat itu cubit bayi kamu," bantah Bram lalu berdiri. Pura-pura mendapat panggilan dari seseorang setelah melihat jam di hapenya.
"Lho, Om mau kemana?" tanya Qila meletakkan Aiko di samping adiknya kemudian mengejar Bram yang mendekati pintu apartemen.
"Om, jangan ngambek dong, Qila cuma canda kok tadi, jangan marah ginilah, Om," ucap Qila berpikir sudah membuat Bram marah karena tuduhannya itu.
"Hahaha, santai saja, Om gak marah kok, cuma ini ada urusan mendadak, Om harus pergi, untuk makanan yang kamu siapkan, lain kali saja Om makan, kamu jaga diri baik-baik di sini dan tidak usah banyak memikirkan suamimu, dah." Bram pergi tergesa-gesa. Membuat Qila tambah heran dengan tingkah aneh Bram.
"Ya sudahlah, lebih baik aku lanjut urus Aiko dan Aila, tapi kira-kira Kak Aidan lagi apa ya?" gumam Qila tampak susah untuk tidak memikirkan suaminya. Tiba-tiba, saat ia mengganti popok dua bayinya, Qila tidak sengaja menemukan cincin yang terselip di baju Aiko.
"Ehh, kok cincin Kak Aidan ada di sini? Hmm, mungkin jatuh waktu Kak Aidan mau keluar."
Qila pun kemudian berdiri. Masuk ke dalam kamar dan berniat untuk menyimpannya. Namun saat ia membuka laci meja, gadis itu terkejut lagi dan heran melihat di dalam kotak cincin mereka masih lengkap.
"Lho, kalau begini, ini cincin siapa?" Qila menggaruk kepalanya melihat cincin di tangannya itu mirip dengan dua cincin pernikahannya. Padahal cincinnya itu khusus dibuat dari Rayden untuk mereka dan tidak ada yang dapat menirunya.
"Hmm, apa ini milik Om Bram? Tapi katanya kekasihnya udah meninggal, dan gak pernah nikah. Kalau begitu, ini milik siapa?" Qila memandangi cincin di tangannya.
"Ya sudahlah, taruh saja di sini. Kalau Om Rayden datang, akan ku tanyakan ini padanya." Qila menyimpan cincin itu ke dalam kotak kemudian pergi mengurus dua bayinya dan juga mengerjakan tugas sekolah.
"Padahal aku mau minta bantuan sama Kak Aidan, tapi Hana lebih duluan mendapatkan perhatian Kak Aidan." Qila membuang nafas kecewa.
"Kalau saja Hana di posisiku, pasti Kak Aidan sangat bersedia menikahi Hana tanpa dipaksa." Qila menunduk murung kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu ia tersenyum pasrah dan merasakan semua akan baik-baik saja. Ia pun memberikan botol susu pada dua bayinya lucunya. Tapi tampaknya Aiko menolak botol susunya dan merengek padanya.
"Aiko, maaf ya, lain kali Mama tidak akan tinggalin kalian. Sakit ya sayang dapat cubitan dari Papa? Cupcupcup, gak apa-apa, biar Mama yang obati pahanya."
Qila mencium bekas cubitan Aidan. Ia tampak sadar itu perbuatan Aidan dan bukan ulahnya Bram. Tak terasa bulir air matanya berlinang. Qila menangis sambil memeluk Aiko. Ia sedih Aidan tega melakukan itu dan juga resah memikirkan apa saja yang dilakukan Aidan dan Hana sekarang di luar sana. Kalau saja Bram bisa tinggal sedikit dan menjaga dua bayinya, Qila sangat ingin menyusul Aidan dan mengatakan kepada Hana untuk jangan mengganggu suaminya. Tapi jika ia lakukan itu, ayahnya pasti akan sangat marah besar. Tetapi bila terus seperti ini, Qila tidak yakin bisa menahan atau tidak sanggup bertahan sampai ia lulus sekolah.
.
Sulit juga ya Qila berada di situasimu🥺satu sisi kamu sayang Aidan, tapi satu sisi kamu cemas orang-orang akan mencaci jika mengetahui statusmu yang sudah punya anak di bawah umur. Apalagi bapakmu sudah berpaling🥀
Yuk bisa yuk curhat sama Papa Mertua nanti wkwk