Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
73. Ciuman Lagi



"Hana! Sebentar, kamu jangan masuk dulu!" Arum yang sampai di rumah bersama Keyra dan Hana, ia menahan lengan anak tetangganya itu.


"Ya, Tante, kenapa?" tanya Hana.


"Begini, kamu tinggallah di rumah kami, Hana," ucap Arum berharap bisa lebih dekat lagi dengan gadis itu.


"Mah!" panggil Keyra.


"Gak usah deh suruh anak orang nginap di rumah kita, lagian cuman Tante Kinan yang mau ke luar negeri, dan Om Wira juga tampaknya sudah pulang tuh," lanjut saudara kembar Aidan itu sambil menunjuk mobil Wira yang terparkir di halaman rumah.


"Ya, udah, tapi besok-besok Hana datanglah ke rumah Tante, ya," ucap Arum.


"Hmm, ya, Tante." Hana mengangguk dan tersenyum kaku pada anak dan Ibu itu yang kini masuk ke dalam rumah mereka.


"Pah!" Hana berlari mendekati ayahnya yang terus jalan ke pintu rumah. Tampangnya dingin dan masih terlihat kecewa pada nasib dua anaknya yang buruk. Apalagi media masih membicarakan musibah yang terjadi pada Raiqa. Mereka meliput peristiwa penganiayaan itu sampai seluruh kota tahu keluarganya sedang mendapat kemalangan. Baru itu saja, sudah membuat heboh, bagaimana jika mereka tahu putrinya yang belum dewasa itu pernah diperkosa dan bahkan melahirkan anak di usianya yang masih dini? Reputasinya akan jatuh dan dianggap sebagai orang tua yang gagal. Pandangan orang-orang pun akan berubah drastis.


"Papa! Apakah benar, Papa tidak ikut ke luar negeri?" tanya Hana berdiri di depan Wira dan menghalangi ayahnya menaiki anak tangga.


"Hmm," jawab Wira cuma mendeham.


"Kalau begitu, Papa dari mana aja? Kenapa tidak ada di rumah sakit tadi?" tanya Hana.


"Papa dari mengurus penerbangan kakak dan ibumu," jawab Wira dan tampak mencari seseorang.


"Oh, kalau begitu, kenapa Papa tidak singgah ambil Qila di rumah temannya?" tanya Hana lagi. Wira pun terdiam dan berhenti menoleh sana sini.


"Pah! Hana itu gak mau di rumah sendirian, jadi sekarang Papa suruh anak buah Papa pergi ambil Qila," pinta Hana masih berdiri di depan ayahnya dan menunggu jawaban. Tetapi ketika Wira ingin menjawab, tiba-tiba pembantu datang membawa sebuah tas dan pergi menghadap pada Wira.


"Tuan, saya sudah siapkan semua," ucap pembantu itu.


"Bagus, pergilah ke sana, dan tolong jaga baik-baik istri dan anak saya di sana." Wira menunjuk ke luar rumah.


"Baik, Tuan. Permisi." Pembantu pergi melakukan tugas barunya yaitu ikut bersama Kinan.


"Lho... kok Bibik pergi juga? Kalau begini, siapa yang akan mengurus kebutuhan Hana di sini, Pah?" tanya Hana setengah terkejut ditinggal cuma berdua oleh ayahnya itu.


"Mulai sekarang, kamu belajar mandiri." Kata Wira membuat Hana terperangah.


"Mandiri? Maksudnya, Hana sendiri yang masak? Cuci baju? Cuci piring? Semua pekerjaan rumah itu harus Hana yang kerjakan? Begitu, Papa?" Hana sedikit syok.


"Ya, begitu." Wira mengangguk.


"Sekarang Papa mau istirahat, kamu jangan berisik di rumah," ucap Wira melewati Hana tetapi putrinya itu menghentikannya lagi.


"Pah!"


"Ada apa lagi?" tanya Wira sedikit menahan kesabarannya. Udah capek mengurus masalah yang datang, sekarang putrinya itu tampaknya ingin meminta sesuatu.


"Kenapa kamu gak bisa?" tanya Wira dan ia tahu sifat Hana yang manja dan kadang pemaksa. Walau sifatnya sedikit jengkel daripada Qila, Wira tetap sayang pada anak kebanggannya itu. Karena Hana selalu memberinya nilai yang memuaskan, tidak seperti Qila yang dia harapkan bisa secerdas Hana tapi malah memberinya cucu.


"Hm, gimana ya, Hana itu sibuk, apalagi senin depan itu Hana mau ikut lomba seperti biasanya. Apalagi besok ada olahraga basket yang harus Hana menangkan, jadi kayaknya Hana gak bisa ngelakuin itu semua, Pah," ucap Hana berharap Wira paham.


"Hm, kalau Papa gak mau, Papa besok pergi jemput Qila ya," lanjutnya memohon pada Wira yang seketika menolak langsung.


"Tidak, Papa tidak bisa." Wira naik ke atas meninggalkan Hana yang cemberut dan heran melihat Papanya yang bodoh amat soal Qila. Seperti tidak mau mendengar namanya.


"Cih, kenapa sih Papa tiba-tiba aneh? Padahal dulu Papa sangat peduli pada Qila. Saking pedulinya, Papa kirim Qila ke luar negeri daripada mengirim aku! Ihh, ini tidak adil!" Hana menghentakkan kakinya. Jengkel pada ayahnya dan juga pada adik kembarnya itu yang sekarang mendapat perhatian dari Bram.


Terlihat, pria tampan itu memberi perban di kepala Qila dengan penuh hati-hati dan tentunya kasih sayang.


"Om, ini cuma luka kecil, tidak usah pakai perban, tinggal kasih hansaplast aja," ucap Qila sedikit canggung.


"Luka kamu ini gak cukup diobati kalau pakai itu doang, lihat sendiri lukanya yang gede ini," kata Bram memberi cermin kecil dan memperlihatkan luka Qila akibat membenturkan kepalanya ke tiang. Terlihat lumayan besar dan mungkin bisa dijahit apabila Qila membenturkan lagi kepalanya.


"Hmm, ya udah, maaf, Om," lirih Qila menunduk dan melirik Bram menyimpan obat P3K itu ke dalam laci meja.


"Oh ya, Om, Qila mau tahu sesuatu," ucap gadis itu ingin bertanya.


"Hmm, apa?" Bertanya sambil menghubungi seseorang untuk membawakan makanan cepat saji dari luar.


"Itu, ini rumah baru Om?" tanya Qila melihat rumah yang dia masuki sekarang berbeda dari sebelumnya.


"Hm, iya, ini baru," ucap Bram.


"Kalau begitu, mobil di luar juga baru, Om?" tanya Qila dengan kepolosannya.


"Hm, iya, memang."


"Ternyata Om Bram itu orang yang hebat," kata Qila tiba-tiba memuji.


"Hm, kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Bram sedikit salah tingkah dan agak malu-malu.


"Habisnya, Om yang suka hilang ternyata punya rumah dan mobil di mana-mana, hehe," ucap Qila cengengesan dan menunduk. Sedikit canggung hanya berdua di rumah besar itu. Ia juga tak lupa melirik tumit kakinya yang diobati Bram. Pria itu benar-benar seperti sosok malaikat yang hadir untuk mengobati setiap luka yang ada dan juga kesedihannya.


Bram duduk di dekat Qila, ia tersenyum. Terlihat tampan tapi dalam pikiran Qila, ia masih membayangi Aidan dan juga memikirkan dua bayinya. Tetapi seketika semua terasa hilang saat pria di depannya itu lagi-lagi mengelus pipinya dan dengan bibirnya yang menggoda dan lembut itu, ia memberinya ciuman lagi. Terasa begitu dalam perasaan Bram padanya.


"Om, tolong jangan begini!" Qila mendorong dada Bram. Hatinya berdebar-debar aneh.


Rasanya sesak dan ingin menangis.


"Kenapa? Kamu gak suka?" tanya Bram sambil menyentuh bibir bawah Qila yang manis.


"Maaf, Om. Aku gak...."