Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
52. Rasa Sayang



"BRAK!" Rayden dengan cepat memasuki ruangan di depannya bersama beberapa orang berjas hitam. Ia pun menatap lurus ke Wira yang berjabat tangan dengan seorang pria. Tampaknya, pembicaraan mereka telah selesai dilakukan.


"Ehh, Rayden? Ngapain kamu ke sini?" Wira berdiri disusul Kinan yang terkejut atas kehadiran tetangganya itu yang nampak terburu-buru.


....


Evan sungguh laki-laki yang baik dan rela menunggu Qila yang sekarang dirawat oleh Dokter. Rasa cintanya benar-benar nyata dan hanya untuk gadis itu. Di tengah kekhawatirannya itu, senyum di bibirnya terukir indah melihat nilai ujian Qila yang ada di tangannya. Ia senang gadis pujaan hatinya mendapat kemajuan yang pesat. Tapi ia juga sedih karena sampai hari ini, Qila belum menyadari perasaannya itu. Terlebih lagi, akhir-akhir ini Qila selalu memperhatikan Aidan daripada dirinya.


Di sebuah toko yang berdiri di pusat perbelanjaan, terlihat Aidan setia menemani kemana Hana melangkah. Ia terus memandangi kembaran Qila itu yang begitu bersemangat memilih telur, daging segar, sayur segar dan beberapa bumbu dapur. Aidan pun menunduk tersipu membayangkan dia seperti seorang suami yang menemani istrinya berbelanja. Ia juga membayangkan Hana memanggilnya dengan panggilan mesra. Namun bayangan impiannya itu sirna ketika ia melihat sekilas ada Qila di depannya.


Tidak, lebih tepatnya ia mengira gadis di depannya adalah Qila yang sedang menggendong Aiko, bukan Hana yang menenteng keranjang belanja.


"Oh, Bang Aidan, kenapa?" tanya Hana melihat Aidan yang memegang kepalanya.


"Bang Aidan udah capek ya temani aku?" Bertanya lagi.


"Ehh, gak capek kok, aku malah senang," ucap Aidan tersenyum tulus.


'Aihh, mungkin karena tiap hari Qila selalu ke apartemen, aku jadi sering melihat Hana sebagai dia.' Aidan kemudian menatap Hana yang kembali memilih - milih belanjaannya dan lagi-lagi Qila muncul dalam pandangannya dan lebih parah lagi ada Aila di tangannya. Persis seperti gambaran keluarga kecil yang sedang berbelanja.


"Mama, Ayyila mawu ituh, boleh?" Menunjuk cemilan manis kepada Ibunya.


"Boleh dong, Ayyila mau berapa?" Menatap ke arah Aidan.


Aidan mengikuti arah mata wanita yang wajahnya tidak jelas dan dia melihat sosok pria yang mirip dengan anak laki-laki berumur empat tahun yang ada di pundaknya itu yang mirip dengan Aidan dulu.


"Hiss, ada apa denganku ini?" desis Aidan memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Bersamaan gambaran itu hilang dari pandangannya.


"Hmm, Bang Aidan ... baik-baik saja?" tanya Hana melihat Aidan meringis.


"Ba- baik -baik saja, kok," ucap Aidan sambil tersenyum kaku. Hana pun geleng-geleng kepala kemudian lanjut mengambil barang.


'Duhh, kenapa tiba-tiba aku berhalusinasi lagi?'


Aidan merasa aneh pada perasaannya. Ia masih ingin bersama Hana, tetapi di sisi lain ia seperti ingin cepat-cepat pulang ke apartemennya dan mengurus si kembar. Ada rasa yang aneh baru-baru ini timbul di hati Aidan sehingga membuatnya gelisah tidak jelas. Wanita ilusi itu seperti Hana tapi suaranya lebih mirip Qila yang lugu.


'Huft, ini aku pasti kurang tidur jadi bayangin yang bukan-bukan.' Aidan pun berusaha membuang itu tapi akhir-akhir ini ilusi itu kadang muncul sendiri seperti mimpi.


Kini ruang rawat di depan Evan pun terbuka. Cowok tampan berambut blonde itupun masuk ke dalam dan menghampiri Dokter yang memasang kantung infus Qila ke tiang penyangga.


"Dokter, apa yang terjadi padanya?" tanya Evan berdiri di sebelah Qila yang belum siuman. Dokter pun mengatakan kondisi Qila yang demam karena kurangnya waktu istirahat.


"Lain kali, tolong dijaga pacarnya dan suruh jangan banyak begadang," nasehat Dokter itu membuat Evan tertegun. Ia kaget Dokter itu menganggapnya pacar Qila. Dua pipi Evan pun merah merona dibuatnya.


"Ba-baik, Dok!" Paham Evan mengangguk kecil. Dokter itupun keluar meninggalkan Evan yang duduk menunggu Qila dan tidak lupa menggenggam tangan Qila. Kesetiannya dan rasa sayangnya tidak bisa dibandingkan dengan apapun lagi. Banyak gadis yang lebih baik di luar sana, tapi hatinya itu sudah yakin memilih Qila.


.


Evan emang idaman🥺udah baik, penyayang, menerima apa adanya, tapi sayang cintanya salah menepi🤧