
"Pa, sebentar! Jangan pergi dulu!" Tahan Aidan menghentikan Rayden yang mau ke tempat pertemuan para ilmuwannya berada untuk membicarakan lebih lanjut apa yang kurang dari mesinnya.
"Kenapa? Kamu mau ikut mendengarkan pembicaraan Papa?" tanya Rayden.
"Gak kok, aku cuman mau tanya apakah mesin itu bisa beroperasi ke masa lalu?" tanya Aidan yang dalam hati ingin ikut mempelajari sesuatu dari mereka tapi Rayden pasti akan mengusirnya dari sana.
"Sudah Papa bilang dari kemarin, operasi untuk hal itu gak akan Papa lakukan," jawab Rayden tegas.
"Sekarang pulang lah, Ibu mu sudah menunggu di rumah."
"Tapi Pa, tunggu dulu!" Tahan Aidan lagi.
"Apa lagi? Mau apa lagi tahan-tahan Papa?" tanya Rayden sudah mulai kesal karena sedang dikejar waktu untuk cepat-cepat hadir ke sana.
"Itu, Papa sudah dapat info keberadaan Qila, gak?"
"Atau Papa sudah temukan lokasi Dokter palsu itu?"
"Belum, pria itu sangat licik sekali. Lokasinya tak bisa dilacak sampai sekarang. Rumah dan tempat yang pernah dia datangi di luar negeri pun tak meninggalkan jejak apapun," tutur Rayden yang mendapat informasi dari anak buahnya di luar negeri dan hasilnya nihil.
"Sekarang jangan ganggu Papa dulu, malam ini Papa sibuk." Rayden segera pergi ke tempat tujuannya. Sedangkan Aidan pun juga meninggalkan tempat itu dengan memakai motornya. Tiba-tiba di tengah perjalanan, ia mendapat panggilan dari Keyra.
"Apa? Serius? Evan masuk rumah sakit? Di mana? Cepat, berikan alamatnya padaku!" pinta Aidan berhenti di tepi jalan. Ia menerima kabar Evan yang tidak terduga. Setelah melihat kiriman pesan singkat dari Keyra, Aidan lanjut menancap gas menuju ke rumah sakit.
"Keyra! Apa yang terjadi pada Evan?" tanya Aidan sampai di rumah sakit itu dan langsung bertanya pada Keyra yang berada di dalam bangsal Evan. Bukan cuma Keyra yang ada di sana, tetapi ada juga rekannya dan Hana.
"Kak Aidan...." Hana menghampiri Aidan tetapi Aidan melewatinya dan mendesak Keyra menceritakan detail apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Hana menunduk lesu, seperti diabaikan begitu saja dan tidak penting.
"Aidan, gue dan mereka tadi sore ikut mencari jejak Qila, tetapi saat drone Alena beroperasi keliling kota ini, yang kami dapatkan malah si Evan yang pergi sendirian ke gedung terbengkalai. Karena itu, kita pergi ke sana nyusul Evan. Eh.. tau-taunya si Evan ternyata ke sana berkelahi dengan seseorang. Gue gak tau siapa orang itu, tapi sumpah, orang itu jago banget bela dirinya, sampai-sampai Evan dibuat babak belur dan dihajar habis-habisan olehnya. Kalau saja kita gak datang ke sana, gue yakin banget kalau Evan bisa mati di tempat, dan sekarang lihat sendiri, Evan sampai sekarang belum sadar juga," tutur Keyra panjang lebar.
"Terus di mana orang itu?" tanya Aidan sambil mendekati brankar Evan.
"Dia kabur setelah mengambil semua barang-barang Evan." Sahut Alena di samping Keyra.
"Ck, apa mungkin orang itu adalah dalang dari pembantaian Alpha sehingga Evan mendatanginya?" decak Aidan merasa yakin orang itu sangat berbahaya.
"Gue rasa itu mungkin benar," ucap Alena.
"Kenapa lu bisa seyakin itu?" tanya Aidan.
"Lihat, ini rekaman salinan yang gue ambil dari sekitar markas Alpha dan perhatikan baik-baik, orang itu memakai jubah yang sama dengan orang yang menyerang Evan," jawab Alena.
Mata si kembar Rayden itu terbuka lebar-lebar. "Gak salah lagi, dia pelaku yang sebenarnya!" kata Aidan dan Keyra pun menghubungi ayah mereka tetapi Rayden sedang melakukan rapat rahasia sehingga kedua anak kembar itu menghubungi sekretaris Papa mereka. Secepatnya, sekretaris itu mulai menyuruh beberapa anak buah mereka menelusuri kawasan gedung terbengkalai itu.
"Semoga saja orang itu cepat tertangkap!" Keyra mengepal tangan di depan Aidan dan Alena yang sama-sama mengharapkan itu. Sedangkan Hana perlahan mendekati mereka.
"Begini, aku rasa orang ini sepertinya yang telah menculik Qila," ucap Hana tiba-tiba.
"Kenapa dia?" tanya mereka lagi.
"Soalnya, orang ini pernah senggol aku ke jalan, untung saja aku gak terdorong ke tengah jalan waktu itu. Jadi aku rasa saat itu dia berniat mau membunuh ku tetapi karena aku bukan Qila, dia pergi begitu saja," ucap Hana melihat Aidan yang langsung mencemaskan istrinya itu.
"Sial, gak akan gue biarkan dia mencelakai Qila!" kepal Aidan ingin keluar dari sana tapi tiba-tiba Evan sadar dan mengucapkan satu nama seseorang.
"Black!"
"Evan?!" Keyra, Alena dan Hana sedikit senang melihat cowok itu sudah sadar. Karena jika Evan mati, orang tuanya di California bisa ngamuk di sana, apalagi kakaknya di rumah bisa menuntut mereka.
"Evan, syukurlah, lu udah sadar, gue bener-bener gak percaya lu bisa tumbang kayak gini," ucap Aidan ikut senang. Evan menatap telapak tangan kanannya yang tergores, ia pun menarik kerah Aidan membuat tiga cewek itu terkejut melihat Evan sepertinya ketakutan.
"Aidan! Lu harus temukan Qila sebelum orang itu bunuh dia!"
"Orang itu bernama Black, dia mengambil semua barang gue untuk merencanakan pembunuhan Qila! Lu harus cari Qila sekarang, Aidan!" kata Evan dan seketika memuntahkan darah kembali. Keyra cepat-cepat keluar memanggil Dokter. Tampaknya luka yang diterima Evan tampak lumayan parah.
"Ka-kalau begitu, artinya sampai sekarang Qila masih hidup, kan?" tanya Aidan sedikit prihatin.
"Uhuk... uhuk... benar, Qila masih hidup dan dia berada di tangan Dokter itu. Gue paham sekarang kalau Dokter itu yang membawa Qila agar terlindung dari Black, " ucap Evan tahu dari Black sendiri.
"CEPAT AIDAN! CARI QILA SEKARANG! SEBELUM QILA DIBUNUH OLEHNYA!" paksa Evan mencengkeram kerah leher Aidan. Aidan memegang tangan Evan yang bergetar dan mengangguk paham. "Baiklah, lu tenang saja. Gue gak akan biarkan itu terjadi. Sebelum dia bunuh Qila, dia harus langkahi mayat gue dulu," ucap Aidan membantu Evan berbaring.
Hana yang mendengar itu, hatinya sedikit tergerak, dan merasa cemburu melihat Aidan mempertaruhkan nyawa demi adiknya itu. Gadis itu keluar dari sana dengan kesal. "Arghh, kenapa sih semua cowok perhatian banget sama Qila. Papa, Raiqa, Aidan dan sekarang Evan! Semuanya diembat sama Qila." Hana mulai cemburu sekarang.
"Tunggu, Aidan!" Evan beranjak duduk lagi.
"Ada apa?" tanya Aidan.
"Gue ha-hampir lupa," ucap Evan sedikit sesak nafas.
"Apa yang hampir lu lupain?" tanya Alena.
"Tolong, lu keluar, ada yang mau gue bicarakan ini pada Aidan," kata Evan menunjuk pintu. Alena pun keluar dan membiarkan dua cowok itu bicara sambil menunggu Keyra datang bersama Dokter.
"Ada apa, Evan?" tanya Aidan lagi.
"Aidan, gue rasa lu harus pindahin mesin waktu bokap lu itu sekarang," kata Evan sedikit-sedikit mengingat percakapannya saat berkelahi dengan Black yang tampak memberikan informasi sesuatu untuknya.
"Kenapa?" tanya Aidan.
"Orang itu