
"Ehhh, ini mainan untuk Aiko?" Kaget Qila terperangah.
"Pfft, benar." Angguk Evan tertawa lucu melihat ekspresi Qila yang polos.
"Ke-kenapa Kak Evan membelikan ini?" tanya Qila maju sedikit membuat Evan deg-degan melihat jaraknya yang begitu dekat.
"Oh itu, yang beli ini bukan aku, tapi itu orangnya." Evan menunjuk Aidan yang dari tadi menekuk jelek wajahnya.
Qila terhenyak beberapa saat kemudian menundukkan kepala, membuat Evan bingung melihatnya yang kembali bergetar.
"Hai, Qi. Kamu kenapa ketakutan seperti itu?" tanya Evan cemas.
Qila merem4s ujung bajunya kemudian berusaha menahan air matanya. Ia dalam hatinya sangat senang sehingga merasa terharu pada Aidan yang sudah mulai perhatian pada bayi yang telah dilahirkannya.
"Te-terima kasih, Kak." Kata Qila tiba-tiba tersenyum padanya membuat Evan hanyut dalam pesonanya.
"WOI! EVAN! QILA! CEPAT KE SINI!" pekik Aidan terpaksa teriak pada dua remaja itu yang sudah cukup lama bertatap-tatapan.
"Kalau kalian tidak mau, ya udah, kita tinggalin kalian!" teriak Aidan kesal.
"Eh! Sebentar, Ai! Kita juga mau ikut kok!" balas Evan teriak lalu menarik tangan Qila membuat gadis itu terkejut lagi.
"Yuk, Qila. Kita jangan sampai ketinggalan!" ajak Evan tersenyum padanya. Dengan terpaksa, Qila pun ikut masuk dan duduk di dekat Arum meskipun harus menahan rasa traumanya.
"Hmm, kamu baik-baik saja, Qila?" tanya Arum melihat kedua kaki dan tangan Qila yang gemetar.
"A-aku baik-baik saja kok, Tante," jawab Qila tersenyum dan menyembunyikan ketakutannya. Arum memegang tangan Qila dan balas tersenyum. "Jika kamu takut ketinggian, sini pegang tangan Tante," ucap Arum menawarkan tangannya.
Qila pun mengangguk paham dan dengan cepat memegang tangan Arum. Bukan cuma itu saja, Arum juga mengajak Qila mengambil foto pemandangan ketika wahana mulai bergerak. Terlihat Qila tidak menyadarinya dan asik tertawa mendengar cerita lucu dari Arum tentang masa kecil Aidan dan Keyra.
Sementara dua cowok yang bersama mereka, terlihat duduk santai sambil melihat Arum dan Qila. Namun saat Evan yang menikmati senyuman Qila, tiba-tiba ia terkejut menerima pertanyaan dadakan.
"Lo suka Qila ya, Van?" tanya Aidan yang duduk di sebelahnya dengan tatapan curiga.
"Benar, aku menyukainya pada pandangan pertama dan dia lah alasan aku berteman dengan kalian berdua agar aku bisa lebih dekat dengannya. Dulu, aku memang belum punya nyali, tapi hari ini adalah kesempatan bagus untuk ku mendekatinya. Mumpung ada alasan bagiku untuk kujadikan ancaman jika kalian berdua berani mengganggu niatku ini." Jelas Evan, kemudian melihat Aidan yang marah.
"Apa maksud lo ini, Van?!!" Tatap Aidan menarik kerah leher Evan dengan kuat.
"Oi, tenang! Gue gak bakal bocorin kok tentang dua bayi itu ke Ibu lo, tapi ..." ucap Evan menepis tangan Aidan.
"Tapi, jika lo berani ganggu hubungan gue sama Qila nanti, atau lo dan Raiqa gak terima gue jadi suaminya di masa depan, gue bakal laporin scandal lo ini ke umum." Senyum Evan dengan sangat licik dan menegaskan setiap kata-katanya.
"Ternyata benar rumornya, kalau lo ini emang cowok berengsek!" ujar Aidan mengangkat tangan ingin menonjok wajah Evan namun berhenti setelah melihat ekspresi Ibunya dan Qila yang terkejut.
"Aidan, apa yang sedang terjadi? Kenapa kamu ingin memukul teman mu?" tanya Arum bersamaan wahana juga sudah berhenti.
Aidan tidak menjawab, melainkan menyeret paksa Evan meninggalkan Ibunya dan Qila.
"Ya Allah, dia kenapa lagi?" desis Arum melihat putranya pergi dan tahu ada masalah dari ekspresi Aidan yang marah itu. Arum pun kembali terkejut ketika Qila mengejar dua cowok itu tanpa memberitahu kepadanya.
"Ehh, Qila mau kemana?" tanya Arum segera menangkap tangannya. Qila menoleh dan menjawab cepat. "Maaf, Tante tunggu di sana dulu. Qila mau kasih hapenya Kak Evan, sepertinya ada panggilan penting dari kakaknya."
"Okeh, Tante tunggu di sana, tapi kalian bertiga jangan lama-lama ya,"
"Baik, Tante." Setelah mengangguk, Qila lanjut menyusul Aidan. Sedangkan Arum menunggu sendirian tiga anak itu. Untungnya, cuaca sore ini tidak terlalu panas dan menyengat. Namun begitu, Arum penasaran apa yang terjadi pada Aidan yang begitu marah.
"Ma-maaf Tante, Qila tidak bisa jujur dulu. Qila takut, Tante terkena serangan jantung jika tahu hal ini." Qila mengepal tangannya yang terdapat hape Evan. Ia sebenarnya mendapat pesan singkat dari Raiqa jika situasinya sedang terancam akibat adanya Hana di apartemennya yang terus menerus mempertanyakan siapa orang tua dari dua bayi yang dijaganya itu. Apalagi Hana mengancam akan melaporkannya pada ayahnya jika Raiqa tidak mau jujur.
Sementara di tempat lain, Bram yang dicari-cari tampak berhadapan dengan Tuan Rayden. Ia datang sendiri ke perusahaan itu sebelum Aidan dan Evan datang ke rumahnya.
"Apa tujuanmu?" tanya Rayden menatapnya dingin dengan aura yang tidak suka pada Bram yang memiliki tampang datar yang terlihat menyebalkan.
'Berharap ini tidak ada hubungannya dengan nyonya, ya Tuhan." Batin sekretaris yang berdiri di dekat pintu. Ia terlihat ketakutan jika membayangkan amarah Rayden yang dulu pernah menghabisi orang yang berani mengusik dan mencelakai istri kesayangannya itu. Ludahnya terus ditelan sampai kering, tidak seperti Bram yang duduk tenang-tenang saja sambil menyerahkan sebuah dokumen rahasia di atas meja. Entah bagaimana rencananya kali ini, tapi sepertinya ia melakukannya untuk masa depan Qila.
.