
"Lo udah kenapa, Ai?" Raiqa bertanya dan duduk dengan santai sambil membaca ulang nama - nama di dalam daftar siswi inisial AM. Membaca dari atas sampai bawah, namun Raiqa merasa ada satu nama yang tidak masuk ke dalam berkas di tangannya itu.
"Serius amat tuh muka, lagi mikir apaan, Rai?" tanya Evan kembali duduk di sebelah Raiqa.
Melihat kedua sobatnya yang fokus pada daftar nama siswi sekolah, Aidan yang masih berdiri diam pun menghembuskan nafas. Meski aku rahasiakan ini, cepat atau lambat, Raiqa dan Evan pasti akan mengetahuinya.
'Yosh!! Aku harus percaya dan yakin pada mereka!' Aidan membatin lalu mulai mengatakan pelan-pelan.
"Itu, dua bayi yang ada di apartemen gue itu sebenarnya anak gu-gue," ungkap Aidan meringis.
Rahang Raiqa dan Evan menganga. Mendengar ungkapan itu membuat mereka terkejut.
"Haaa? A-anak lo? Maksudnya?" Raiqa dan Evan berdiri dan menaruh daftar namanya di atas meja.
"Ma-maksudnya, gu-gue itu udah jadi ayah, Rai,"
"Ini emang sulit bagi kalian mempercayainya, tapi dua bayi di apartemen itu adalah darah daging gue, Van,"
"Gu-gue juga nggak tahu kenapa ini bisa terjadi,"
"Oleh karena itulah, gu-gue sedang bermaksud mencari perempuan yang udah ngelahirin dua bayi itu dan berharap perempuan itu gak kabur dari kota ini." Aidan mengatakan semuanya pada Raiqa dan Evan sambil terus menelan ludahnya dengan kasar dan kini menatap lantai dengan perasaan sedih dan kacau. Aidan mengira, dua sahabatnya itu akan kecewa padanya, namun suasana yang hening itu malah dipecahkan dengan suara tawa Raiqa dan Evan.
"Bhahahaha.... lo ngomong apa sih? Lagi baca naskah drama kah, Ai?" ucap Raiqa dan Evan terpingkal-pingkal. Mulut Aidan terbuka dan hampir saja rahangnya jatuh melihat reaksi dua sahabatnya itu yang menanggapinya seperti candaan.
"RAIQA!! EVAN!! GUE GAK LAGI BACA NASKAH BODOH!"
"INI BENERAN! GUE GAK BOHONG ATAU BERCANDA!"
"BERHENTI TERTAWA, CK!"
Saking emosi mendengar tawa Raiqa dan Evan yang meledeknya, Aidan berteriak lantang dan berhasil membungkam tawa mereka.
"Serius? Lo gak lagi ngarang cerita kan?" tanya Evan dan Raiqa menepuk masing-masing bahu Aidan.
Aidan menepis tangan mereka kemudian melangkah ke depan dan mengambil berkas di atas meja lalu melihat Evan.
"Evan, lo kan udah lihat wajah dua bayi di apartemen gue kan?" Evan pun mengangguk ditanya oleh Aidan.
"Nah, dari wajah bayi itu, lo pasti ngeras mereka itu mirip gue, kan?" Sekali lagi Evan menganggukkan kepala. Sedangkan Raiqa diam menyimak obrolan dua sahabatnya itu.
"Jadi, itu sudah cukup membuktikan kalau gue punya hubungan sama tuh dua bayi," ucap Aidan lalu mengcopy paste kertas itu menjadi tiga.
"Nih, kalian berdua ambil ini dan tolong bantuin gue selidiki mereka. Atau jika kalian bisa, tolong tanyakan langsung saja apakah mereka sudah pernah mengandung anak dan melahirkan bayi!" kata Aidan menaruh hasil copy-nya itu ke tangan Raiqa dan Evan.
"SEBENTAR! GUE MAU NANYA!" ujar Raiqa mengacungkan tangannya ke atas.
"Nanya apa?" tanya Aidan yang dirangkul lehernya oleh Raiqa.
"Gini, gue sebenarnya masih kurang percaya, Ai,"
"Kenapa?" tanya Aidan dan Evan.
"Coba deh pikirkan baik-baik, lo itu kan selalu sama kita dan gak pernah ke club malam main cewek liar. Masa sekarang lo tiba-tiba punya anak?" ucap Raiqa sulit memikirkannya.
"Nah benar sih yang dikatakan Raiqa, tapi apa benar lo udah pernah begituan dulu?" tanya Evan sedikit penasaran.
Aidan pun diam dan memegang kepalanya.
"Yang kalian katakan itu memang agak aneh sih, dari dulu gue anti banget sama cewek selain Hana, dan juga gak ada ingatan tentang begituan di kepala gue," kata Aidan mulai ragu-ragu tentang ucapan Dokter Bram dan juga isi kertas milik AM.
"Nah, kan! Bisa jadi ini sebenarnya sebuah jebakan!" ujar Raiqa yakin.
"Jangan-jangan ulah Alpha?" sahut Evan mengejutkan Aidan dan Raiqa. Nama itu sangat dibenci mereka karena Alpha adalah musuh mereka yang suka bikin masalah.
"Jadi maksud lo, bayi ini dikirim oleh Alpha?" tebak Raiqa.
"GAK!" bantah Aidan lantang.
"Gak kenapa?" tanya Evan dan Raiqa hampir jantungan.
"Gue ngerasa ini gak ada hubungannya sama Alpha! Kalau mereka yang melakukan ini, pasti sudah ada rumor yang tersebar di media!" jawab Aidan sedikit marah.
"Hm, berarti jalan satu-satu yang bisa memperjelas ini cuma perempuan AM ini! Tapi siapa ya dia?" gumam Raiqa dan Evan berpikir.
"Ada banyak inisial AM dan ini pasti memakan waktu banyak menemukan yang asli!" kesal Raiqa tidak bisa puas main game seharian lagi.
"Apa mungkin Hana?"
Deg!
Raiqa dan Aidan terperanjat syok mendengar tebakan Evan yang tiba-tiba menyebut Hana. Seketika saja Raiqa menarik kerah Evan dengan tatapan marah. "Apa maksud lo nyebut Hana, Van?"
"Lo mau gue bunuh ya, Van!?"
Aidan sedikit mundur melihat kemarahan Raiqa yang hampir meledak. Tentu saja sebagai kakak, Raiqa tidak terima adiknya dituduh sembarangan.
"Heh, gue canda kok! Slow dong, Rai!" Evan melepaskan cengkraman Raiqa.
"Ck, canda lo gak asik! Sumpah, gue gak suka!!" decak Raiqa lalu melihat Aidan.
"Gue duluan, Ai. Tapi lo tenang saja, gue bakal bantuin lo tanya-tanya ke mereka, dah!" Raiqa berlalu pergi meninggalkan markas mereka sambil menatap kesal kertas di tangannya. 'Kuharap orangnya bukan kamu.' Batin Raiqa memikirkan satu nama yang tidak tercantum di daftar itu.
"Ternyata, Raiqa bisa semarah itu kalau gue bahas adiknya, hahaha," tawa Evan sedikit puas menjahili Raiqa.
"Eh tapi, bagaimana kalau dia tahu soal Qila yang ada di apartemen lo? Apa Raiqa bisa semarah itu nanti?" gumam Evan yang berdiri di sebelah Aidan.
"Lo tau sendiri kan, di keluarganya, Qila tidak begitu diperhatikan, gue ngerasa kalau Raiqa gak masalah soal ini," ucap Aidan menatap Evan yang memandangi kertas di tangannya.
"Btw, Ai. Gue ngerasa, lo sebaiknya lakukan tes DNA dulu sebelum mempercayai ini. Siapa tahu ini memang sudah direncanakan untuk menjatuhkan posisi lo, atau menyingkirkan lo dari keluarga lo sendiri," saran Evan kini menatap Aidan.
"Ya, itu sudah gue lakukan kemarin, tinggal nunggu hasilnya keluar dari rumah sakit," ucap Aidan kini keluar dari markasnya bersama Evan.
"Eh tapi, gue mau tanya nih," ucap Evan berhenti di depan ruang lab.
"Apa?" Aidan pun berhenti juga.
"Dari mana lo dapatkan dua bayi itu?" tanya Evan. Aidan pun mengatakan dari awal jika Aiko ia temukan di teras rumah dan Aila dibawa oleh Dokter Bram tadi. Aidan pun juga mengatakan jika Aila kemungkinan seperti Aiko yang diletakkan di teras rumah Bram sehingga Dokter itu datang ke apartemennya untuk memberikan Aila padanya, tetapi ...
"Tapi kenapa, Ai?" tanya Evan melihat Aidan berhenti bicara.
"Ini agak aneh, deh," ucap Aidan kembali jalan.
"Aneh di mana?" tanya Evan juga dan tidak peduli tatapan siswa yang berpapasan dengannya.
"Sebelum lo datang tadi, Qila bilang kalau dia sendiri yang hubungi pria itu, masa bisa kebetulan begini?" ucap Aidan garuk-garuk kepala. Ia terkenal cerdas di sekolah, namun kali ini ia bingung menyelesaikan masalahnya. Merasa seperti orang yang paling terbodoh di dunia.
Evan pun juga dibuat heran mendengar itu. Ia ikut berpikir kenapa bisa Qila kebetulan memanggil pria yang sudah berniat mau mendatangi Aidan?
"Jangan-jangan ...." Aidan dan Evan pun saling pandang dan memikirkan hal yang sama.
"Apa mungkin AM itu adalah ...."