Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
100. Rencana Balas Dendam



Seminggu kemudian, Kinan pulang bersama Raiqa dan Bik Ida. Tiba di rumah, cowok itu disuruh untuk istirahat. Sedangkan Hana terus saja cemberut sepanjang hari karena di rumah, ia tidak melihat Qila. Adiknya yang selama ini tinggal di rumah Rayden. Tetapi, Hana lumayan lega melihat Ibu dan ayahnya baikan.


"Huft, syukurlah, reputasiku jadi aman," hela Hana lalu menoleh ke Raiqa yang menghampiri mereka.


"Ma, Pa, Qila mana?" tanya Raiqa yang belum tahu apa-apa sebab Kinan di luar negeri tidak berani jujur soal Qila, jadi ia mengharapkan Wira yang mengatakannya. Tetapi saat Wira mau menjawab, tiba-tiba Hana duluan yang bicara.


"Dia rumah Keyra," ucap Hana.


'Keyra? Sejak kapan Qila gaul sama tuh cewek?' pikir Raiqa.


"Kalau begitu, aku mau ke sana dulu!"


"Ehhh, tunggu Raiqa!" Kinan dan Wira ingin menahannya tetapi Raiqa sudah keluar duluan dari rumah.


"Sayang, gimana nih?" tanya Kinan ingin menyusul sekalian mau melihat cucunya.


"Hmm, gak apa-apa, biarkan saja dia yang mencari jawabannya sendiri. Nanti kita ke sana kalau sudah malam," Wira menjawab sambil tersenyum.


"Baik, deh, aku juga mau istirahat dulu." Balas Kinan tersenyum dan pergi ke kamarnya bersama Wira, meninggalkan Hana yang tambah menekuk mukanya.


Sedangkan di rumah Rayden, tampak di sana hanya ada Arum, Aidan, Qila dan dua bayi kembarnya, karena saat ini Rayden keluar mengurus kematian para anak buahnya, sekalian mencari tahu di mana keberadaan Bram dan Black. Apalagi mesin waktunya yang rusak parah itu, Rayden menguburnya dan sudah tidak mau membuatnya lagi. Rayden tidak mau ada orang licik muncul seperti Black. Sementara Keyra, cewek itu sedang berada di rumah Alena.


"Hufttt...." Hembus Aidan lesu di dalam kamarnya. Sebab, selama ini Qila sungguh tidak mau bicara. Meskipun ia meminta Arum untuk membujuk Qila, tetap saja istrinya itu mengabaikannya.


"Jadi begini ya rasanya dijauhi olehnya." Aidan membuang nafas, merasa sedih, galau, dan depresi. Tiba-tiba, ketika membuka laci meja, ia melihat buku milik Bram yang belum pernah dia buka dan kotak cincinnya yang sudah dikembalikan oleh sekretarisnya Rayden.


"Ehh, loh, kok ada tiga?" Kaget Aidan menemukan tiga cincin.


"Apa ini bonus dari Papa?" gumamnya mengamati tiga benda di telapak tangannya. "Ya udahlah, mungkin ini dari Papa." Aidan yang tidak mau memikirkannya, ia menyimpannya. Setelah itu, ia pun perlahan membuka buku di depannya. Aidan tercengang, isinya benar-benar sesuai ucapan Bram. Isi buku itu tentang panduan, rangkuman dan data-data rumus yang diperlukan untuk menciptakan mesin waktu ke dua masa sekaligus.


"Akhhh," ringis Aidan tiba-tiba mendapat gambaran Bram bertarung dengan Black. Ingatan kecil yang tiba-tiba muncul begitu saja. "Benar, ini aku ingat sekali, ta-tapi jika begitu, kemana dua orang ini sekarang?" gumam Aidan dan mulai berusaha mengingat kelanjutannya tetapi percuma, ingatannya mentok di sana.


"Sial, aku tidak apa-apa lagi. Sepertinya ini memang ingatan terakhirku." Aidan mendecak kesal dan lanjut membuka setiap lembar buku tebal itu yang tercetak begitu rapih dan mudah dipahami. Tinggal Aidan sendiri mau menciptakannya atau tidak.


"Gak, aku emang dulu mau melakukan perjalanan waktu, tapi sekarang aku tidak memerlukan mesin ini." Aidan yang belum membaca sepenuhnya isi buku itu, ia menutupnya dan berjanji tidak akan ke masa lalu. Setelah menyimpan buku itu ke rak paling bawah, tiba-tiba ada yang berteriak heboh di luar.


"APAAAA? SELAMA INI KAMU TERNYATA ADALAH IBU MEREKA?!!" Suaranya melengking sampai membuat telinga Arum yang lagi mengajak dua cucunya main, merasa sakit luar biasa.


"I-iya, Kak." Jawab Qila terbata-bata sudah menceritakan semuanya. Raiqa memegang dadanya, jantungnya berdegup dua kali lipat mengetahui adik bungsunya sudah jadi Ibu dan sudah menjadi istri Aidan tanpa sepengetahuannya.


"Ya Tuhan, musibah macam apa ini yang engkau timpakan pada adikku," ucap Raiqa memijat kepalanya yang sakit. Namun tiba-tiba tersentak kaget mendengar seseorang menyahut di belakangnya.


"Cecunguk baru sadar dari koma, beraninya kau mengatai dua cucuku itu sebagai musibah. Kau ini tampaknya memang sudah bosan hidup ya," ucap Rayden sudah pulang dan menyiapkan bogem di tangannya. Raiqa mundur, berdiri di belakang Qila.


"Gak kok, Om. Maksud saya itu anugerah, hahaha." Tawa Raiqa sedikit takut. Harusnya dia yang marah, tapi ini malah si ayah mertua adiknya itu yang marah padanya. Tetapi muka Rayden yang galak dan menyeramkan itu seketika berubah lembut setelah mendekati dua cucunya.


Raiqa pun menarik Qila menjauhi pasutri itu. "Ada apa lagi, Kak?" tanya Qila.


"Qila, kenapa kamu gak kasih tau aku kalau kamu pernah melakukan itu pada Aidan? Kamu gak percaya ya sama aku? Aku ini kakak kamu, Qila." Raiqa sedikit kecewa dan merasa tidak mendapat kepercayaan dari adiknya.


"Bukan begitu, aku cuma tidak mau persahabatan Kak Raiqa dan Kak Aidan berakhir." Ucap Qila menunduk. Raiqa pun terdiam kagum pada adiknya yang mengutamakan perasaannya itu daripada perasaannya sendiri.


Raiqa maju, ingin memeluk Qila, tetapi tiba-tiba seseorang menarik adiknya. Qila pun terkejut pada Aidan yang menghalangi Raiqa. "Dia istriku, Raiqa. Kau gak boleh melakukan itu padanya," larang Aidan.


"Yaelah, dia juga adikku! Kau gak boleh larang-larang aku dong. Kita berdua ini kan lahir dari wanita yang sama!" kata Raiqa menarik satu tangan Qila. Dari ekpresinya, Raiqa kesal pada sahabatnya itu. Tetapi seketika seseorang mengetok kepalanya.


"Heh, dodol! Dia emang adik lu, tapi sekarang dia udah nikah sama Aidan, lu itu udah gak boleh meluk Qila di depan kita," ucap Keyra entah datang dari mana. Tetapi tampaknya habis mengerjakan tugas sekolah.


"Berarti gue boleh dong meluknya di rumah gue," ucap Raiqa mengelus kepalanya.


"Ihhh, Raiqa! Lu ini emang mesum banget ya!"


"Akhh, mesum dari mananya coba? Aku dan Qila itu saudara kandung tau! Kayak lu sama Aidan! Lu kenapa malah sewot sih?!" Kesal Raiqa menjauh sebelum kena bogem dari gadis cerewet itu.


"Heh, Jamal, gue dan Aidan emang sodara, tapi gue dan dia gak pernah lakukan itu sekarang. Otak jenius dan otak dodol kayak lu emang gak pernah cocok ya," kata Keyra nunjuk-nunjuk.


"Dih, sombong! Siapa juga yang mau dicocokin sama gadis teledor dan tomboy kayak lu." Balas Raiqa nunjuk.


"Apa lu, bilang?!"


"APA? MARAH? SINI GUE LADENIN!"


Dan tiba-tiba semua terdiam saat Rayden mendeham sambil memegang sapu lidi di tangannya.


"Kalian berdua ya, tiap bertemu selalu bertengkar, kayaknya bagus kalau kalian dinikahi juga," ucap Rayden tersenyum jahat.


"Idih, amit-amit jabang bayi. Kita gak cocok." Kata Raiqa dan Keyra berpaling muka kemudian pergi. Raiqa pamit pulang dan Keyra menuju ke kamarnya. Meninggalkan Aidan dan Qila yang terdiam canggung di sana.


"Qila, kamu yang urus mereka dulu, Mama mau ke atas dulu," ucap Arum mau mengurus suaminya itu.


"Baik, Ma." Angguk Qila duduk di dekat kereta bayinya. Melihat Qila menjaga sendirian di sana, Aidan diam-diam duduk di sebelahnya dan pura-pura baca buku sambil melirik Qila. Seperti biasa, Qila cuma mengajak bicara dua bayinya daripada mengobrol dengannya. Bahkan Qila tidak meliriknya.


"Qila...." ucap Aidan mau bicara.


"Duhh, kenapa sayang? Mau susu? Ya udah, kita ke kamar sekarang." Qila berdiri membawa dua bayinya. Lagi-lagi dicuekin. Qila yang dulu ceria, sekarang bersikap dingin padanya. Sakit sekali rasanya dianggap seperti nyamuk. Bahkan itu berlangsung selama tiga tahun kemudian.


Tiga tahun menikah, Aidan tidak pernah menyentuh istrinya dan sekarang dua malaikat kecilnya juga tumbuh menjadi belita yang sangat-sangat menggemaskan. Di tahun ini, Qila dan Aidan sudah lanjut ke universitas yang sama. Menjadi mahasiswa dan juga orang tua di usia mereka yang muda. Meskipun begitu, Aidan mencoba memikat hati Qila, tetapi istri dinginnya itu sangat susah meliriknya. Hal itu membuat Evan merasa ada peluang besar untuknya mewujudkan keinginannya. Namun tiba-tiba cowok blonde itu melamar Keyra di depan kampus. Semua mahasiswa, Aidan, Qila, dan Raiqa, bahkan Hana, mereka terkejut melihat cowok itu mengajak Keyra menikah. Tentu saja, Evan melakukan itu demi masuk ke keluarga Rayden untuk mendekati calon iparnya.


"Kamu serius, Van?" tanya Keyra sedikit ragu. Evan berdiri dan tersenyum begitu manis. "Ya Key, aku sudah lama ingin katakan ini, tapi aku sedang menunggu waktu yang pas. Jadi, sebelum kamu dimiliki orang lain, aku harus mengatakan ini sekarang." Evan meraih tangan Keyra, wanita muda itu tersipu karena ada laki-laki yang mengajaknya menikah, itupun ternyata Evan.


"Aku tahu, ini memang mendadak, dan aku tahu kamu belum sepenuhnya suka padaku, tapi ku harap dengan pernikahan ini, kita bisa saling mencintai," ucap Evan mencium tangan Keyra di depan, Aidan, Qila, Hana dan Raiqa.


"Baiklah, aku mau." Angguk Keyra merasa senang tidak lagi jomblo. Sedangkan Aidan merasa ragu, tetapi melihat Keyra, Aidan membiarkan saja dua insan itu bersama. Sementara Raiqa tampak mengepal tangan dan pergi, membuat Hana heran melihat kakaknya itu.


'Yeah, akhirnya langkah pertama berhasil.' Seringai Evan dalam hati melihat Keyra masuk ke dalam rencana balas dendamnya.


Usai membicarakan lamaran pernikahan mereka, dua pihak keluarga setuju karena Evan memang cowok ideal. Apalagi Rayden lumayan suka Evan menjadi menantunya karena cowok itu punya keberanian besar dapat melawan Black dulu. Maka tidak ada salahnya ia menjalin hubungan dengan keluarga Evan.


Di malam pernikahan keduanya, semua orang sibuk sekali menyambut para tamu. Membuat Aiko yang tidak diperhatikan oleh Ibunya, bocah cilik tampan dan tiga tahun lebih itu berjalan keluar ke belakang rumah. Ia duduk sendirian di bangku kosong sambil baca buku bergambar, tiba-tiba, sesuatu muncul di depan matanya.


'BRUKKK'


"Dedyi (Daddy)?"


.


Siapa itu?🤣