
Satu jam yang lalu, sebelum Aidan mengacak isi apartemennya. Ia yang tadi sedang menghubungi Evan, tiba-tiba mendapat pesan dari gengnya jika kelompok mereka dibubarkan. Aidan langsung terdiam beberapa detik, ia syok mengetahui hal itu.
"Bu-bubar? Kenapa bisa?"
"Apa sekretaris itu yang melaporkannya?"
Dan benar saja, beberapa saat kemudian, akun sosial Aidan diserang oleh anggotanya. Mereka kecewa karena kelompok yang sudah mereka bangun tiga tahun ini tiba-tiba dibubarkan. Mereka menyalahkan Aidan sebagai ketua yang tidak becus. Bahkan Evan pun juga saat ini diserang juga karena sebagai wakil geng mereka tidak melakukan apapun untuk mempertahankan gengnya. Seandainya Raiqa tidak koma, mungkin cowok itu juga diserang, tapi mereka masih bisa memahami kondisinya.
Aidan meremas rambutnya, masih belum percaya ancaman ayahnya sudah terjadi. Tiba-tiba, di tengah keterkejutannya itu, Rayden mengirim pesan padanya. Aidan pun membuka isi pesan hapenya dan membacanya cepat.
Seketika, mata Aidan teralih ke sudut ruangan. Cowok itu tambah kaget dan baru menyadari di sana ada cctv tersembunyi. Arah mata Aidan pun beralih ke tempat cctv miliknya terpasang dan rupanya cctv di sana tidak ada alias telah diambil oleh sekretarisnya.
"ARGHHHH, QILAAA!" Aidan menghempaskan semua yang ada di depannya. Membuat semua berantakan. Ia pun mengambil cctv ayahnya, kemudian melemparkannya ke luar jendela. Setelah itu, Aidan duduk, mengatur emosinya yang tiba-tiba meledak. Perasaannya sangat sakit dan merasa yang dia usahakan selama ini telah hilang semua.
"ARGHHHH!" Sekali lagi mengerang sendirian di depan televisi. Aidan menunduk dan menutup matanya, wajahnya memerah dan mencoba menahan air matanya. Ia sudah cukup tertekan. Aset berharga yang dijanjikan Ayahnya masih belum sepenuhnya dia miliki karena Rayden akan mengembalikannya setelah ia lulus dari sekolah. Tangis Aidan pun pecah, ia merasa tersiksa oleh kelakuan ayahnya dan juga bingung apa yang akan dia terima bila Ibunya tahu putranya sudah merusak anak orang lain. Ditambah lagi, kekuasaannya di sekolah sudah tidak ada dan juga kebebasannya telah hilang.
"Jika begini, Alpha akan leluasa melakukan apa yang dia mau." Aidan mengacak rambutnya dan mengusap sisa air matanya.
"Mungkin kali ini target mereka adalah Hana." Aidan merem4s jemarinya dan masih saja memikirkan perempuan lain daripada istrinya yang juga bisa menjadi target berikutnya.
"Sial, ini semua gara-gara kamu, Qila!" Kelakar Aidan geram dan membuat dua bayi di dalam kamar tiba-tiba menangis karena terkaget-kaget mendengar teriakan Aidan.
Ayah muda itu pun berdiri ingin menenangkannya, tapi sejenak, Aidan berhenti dan kembali duduk di sofa. Tidak jadi memasuki kamarnya yang pintunya sedang terbuka itu. Aidan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, membiarkan dua bayi itu menangis di sana dan menutup mata. Berpura-pura di apartemen hanya dia sendirian saja dan pura-pura tenang. Aidan pikir, dua bayi itu bisa berhenti sendiri, tapi sama sekali tangisnya memenuhi apartemen Aidan.
Aidan pun menatap ke atas, tatapannya kosong. Tiba-tiba sesuatu terpintas di pikirannya. Aidan beranjak duduk, mengambil hapenya kemudian masuk ke dalam kamar. Dia memang tidak suka nasibnya ini, tapi sebagai manusia yang punya hati, Aidan memberikan masing-masing botol susu hasil buatannya ke mulut baby twinsnya.
"Cih, merepotkan." Aidan duduk di tepi ranjang setelah dua bayi itu tenang. Ia pun menghubungi Evan. Cowok itupun menjawab panggilannya.
"Halo, Evan, lu sekarang ada di mana? Bisa ke sini, gak?" tanya Aidan sambil menyuruhnya datang.
Evan tampak berat bicara pada Aidan, tapi ia juga ingin tahu lebih jelas apakah ucapan Bram itu benar atau tidak.
"Lagi di rumah, tapi sorry, gue gak bisa ke sana," tolak Evan.
"Hei, Evan, lu gak masalah dengan kelompok kita? Atau lu belum tau geng kita yang sudah dibubarkan?" tanya Aidan kecewa.
"Gue udah tahu kok, cuman-" ucap Evan terdengar agak malas bicara.
"Cuman apa?" tanya Aidan.
"Cuman gue gak bisa ke situ karena...."
"Karena ada bayi? Lu tenang aja, dua bayi itu gak akan ganggu lu," ucap Aidan.
"Bukan bayi kembar lu, tapi alasannya adalah Qila," kata Evan.
"Ke-kenapa dengan Qila?" tanya Aidan sedikit grogi.
"Aidan, gue benar-benar kecewa atas apa yang gue dapatkan ini. Gue gak nyangka ternyata lu udah nikah sama Qila, dan bahkan dua bayi yang ada di apartemen lu itu rupanya anak kalian, hasil hubungan kalian. Perasaan gue sakit banget, Ai. Lu udah rebut gadis yang gue suka," jelas Evan terus terang. Ingin marah tapi kesedihannya sangat dalam setelah mendengar jawaban Aidan.
"Ja-jadi lu udah tau semua?" tanya Aidan kaget.
"Ya, sepertinya gue gak bisa bantu lu lagi, gue udah terlanjur pindah sekolah ke luar negeri," ucap Evan ingin memutuskan panggilan itu.
"Tunggu, EVAN!" ujar Aidan lantang.
"Lu dengerin gue dulu," ucap Aidan berdiri dan melihat baby twins.
"Evan, gue minta maaf, gue gak pernah bermaksud ngerebut Qila dari lu. Bahkan gue merasa kalau gue gak pernah menodai Qila. Sumpah, gue benar-benar gak tahu bakal jadi gini takdir gue. Dan jujur, gue gak pernah cinta sama Qila," ucap Aidan.
"Percuma, meskipun lu bilang gitu, nasi sudah menjadi bubur. Apa yang terjadi gak akan bisa balik seperti semula lagi," kata Evan terdengar putus asa. Tapi tidak untuk Aidan tiba-tiba memikirkan hal yang mustahil.
"Gue rasa ada satu cara untuk merubahnya," ucap Aidan dan kembali melihat baby twins.
"Merubah? Apa maksud lu?" tanya Evan.
"Evan, gue pernah dengan sesuatu tapi ini masih belum pasti, jadi itu, gue merasa dengan membuat mesin waktu, kita bisa merubah kesalahan di masa lalu, tepatnya di tahun lalu sebelum pesta besar itu dirayakan," ucap Aidan yakin.
"Lu udah gila, Ai. Hal seperti itu gak bisa terjadi," kata Evan.
"Evan, ini memang gak masuk akal, tapi setelah lu lihat mesin itu, gue yakin lu bakal setuju dengan hal ini," ucap Aidan.
"Ha? Maksud lu?" Evan sedikit kaget dan tambah kaget mendapat sebuah foto dari Aidan.
"Apa ini?" tanya Evan.
"Evan, jujur.... gue sebenarnya takut mengatakan ini pada orang lain, tapi karena lu sahabat gue, gue harap lu bisa jaga rahasia ini dan bisa bantu gue ambil mesin itu. Mesin itu adalah proyek yang dikerjakan oleh ayahku dengan beberapa orang ilmuwan rahasianya. Gue gak tau tujuan mereka untuk apa, tapi sepertinya gue yakin mesin ini bisa berjalan dengan baik jika kita berdua yang mengerjakannya. Gue yakin dengan kemampuan lu yang sama seperti gue, kita bisa menyelesaikan ini dan pergi ke masa lalu untuk menghentikan aku memperkaos Qila,"
"Jika kita berhasil, gue pasti gak akan nikah dan punya anak darinya, dan lu bisa hidup bersama Qila, Evan." Tutur Aidan panjang lebar.
"Aidan, yang lu lakukan ini akan membuat resiko besar! Lu bisa merusak dan mengubah masa depan orang lain!" kata Evan ingin menolak dan ragu mempercayai ide gila Aidan yang terdengar egois.
"Okey, ini emang beresiko, tapi coba pikirkan! Lu bisa nikahi Qila yang sangat lu cintai itu, dan lagipula, kita cuma lakukan sedikit perubahan kecil saja, Evan," timpal Aidan berusaha menyakinkan Evan.
Evan pun diam, ia bimbang. Tapi membayangkan dirinya hidup bahagia bersama Qila, membuatnya pun terpaksa setuju.
"Okeh, gue terima ide lu itu. Tapi gue mau lu ikhlas Qila jadi milik gue nantinya," ucap Evan.
"Lu tenang aja, gue sangat ikhlas lu hidup bersama Qila. Bahkan kalau lu mau jalan sama Qila besok, gue bakal izinin kalian jalan bareng," kata Aidan benar-benar tidak berperasaan terhadap istrinya sendiri.
"Okeh, gue pegang kata-kata lu." Evan pun telah memutuskan akan bekerja sama. Kini setelah mereka sepakat, Aidan sedikit lega dan tersenyum bahagia. Tapi senyumnya pun sirna saat melihat Aiko dan Aila.
"Jujur kalian ini bayi yang paling imut di dunia, tapi kalian berdua sudah salah terlahir di rahim Ibu kalian itu." Kata Aidan sungguh kejam. Tidak bersyukur dengan kelahiran anaknya sendiri. Sorot matanya tajam dan menakutkan.
Sedangkan Qila, sorot matanya masih sendu. Dia tampak tidur di sebuah kamar, dan tidak bisa tidur. Oleh karena itu, Qila beranjak bangun. Mengambil hapenya lalu mengaktifkannya. Qila mencoba mengirim pesan pada ayahnya. Meminta pria itu mengizinkannya pulang ke rumah.
"Papa, apa Qila boleh pulang?"
Tapi pesannya cuma dilihat tanpa dibalas.
Qila menunduk sedih, merasa Wira sudah tidak mau memikirkannya lagi. Sebagai anak bungsu kecil di keluarga, ia merasa benar-benar seperti anak yang dibuang oleh ayahnya sendiri.
Qila pun keluar dari kamar lalu pergi ke kamar Bram.
"Om..." panggil Qila mengetuk pintu.
Bram yang sedang duduk di meja kerjanya, pria itu terkejut dan segera jalan cepat ke lemari bajunya. Bram buru-buru mengeluarkan sebuah topeng kulit, ia memasangnya di wajah dengan baik kemudian memasang softlens hitam ke matanya, menutupi mata biru aslinya.
.
Nah.. Siapa itu Bram?