Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
50. Bukan Hana, Tapi Qila



Dua hari telah berlalu, Rayden dan Arum yang tiba kemarin, kini di siang hari ini pasangan itu keluar dari rumahnya dan menuju ke alamat rumah Wira yang hanya berjarak beberapa meter saja. Sampainya di depan rumah berpintu kayu coklat itu, Rayden pun mengetuknya.


Tok! Tok! Tok!


Hanya tiga ketukan saja, seseorang pun datang membukanya. Pembantu yang ikut bersama Wira dan Kinan itu terkejut dengan hadirnya tetangga majikannya.


"Selamat siang, Bik," sapa Arum seperti biasa mengulas senyum ramah di bibirnya.


"Siang, Nyonya. Ada apa ya datang jauh-jauh ke sini?" tanya pembantu itu balas tersenyum kemudian mempersilahkannya masuk duduk di dalam.


"Begini, Bik. Kita mau bertemu Kinan sama suaminya, kira-kira, mereka ada gak, Bik?" tanya Arum lagi dan duduk di sebelah Rayden.


Pembantu itu pun menggelengkan kepala. "Maaf, Nyonya. Tuan Wira dan istrinya lagi ada di luar, tapi kalau Nyonya bisa menunggu, saya mungkin bisa menghubungi Tuan Wira pulang sekarang," ucap pembantu itu menunjuk sebuah telepon rumah di dekat tangga.


"Ya udah, kalau begitu kami akan menunggu di sini, gak apa-apa kan, sayang?" tanya Arum pada suaminya itu yang menahan rasa gugupnya karena bingung bagaimana membicarakan masalah Aidan dan Qila.


"Sayang!" sentak Arum mencubit lengannya.


"Oh iya, gak apa-apa, sayang," ucap Rayden cepat ketika melihat istrinya cemberut.


"Kalau begitu, saya ke sana dulu, Nyonya. Permisi," kata pembantu pergi menyiapkan jamuan untuk tamunya. Setelah meletakkan isi nampan yang ada di tangannya ke atas meja, pembantu itupun pergi menelpon majikannya. Terlihat wanita paruh baya itu mangut-mangut mendengar ucapan Wira.


"Baik, Tuan. Saya akan sampaikan pada mereka."


Tuut!


Panggilan berakhir begitu cepat. Terdengar Wira barusan seperti sibuk dengan urusannya. Pembantu itupun mendekati Arum kemudian menjelaskan isi dari jawaban panggilan Wira.


"Maaf, Nyonya. Kata Tuan Wira, hari ini Tuan dan Nyonya tidak bisa bertemu dengannya,"


"Hmm, kenapa tidak bisa, Bi?" tanya Arum.


"Kata Tuan Wira, ada pertemuan pribadi yang harus dihadiri malam ini, nyonya."


"Apa gak bisa disuruh pulang sebentar dulu ke sini, Bi?" Arum memohon setelah menyeduh teh panasnya yang manis dan pas di lidahnya.


"Maaf, Nyonya. Ini katanya penting jadi Tuan gak bisa pulang ke sini," ucap pembantu itu.


"Urusan apa itu, Bibi?" Rayden yang daritadi diam pun bertanya juga.


"Saya juga gak tahu, tapi barusan saya dengar nyonya mengucapkan perjodohan. Saya tidak begitu jelas mendengarnya, tapi tadi kalau tidak salah, nyonya menyebut nama Nona kembar." ucap pembantu itu sedikit ragu mengatakan nama siapa yang disebut Arum.


"Omong-omong, kapan pulang ke sini, Bi?" tanya Rayden pun berdiri. Merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada rencananya itu.


"Mungkin besok lusa, Tuan," jawab pembantu itu. Arum pun ikut berdiri kemudian melihat suaminya yang tegang.


"Kalau begitu, kita pulang yuk, sayang. Besok lusa kita balik ke sini lagi," ajak Arum menggandeng tangan Rayden yang tiba-tiba basah. Rayden pun menarik istrinya keluar dari rumah Wira kemudian mempercepat langkahnya.


"Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Arum cemas merasakan tangan suaminya yang dingin dan berkeringat. Apalagi sekarang langkah suaminya berbelok ke tempat mobil mereka terparkir.


"Lho, kamu mau kemana, sayang?" Ia menahan tangannya.


"Arum, kita harus ke tempatnya sekarang," ucap Rayden membuat istrinya itu tertegun mendengar baru kali ini suaminya memanggil namanya. Maka artinya ada yang sudah tidak beres pada suaminya itu.


"Kenapa? Kenapa kamu begitu panik? Apa yang telah terjadi diantara kamu dan Wira?" tanya Arum belum melepaskan suaminya yang mau masuk ke dalam mobil.


"Aku tidak setuju Wira menjodohkan putrinya dengan orang lain!" kata Rayden terang.


"Sayang, aku sebenarnya berniat ingin menikahkan Aidan dengan salah satu putrinya," ucap Rayden membuat Arum terperangah.


"Se-serius? Maksudnya kamu mau Aidan dan Hana dijodohkan?" tanya Arum disertai senyum bahagianya tapi seketika sirna mendengar jawabannya.


"Bukan Hana, tapi Qila,"


DeG!


"Qi-qila? Kenapa bukan Hana?" tanya Arum kecewa tebakannya salah.


"Pokoknya aku mau menikahkan Aidan dan Qila. Sekarang aku harus menemui Wira dan membicarakan perjodohan anak kita," ucap Rayden membuka pintu mobil lagi tapi tangannya kembali ditahan istrinya.


"TIDAK!" ujar Arum marah.


"Lho, kenapa denganmu, sayang?" tanya Rayden sampai melompat kaget menerima bentakan istrinya itu.


"Aku ... tidak ... MAU!"


"Aku tidak mau Aidan nikah sama Qila! Hana lebih cocok nikahnya sama Aidan! Mereka berdua sama-sama cerdas dan pasti kelak memberikan cucu yang manis dan juga jenius," kata wanita itu memekik tidak setuju.


Rayden pun diam dan tidak habis pikir istrinya lebih mengharapkan Hana menjadi menantunya dibandingkan Qila. Dalam hati Rayden, ia juga sedikit kecewa pada istrinya. Padahal sifat Qila itu kurang lebih mirip Arum, tapi istrinya malah menginginkan Hana yang jelas punya sifat berlawanan dari dirinya.


"Maaf, sayang. Aku tidak bisa menyetujui keinginanmu ini. Qila dan Aidan tetap harus menikah," ucap Rayden masuk tetapi Arum dengan cepat merebut kunci mobil suaminya.


"Arum, berikan itu padaku!" Pinta Rayden menatap tajam.


"Tidak! Aku gak mau kamu ke sana!" tolak Arum.


"Sayang, kali ini saja kamu jangan kekanak-kanakan deh," pinta Rayden serius. Tapi Arum mundur dan menggelengkan kepala.


"Gak! Aku gak mau! Gak mau!" Arum berlari masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu kamarnya. Rayden pun mengejar istrinya kemudian berdiri di depan kamar sambil mengetuk pintu.


"Sayang, kamu kenapa sih gak mau? Hana dan Qila itu sama aja," ucap Rayden membujuk istrinya.


"Ishh, emang sama mukanya! Tapi Hana lebih pantas buat Aidan, gadis itu punya talenta menjadi menantu kita," teriak Arum berdiri di balik pintu kamar. Rayden menepuk wajahnya melihat sifat istrinya yang pilih-pilih.


"Lagian Aidan itu suka sama Hana!" lanjut Arum tahu karena Aidan sering bicara tentang perasaannya itu dan Rayden tidak tahu hal itu saking sibuk mengurus pekerjaannya.


"Terus, aku juga udah bicara sama Kinan," ucapnya lirih.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Rayden sedikit terkejut.


"Itu... itu kita berdua mau jodohin Aidan sama Hana kalau mereka udah lulus dari sekolah," ucap Arum polosnya. Seketika di luar Rayden tidak mengetuk pintu lagi.


"Sayang! Sayang! Kok gak ngetuk lagi?" panggil Arum bertanya. Tapi suasana di luar mendadak hening. Karena cemas, wanita itu pun membuka pintu dan ternyata rumah sudah kosong tanpa keberadaan suaminya.


"Ahhhh, RAYDEN!" Arum menghentakkan kedua kakinya. Kesal dan marah ditinggal sendirian lagi. Mau di rumah atau di luar, ia merasa suaminya itu tidak mau lagi menghargai keputusannya.


"Dasar suami ngeselin! Pokoknya Hana tetap pilihanku." Gigihnya masuk ke kamar dan tidur saja daripada pergi mengejar suaminya yang menaiki taksi ke tempat Wira berada. Dengan kemampuannya yang ahli melacak keberadaan orang, Rayden berhasil menemukan tempat pertemuan Wira yang bersama calon besannya. Seandainya saja kontaknya bisa dihubungi, pasti Rayden bisa menghentikannya sekarang.


.


Ayo Kek, demi cucu twins dan menantu kecil, kau harus kejar calon besan mu👻abaikan dulu istri kesayanganmu😂