
"HAHAHA.... HAHAHA ..." Suara tawa menggelegar di sebuah ruangan. Terlihat di dalam sana ada banyak preman berdiri dan melihat salah satu anak remaja tertawa puas.
"Rasakan itu, Aidan. Akhirnya, lu jatuh juga di tangan gue! Ini yang gue harapkan dari dulu, hahahaha," tawa Alpha terbahak - bahak.
Ia seorang ketua gangster sombong dari kelompoknya yang baru-baru ini ia keluar dari rumah sakit meskipun salah satu tangannya masih diperban. Seandainya saja tangannya yang hampir patah itu bisa cepat sembuh, Alpha sudah pasti kembali mengacaukan markas Aidan. Akibat usulan dari seseorang, membuat niat jahatnya itu pun terwujud.
Seketika seseorang datang. Seumuran dengan Bram. Memakai hodie hitam hingga terlihat layaknya orang yang misterius yang tidak menampakkan wajahnya dengan jelas. Tapi dari helai poninya yang keluar menutupi dahinya, ia berambut blonde.
"Ohhh... hei... kau!" Alpha menunjuk, dan tersenyum tipis pada orang itu.
"Gue gak sangka, ucapan lu kemarin itu ternyata terbukti. Dengan menculik Raiqa dan membuatnya babak bellur, dia koma dan akhirnya kelompok mereka terpecah belah. Gue senang banget dapat berita kondisi Raiqa yang memburuk, hahaha." Alpha tertawa lagi. Sedangkan orang di depannya itu yang memakai kacamata hitam hanya tersenyum kecut.
"Huft, sekarang tinggal Evan dan Aidan yang harus gue balas nanti." Alpha duduk dan menopang dagu kemudian melirik orang itu.
"Hei, apa lu gak punya cara baru, Tuan Black?" tanya cowok remaja itu dengan tatapan arogan.
"Maaf, sekarang ini saya masih belum memikirkan apapun. Melihat anda begitu bahagia, ide-ide untuk balas dendam belum muncul di dalam pikiran saya," ucap orang itu dengan tenang.
"Cih, ini hanya rasa puas kecil, belum cukup buat gue bahagia," decak Alpha dan melirik anak buahnya yang sebagian nampak sudah mengantuk.
Seketika, ia memikirkan sebuah ide gila. Membuat Black mengerutkan dahi melihat cowok sok tampan itu menyeringai.
"Apa yang anda pikirkan sekarang?" tanya Black seraya melihat waktu di jam tangannya.
"Black, gue punya ide, sepertinya target yang mau gue culik adalah Hana," ucap Alpha mantap.
"Hana?" Black terkejut mendengar nama itu.
"Ya, Hana. Gue selalu merasa kalau Aidan menyukai adiknya Raiqa itu. Jadi, dengan membuatnya menderita, itu sama saja gue udah menyiksa Aidan," ucap Alpha tersenyum smirk.
"Tapi untuk menculiknya mungkin akan terlalu sulit. Gadis itu pasti sudah dijaga ketat oleh ayahnya," gumam Alpha dan memikirkan sesuatu.
"Ah yeah, sepertinya masih ada satu yang bisa gue jadikan target," kata Alpha berdiri dan melihat Black yang terdiam mendengar ucapan Alpha berikutnya.
"Tuan Black, gue udah percaya dengan hasil kerja anda yang dapat memimpin kelompok gue. Jadi, gue harap anda bisa menculik Qila dan melakukan hal yang sama dengan Raiqa. Kali ini, gue gak mau ada orang lain datang menyelamatkannya," ucap Alpha menginginkan kematian salah satu adik Raiqa. Ia juga sedikit kesal karena ada orang yang tidak kenal datang menolong Raiqa sehingga cowok itu bisa selamat dari kematian. Alpha yang terlahir di keluarga berengsek, tentu punya keinginan jahat yang brutall.
Namun Black yang mendengar itu seketika mengepal kedua tangannya kuat-kuat.
"Hei, Black! Jawablah!" ujar Alpha maju tetapi mendadak Black mengayungkan sebilah pedang tajam dan mengarah lurus ke lehernya. Membuat para preman terkejut dan langsung menodongkan senjata mereka masing-masing ke arah Black.
Alpha yang diancam seperti itu, ia tidak bisa bergerak sama sekali karena ujung pedang itu telah menyentuh kulit lehernya.
'Dia sangat cepat!' Alpha membatin sebab kecepatan Black dalam mengayunkan pedangnya itu begitu cepat, bahkan hanya satu kedipan bisa memutuskan lehernya.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba gue ditodong kayak gini?" tanya Alpha sedikit takut. Sedangkan semua preman ingin menembak tapi mereka juga tidak mau kehilangan ketuanya.
"Saya tidak setuju dengan ide anda itu," ucap Black dingin.
"Mengapa?" tanya Alpha sinis.
"Saya memiliki alasan, tapi anda tidak perlu tahu itu," ucap Black.
"Oh jadi lu gak mau nurutin kemauan gue?" tanya Alpha mengepal tangan kemudian mendecak melihat Black diam. Yang artinya, Black tidak mau memanfaatkan Alpha lagi.
"Cih, singkirkan benda ini atau gue bakal suruh mereka bunuh lu di sini," ujar Alpha balas mengancam. Ia tersenyum remeh karena menang jumlah. Tetapi Black tiba-tiba melempar pedangnya entah kemana dan kemudian ...
'SREEKKK'
Suara tebasan memecah ruangan itu dan semua mata membola hebat melihat di belakang sana ada satu preman mati dengan sangat mengenaskan. Alpha pun perlahan mundur menjauhi Black karena kemampuannya dalam menggunakan pedang itu yang mengerikan.
Alpha jatuh tersungkur ke belakang sambil terguncang hebat melihat pedang itu berubah menjadi katana dan menebas tubuh semua premannya. Darah dan teriakan kesakitan mereka mengerikan! Alpha ketakutan dan baru menyadari katana itu bukan benda biasa saja, tapi alat pembunuh canggih yang dimodifikasi untuk menghabisi nyawa setiap orang.
"Akhhh, siapa kau berengsek?!" Alpha menunjuk geram karena kini hanya dia dan Black di ruangan itu bersama mayat-mayat mati yang terpotong-potong.
Black melakah maju. Sedangkan Alpha mundur ketakutan dan menodongkan pistol. Cowok itupun melawan dengan menembak berkali-kali ke arah Black tetapi orang itu dapat menangkis peluru itu dengan pedang di tangannya itu sehingga Alpha yang kehabisan amunisi pun terpojok.
"Alpha, sekarang saya paham sesuatu," ucap Black.
"A-apa yang lu pahami, sialan?!" bentak Alpha berdiri dan mundur ke belakang.
"Saya paham kalau malam ini adalah hari kematian mu tiba." Black kembali menodongkan senjatanya ke Alpha. Dan kemudian ...
'JLEB'
Benda itu berubah menjadi katana dan menusuk perut Alpha sampai menembus ke belakang. Cowok itu menganga kesakitan menerima serangan tiba-tiba itu. Ia pun tambah terkejut mendengar bisikan Black.
"Sayang sekali, aku masih ingin memanfaatkan bawahan kalian untuk menyerang seseorang tapi ambisimu ini membuat kesabaran ku habis,"
"Si-siapa lu sebenarnya?" tanya Alpha merintih kesakitan sambil memuntahkan semua darah kemudian jatuh terkapar kaku di lantai dengan darah segar yang mengalir keluar. Remaja itupun mati sebelum mendengar ucapan Black.
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, dan yang bisa aku ucapkan adalah, aku tidak akan biarkan siapapun melukai gadis yang aku cintai, kecuali aku sendiri." Orang berhodie hitam itu pun menurunkan penutup kepalanya dan melepaskan kacamatanya. Menunjukkan wajah aslinya yang tampan meskipun matanya tampak buta sebelah.
Black melihat katana di tangannya dan seketika katana itu berubah menjadi dadu kecil. Sebuah alat sederhana yang diciptakan untuk membantunya menghabisi nyawa seseorang. Black memandangi mayat Alpha kemudian bergumam entah apa. Tapi sepertinya ia sadar kematian Alpha ternyata dari ulahnya.
Black kembali menutup rambut blondenya lalu keluar dari markas Alpha yang kini bagaikan lautan darah dengan mayat di mana-mana. Pria itu pergi tanpa rasa bersalah sedikitpun di hatinya yang telah membeku sejak lama. Baginya, kedatangannya sekarang untuk menyelesaikan keinginannya.
"Dia hanya milikku." Setelah mengucapkan kalimat itu, Black meninggalkan tempatnya memakai motor salah satu preman Alpha. Sedangkan kini di apartemen Aidan, Qila masih berhadapan dengan suaminya.
"Kak Aidan." Qila deg-degan karena penampilan Aidan layaknya preman yang acak-acakan. Baju yang tidak dikancing, rambut berantakan dan lagi aroma tubuhnya yang dipenuhi bau anggur merah yang menyeruak kemana-mana.
"Ahhh!" Qila kaget sebab tiba-tiba Aidan jatuh ke arahnya sehingga ia menahannya dengan bahu. Cowok itu tampak linglung gara-gara pengaruh banyak meminum allkohol. Bahkan Aidan yang mau marah, ia sekarang mendengkur di bahu Qila.
"Huftt, syukurlah, dia tidur." Qila mengelus dada dan segera memapah Aidan. Menidurkan cowok itu ke ranjang kemudian Qila segera membawa bayinya keluar dari kamar dan bersiap pergi. Tetapi di luar jendela, turun hujan lebat.
"Aduh, kenapa hujan? Kalau begini, bagaimana aku bisa pergi?" Qila masuk ke apartemen lagi, dan melihat hujan di jendela kemudian melirik ke kamar Aidan.
"Hadeh, mumpung Aidan lagi tidur di sana, aku harus cepat-cepat pergi dari sini." Qila mondar mandir dan tiba-tiba Aila merengek.
Seperti biasa, bayi perempuan itu haus. Qila pun tanpa ba-bi-bu, segera menyusui Aila. Setelah beberapa menit berlalu, Qila membaringkan Aila ke dalam keranjang. Tidur di samping Aiko.
"Baiklah, sambil tunggu hujan reda, aku buat susu untuk Aiko dan Aila dulu, siapa tahu nanti di jalan mereka bangun lagi." Qila mengambil dua botol dan masuk ke dapur. Mencuci terlebih dahulu kemudian membuat susu.
"Apa aku telepon Om Bram datang ke sini? Ta-tapi sepertinya ini bahaya!" Qila yang bimbang tiba-tiba menjerit kaget ketika ada dua tangan memeluknya dari belakang dan membisikkan sesuatu ke daun telinganya.
"Hana...." Netra Qila melebar mendengar suara itu milik Aidan. Suaminya yang tiba-tiba memeluknya sangat erat. Membuat sekujur tubuh Qila bergetar aneh karena ini pertama kali baginya dia dipeluk inisiatif oleh suaminya itu.
.
Udah mulai masuk gender action nih😄nanti akan ada perseteruan antara Rayden, Bram, dan Black di sini. Kira-kira setuju gak nih kalau Qila pergi dari Aidan?ðŸ¤
Alpha blike : Baru juga tampil jadi villain, udah mati duluanðŸ˜
Author : 🤣 bukan salah author wkwk, sorry...
Yang lain nanti malam ya, soalnya ini agak mengandung emosi dan cabe hehehe