Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
42. Baru Sadar



Di jam 5 pagi, Keyra bangun lebih awal dan berniat turun ke dapur. Dengan setengah mengantuk, ia pun berjalan sendirian di depan kamar orang tuanya. Seketika, arah matanya melihat pintu kamar itu sudah terbuka.


"Hmm, Mama dan Papa kemana?" Bingung melihat kamar kosong, ia jalan cepat ke dapur. Mengira Ibunya sedang memasak sarapan tapi ruang dapur juga kosong.


"Mah! Papa!" panggilnya teriak lewat jendela yang ia buka dan melihat-lihat ke luar rumah yang sepi.


"Huhh, dingin. Tapi kemana Mama dan Papa?" gumamnya menutup jendela. Sontak menengok ketika mendengar ada yang masuk.


"Hmm, hei ... Hana! Kamu lihat orang tua ku, gak?" tanya Keyra sambil membasahi tenggorokannya yang kering dengan segelas air.


"Gak tahu, tapi barusan aku dapat ini di atas meja depan televisi." Hana menyerahkan sebuah surat kecil.


Keyra pun tanpa membuang waktu, segera membaca isi surat itu yang tertuliskan bahwa Rayden dan Arum sudah berangkat ke luar kota.


[Maaf ya sayang, Mama tidak sempat bikin sarapan untuk kalian. Soalnya Papa kamu itu buru-buru banget ingin pergi. Kalian baik-baik di rumah ya. Mama dan Papa cuma sebentar kok dan mungkin hanya seminggu saja. Kalian jangan terlalu memikirkan Mama ya, tetap rajin belajar! Nanti kalau mau pulang, Mama pasti belikan oleh-oleh!]


"Hmm, apa itu, Kak Keyra?" tanya Hana mendekati Keyra yang terlihat senang sekali. Bukan karena hadiah, tapi ia bisa bernafas bebas tanpa pengawasan ayahnya.


"Oh ini, cuman surat dari Mamaku," jawab Keyra kembali dengan suara ketusnya.


"Apa isinya?" tanya Hana lagi.


"Hmm, mama dan papaku katanya lagi ke luar kota untuk liburan. Jadi pagi ini kayaknya gak ada sarapan untuk kita," ucap Keyra lalu membuang surat itu ke tempat sampah dekat lemari es.


"Kalau begitu tidak apa-apa kok, tapi maaf ... aku mau pulang dulu. Kak Keyra tidak usah repot-repot bikin sarapan untukku." Pamit Hana lalu keluar dari rumah tetangganya.


"Dih, siapa juga yang mau bikin sarapan untuknya." Keyra naik kembali ke kamarnya untuk bersiap mandi untuk berangkat ke sekolah. Namun sebelum itu, ia mengirim pesan ke kontak Aidan. Memberitahukan jika orang tuanya sedang pergi ke luar kota.


Kini, Hana yang telah sampai ke rumahnya, ia sedikit heran melihat knop pintu terkunci.


"Aneh, kemarin kayaknya aku gak kunci deh, tapi kok sekarang terkunci dari dalam? Apa Bang Raiqa udah pulang ya?" gumamnya kemudian mengetuk pintu.


"Hoyyy, bang! Buka pintunya! Ini Hana mau masuk!" Berteriak selantang mungkin karena ia tahu Raiqa itu cowok yang sulit bangun jika bukan suara pemecah gendang telingah.


Beberapa menit saja, pintu bercat putih di depannya itu terbuka perlahan.


"Akhhhhhh!" pekik Hana menjerit, terkejut melihat sosok di depannya yang seperti mbak kunti.


"Ahhhh, QILA!" teriak membentak Qila yang memakai daster lusuh dan rambut panjang yang tergerai berantakan.


"Eh, Kak Hana? Kenapa duduk di lantai?" tanya Qila menyikap rambutnya ke belakang telinga. Memperjelas wajahnya.


Dengan amarah, Hana berdiri dan langsung menjitaknya. Tuk!


"Aduh, kenapa aku dipukul?" Qila mendesis sakit menerima pukulan di kepalanya.


"Bodoh, malah nanya! Lihat ini! Kamu hampir buat aku jantungan pagi buta ini! Kamu sengaja biar aku cepat mati, kan?" Tatapnya sinis dan dingin.


"Ma-maaf, Qila gak sengaja. Tadi itu Qila masih ngantuk dan gak lihat kalau ada-" putusnya ketika Hana masuk dan menyenggol bahunya.


"Ck, gak usah alasan. Aku gak mau dengar apapun darimu. Minggir sana!" Hana sedikit mendorongnya. Ia ingin cepat-cepat pergi mandi namun tiba-tiba Qila menangkap lengannya.


"Tunggu!"


"Ada apa lagi?" tanya Hana jengkel.


"Itu, tadi malam rumah sepi terus, Mama dan Papa kemana?"


Rahang Hana mengeras dan tangannya terkepal ingin memukul Qila sungguhan. Tapi ia berusaha tahan dan hanya menunjukkan hapenya.


"Nih, lihat! Kemarin aku udah kasih tahu kamu, tapi kamu malah gak balas-balas dan gak pernah ngeliat pesanku!" cakap Hana marah-marah.


"Hehe, ma-maaf. Kemarin aku sibuk belajar jadi gak pernah buka hape." Qila cengengesan dan garuk-garuk pelipisnya.


"Hadeh, kamu ini saudara yang emang gak bisa diharapkan! Percuma saja kamu belajar tiap malam kalau otakmu ini gak bisa menampung ilmu yang kamu pelajari. Percuma! Masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri!" cibir Hana terlanjur kesal hingga mengejek Qila yang tentu sakit mendapatkan cibiran pedas itu. Tapi ia yang sudah terbiasa dengan itu tidak akan membuatnya menangis.


"Hmm, apa tadi aku udah keterlaluan ya?"


"Dihh, tapi kalau dipikir-pikir kata Dokter dulu, Qila emang gak bisa secerdas aku."


"Ya berarti, yang aku ucapkan ini emang benar, kan?"


"Dan juga, ia tidak pernah mendapat nilai tinggi di kelas."


Tak mau terlambat ke sekolah, Hana bergegas pergi mandi ke kamarnya. Sedangkan Qila yang sudah lengkap dengan seragam sekolahnya, ia duduk sejenak di kursi belajarnya. Diam-diam menghapus air matanya. Sedih pada orang tuanya yang meninggalkan rumah lagi.


"Mama dan Papa harusnya tetap di rumah dulu, aku kan baru aja pulang dari luar negeri. Tapi Mama dan Papa lebih peduli pada bisnisnya."


"Bagaimana Qila bisa cerita kalau kalian tidak punya waktu untukku," keluh Qila.


"Okeh, tidak apa-apa. Mama dan Papa melakukan ini juga demi membiayai sekolah ku, Kak Hana dan Kak Raiqa. Aku tidak boleh egois." Menghapus air matanya sampai kering. Setelah berdandan sedikit, Qila pun mengambil tasnya dan juga hapenya di atas meja. Seketika, ia terkejut mendapat pesan dari Aidan.


[Pagi Qila, maaf sepertinya kamu baru bisa menjaga Aiko setelah pulang sekolah. Aku baru ingat, hari ini di kelas kamu ada ujian jadi tetaplah fokus belajar dan tidak usah terlalu memikirkan Aiko. Aku sudah menitipkan Aiko dan Aila ke sebuah panti asuhan yang tidak jauh dari sekolah. Setelah jam pulang tiba, kamu boleh ke tempat itu mengambil Aiko dan adiknya]


[Oh ya, aku dengar dari Evan kalau kamu sudah tahu hubungan aku dengan bayi kembar itu. Maaf aku tidak memberitahukanmu ini. Tapi tolong ya, tolong rahasiakan ini. Jangan pernah kamu ceritakan ini pada orang tuamu dan Hana. Apalagi pada orang tuaku. So-soalnya, aku masih belum yakin. Kalau anak ini terbukti darah dagingku, biarkan aku sendiri yang kasih tahu hal ini pada mereka. Jadi pokoknya, kamu tutup mulut saja]


Sudut bibir Qila terangkat. Ia sedikit tertawa membaca pesan Aidan yang seperti sedang ketakutan. Ia pun segera mengirim balasan dari pesannya itu.


[Baik, Kak]


Aidan yang berdiri di depan lemari menghela nafas lega sudah membaca pesan Qila. Namun sontak kaget ketika bahunya ditepuk oleh Raiqa.


"Hei, Ai. Lu lagi chatingan sama siapa?" tanya Raiqa.


"I-ini Keyra," ucap Aidan bohong dan menyimpan hapenya di dalam saku.


"Yehh, kirain Hana," ucap Raiqa kemudian melihat Aiko dan Aila yang mau dibawa ke panti asuhan.


"Btw, lu yakin mau titipkan di panti asuhan itu?" tanya Raiqa.


"Ya apa boleh buat, ini satu-satunya tempat yang aman untuk mereka," kata Aidan mengambil tas sekolahnya.


"Kenapa gak dibawa ke rumah lu aja, Ai? Siapa tahu nyokap lu bisa jagain mereka," saran Raiqa.


"Hei, Raiqa! Kalau gue bawa ke sana! Yang ada nyokap gue bisa curiga! Ditambah lagi gue takut nanti anak ini dikira hasil perselingkuhan bokap gue. Jangan kasih saran yang kek gitu lagi deh." Aidan menolak.


"Dan lagi, bokap dan nyokap gue lagi ke luar negeri. Jadi di rumah gue pasti gak ada orang." Lanjutnya menggendong Aila.


"Nih, lu ambil yang ini. Biar gue yang gendong Aiko." Raiqa mengambil Aila dengan hati-hati. Bayi perempuan mungil yang tampak masih mengantuk di dalam selimut tapi tetap imut dan sangat menggemaskan.


"Oh ya, Ai! Gue mau tanya nih!"


"Hmm, apa?" tanya Aidan jalan keluar dari apartemennya bersama Raiqa.


"Lu udah tahu nama nih bayi?" tanya Raiqa nunjuk Aila.


"Ya udahlah, namanya Aila. Gue tahu dari Evan kemarin. Kenapa? Lu mau kasih nama baru?" tanya Aidan masuk ke dalam parkiran untuk mengambil motornya.


"Gak sih, tapi kok rasanya -"


"Rasa apaan?" tanya Aidan naik ke motornya dan melihat Raiqa bengong.


"Kayak hampir mirip nama Qila sih, cuma bedanya adek gue ada 'Q' nya," ucap Raiqa baru sadar.


.


Nah lho, ada benarnya hehe...