Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
60. Sah Menjadi Suami



Nasi sudah menjadi bubur. Hal yang sudah terlanjur terjadi tidak bisa kembali seperti semula. Itu yang kini dirasakan Aidan yang sudah menjadi seorang ayah dan sudah sah menjadi suami Qila. Untuk bertanggung jawab dan tidak terjadi perpecahan antara tetangganya dan keluarganya, Aidan terpaksa menikahi Qila di sebuah hotel milik Wira. Pernikahan dirahasiakan sampai Qila lulus dari sekolah. Bukan cuma disembunyikan dari pihak sekolah, pernikahan ini juga dirahasiakan dari Arum, Hana dan Raiqa agar tidak ada yang menyebarkan aib keluarga mereka. Bisa dikatakan, Rayden dan Wira mengkhawatirkan geng Hana yang bisa membocorkan ini pada pihak sekolah atau ke publik. Apalagi umur Qila masih dibawah umur untuk dinikahkan. Sedangkan Arum, perlu memastikan wanita itu untuk menerima Qila.


Suara dentingan jarum jam dinding memecah heningnya suasana apartemen Aidan. Tampak di depan televisi, Aidan tidur di atas karpet. Perlahan membuka mata birunya dan melihat langit-langit atap di atasnya. Sorot matanya yang kosong, masih belum berubah dan hanya ada kantong mata yang tertinggal di sana, bekas seperti merenung sepanjang malam karena rasa menyesal dan juga benci yang besar.


Cowok itupun beranjak duduk. Memandangi pintu kamarnya yang di dalam sana terdapat istrinya.


Cklek!


Ia membuka pintu dan termenung melihat Qila di atas tempat tidur sedang terlelap. Terlihat cantik dengan lekuk tubuh yang indah.


Tetapi wajah istrinya itu membuat api amarah dihatinya masih bergejolak. Aidan pun melihat selimut dan bantal. Entah apa yang dipikirkannya, tapi tatapannya sekarang tertuju pada leher Qila. Rasanya tangan kanannya yang sudah menegang itu ingin melakukan sesuatu. Aura yang mengerikan sekali tapi berkat tangis si twins, Aidan tersadar dari niat jahatnya itu. Cowok itu masuk ke dalam kamar mandi, membasuh mukanya yang kusut.


Akibat tangis bayi perempuan itu, Qila yang baru merasakan tidur satu jamnya harus terbangun lagi. Empat hari setelah menikah, yang dilakukannya cuma mengurus anak. Tidak ada ritual malam pertama karena Aidan sangat tidak sudi menyentuh istrinya. Bertatap mata saja, ia ogah. Rasanya memang sakit, tapi Qila mencoba sabar menghadapi sifat Aidan yang semakin dingin dan cuek padanya.


"Oweekk!"


"Hmm, Aila, tadi sudah mimmi susu, kenapa kamu bangun lagi?" Qila menggendongnya dan menenangkan bayi itu yang memiliki naluri yang kuat. Jika saja tidak menangis, mungkin Ibunya sudah tidak akan pernah menggendongnya sekarang.


Cklek! Pintu kamar mandi terbuka. Qila sedikit terkejut melihat Aidan keluar dari sana.


"Kak Ai ..." panggil Qila lirih, tetapi Aidan berlalu keluar dari kamar. Qila menunduk sedih kemudian melihat Aila. Ia pun mengira putrinya terbangun karena ingin bersama ayahnya.


"Maaf, Ila, ayah kamu belum bisa diajak bicara, sekarang kamu tidur lagi ya, nanti mainnya sama Nenek," ucap Qila tidak sadar air matanya jatuh mengenai pipi bayi mungil itu.


"Duh, jadi kena, haha." Tawa Qila mengusap pipi Aila yang sudah diam. Ia pun menidurkannya di sebelah Aiko yang rupanya terbangun juga. Tapi bayi laki-lakinya itu lumayan pengertian karena tidak menangis dan malah lanjut tidur di samping Aila yang juga kembali terlelap.


Qila pun memperbaiki rambutnya yang berantakan kemudian melihat jam dinding sudah pukul lima subuh dan waktunya ia menunaikan ibadah shalat.


Setelah itu, Qila pun keluar dari kamar, pergi melihat Aidan. Tampak cowok itu sedang makan sendirian di dalam ruang dapur.


"Kak Aidan ..." Qila mendekat tapi Aidan berdiri cepat dan pergi tanpa membalas istrinya, bahkan tidak mau meliriknya. Qila merasa seperti makhluk yang tidak kasat mata dan tidak dianggap ada.


"Okeh, tidak apa-apa. Kak Aidan masih tidak mau diganggu." Qila tersenyum tegar tapi air matanya tidak bisa ia bendung sendiri sekarang. Sungguh, ia rindu Aidan yang dulu.


Karena sedikit mengantuk, Qila berjalan ke kamarnya. Namun sebelum ke sana, ia melihat Aidan mengotak-atik laptop. Qila pun ingin menghampirinya, tapi percuma, ia yakin Aidan tetap mendiamkannya. Gadis itupun masuk ke dalam kamar. Baru juga berbaring sejenak, tiba-tiba ada pesan masuk ke dalam hapenya.


"Hm, Mama?" Qila bergegas keluar membuka pintu apartemen karena Kinan tiba-tiba datang menjenguknya.


"Mama, kok tumben datang sepagi ini? Terus datangnya bareng siapa?" tanya Qila kemudian mengajak Ibunya masuk.


"Mama diantar sama Papa kamu. Mama ajak ke sini tapi Papa kamu malah pergi. Terus Mama gak bisa berhenti mikirin kalian, sayang," ucap Kinan duduk di sofa dan melihat menantunya yang cuma diam di depan televisi.


"Maaf, gara-gara Qila begini, pasti Mama tidak bisa tidur nyanyak ya?" Lirih Qila menunduk. Kinan berdiri dan tersenyum.


"Sini, temani Mama dulu," tarik Kinan membawa Qila pergi masuk ke dalam kamar untuk melihat cucunya. Jujur, Kinan juga merasa terpukul melihat kondisi putrinya yang lebih parah dari hidupnya dulu.


Melihat Ibu mertua datang, Aidan ingin menyambutnya, tapi hatinya bersikeras menolak.


"Sial, kenapa sih harus dia orangnya!" gerutu Aidan lanjut mengerjakan tugas sekolahnya. Sedangkan Kinan memeluk Qila dan mengelus pundak putrinya.


"Qila, bagaimana kalau kamu pulang ke rumah Mama?" Ajak Kinan datang ingin Qila tinggal bersamanya agar bisa menjaga cucunya juga.


"Kalau kamu terus di sini, kamu bisa sakit lagi. Mama gak tega lihat kamu begini terus sama Aidan," ucap Kinan melihat putrinya yang tambah lusuh dan tidak terawat gara-gara sibuk mengurus anak sendirian.


"Aku sebenarnya mau pulang, tapi kata Papa, Qila tetap di sini sama Aidan sampai lulus sekolah. Mama kan tau sendiri, Papa sepertinya juga tidak mau bicara sama Qila, terus di rumah juga ada Hana dan Kak Raiqa," tutur Qila melihat Ibunya menunduk murung.


"Mah, tidak usah terlalu banyak memikirkan Qila. Di sini aku bisa jaga dan rawat diri kok, Mama jangan sampai sakit ya." Senyum Qila menghibur Ibunya. Kinan kembali memeluk Qila. Tidak bisa berhenti merasa bersalah pada putrinya.


"Sekarang Qila mau mandi dulu, Mama di sini jagain Aiko dan Aila ya," ucap Qila berdiri dan siap mandi.


"Baiklah, kamu mandi duluan." Angguk Kinan kemudian berdiri melihat dua cucu kecilnya yang manis. Dulu ia bayangkan bisa melihat cucu dari Hana dan Aidan, tapi sekarang cucu di depannya itu berasal dari Qila.


"Arum, sekarang impian kita tidak bisa diwujudkan. Kuharap kamu bisa menerima ini." Kinan mengelus jari kecil cucunya sambil berharap Keyra berhasil menceritakan ini pada Ibunya.


Kini jam sudah menunjukkan tujuh pagi, waktunya Hana berangkat ke sekolah. Tapi sebelum dia pergi, Hana menghampiri pembantu di dalam dapur.


"Bik," panggil Hana.


"Ya, Nona? Ada apa? Mau Bibik siapkan sarapan?" tanya pembantu.


"Gak usah,"


"Terus, Nona mau apa?" tanya pembantu selalu sabar melayani satu putri majikannya yang kadang jutek itu.