
"Hana, aku yakin Raiqa bisa melewatinya, kita doakan saja semoga perawatannya berjalan baik di sana," ucap Aidan duduk di sebelah Hana yang menunduk.
"Ya, Bang." Angguk Hana tersenyum paksa kemudian menatap lantai kembali.
'Cih, ini semua gara-gara Qila. Kalau saja dia gak sakit, Bang Raiqa gak akan seperti ini. Memang gak tau diuntung! Sampai sekarang dia belum datang ke sini melihat Bang Raiqa.' Batin Hana kecewa dan juga cemberut karena Ibunya besok akan ke luar negeri.
Melihat Hana seperti itu, Aidan ingin mengelus pundaknya, tetapi dia juga tidak enak melakukan itu. Namun tiba-tiba gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahu Aidan dan mengeluh.
"Aku pikir, besok Bang Raiqa bisa melihat ku bermain basket, tapi rupanya malah jadi begini. Padahal Bang Aidan udah capek-capek bantuin Hana," keluh Hana sebab tidak bisa menunjukkan kesombongannya pada Raiqa. Seketika Hana tersentak kaget saat kepalanya ditepuk-tepuk oleh Aidan.
"Gak usah sedih begitu, aku yang akan merekamnya besok dan akan menunjukkannya pada Raiqa setelah dia siuman," ucap Aidan tersenyum. Bersikap sangat lembut pada Hana.
"Ya, Bang. Makasih sudah selalu bantuin aku," ucap Hana balas tersenyum.
"Hmm, sama-sama." Senyum Aidan dan perlahan menyentuh sebelah pipi Hana.
"Hmm, kenapa, Bang?" tanya Hana deg-degan. Rasanya ingin seperti dicium oleh cowok itu. Memang benar, Aidan sangat ingin mencobanya namun saat perhatiannya fokus pada Hana, tiba-tiba suara tidak asing menghancurkan suasana hatinya.
"AIDAN!"
Aidan segera melihat ke sumber suara dan secepatnya berdiri sebelum ayahnya itu memukulnya. Dari sorot mata Rayden, ia tahu apa yang dipikirkan ayahnya itu yang tampak sedikit marah melihatnya dekat dengan Hana.
"Lho, Aidan? Kenapa kamu di sini?" Rayden yang terkejut, ia menunjuk putranya yang juga terkejut.
"Ihh, sayang, Aidan datang itu karena hibur Hana, masa begini saja kamu terkejut?" sahut Arum juga datang bersama Kinan dan tidak tertinggal si Keyra di belakang dua wanita cantik itu.
"Hana, kamu jangan sedih terus ya, Tante yakin dia akan sembuh di sana secepatnya. Kamu juga jangan cemas, selama Ibumu ke luar negeri, kamu bisa kapan saja datang ke rumah Tante," ucap Arum menghibur Hana.
"Ya, Tante. Makasih," balas Hana sopan.
"Oh ya, kamu udah kasih tahu adikmu?" tanya Arum tidak melihat kehadiran Qila seharian ini. Semua orang di sana kecuali Hana, mereka terdiam sejenak.
"Saya juga gak tahu, Tante. Tapi mungkin Qila di rumah temannya," ucap Hana grogi karena ditatap oleh Rayden dengan sinis.
"Ya udah, kalau begitu, kamu pulangnya sama Aidan," ucap Arum menunjuk Aidan. Namun tiba-tiba dilarang oleh Rayden.
"Tidak, jangan pulang bersamanya!"
"Lho, kenapa?!" sentak Arum yang terlihat belum tahu apa-apa.
"Aku mau bicara empat mata dengan anakmu itu," ucap Rayden menatap Aidan yang setengah pucat dan berkeringat dingin.
"Hahaha, Mama, ini kesempatan Papa dan Aidan baikan, sekarang kita pulang saja bareng Hana, yuk!" Ajak Keyra menarik Ibunya.
"Hmm, ya udah deh." Arum pun melihat Hana dan mengajak gadis itu pulang. Hana mengangguk terima saja dan kemudian pamit pada Kinan lalu pulang bersama anak dan Ibu itu. Sedangkan Kinan masuk ke ruangan Raiqa dan meninggalkan Rayden di luar bersama Aidan.
"Kenapa kamu ada di sini? Dan di mana istrimu?" tanya Rayden.
"Di-dia sudah pulang, kok." Aidan menjawab, dan sedikit ragu karena pesannya belum dibalas oleh Qila.
Rayden pun menghubungi sekretarisnya. Memastikan apakah menantunya benar-benar sudah pulang atau tidak. Rupa-rupanya ucapan Aidan tidak benar sesuai perkataan sekretaris, sehingga Bos Rayzard itu nyaris lagi memukul Aidan. Untung ayah kecil Aiko itu dengan cepat menghindarinya sebelum pipinya terkena pukulan.
"Kamu ini memang susah dibilangin! Apa maksudnya kamu datang ke sini sedangkan istrimu belum tiba di rumah? Kamu pasti meninggalkannya di jalan, kan?!" ujar Rayden kecewa.
'Apa? Qila belum sampai? Jika begitu, kemana dia?' pikir Aidan terkejut.
"Tapi aku yakin dia ada di rumah kok, Pa," ucap Aidan tapi Rayden tidak percaya dan menunjuk Aidan. Ia yakin putranya lagi-lagi seenaknya pada menantunya itu.
"Pergi cari dia sekarang, jika Papa masih tidak mendengar kabar dia malam ini, organisasi yang kamu bentuk di sekolah akan Papa bubarkan malam ini juga." Ancam Rayden. Sikapnya yang keras dan juga begitu tegas pada Aidan. Tapi ini yang sangat Aidan benci dari sosok ayahnya.
"Cih, baiklah." Aidan menurut saja daripada kehilangan kekuasaannya di sekolah. Cowok itu dengan emosi naik turun, ia mengebut dan pergi ke lapangan. Sayang sekali, tempat itu sudah sepi dan keberadaan Qila tidak ada. Jejak kakinya pun hilang.
"Sial, sekretaris itu pasti sengaja berbohong! Dan pasti Qila yang menyuruh sekretaris Papa bicara seperti itu supaya aku kena marah. Memang istri bodoh! Tidak tahu diandalkan!" Gerutu Aidan meninggalkan lapangan itu dan pulang ke apartemennya.
"Qila!" panggilnya telah tiba dan masuk ke dalam apartemen.
"Tuan muda, syukurlah anda sudah pulang," ucap sekretaris itu sudah lama menunggunya dan ingin cepat-cepat pulang untuk melakukan tugas selanjutnya, alias memperjelas apa yang dia dapatkan dari cctv apartemen Aidan.
"Cih, di mana dia?" tanya Aidan mencari Qila dan melirik twinsnya tidur di dalam kereta dorong yang nyaman.
"Siapa yang anda maksudkan? Apa itu istri anda?" tanya sekretaris itu.
"Hmm, iya," jawab Aidan sedikit ogah mengatakan itu.
"Maaf, Tuan muda. Saya tidak tahu di mana istri anda berada. Daritadi hanya saya yang ada di sini menjaga anak kembar kalian," ucap sekretaris itu.
"Sekarang saya pergi dulu, masih ada yang mau saya kerjakan," lanjutnya ingin pulang.
"Sebentar!" Tahan Aidan.
"Kenapa, Tuan muda?" tanya sekretaris itu.
"Itu, kalau ayahku tanya tentang Qila, kamu jawab saja menantunya sudah ada di sini bersamaku," ucap Aidan tidak mau ancaman ayahnya terjadi.
Sekretaris itu agak ragu mematuhi Aidan, tapi karena ia juga tidak tega melihatnya dimarahi terus, pada akhirnya ia setuju.
"Baiklah, saya akan menjawab seperti itu pada Tuan Rayden." Angguknya paham kemudian pergi dari apartemen.
"Sial! Di mana sih tuh cewek?" desis Aidan menghubungi hape Qila tapi kontaknya mati.
"Cih, terserah! Aku tidak peduli mau dia kemana, sekarang aku mau tidur!" Aidan membuang hapenya ke atas sofa. Masuk ke dalam kamar sambil membawa Aiko dan Aila untuk ditidurkan ke tempat tidur mereka. Setelah itu menyiapkan dua botol susu untuk berjaga-jaga apabila dua bayinya itu bangun dan merengek. Setelah itu, Aidan merebahkan tubuhnya sejenak di tempat tidur dan memikirkan minggu nanti bisa menghibur Hana di hari kencannya itu. Tetapi setiap dia membayangkan Hana, yang muncul dalam pikirannya malah Qila.
"Ah sial, ngapain juga aku mengkhawatirkannya!" Aidan menutup mata dan berusaha memikirkan hal lain. Tapi perasaannya yang gelisah membuatnya tidak bisa tidur.
"Arghhh! Kemana sih dia sekarang!" Aidan yang resah sana sini, ia pun keluar dari kamar. Memungut hapenya untuk menghubungi Evan. Ia ingin meminta bantuan Evan melacak Qila. Istrinya itu yang sekarang ada di rumah Bram.
.
Makanya peduli juga sama istri, kalau gini kan bisa diambil orang ๐