Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
82. Pergi Dari Kota



Qila perlahan membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah punggung polos Aidan yang membelakanginya. Ia pun beranjak duduk dan melihat tubuhnya yang juga sama seperti Aidan yang cuma dibalut selimut putih.


Qila menutup wajahnya sejenak lalu melirik Aidan yang tertidur pulas.


"Sekarang bukan waktunya aku diam saja di sini, ini adalah kesempatan ku pergi." Qila turun dari ranjang. Berjalan tertatih-tatih ke arah kamar mandi karena semua tubuhnya terasa sakit sampai ke tulang-tulangnya. Terutama ia merasa perih pada bagian intinya.


Setelah membersihkan tubuhnya yang memiliki bekas merah gigitan itu, Qila mengambil pakaian baru. Ia pun menatap pantulan dirinya di cermin yang menyedihkan.


Qila membuang nafas berat. "Baiklah, anggap saja ini yang terakhir untuk pernikahan kita." Hembus Qila lalu membuka laci meja. Ia ingin mengambil cincin pernikahannya. Tetapi kotaknya tidak ada. Qila pun menoleh ke Aidan.


"Apa jangan-jangan dia sudah menyembunyikan itu?" Qila bergumam lalu menunduk sedih karena ia pikir dengan mengambil satu cincin pernikahan, ia bisa menjual itu dan membiayai kehidupannya di luar sana. Tetapi sebenarnya bukan Aidan yang mengambil, sebab cowok itu tidak pernah membuka laci dan yang membawa kotak itu adalah sekretaris Rayden. Karena menemukan ada tiga cincin di dalam kotak, sekretaris itu merasa ini sangat aneh sehingga ia mengambilnya untuk dicek keasliannya.


Walau tidak ada cincin, Qila pun memungut celana Aidan di lantai. Merogoh isi dalam saku dan mengeluarkan dompet dan juga hape suaminya itu.


"Maaf, aku ambil beberapa uang. Anggap saja ini uang terakhir yang kamu berikan pada anak kita." Qila menyimpan lima lembar uang merah kemudian menatap hape Aidan. Qila ingin membukanya tapi ia juga takut kalau Aidan terbangun dan memarahinya. Tetapi karena rasa penasarannya yang kuat, membuat Qila pun membuka isi hape itu. Beruntungnya tidak ada password yang mengunci benda itu.


Seketika Qila terdiam melihat isi galeri Aidan yang dipenuhi foto-foto Aiko dan Aila sebelum mereka menikah. Qila mengusap cepat air matanya, ia sedikit senang karena Aidan menyimpan foto-foto itu. Padahal Aidan tampak membenci kehadiran Aiko dan Aila, tapi bukti di tangannya itu menjelaskan Aidan diam-diam sayang pada anaknya. Tetapi seketika, senyum Qila hilang saat melihat pesan percakapan Hana dan suaminya itu yang terlihat mesra. Ditambah lagi percakapan Evan tentang mesin waktu.


Ia berjalan sedikit pincang di pinggir jalan. Menenteng keranjang besar berisi dua bayinya yang sedang terlelap di sana. Berjalan terus tanpa tujuan di jam empat subuh yang dingin dan gelap.


"Sekarang aku harus ke mana?" lirih gadis itu bingung dan sedikit takut.


"Apa aku pulang ke rumah? Ta-tapi Papa pasti akan marah," lanjutnya berhenti di bawah tiang lampu jalan.


"Apa aku ke Mama saja? Tapi Mama pasti udah berangkat ke luar negeri," keluh Qila menatap sedih wajah Aiko dan Aila.


"Ya udah deh, daripada hidup jadi gelandangan di sini, aku pergi dari kota ini saja." Qila lanjut berjalan dan kemudian berhenti di bawah halte bus. Ia duduk di sana sendirian sambil mendongak ke atas langit yang berawan. Tampaknya hujan akan segera turun lagi. Benar saja, langit membasahi jalan di sekitar Qila bersamaan embun yang menumpuk di mata gadis itu berlinang jatuh.


"Walau dunia dan ayah membenci kita, Mama akan tetap ada bersama kalian." Ucap Qila menghibur diri sambil mengelus kepala dua twinsnya dan menunggu bus datang. Tetapi karena hujan begitu deras, membuat jalan itu sepi dan kini Qila sedikit kedinginan karena jaket yang dia bawa dari apartemen, ia berikan pada Aiko dan Aila. Menyelimuti dua twinsnya baik-baik.


Qila menatap tanah yang dia pijak. Menatap dengan sorot mata yang kosong dan perlahan pandangannya mulai berkabut. Qila yang kedinginan mulai linglung ke samping. Namun tiba-tiba seseorang menahan bahunya. Qila mendongak dan menatap Bram lagi-lagi berhasil menemukannya.