
"Ahhh, Keyra! Lu mau ya tulang ekor gue patah? Kalau gue lumpuh, gak akan ada yang mau nikahin gue tau!" cetus Evan ingin sekali menjambak Keyra yang menyelonong masuk ke dalam apartemen.
"B-O-D-O-A-M-A-T! Mau tulang lu patah kek, atau hidung lu patah kek, gue gak peduli!" ucap Keyra menendang kaki cowok itu yang sedang terduduk meringis di lantai.
'Ck, dia memang satu-satunya cewek yang susah ditaklukkan, kenapa sih dia yang harus jadi saudara Aidan? Cantik sih cantik, tapi sayang sifatnya kek mamazola!" Gerutu Evan dalam hati.
"Hei, Qila! Kamu di dalam kan? Boleh buka pintunya? Aku juga mau masuk nih jagain bayi itu," panggil Keyra berdiri di depan pintu kamar Aidan yang terkunci.
"Heh, Keyra! Lu balik aja gih! Gak usah ganggu kita!" Pinta Evan masih berusaha mengusirnya.
"Ihh, ganggu apaan sih? Gue ke sini juga mau MEMPERMUDAH pekerjaan kalian. Itung-itung kalian dapat anggota tambahan dalam bisnis kecil-kecilan kalian ini, apalagi gue itu calon pembisnis besar, pasti kalian akan senang dengan kinerja gue," ucap Keyra menyombong dirinya.
"Diih, senang? Yang ada itu gue eneg lihat lu ada di sini." Ucap Evan pedas. Mendengar itu, jari jemari Keyra terkepal kuat-kuat dan siap meninju Evan.
"Oeekhhhh!" Tangis Aila tiba-tiba.
"Nah itu, bayinya nangis kan gara-gara kehadiran lu ini! Mending lu pulang sana!" Paksa Evan mengusirnya.
Keyra semakin merah padam layaknya air yang mendidih mendengar tangis Aila yang berisik. Tapi bukan itu yang membuat Keyra marah, tapi Evan yang menjengkelkan. Ia pun menenangkan dirinya kemudian duduk di kursi.
"Okeh, kalau gitu aku duduk sini sambil nunggu Aidan datang," ucapnya membuang muka dari Evan dan diam-diam melirik ke cctv tersembunyi milik rekannya.
"Ck, kenapa sih lu ngotot banget?" tanya Evan risih.
"Ya karena gue khawatir, kalau gue pulang nanti, lu bisa bebas ngelakuin aneh-aneh di sini bareng Qila,"
"Astaghfirullah, mana mungkin gue lakukan itu, Key! Gue ini cowok anti zina! Ya kali gue main grepek-grepek adik sahabat sendiri," ucap Evan dengan wajah sedih dituduh sembarangan.
"Dihh, wajah sok polos tapi siapa yang tahu otak kotor lu itu," cibir Keyra.
"Heh, Keyra! Jaga tuh mulut! Hati gue bersih banget tahu! Lebih bersih dari kaca di rumah lu," balas Evan mencibir.
"Hadeh, kapan mereka berhenti ya?" gumam Qila di dekat pintu ingin ke dapur dan masak sesuatu untuk mengisi perutnya yang juga sudah kelaparan.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke hape Keyra dari Ibunya yang menyuruhnya pulang karena di depan rumahnya ada Hana dan Raiqa yang mau mengambil buku Aidan.
"Sial, kenapa tiba-tiba begini sih?" desis Keyra kesal pada dua saudara itu.
"Kenapa lu?" tanya Evan.
"Ck, gue mau pulang," jawab Keyra berdiri.
"Lha, kok tiba-tiba? Ada apa?" tanya Evan lagi.
"Bukan urusan lu!" ucap Keyra lalu menunjuk Evan.
"Heh, dengar ya! Lu jangan pernah macam-macam sama Qila. Kalau gue dengar sesuatu yang buruk terjadi sama dia, lu bakal tahu akibatnya!" ancam Keyra kemudian mendekati pintu.
"Qila," panggil Keyra.
"Ya, Kak? Ada apa?" tanya Qila bersuara.
"Aku mau pulang nih, kamu mau ikut pulang bareng gak?" tanya Keyra.
"Gak dulu, Kak! Qila mau di sini dulu jagain mereka," tolak Qila.
"Kenapa sih kamu mau-mau aja jagain bayi itu?" tanya Keyra gemas dan tambah greget mendengar jawaban Qila.
"Ma-maaf, Qila suka banget sama anak kecil, Kak," ucap Qila teriak dan jelas.
"Paham, Kak!" ucap Qila teriak lagi agar Keyra bisa mendengar suaranya lebih jelas. Setelah mendengar jawaban singkat itu, Keyra pun keluar tanpa melihat Evan. Evan pun menutup apartemen itu dan mengelus dada lega.
Kini apartemen itu sepi mencekam dan sekarang Evan membuka tas untuk melihat kamera pengintai Bram. Namun ...
"Alamak! Laptopnya bukan ini!" Evan meringis kesal pada dirinya sendiri yang salah memasukkan laptopnya yang kemarin. Ia pun merebahkan tubuhnya ke sofa sambil melihat jam dinding yang telah menunjukkan jam setengah satu siang.
"Aidan kemana ya? Harusnya dia udah sampai ke sini. Apa dia lagi pulang ke rumahnya?" gumamnya menunggu Aidan. Tiba-tiba perutnya mendadak keroncongan. Evan yang lapar pun bangkit memasuki ruang dapur yang kecil. Memasak mie gelas yang ada di dalam lemari.
"Aidan-aidan, di sini ada bayi seharusnya dia beli beras atau telur kek, bukan mie bungkus kayak gini." Keluhnya lalu memasak dua bungkus mie gelas, sementara Qila masih memberi asupan asinya ke mulut Aiko yang belum tidur seperti Aila yang sudah terlelap ke dalam mimpi indahnya. Melihatnya yang tenang begitu, Qila sedikit - sedikit merasa mengantuk, tapi ia tahan karena sekarang bukan waktunya bagi matanya istirahat. Walaupun kamar dikunci, kehadiran Evan di luar juga tetap bahaya untuknya.
Karena di luar sunyi dan Aiko sudah selesai menyusuh padanya, Qila pun merapikan seragamnya kemudian beranjak pergi membuka pintu sedikit. Mengeluarkan kepala dan melihat tidak ada orang.
"Ehh, kemana Kak Evan?"
Tiba-tiba Evan datang dari dapur dan melihat Qila yang berdiri di dekat pintu.
"Hai, Qila!" panggilnya mendekat.
"Kak Evan, dari mana?" tanya Qila.
"Ini aku dari dapur habis bikin mie gelas," jawab Evan nunjuk ke dapur.
"Oh ya, mau makan bareng gak? Kebetulan aku bikin dua porsi jadi kamu bisa ikut makan, atau bagaimana kalau aku pesan makanan lain di luar?" ajak Evan perhatian.
"Hmm..." desis Qila agak ragu karena mengingat ucapan Keyra tapi perutnya yang sudah lapar daritadi membuatnya tidak bisa menolak.
"Gimana? Kamu mau gak, Qila?" tanya Evan berharap gadis itu mau.
"Baiklah, Kak. Mumpung Aiko dan adiknya tidur, Qila mau makan bareng sama Kak Evan," ucap Qila mengangguk.
'Asik, aku bisa makan berdua dengannya, hehe,' batin Evan menjerit dalam hatinya. Dengan perasaan berbunga-bunga, Evan seperti tidak fokus menyantap makanannya dan lebih suka memandangi Qila yang duduk di depannya.
"Oh ya, sorry kalau cuma mie gelas aja, Qila," ucap Evan agak malu-malu.
"Gak apa-apa kak, ini udah cukup mengganjal perut Qila dan juga rasa mie ini enak dari mie gelas lainnya," ucap Qila memuji.
"Iya dong, aku tambahin sedikit irisan bawang goreng," ucap Evan berlagak pandai memasak.
'Dan aku juga udah tuangkan semua rasa cintaku padamu, hehe,' batin Evan dalam hati.
"Besok-besok kamu ke sini lagi ya biar aku bawakan kamu makanan yang lezat dari rumah. Kakak perempuanku itu chef terkenal di kota ini jadi aku jamin kamu suka dan puas makannya," tutur Evan menceritakan kakaknya itu.
"Oh atau kamu boleh-boleh saja ke rumah kami. Nanti kakak ku (calon iparmu) bisa ngajarin kamu masak makanan ala-ala Eropa." Evan terus menebar perhatiannya itu.
"Ya, Kak. Terima kasih sarannya, kapan-kapan Qila datang jenguk keponakan Kak Evan juga." Senyum Qila dengan polosnya mengiyakan saja.
'Yesh, dia memang gadis ku yang ku idamkan.' Riang Evan dalam hati tidak ditolak. Usai menghabiskan mie di dalam mangkuk mereka, Qila pun memberikan atas meja kemudian membawa dua mangkuk kotor itu untuk dicuci.
"Oh ya, sini biar Qila yang cuci, Kak Evan ke kamar aja jagain Aiko. Nanti Kak Aidan bisa marah kalau dengar tangisnya," ucap Qila menunjuk ke kamar Aidan lalu masuk ke dapur. Evan yang disuruh ke kamar Aidan, ia malah ikut masuk ke dapur. Perlahan mendekati Qila yang membelakanginya. Terlihat tubuh dan bokong Qila yang besar menggoda membuatnya ingin merasakannya. Tapi Evan berusaha menepis keinginannya itu, tetapi ia tidak bisa membuang kesempatan langka ini. Bisa berduaan dengan pujaan hatinya adalah sesuatu yang dia impikan.
Qila yang mencuci mangkuk kotornya, seketika terkejut tatkala ada tangan yang merangkul dan mengelus nakal kedua pinggulnya.
.
Evan udah berani genit ya ☺️