
Kini di apartemen, Kinan tampak syok berat. Air mata yang menggenang di pelupuk matanya itu berlinang setelah melihat isi cctv di apartemen Aidan. Menunjukkan Qila yang mati-matian begadang tiap malam demi kedua cucunya. Sedangkan Aidan terlihat tidak peduli sama sekali. Padahal Aidan juga memiliki tanggung jawab pada cucunya itu.
"Nyonya ..." lirih pembantu tidak tega melihat majikannya itu.
"Bik. Lihatlah, harusnya aku tadi tidak usah menyuruhnya sekolah. Qila pasti sekarang, hiks," isak Kinan mengambil tissu dan mengusap air matanya.
"Bik, pernikahan ini hanya menyiksa Qila semata. Aku udah gak tahan, Bik." Kinan menutup laptop di depannya. Hatinya tercabik-cabik sekarang. Ingin rasanya ia memulangkan anak dan kedua cucunya itu.
"Tapi, Nyonya, Tuan Wira melarang kita -" ucap pembantu.
"Bik! Aku gak tahan, aku gak bisa biarkan Qila ada di sini. Bibik juga harus tau, aku sangat mengerti apa yang dirasakan Qila. Jika Qila terus di sini, hanya memperburuk kondisinya." Ujar Kinan menepuk dadanya yang sesak dan mengingat betapa paniknya ia ketika Qila kecil yang nyaris meninggal waktu kejadian di wahana. Beruntungnya, satu anak kembarnya itu diberi kesempatan hidup sehingga masih bisa melengkapi keluarganya.
"Dia masih kecil, Bik." Kinan menangis tersedu-sedu. Pembantu pun memeluk Kinan dan menenangkan majikannya itu sambil memandangi si kembar yang ada di atas kasur.
Tiba-tiba saja, sebuah pesan masuk ke dalam hape Kinan. Seketika matanya membulat hebat membaca isi pesan tentang Raiqa.
"Nyonya!" pekik Pembantu menangkap Kinan yang nyaris jatuh pingsan.
"Nyonya, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya pembantu.
"Bibik, Ra-raiqa berhasil ditemukan tapi-" jawab Kinan semakin bersedih. Dikabarkan jika Raiqa ternyata diculik oleh beberapa gangster yang berhubungan dengan Alpha dan sekarang mereka yang mengeroyok Raiqa sudah ditangani oleh Rayden. Memberi hukuman setimpal bagi mereka yang sudah berani mencelakai Raiqa. Sungguh mereka bodoh telah berurusan dengan Rayden dan Wira yang tidak mengenal ampun bagi musuhnya.
"Tapi kenapa, Nyonya?"
"Raiqa koma, Bik. Sekarang aku mau ke rumah sakit, tolong jaga Aiko dan Aila di sini." Kinan dengan panik dan ketakutan, segera keluar dari apartemen. Menyuruh supir yang datang bersama pembantu menuju ke rumah sakit.
"Ya Allah, kenapa musibah selalu datang ke keluarga Tuan Wira? Kesalahan apa yang dulu sudah diperbuat keluarga ini? Kasihan Nona Qila dan anak-anaknya," lirih pembantu duduk di samping Aiko dan Aila.
'Cklek'
Pembantu menoleh ke pintu kamar yang terbuka. Wanita separuh baya itu berdiri dan menyabut Aidan yang pulang dan tampak menggendong Qila di punggungnya.
"Bibik, di mana Ibu mertua ku?" tanya Aidan menidurkan Qila ke atas ranjang. Pembantu sedikit lega melihat Qila begitu pulas sampai Aidan sendiri tampak tidak tega membangunkan istrinya.
"Nyonya lagi keluar, Tuan muda," jawab pembantu dan tiba-tiba ada panggilan masuk untuknya.
"Maaf, saya keluar angkat telepon dulu, permisi Tuan muda." Karena Aidan penasaran itu siapa, laki-laki itupun menguping di dekat pintu. Terlihat pembantu seperti dibentak-bentak.
"Ya, Nona. Sa-saya akan segera pulang," ucap pembantu disuruh pulang ke rumah. Ia mengakhiri panggilan itu dan kemudian terkejut di belakangnya ada Aidan.
"Siapa itu, Bik?" tanya menantu majikannya itu.
"Ini Nona Hana, nyuruh saya pulang, Tuan,"
"Oh, apa tidak ada kabar dari Raiqa, Bik?" tanya Aidan menutup pintu kamar dan biarkan istrinya tidur di dalam.
"Maaf, Tuan. Saya pulang dulu, nanti Nona Hana marah, tolong jaga Nona Qila dan cucu Nyonya Kinan, permisi." Pembantu cepat-cepat pergi dan agak ragu mengatakan keadaan Raiqa karena bila Aidan tahu, cowok itu pasti akan meninggalkan Qila di apartemen.
"Arggghh." Meringis dan menjambak rambutnya dengan frustasi.
Jam dua siang, akibat Aiko yang merengek di sebelahnya, Qila perlahan membuka mata kemudian menoleh. Bayi laki-laki yang di sebelahnya itu ternyata lapar.
"Ughh, sepertinya ini di apartemen, apa tadi Kak Aidan yang membawaku ke sini?" Qila beranjak duduk.
"Mama dan Bibik kemana ya?" gumamnya tidak melihat siapa-siapa di kamar itu.
"Mungkin ada di luar?" pikirnya mengambil Aiko. Qila melepas kancing seragamnya dan mengeluarkan satu buah dadanya yang empuk dan besar itu. Memberikan pucuknya ke mulut kecil Aiko.
"Auhh, Aiko jangan begitu, sayang." Gemes Qila karena bayi itu seperti ingin menggigitnya tapi belum punya gigi. Dan lagi, Aiko tampak cemberut karena telat minum susu.
"Haha, Aiko udah bisa jengkel ya sama Mama, anak siapa sih kamu udah pinter marah." Cubit Qila dengan wajah konyol dan berhasil membuat bayi menggemaskan itu tertawa.
"Tapi syukurlah, adikmu sepertinya nyenyak. Pasti tadi udah kenyang minum susu buatan nenekmu,," tawa Qila tidak lupa mencubit pipi tembem Aila. Tiba-tiba suara perutnya terdengar.
"Pftt, sepertinya bukan cuma Aiko yang lapar, tapi Mama kelinci juga sudah lapar. Sekarang Aiko temenin Mama keluar makan ya." Cium Qila ke pipi Aiko dua kali, dan anggap saja ciuman yang kedua itu untuk si ayah baby.
Qila pun keluar dari kamar. Berjalan sambil menyusui Aiko dan masuk ke dapur. Ternyata di sana cuma ada Aidan yang sedang cuci piring sendirian. Qila ingin bertanya kemana Ibunya, tapi ia juga takut dibentak karena sudah tidur dari tadi.
"Tidak usah bingung seperti itu, pembantu yang disuruh datang oleh Ibu mu sudah pulang ke rumah," ucap Aidan menyadari Qila dari gerak-gerik istrinya itu. Qila menunduk dan merasa senang mendengar Aidan bicara padanya.
"Ka-kalau begitu, Mama di mana, Kak?" tanya Qila duduk dan melihat sisa makanan enak di atas meja.
"Tidak tau," jawab Aidan ketus.
'Hmm, Mama kemana ya? Apa sudah pulang juga?' pikir Qila dan melihat Aiko. Ia ingin makan tapi bayi itu masih belum mau melepaskannya. Tiba-tiba ...
'Prang'
Qila menoleh ketika mendengar piring jatuh ke lantai. Aiko yang asik susu pun terkejut dan melirik ayahnya yang tampak tercengang melihat di depannya Qila terang-terangan sedang menyusui anaknya itu sambil memperlihatkan buah dadanya yang tumpah riah.
"Kak Aidan, kenapa?" tanya Qila berdiri cepat.
"Cih, aku tahu kamu menginginkan perhatian ku, tapi tidak usah dengan memperlihatkan dada jelek mu itu! Melihatmu saja bikin aku mual. Sana pungut sampah itu!" bentak Aidan jijik dan tiba-tiba marah. Ia pun menyenggol Qila, keluar dari dapur dan sengaja tidak membersihkan pecahan kaca.
Air mata Qila turun seketika. Hatinya perih. Padahal ia adalah korban kecelakaan ini tetapi Aidan seperti tidak peduli pada perasaannya dan seenaknya saja.
"Tidak apa-apa, Aiko, Mama cuma kelilipan kok, hahaha." Qila pura-pura tertawa melihat Aiko ingin menangis.
"Sekarang kamu di sini dulu ya, Mama pergi bersihkan itu. Kalau dibiarkan saja, nanti pecahan itu bisa diinjak papa mu."
.
Jahat banget sih tuh mulut kau Aidan🥺coba deh kau yang diposisi Qila, udah pasti gak kuat😞perhatian dikit napa jadi suami🙁walau gak kau cintai, setidaknya pahami dong perasaan istrimu☺️ya guys ya sayang gitu hehe