
"Apa ini yang kau berikan padaku?" tanya Rayden belum mengambil dokumen di depannya dan hanya membaca tanda pengenal milik Bram yang bekerja sebagai Dokter psikolog. Rayden dalam hati sedikit kesal, dan merasa dirinya tidak pernah menghubungi Dokter seperti itu dan juga tidak punya masalah mengenai dirinya.
"Jika saya memberitahunya kepada anda, saya rasa ini akan memakan waktu lama dan lebih banyak membuang waktu berharga anda," ucap Bram
"Daripada mendengarnya dari mulut saya, silahkan Tuan Rayden sendiri mendengar pengakuan dari disk remakan yang ada dalam dokumen itu dan juga catatan mengenai putra sulung anda."
'Aidan? Catatan apa itu?' pikir Rayden pun membuka sampul dokumen itu. DeG! Detak jantungnya pun berdegup keras melihat halaman depannya tertulis hasil tes DNA. Melihat ekspresi Rayden itu, Bram yakin bahwa pria di depannya itu sangat syok sampai terdiam.
"Tuan Rayden, saya tahu anda sedang memendam amarah, tapi inilah yang terjadi pada putra anda yang telah menjadi ayah diusianya yang masih terbilang sangat muda," tutur Bram sambil melihat Rayden membaca setiap lembar dokumen itu dengan sangat cepat dan nampak tidak percaya Aidan telah mempunyai anak, terlebih lagi, memberinya dua cucu di luar nikah dan sepengetahuannya. Foto Aiko dan Aila benar-benar mirip seperti Aidan dan Keyra waktu bayi.
"Ba-bagaiman bisa ini terjadi?"
"Tidak, maksudku, ini sungguh bukan foto anak kembarku, kan?"
Rayden bertanya sambil melihat tajam Bram. Bram menghela nafas ringan kemudian menunjuk disk rekaman yang belum didengar Rayden.
"Jawaban dari pertanyaan anda itu ada di dalam isi rekaman itu."
Rayden pun melihat sekretarisnya dan memberi isyarat tangan untuknya keluar meninggalkannya berdua dengan Bram saja. Sekretaris itu mengangguk paham lalu berdiri di luar pintu kantornya yang ditutup rapat. Kini di ruangan itu hanya ada Bram dan Rayden.
Sebelum Rayden mendengar isi rekaman itu, ia sejenak menenangkan dirinya dan mengontrol emosinya sebisa mungkin. Ia sudah memastikan isi rekaman itu pasti akan mampu meluapkan kemarahannya dan itu bahaya. Ia tidak mau kantornya hancur gara-gara kemarahannya sendiri. Sedangkan Bram, si Dokter tampan itu masih tenang menunggu reaksi Rayden yang sudah dia nanti-nantikan. Meskipun ia terlihat tenang, tapi hawa di sekitarnya tetap terasa suram dan semakin menegangkan ketika rekaman itu mulai perlahan diputar.
Detak jantung Rayden semakin kencan berpacu diiringi pengakuan dari seorang gadis yang memiliki suara yang sangat familiar yang memiliki hubungan dengan keluarga Wiransyah. Ungkapan dan tangisan terekam jelas dan terdengar menyedihkan. Tangis gadis itu serasa telah berputus asa namun masih memiliki harapan walau rasanya itu hanya akan sia-sia. Rayden pun mengangkat pandangannya dan melihat Bram.
Bukan cuma ungkapan dirinya yang hamil, gadis di dalam rekaman itu juga menceritakan awal mengapa ia bisa tidur dengan Aidan dan semua kesalahan itu terjadi karena kecelakaan saat pesta besar keluarga di tahun lalu.
"Ha-hana?" ucap Rayden mengira suara itu milik Hana karena setahunya, gadis yang hadir dalam pesta itu hanyalah Hana dan beberapa gadis dari keluarga dekat yang lain.
"Bukan," ucap Bram menggelengkan kepala.
"Bu-bukan? Apa katamu ini? Kau pikir suara gadis ini bukan dia, Hana putri dari Wira?" tanya Rayden sedikit terkejut dan berdiri dari kursinya kemudian mencengkeram kerah Bram.
"Benar, Tuan Rayden."
"Lalu, siapa gadis ini, haaa?" tanya Rayden meninggikan suaranya membuat sekretaris di luar tersentak kaget mendengar suara Rayden yang marah.
"Suara ini milik saudara kembarnya, Aqila Mahira yang mengganti saudaranya bergabung ke dalam pesta itu."
DEG!!
Rayden melepaskan cengkeramannya kemudian duduk kembali dan memegang kepalanya yang mulai berdenyutan.
"Ternyata gadis itu yang datang ke sana?" keluh Rayden merasa salah mengenali orang, alias dia hampir tidak mengingat Hana yang memiliki saudara kembar juga.
Bram yang melihat Rayden pusing memikirkan masalah yang datang pada putranya, Dokter itupun kembali bicara. Menyuruh Rayden mengatakan keputusan apa yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini.
"Jadi, Tuan Rayden, apa anda akan memberikan sebuah pernikahan untuk keduanya?" tanya Bram dan berharap jawabannya beda dari yang dia pikirkan. Jika Rayden menolak, maka Bram akan datang kepada Wira dan membicarakan niatnya untuk meminang Qila setelah lulus dari sekolah dan apabila Qila dibuang atau tidak dianggap oleh keluarganya.
Rayden yang duduk menghadap ke samping, ia pun melirik Bram yang menunggu jawabannya. Dengan dingin, ia pun bertanya, "Mengapa anda repot-repot begini, Dokter Bram? Apa ini adalah rencanamu sendiri? Atau kau punya tujuan dan dendam pada keluarga saya?" tanya Rayden curiga.
Bram membuang nafas kasar mendengar Rayden yang sudah ia kira pasti akan menuduhnya. Bram pun menjawab santai sambil memperlihatkan foto Aiko dan Aila dari hapenya kemudian mengatakan awal pertemuannya dengan Qila yang saat itu, gadis itu sudah hamil.
"Jadi ini bukan kelakuan mu?" tanya Rayden sinis.
Rayden pun memutar kursinya dan berbalik badan. Kemudian bergumam sendirian memikirkan masalahnya. Ada rasa tidak suka dan gelisah muncul di wajahnya. Rayden tidak suka pada Aidan yang sudah jadi ayah diusianya yang masih 17 tahun. Umur seperti itu, Rayden lebih sibuk belajar dan mengasah kemampuan IQ dan bela dirinya. Sedangkan putranya sekarang membuatnya sangat malu.
"Tuan Rayden, waktu anda sangatlah berharga dan saya juga tidak bisa berlama-lama di sini. Jadi bisakah Tuan Rayden mengatakan pada saya, keputusan apa yang akan anda ambil untuk menyelesaikan ini?" tanya Bram masih duduk di kursinya dan menatap punggung Rayden yang membelakanginya.
"Hmm, ini memang kecelakaan dan sudah terlanjur terjadi. Di sisi lain saya merasa malu atas kejadian ini yang telah merusak salah satu hidup putrinya Wira, dan di sisi lain saya tidak bisa mengabaikan masalah ini," ucap Rayden tampak berat mengatakan keputusannya. Ia pun melihat Bram si pria yang cukup memiliki keberanian bertemu dengannya.
"Jadi, apa yang akan anda lakukan?" tanya Bram dan melirik jam di hapenya yang sudah pukul dua siang.
"Apa anda sedang berpikir untuk menikah kan kedua anak ini?" tebak Bram.
"Ya, pernikahan adalah cara menyelesaikan ini," ucap Rayden meremas tangannya kuat-kuat dan sangat ingin memukul wajah Bram yang menyebalkan. Karena merasa Bram itu menginginkan jawaban lain selain pernikahan.
Bram pun menghela nafas sedikit kecewa mendengar jawaban yang tidak sesuai pikirannya. Tapi, ia juga lega karena sosok Rayden yang ditakuti orang tidak begitu menyeramkan.
"Jika Tuan Rayden benar-benar ingin hal itu, maka tujuanku sudah selesai di sini," ucap Bram bersiap pergi.
"Heh, tunggu!" ujar Rayden menyuruhnya berhenti.
"Ada apa Tuan Rayden? Anda membutuhkan sebuah saran dariku?" tanya Bram melihatnya.
"Ck, apa maksudmu itu? Apa kau tidak mau mengatakan ini pada keluarga Wira? Dan mengandalkan aku yang harus mengatakan ini sendiri pada mereka?" tanya Rayden menatap kesal dan sebenarnya paham yang dikatakan Bram.
"Benar, Tuan. Hanya anda yang bisa katakan itu pada keluarga Qila. Lagipula, anda juga pasti akan membicarakan soal pernikahan, bukan?" ucap Bram kemudian pamit dengan sopan.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu anda, saya pergi dulu, permisi." Bram keluar kemudian pergi dari perusahaan. Pintu pun kembali dibuka oleh sekretaris kemudian mendekati Rayden yang merem4s rambutnya.
"Tuan Rayden, anda baik-baik saja?" tanya sekretaris itu khawatir melihat atasannya pusing tujuh keliling.
"Sialan, apa ini benar-benar sebuah kecelakaan atau jebakan?" decak Rayden kemudian melihat foto Aiko dan Aila. Sekretaris di depannya tampak ingin melihat foto di tangan Rayden, tapi tidak jadi saat Rayden tiba-tiba menyimpannya di dalam saku lalu menyuruhnya.
"Hei, apa hari ini aku ada waktu kosong?" tanya Rayden dengan tatapan dingin.
"Dari jadwal hari ini, sepertinya Tuan Rayden masih ada satu pertemuan yang perlu dihadiri," ucap sekretaris itu melihat catatan di tangannya.
"Kalau begitu siapkan mobil, kita ke tempat pertemuan itu sekarang juga." Rayden berdiri dan memasang jasnya dengan cepat kemudian berjalan ke pintu kantornya.
"Maaf, Tuan Rayden," ucap sekretaris bediri di sebelahnya yang kini berjalan ke parkiran.
"Hm, kenapa?" tanya Rayden.
"Anu, apa yang Tuan Rayden dan Dokter itu bicarakan?" tanya sekretaris penasaran. Rayden berhenti dengan ekspresi marah. Seketika sekretaris itu mengangguk paham dan menutup rapat-rapat mulutnya untuk tidak perlu bertanya lagi.
Rayden pun duduk di kursi sambil memikirkan ucapannya sendiri. "Pernikahan? Kira-kira, apa ini akan berjalan lancar?" gumam Rayden tidak yakin dan memikirkan jawaban putranya yang menolak atau tidak. Apalagi sekarang ia baru-baru ini mengusir Aidan keluar dari rumah. Jangankan itu, Rayden juga memikirkan kemarahan Wira.
"Ah sial, pria ber3ngsek itu seharusnya memberitahuku lebih awal! Bukan di waktu yang sekarang!" Kesal Rayden. Ia ingin sebenarnya ke tempat Aidan untuk melihat dua cucunya dan berniat ingin membawanya pulang, tapi ia juga khawatir dengan istrinya juga.
"Dia pasti sangat kecewa berat jika tahu hal ini."
Sekretaris yang menyetir cuma bisa diam-diam melirik Rayden yang terlihat punya masalah besar.
'Duh, apa yang sudah terjadi pada Tuan Rayden? Ini kali pertama dia menunjukkan wajah menyesal seperti itu.' Batin sekretaris itu sangat-sangat penasaran.