Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
65. Menantu Kecil



"Bik! Bibik!" panggil Hana meneriaki Pembantu yang sudah sampai.


"Makan siang aku udah selesai?" tanya gadis itu dan melihat kresek di tangan pembantu.


"Apa itu, Bik?" tanya Hana menunjuk.


"Ini hidangan saji yang saya beli di luar, Nona," jawab pembantu.


"Oh, kalau begitu, di mana Mama ku, Bik? Kenapa tidak pulang bersama Bibik?" tanya Hana masuk ke dapur, duduk di kursi dan melihat pembantu menyiapkan hidangan itu untuknya.


"Ny-nyonya masih di luar, Non," ucap pembantu sedikit ragu-ragu menjawab jujur.


"Ya udah, kalau begitu, tolong Bibik cuci sepatu dan baju olahragaku, besok Hana ada kegiatan di sekolah." Suruh gadis itu mulai makan.


"Baik, Nona." Pembantu mengangguk dan segera pergi melakukan perintah Hana. Setelah gadis itu makan, Hana kembali ke kamarnya. Melakukan latihan lompatan yang untuk kegiatan bakset besok.


"Cih, Qila kemana sih? Besok aku dan dia 1 tim! Harusnya dia segera pulang dan latihan bersamaku, dan lagi, Bang Raiqa juga harusnya balik ke rumah! Dua-duanya memang tidak berguna." Hana duduk ke kursinya dan menulis lanjutan yang diajarkan Aidan padanya. Tetapi baginya, jika ditulis tanpa latihan, ia belum yakin akan mendapat poin tinggi besok.


"Duh, aku butuh banget Bang Raiqa ajarin cara main basket, tapi dia belum pulang juga, mau minta sama Papa, Papa juga sibuk."


"Arghhh, aku harus gimana ini?" Hana mengacak-acak rambutnya kemudian melihat riwayat panggilan di hapenya.


"Ah iya, aku suruh aja Bang Aidan ke ketemuan nanti sore dan ajari aku main basket. Bang Aidan pasti lebih jago daripada Bang Raiqa." Senyum Hana merekah dan berpikir untuk menemui Aidan ke apartemennya.


Sementara di Markas Rayzard. Rayden dengan hukuman kejam sudah selesai mengurus gangster bayaran itu. Tapi rasanya, ia masih belum puas jika belum menghancurkan Alpha, organisasi yang paling ingin dia musnahkan. Yang selalu mengganggu kehidupan anak-anaknya, terutama perbuatannya pada Raiqa benar-benar tidak bisa diberi ampun.


"Bos Rayden," panggil seseorang datang.


"Ada apa? Kau mendapat sesuatu yang baru?" tanya Rayden pada sekretarisnya


"Atau ada urusan lain yang terjadi di perusahaan sampai kau datang ke sini?" tanya Bos Rayzard itu duduk ke kursinya sambil menunggu jawaban sekretarisnya.


"Benar, saya mendapat sesuatu yang baru tapi ini sedikit aneh," ucap sekretaris itu.


"Apa itu berhubungan dengan Alpha?" tanya Rayden dengan mimik serius.


"Kurang lebih ini menyakut soal orang yang membawa Tuan muda Raiqa ke rumah sakit dan serta orang yang menyelamatkan nyawa putra Tuan Wira itu dari penyiksaan preman bayaran," tutur sekretaris membuka berkas di tangannya.


"Lho? Ada apa ini? Kenapa dia lagi?" tanya Rayden sedikit terkejut dengan isi berkas itu yang lagi-lagi tentang Bram.


"Bos, sesuai dari hasil pencarian kami, orang tersebut adalah pria yang menyelamatkan hidup Tuan muda Raiqa dan dia juga yang mengirim putra Tuan Wira itu ke rumah sakit," jelas sekretaris itu memang sangat cepat menggali informasi.


"Ck, apa-apaan ini? Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Apa ini sudah direncakan olehnya?" Rayden bertanya-tanya heran melihat foto Bram dari tangkapan cctv di sekitar area tempat Raiqa dikroyok dan juga hasil rekaman di sekitar rumah sakit. Ia terheran-heran, orang asing seperti Bram serasa tahu apa yang terjadi pada Raiqa.


"Dan lagi, saya juga mendapat hal yang lebih aneh lagi," sahut sekretaris itu mengeluarkan dokumen tipis lain. Seperti data-data yang telah ia kumpulkan.


"Bos, nama pria itu tidak terdaftar di mana pun. Yang artinya, biodata yang dia berikan dan buat ini adalah palsu."


"Sebentar, maksudnya orang ini punya identitas lain yang sengaja dia sembunyikan? Begitu?" tanya Rayden sedikit-sedikit mencerna.


"Benar, dan lagi tampaknya dia bukanlah Dokter psikolog. Sama sekali apa yang tertera di sini hanyalah kebohongan." Sekretaris itu menegaskan opininya. Rayden pun membuka laptopnya, dengan kejeniusannya mencari data Bram ke seluruh situs dunia. Benar saja, tidak ada data resmi yang ditampilkan untuk identitas Bram.


"Oh begitu ternyata, Wira memang benar, pria ini sepertinya penipu yang licik. Dia sepertinya sudah merencakannya ini dengan maksud pasti ingin menghancurkan aku dan Wira," ucap Rayden mencengkeram polpen di tangannya. Sangat kesal ada orang yang berani mempermainkan keluarganya dan juga Wira selain Alpha.


"Tapi, Bos," ucap sekretaris tiba-tiba.


"Ada apa? Kau mendapat sesuatu lagi?" tanya Rayden.


"Aku merasa niatnya ini masih belum jelas," ucap sekretaris itu tampak ragu menuduh Bram sebagai penjahat.


"Apa yang belum jelas?" tanya Rayden kini serius melihatnya.


"Dari hasil pengamatan saya, jika dia benar-benar berencana untuk menghancurkan anda dan Tuan Wira, mungkin rencana itu sudah dia lakukan beberapa bulan yang lalu. Tapi pria itu tidak menyebarkan rumor jelek dan sekarang malah seperti -"


"Seperti apa?" tanya Rayden mendesak.


"Ini agak sulit dijelaskan karena sedikit tidak masuk akal tapi saya rasa dia melakukan ini untuk mencegah terjadinya pernikahan antara Tuan Aidan dengan Nona Hana. Terlebih lagi, Bos kan tahu kalau gadis itu menyukai Tuan Aidan," ucap sekretaris dan masih sedikit ragu dengan pola pikirannya itu.


"Jadi maksudmu, dia bersekongkol dengan Qila dan gadis itu sengaja menjebak dirinya? Begitu?" tebak Rayden dan kemudian diberi anggukan oleh sekretarisnya.


"Astaga, pulang lah, perkiraan mu tidak masuk akal. Sejak awal mendengar cerita dari Qila, gadis itu jelas tidak begitu mengenal Bram. Apalagi ia baru pertama kali bertemu dengan Bram di luar negeri," ucap Rayden tidak mau dengar ucapan sekretarisnya dan tidak lupa mengusirnya juga.


"Tapi, Bos-"


"Sudah, jangan kau bersangka buruk pada menantuku. Dia tidak akan mungkin melakukan cara serendah itu mendekati anakku. Sebaiknya kamu lanjut menangkapnya dan bawa dia kepadaku sesegera mungkin." Rayden tetap mengusir sekretarisnya dan mengira yang terjadi itu memang sebuah kecelakaan, bukan suatu kesengajaan atau jebakan halus Qila. Serta Rayden percaya menantunya hanya gadis polos yang tidak tahu apa-apa.


"Baik, kalau begitu saya kembali dulu, permisi Bos." Sekretaris itu pergi meninggalkan Rayden yang sibuk berpikir sambil memandangi berkas Bram di atas mejanya. Pria yang diperhatikan memiliki mata lumayan indah, hidung mancung, dan kumis tipis. Memang jika lebih lama diperhatikan, pria yang lumayan brewokan itu tidak seperti seorang Dokter melainkan orang aneh yang sulit dilacak keberadaannya sekarang dan juga...


"Penipu gila." Setelah mengumpat, Rayden pergi dari Markasnya, menuju ke rumah sakit, tempat Wira yang sedang menenangkan istrinya di sana atas kondisi Raiqa yang masih koma. Melihat bagaimana perkembangan saudara menantu kecilnya dan setelah itu ia akan mengunjungi Qila dan Aidan.


.


Rayden sayang mantu toh🥰percaya banget sama Qila🥺mertua idaman nih, udah mafia+tajir, senggol dong🤭


Nih, author kasih bonus, visualnya Bram😍



Visual tokoh yang lain bakal nyusul, tunggu aja ya🤗