
"Ahh, menyebalkan. Kalau saja bayi di dalam itu tidak ada, aku pasti langsung mengiyakannya! Akhhh, kenapa masalah ini harus datang padaku!" racau Aidan menjambak rambutnya lalu menutup pintu apartemennya sehingga drone yang melayang di atas tidak bisa masuk lagi. Tampak drone itu tidak bergerak setelah mendengar semuanya. Tentu karena rekan Keyra cukup syok melihat Hana dan Aidan yang saling mengungkapkan rasa, terutama berniat kencan setelah ujian sekolah selesai.
"Woah, aku tidak sangka saudara Nona Keyra menyukai adiknya Raiqa, cowok yang kurang disukai oleh Nona Keyra. Kalau begini, aku tidak yakin berapa persen keberhasilan gadis itu bisa menjadi istri Tuan Aidan."
"Tapi di luar itu, dari ucapan Aidan tentang bayi itu masih kurang jelas. Dia awalnya berkata bayi itu adalah titipan yang perlu dijaga, tapi di sisi lain, dia bilang bayi itu memberinya masalah. Maksudnya apa sih? Apa dia terpaksa membuka jasa pekerjaan itu hanya untuk memberi kesan baik di mata Hana, cewek muka tembok itu?" guman rekan Keyra memukul-mukul ujung polpennya ke meja. Ia belajar sambil mengawasi pergerakan tiga remaja di apartemen itu yang silih berganti masuk keluar dari kamar Aidan.
"Aku sangat penasaran wajah bayinya, tapi tiga cowok itu tidak pernah mengeluarkannya dari kamar itu. Kalau saja aku bisa memasang cctv di kamarnya, pasti aku leluasa menonton kelakuan tiga cowok itu. Oh ya, sepertinya aku perlu mendesain kembali drone pengintaiku agar bisa masuk ke kamar itu tanpa diketahui Evan." Rekan Keyra itu segera memulangkan dronenya dan mulai membongkar dronenya menjadi alat yang lebih canggih lagi.
Sedangkan Hana yang sampai ke rumah, tampak ia bingung melihat rumahnya kosong tanpa orang satupun.
"Mama, Papa," panggil Hana menyalakan saklar di ruang tamu yang gelap.
"Hmm, Mama dan Papa kemana sih?" desis Hana dan tiba-tiba pintu rumah diketuk. Hana berbalik badan dan terkejut melihat yang datang adalah Keyra.
"Kenapa datang ke sini, Kak?" tanya Hana sopan dan berjalan mendekat sambil menatap datar tanpa senyuman.
Dengan setengah hati, Keyra menjawab angkuh, "Ibuku barusan mendapat pesan dari orang tuamu,"
"Pesan apa?" tanya Hana.
"Orang tuamu malam ini tidak bisa pulang,"
"Kenapa?" tanya Hana lagi.
"Ck, mereka bilang dalam seminggu ini mereka sibuk di luar kota mengurus pekerjaan bisnis, jadi karena Ibuku masak lebih banyak malam ini, jadi Ibuku memanggilmu dan saudaramu yang lain makan bersama kami. Jika kamu tidak keberatan, kalian juga bisa tinggal beberapa hari di rumah kami. Tapi jika kamu tidak mau, itu terserah kalian. Itupun jika kalian bisa menjaga diri sendiri di rumah ini," tutur Keyra seolah malas bicara pada Hana.
Hana ingin menolak kebaikan tetangganya, tapi perutnya yang keroncongan tidak bisa membohonginya.
"Baiklah, terima kasih sudah repot-repot Kak Keyra, tapi sepertinya di rumah ini hanya ada aku. Saudaraku yang lain tampaknya tidak bisa bergabung makan malam bersama," ucap Hana menunjuk isi rumahnya yang sepi.
"Lho, harusnya Qila dan Raiqa sudah pulang, tapi kemana mereka?" tanya Keyra heran.
"Emhh, Bang Raiqa ada di apartemen Aidan, dia mungkin akan bermalam di sana, dan kalau Qila mungkin ada di rumah temannya," ucap Hana lalu keluar dan kemudian menutup pintu rumahnya.
"Ya udah deh, sekarang kamu saja yang ikut denganku," ucap Keyra jalan cepat ke rumahnya. Sedangkan Hana berjalan santai saja. Tapi ia sedang memikirkan Qila. 'Ish, Qila pasti enak banget di luar sana bisa main bebas dengan temannya. Memang menyebalkan.' Batin Hana merasa iri. Kalau saja ia bisa menolak ajakan Arum, pasti ia juga pergi ke rumah temannya. Tapi Hana merasa tidak enak pada Arum, terutama Rayden yang baru pulang dari urusan bisnisnya. Tatapan pria itu sangat menakutkan sekarang. Bagaikan ingin marah tapi berusaha ditahan. 'Duh, Om Rayden kenapa menatap begitu sih?' pikir Hana merasa kurang nyaman makan di rumah tetangganya itu.
Sementara Qila, gadis itu sekarang sedang berhadapan dengan Bram. Ia tadi ingin ikut ke apartemen Aidan, tapi di tengah jalan, Bram menghubunginya untuk mengajaknya bertemu di sebuah cafe kecil. Akhirnya, Qila terpaksa meninggalkan Aidan dan Evan dengan alasan ada temannya yang memanggilnya. Alasan yang mudah, tapi ternyata pertemuannya itu dengan Bram membuat Qila menangis.
"Ke-kenapa Om ceritakan ini pada Om Rayden? Apa Om tidak bisa memikirkan dulu, Om Rayden itu orang yang menakutkan! Om harusnya tidak usah bertindak sejauh ini! Biarkan Qila, biarkan Qila yang menyelesaikannya sendiri, hiks," ujar Qila terisak dan marah membuat orang di sekitarnya terlonjat kaget melihat meja Bram digebrak.
"Me-menikah dengan Kak Aidan? Om Rayden serius bilang gitu?" tanya Qila tertegun.
"Yeah, itu niat yang baik, bukan?" Senyum Bram senang melihat Qila berhenti menangis, namun detik selanjutnya, gadis di depannya itu semakin kencang menumpahkan air matanya.
"Huwaaa.... kenapa jadi begini, hiks ... hiks..." tangis Qila membuat Bram bingung.
"Lho, ini rencana yang bagus dan ini adalah sesuatu yang kamu inginkan juga. Tapi kenapa kamu sesedih ini?" tanya Bram gagal memahami gadis di depannya.
"Ini memang yang Qila harapkan, tapi Om ..." isak Qila menghapus air matanya sampai tidak tersisa.
"Tapi kenapa?"
"Tapi Kak Aidan tentu akan menolak, apalagi dia itu cinta banget sama Hana. Pernikahan ini sudah pasti tidak akan terjadi dan Om Rayden juga pasti bermusuhan lagi sama Papa. Hiks... mungkin harusnya Qila tidak usah kembali ke negara ini dan lebih baik Qila memberi surat kematian palsu. Setelah itu, hidup sendirian mengurus Aiko dan Aila," celoteh Qila menunduk murung. Sedangkan Bram yang mendengar itu diam terpaku.
DeG!
Qila mengangkat wajah ketika Bram memegang tangannya dan menatapnya kasihan.
"Qila, jika saja pikiranmu ini muncul di awal. Saya sangat tidak keberatan untuk membantumu, apalagi saya sudah lama bersedia menjadi bagian dari hidupmu," tutur Bram terus terang.
Qila secepatnya menarik lepas tangannya kemudian menundukkan pandangannya. "Ma-maaf, sebenarnya kenapa Om begitu baik padaku?" tanya Qila lirih dan paham maksud Bram yang sedang mengutarakan perasaannya.
Bram pun melihat ke luar jendela, melihat langit di atas yang indah. Namun tidak seindah dengan apa yang di dalam pikirannya. Bram pun perlahan mengungkap isi hati Bram bahwa Qila mirip dengan seseorang di masa lalunya. Meskipun wajah tidak sama, tapi kepribadiannya mirip dan itu mengingatkannya pada kekasihnya yang sudah meninggal setelah ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
"Om...." lirih Qila merasa tidak enak sudah bertanya dan melihat ada buih air mata di sudut mata lelaki itu. Tapi Bram tetap lanjut bercerita jika kekasihnya mati dengan tragis. Padahal saat itu, kekasihnya sedang hamil dan bernasib seperti Qila yang dihamili sebelum dewasa.
"Ini salahku, harusnya aku lebih banyak menjaganya, tapi aku malah sibuk dengan urusanku sendiri hingga tidak tahu dia pernah diperkosa oleh orang lain. Kisah cinta yang menyedihkan dan menyakitkan, bukan?" ucap Bram mengepal tangan. Ada kemarahan besar tersimpan dalam hatinya namun selama ini ia berusaha menahannya. Tapi air matanya yang mengalir itu jelas terlihat sedang bersedih dan merasa bersalah pada dirinya sendiri. Terutama mengingat wajah terakhir kekasihnya yang sudah bunuh diri. Itu trauma yang susah payah Bram lupakan dan itu sangatlah menyakitkan. Oleh karena itu, ia tidak mau Qila bernasib seperti kekasihnya yang amat dia cintai itu.
"Huftt, sekarang sudah malam, ucapan Om yang terakhir itu dilupakan saja. Sekarang, sini Om antar kamu pulang, Qila," ucap Bram berdiri disusul Qila yang berjalan murung di sebelahnya. Ketika ia ingin masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba saja Qila meraih ujung jas Bram.
"Tunggu, Om." Bram menoleh dan terkejut melihat Qila menahannya.
"Ada apa, Qila?" tanya Bram. Ia pun semakin terkejut mendengar permintaan gadis itu.
.
Duh🌝jangan minta yang aneh² ya Qila🤭