
"Qila, jika kamu tidak secepatnya jujur, Om khawatir pada asimu," ucap orang itu tahu Qila yang masih belia tidak sangka memiliki ASI yang lancar dan sehat. Tapi dia tetap cemas pada Qila.
"Om tidak usah cemas, ASI Qila sangat sehat dan lancar," tutur Qila.
"Baiklah, kalau ada apa-apa, Qila hubungi Om saja,"
"Baik, Qila mengerti. Terima kasih, Om."
Tuuut…
Qila meletakkan ponselnya setelah panggilan berakhir lalu dia mengirim satu chat untuk Dokter Bram yang membantunya saat di Korea. "Om, terima kasih sudah jagain baby Qila." Hanya Dokter Bram yang tahu kondisi Qila saat ini.
Qila mengusap pinggir matanya, membayangkan perjuangannya mengandung dan melahirkan anak. Rasanya, tangisnya ingin tumpah karena saat itu tak ada satu pun keluarga yang melihatnya meregang nyawa.
Qila pun dengan hati-hati menghentikan Aiko menyusu, dia pun memasang bajunya kembali lalu terlentang bebas setelah menyalurkan ASInya siang ini. Perlahan, Qila memejamkan mata, ikut tidur disebelah Aiko yang kembali terlelap dengan menggemaskan.
Sementara Aidan, cowok itu terlihat keluar dari rumah sakit. Dia selesai juga menyerahkan simple untuk tes DNA. Kini dia tinggal menunggu hasilnya keluar.
"Semoga saja isi surat itu tidak benar!" Aidan dengan yakin tidak percaya Aiko darah dagingnya. Dia pun masuk ke dalam mobil dan melaju ingin kembali ke apartemen. Tapi, di tengah jalan, ada sebuah kecelakaan terjadi hingga jalan ditutup. Aidan pun terpaksa melewati gang kecil. Tidak sangka, lima preman mencegat mobilnya di lorong yang sunyi dan mencekam.
Terlihat mereka tersenyum penuh ambisi, body kekar dan tidak sabar untuk membegal Aidan. Aidan turun dari mobil, dan dengan berani berdiri di hadapan lima preman yang bersenjata itu sendirian.
"Heh anak muda, sepertinya kau sudah salah melewati kawasan ini, tapi jika kau ingin melewati jalan ini, kau hanya memberi kami semua barang yang kau miliki, apa kau mengerti anak muda?" ucap mereka tertawa kekeh. Mengira Aidan anak orang kaya yang bodoh. Tapi yakin, Aidan akan menurut? Tentu tidak, Aidan dengan santai berbalik. "Aku gak punya urusan dengan kalian, jadi minggirlah sebelum aku melindas tubuh kalian."
"Hei, bang sat! Kau sedang menantang kami, ha?" Satu Preman maju menahan bahu Aidan. Spontan, Aidan dengan lincah mencekal tangan itu lalu menghajarnya.
Krasak!
Aaahhh!
Bosss!
Duaaak!
Preman itu terlempar ke tembok dengan keras. Empat preman semakin geram melihat Aidan dengan mudah menjatuhkan Bosnya. "Karena kalian yang mulai duluan, maka jangan salahkan jika kalian berakhir dengan nama doang," decak Aidan emosi jalannya dihalangi.
"Cuih, kau sombong juga anak muda," ucap Bos Preman bangkit lagi. Dia terlihat senang melihat ada remaja yang dapat dia tantang. Aidan tersenyum miring, dia siap melayaninya.
Sangat disayangkan, mereka tidak tahu siapa Aidan. Jika mereka tahu latar belakang Aidan, mungkin akan pipis di dalam celana atau langsung jatuh tak berdaya.
"Bagus, aku sudah lama tidak menghajar pecundang gara-gara pengawasan daddy, sekarang ini waktunya emosiku terluapkan. Akan aku beri cuma-cuma pada kalian rasanya menerima pukulan maut dari Bos Gangster di kota ini." Aidan dalam hati menyeringai licik.
"Dasar berandal kesiangan!" pekik mereka maju menerjang ke arah Aidan duluan sambil mengayunkan senjata tajam masing-masing.
.....