Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
86. Mencari Qila



Sejak latihan pada malam itu bersama Aidan, Hana merasa bingung sekarang. Karena di hari Sabtu kemarin, Aidan tidak hadir ke sekolah hingga cowok itu tidak melihat hasil latihannya. Bahkan sampai di hari Selasa ini, Aidan masih tidak datang ke sekolah.


"Bang Aidan ke mana ya?" gumam Hana yang sedang berjalan sendirian di dekat pinggir pagar sekolah.


"Apa dia sibuk mengurus bayi titipannya daripada hadir ke sekolah?" Tambahnya penasaran dan ingin ke apartemen Aidan sebelum pulang ke rumah.


"Hanaaaaa!" panggil kelompok gengnya menghampiri Hana dengan mobil mereka. Seperti biasa, mengajak Hana pulang sekolah bersama.


"Hei, naik sini, Han!" ajak mereka.


"Gak deh, kalian duluan aja. Aku nanti pulangnya naik taksi," tolak Hana.


"Ya udah, tapi hati-hati loh, sekarang ini kota sedang gak lagi aman," ucap mereka.


"Hah? Gak aman? Kenapa?" tanya Hana sedikit terkejut.


"Hana, baru-baru ini ada pembantaian yang terjadi di markas Alpha. Bahkan Alpha si ketua geng sombong itu dibunuh bersama anak buahnya, dan sekarang polisi masih menyelidiki pelaku yang belum tertangkap," jelas mereka semakin mengejutkan saudara kembar Qila itu.


"Tapi kamu gak usah cemas, pelaku itu sepertinya orang yang hanya dendam pada Alpha, jadi dia gak akan melukai orang lain kecuali orang-orang yang berhubungan dengan geng itu."


"Baik, terima kasih informasinya. Aku pasti berhati-hati di jalan kok," ucap Hana mengerti. Mereka pun melaju pergi meninggalkan Hana sendirian.


"Sebaiknya aku pulang atau singgah ke dulu lihat Bang Aidan?" Hana menyentuh dagu dan sedikit ragu-ragu.


"Gak usah ke sana!" sahut seseorang dari belakang.


"Oh, kamu? Kenapa aku gak usah ke sana?" tanya Hana pada Evan yang mendekatinya dan tampak ingin pulang. Kali ini ia memakai motor daripada mobilnya.


"Aidan itu sedang berada di tempat ayahnya, percuma kamu pergi ke sana," ucap Evan lalu turun dari motornya. Ia tahu Aidan saat ini sedang ditahan oleh Rayden karena Qila yang menghilang dari apartemen dan bahkan hawa keberadaannya tidak ada di kota. Membuat Rayden mengarahkan semua anak buahnya mencari menantunya itu ke semua tempat di kota.


"Ohh ya, lu tau gak Qila kemana?" tanya Evan tentu mencemaskan Qila.


Evan tidak menjawab dan malah pergi begitu saja.


"Diih, kenapa sih tuh orang? Datang-datang cuma nanyain Qila doang? Gitu aja?" celetuk Hana kesal tidak diberi tawaran tumpangan gratis.


"Ya udah deh, aku pulang aja." Sentak Hana mulai jalan meninggalkan area sekolah. Tiba-tiba, saat ia menunggu taksi di pinggir jalan, tiba-tiba seseorang tidak sengaja menabraknya.


"Auhhh!"


"Hei!"


"Punya mata gak sih?!"


Hana yang tersungkur ke tanah, meneriaki seorang pria di sampingnya. Seketika Hana mundur ketakutan ke belakang saat melihat sekilas mata pria itu buta sebelah. Terlihat sedikit mengerikan.


"Maaf." Hanya satu kata terucap dari pria dingin itu dan kemudian pergi meninggalkan Qila.


"Akhhh, kenapa sih hari ini aku sial terus! Padahal Qila gak pernah pulang ke rumah, tapi kesialan dia masih ngikutin aku. Memang menyebalkan!" gerutu Hana berdiri dan menghentakkan kedua kakinya. Ia pun mencoba tenang dan diam sejenak. "Aneh, tadi kayaknya orang itu gak asing deh, kayak pernah ketemu, tapi di mana?" gumam Hana tidak menyadari orang itu Black yang sengaja menabraknya. Untung saja Hana bukanlah Qila, jadi Black tidak berniat membunuhnya.


"Kemana dia?" gumam Black menyusuri jalanan di depannya. Mencari keberadaan Qila dan tentunya Bram.


"Sial, apa dia yang membawanya?" decak Black dan menonjok tembok di sebelahnya. Ia sudah melacak semua tempat tapi keberadaan Qila dan Bram benar-benar hilang.


"Dulu Qila pernah hilang seperti ini. Apa jangan-jangan hilangnya dia karena diculik oleh Bram?" Black mengepalkan tinjunya. "Berengsek, kau lagi-lagi berhasil satu langkah dariku, Aidan." Menunjuk tembok di sebelahnya lagi. Black tampak frustasi, karena gagal menghentikan rencana awalnya dan sekarang kehilangan jejak Qila. Ia juga kesal pada dirinya sendiri karena membunuh semua anggota Alpha padahal mereka masih bisa membantunya mencari Qila.


Black pun pergi, melanjutkan pencariannya. Sedangkan Evan, bocah itu telah sampai ke rumahnya dan sekarang berencana mencari cara untuk ke gedung rahasia lalu mencuri mesin waktu.


"Aidan bodoh, dasar bodoh! Dia menyuruhku membantunya mencuri mesin itu, tapi dia sendiri yang sekarang terkurung. Apa dia sengaja memberi tugas berat ini agar aku tertangkap juga?" Kesal Evan menyiapkan keperluannya yang dapat digunakan membobol sistem masuk ke gedung itu.


.