
Esok paginya di rumah Wira. Tampak Hana yang bersiap pergi ke sekolah, ia menuju ke dapur untuk sarapan bersama ayahnya yang tentunya Wira sendiri yang memasak. Namun sebelum kakinya melewati pintu dapur, gadis itu berhenti dan diam-diam mendengarkan ayahnya sedang dimarahi oleh seseorang.
"Hm, apa yang terjadi? Kenapa Papa dan Mama bertengkar?" gumam Hana mendengar orang itu adalah Ibunya yang marah pada Wira karena membiarkan Qila hilang.
"What's?! Qila hilang?" Hana terkejut dan kembali mendengarkan pertengkaran ayah dan Ibunya yang terus menyalahkan Wira. Seketika Hana terpaku diam mendengar pengakuan ayahnya tentang pernikahan Qila dan Aidan. Ditambah lagi Kinan meminta Wira mengakhiri pernikahan itu. Jika tetap dilanjutkan, Kinan tidak mau lagi tinggal dengan suaminya itu.
Hana terperangah mendengar keinginan Ibunya. Ia pun ingin menyahut tapi tidak jadi setelah Wira menyakinkan istrinya kalau Aidan sudah berjanji pada Rayden akan sungguh meminta maaf pada Qila dan bertanggung jawab sepenuhnya. Terdengar Kinan menangis di sebrang sana karena belum yakin pada Aidan, terutama Arum. Tetapi Wira yang tahu kemarin dari Rayden, ia mengatakan Arum tidak mempermasalahkan pernikahan mereka.
"Ja-jadi, Arum sudah tahu?" tanya Kinan.
"Ya, sayang. Dia sudah mengetahui semua. Kamu tidak perlu lagi memikirkan itu, sekarang kamu tenanglah, Rayden dan aku akan terus mencari anak kita dan cucu kita," ucap Wira.
"Baiklah, tapi jika aku pulang ke situ dan belum melihat Qila, siap-siap saja mendapat surat dari pengadilan." Kinan pun memutuskan panggilannya. Nada suaranya terdengar kecewa pada Wira yang kurang tegas pada Aidan.
Tuuttt...
Wira pun memijat kepalanya yang sakit dan pusing. Memang kini Arum sudah merestui pernikahan Qila dan Aidan, tapi Wira tetap juga memikirkan tanggapan dari keluarganya.
"Pah...." panggil Hana masuk. Wira cepat-cepat menyimpan hapenya dan melihat putrinya itu mendekatinya.
"Oh, Hana, udah mau ke sekolah?" tanya Wira duduk dan lanjut memakan sarapannya. Hana pun duduk di kursinya dan menatap ayahnya.
"Pah, tadi bicara sama siapa?" tanya Hana sambil menyantap nasi goreng buatan ayahnya itu.
"Apa itu, Mama?" tebak Hana.
"Papa dan Mama lagi ngomongin siapa?"
"Hana barusan dengar tentang pernikahan, itu pernikahan siapa?"
"Apa yang sebenarnya Papa dan Mama sembunyikan selama ini?"
Hana terus melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada ayahnya yang tetap diam saja.
"PAH! JAWAB!" Hana memukul meja di depannya karena merasa satu demi satu keluarga seperti tidak beres semua. Kakaknya koma, Ibunya tiba-tiba marah, dan Qila hilang. Semua itu membuat Hana bingung.
Karena didesak oleh Hana, Wira pun terpaksa menceritakan masalah yang terjadi di keluarganya. Menjelaskan kalau Raiqa koma karena Alpha, Ibunya marah karena ingin Qila pisah dengan Aidan, tapi Qila sekarang hilang bersama dua cucunya.
"Hana, demi keluarga kita, Papa harap kamu bisa menjaga rahasia ini dari teman-teman mu. Kamu bisa menjaganya kan, Hana?" harap Wira.
Hana masih diam. Ia memikirkan dan mulai sedikit paham kenapa Qila jarang tinggal di rumah dan Aidan yang sibuk mengurus bayi.
'Ternyata, bayi titipan itu rupanya anak mereka? Apa-apaan ini? Kenapa bisa seperti ini?' pikir Hana sedikit kecewa baru menyadarinya. 'Ck, Bang Aidan dan Qila sama-sama menjengkelkan.' Batin Hana cemberut.
"Baik, Hana akan tutup mulut." Angguk Hana menurut saja karena sedikit tidak tega melihat ayahnya yang terlihat kasihan itu.
Wira menghela nafas lega dan tersenyum. "Ya sudah, habiskan sarapan mu. Setelah itu, Papa akan mengantar mu ke sekolah."
"Baik, Pa." Angguk Hana lagi.
Tiba di sekolah, Hana berlari mencari Keyra, ingin mengetahui semua itu dari mulut saudara kembar Aidan, membuat gengnya terheran-heran diabaikan olehnya. Sedangkan Wira, ia pergi melanjutkan pencariannya.
Sementara Aidan, cowok itu tidak ke sekolah karena masih ditugaskan mempelajari objek dan data dalam dadu itu.
"Akhhhh!" Aidan yang setengah depresi itu mengecak rambutnya sampai kusut berantakan.
"Tuan muda, anda baik-baik saja?" tanya sekretaris ayahnya itu tidak sengaja lewat di ruangan kerja Aidan.
Aidan pun menoleh dan bergegas menghampirinya.
"Hei, Pak. Apa aku boleh keluar sebentar dari sini?" tanya Aidan ingin mencari udara segar. Sudah diberi tugas yang rumit dari ayahnya, kini ia pusing memikirkan keadaan istri dan anaknya.
"Maaf, Tuan muda. Bos Rayden melarang anda keluar," ucap sekretaris itu menolak.
"Ayolah, hanya sebentar saja! Aku cuma mau menjernihkan kepalaku dan sedikit jalan-jalan di luar. Kalau tetap di sini, aku sulit mempelajari benda itu." Aidan memohon.
"Maaf, tapi di luar saat ini sedang tidak aman, Tuan," tolaknya lagi.
"Loh, kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Aidan.
"Tuan muda, kemarin organisasi Alpha dibantai habis oleh seseorang dan Bos Rayden mengira pelaku pasti akan mengincar orang yang memiliki hubungan dengan Alpha. Saya khawatir, target selanjutnya adalah anda," tutur sekretaris itu.
"Di-dibantai habis? Cuma satu orang? Serius?" Kaget Aidan sedikit merinding karena anggota Alpha termasuk orang-orang yang kuat, ia merasa tidak percaya mereka dibunuh dengan mudah oleh satu orang saja.
"Ka-kalau begitu, apa Qila dan anak-anak ku sudah ditemukan?" tanya Aidan tambah cemas dan panik.
"Belum, Tuan." Sekretaris itu menggelengkan kepala.
"Sial, biarkan aku ikut mencarinya!" pinta Aidan ingin menerobos keluar tapi di depannya dihadang oleh tiga preman bertubuh besar.
"Maaf sekali lagi, Tuan muda tidak boleh keluar dari sini." Mereka melarang dengan tegas dan menutup pintu dari luar.
"Akhhhhh, bajingan kalian semua! Aku ini harusnya ikut mencari juga! Bukannya dikurung tidak jelas di sini! Hei! Buka pintunya!" Tendang Aidan pada pintu di depannya. Tetapi di luar sudah tidak ada siapa-siapa lagi.
"ARGHHHH, PAPA! BIARKAN AKU KELUAR DARI SINI!" Aidan berteriak merasa tersiksa oleh rasa cemasnya. Hatinya semakin tidak tenang sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus menyelesaikan tugasnya dulu. Aidan pun duduk kembali dan membongkar ulang semua data dan objek dari dadu itu.
Sekarang Hana pun mengerti setelah mendengar semuanya dari Keyra bahwa Qila menikah dengan Aidan karena tahun lalu Aidan tidak sengaja meniduri Qila dan membuatnya hamil.
"Jadi, saat di luar negeri, Qila sebenarnya di sana sudah hamil?"
"Benar," ucap Keyra yang jalan di sebelah Hana. Ia pun berhenti lalu menatap serius saudara kembar iparnya itu.
"Ada apa melihat ku begitu?" tanya Hana.
"Hana, waktu pesta besar itu, kenapa Qila yang datang menggantikan mu? Kemana kamu saat itu?" tanya Keyra merasa Hana yang menjebak Aidan dan Qila.
"Saat itu aku sibuk, dan lagipula aku tidak begitu suka keramaian. Buang-buang waktu," ucap Hana angkuh.
Keyra mendecak lalu pergi ke tempat arah parkiran. Seperti biasa, pulang bersama temannya daripada memberi tumpangan pada Hana. Meskipun begitu, Hana tidak masalah dicuekin karena ia bisa pulang pakai jemputan ayahnya. Membuat geng Hana sedikit bingung pada Hana yang tiba-tiba menghindari mereka. Hana benar-benar tipe cewek yang tidak gampang pusing alias bodo amat dengan semua yang terjadi. Beruntungnya ia tidak memiliki rasa lebih pada Aidan sehingga tidak ada rasa dendam muncul di hatinya.
Sementara Evan, cowok itu masih bersekolah di sana. Ia terlihat murung dari kemarin karena semua alatnya hilang.
"Ahh, gara-gara Aidan, aku harus merakit ulang. Awas saja, kalau aku temukan orang itu lagi, aku tidak akan memaafkan perbuatannya!" Evan marah-marah pada pencuri tasnya dan kesal pada Aidan yang belum masuk sekolah.
Lalu bagaimana dengan Qila?
Benar, gadis itu masih tinggal di tempat Bram. Terlihat gadis itu sedang mencuci pakaian kotor anaknya. Namun tiba-tiba Qila terlonjat kaget mendengar Aila menangis.
Qila segera berhenti dan pergi melihatnya. Ia kemudian terkejut hebat melihat Bram pingsan di sebelah dua anaknya.
"OM!!!" Qila menghampirinya cepat dan meletakkan telapak tangannya di dahi Bram dan ternyata pria itu sakit. Suhu tubuhnya panas sekali.
"Duh, Om Bram kenapa ya? Kemarin nangis, dan sekarang sakit. Apa yang sebenarnya terjadi?" Qila yang cemas, ia memapah Bram.
"Aiko dan Aila tunggu di sini dulu ya, Mama bawa Om Bram ke kamar. Nanti Mama ke sini ambil kalian." Tidak lupa Qila memberi dot susu anaknya supaya berhenti menangis.
Qila pun cepat-cepat membawa Bram menuju ke kamarnya, tapi kamar Bram terkunci. Akhirnya, Qila membawa Bram masuk ke dalam kamarnya. Menidurkan Bram ke atas ranjangnya dan segera merogoh saku Bram untuk menghubungi Dokter tapi setelah hape Bram punya password.
"Arggghh, gimana ini?" Qila yang panik pun tiba-tiba diam ketika dompet Bram jatuh. Gadis itu pun membukanya dan terkejut melihat secarik foto di dalam dompet itu.
"Ehh, loh, wanita ini mirip aku, cuma di sini terlihat dewasa, siapa orang ini?" gumam Qila merasa aneh. Ia pun mengambil kartu identitas Bram yang terselip di dompet itu. Spontan saja Qila tercengang melihat KTP Bram.
"2035? Hah? Apa-apaan ini?"
"Tahun ini kan masih 2024, kenapa tahun di KTP Om Bram 2034?" Qila menggaruk kepalanya. Ia pun ingin membalikkan KTP Bram untuk melihat data lengkap dan foto Bram. Sekali lagi Qila membola hebat melihat nama asli dan foto KTP itu mirip Aidan tapi versi dewasa yang beda tipis dengan Rayden. Cuma gaya rambutnya yang beda dan sangat tidak mirip sama Bram.
"Aidan Zaffanio? Loh, apa-apaan ini?" Qila garuk-garuk kepala, tidak mengerti apa yang dia dapatkan. Ia pun melihat gantian wajah Bram dan foto Aidan di KTP itu.
"Ini milik siapa sebenarnya? Kenapa Om Bram punya
KTP aneh seperti ini? Mau bilang ini punya Om Rayden, tapi namanya Aidan. Terus, tahun pembuatan KTP ini adalah di tahun 2034, tahunnya masih lama!"
Kalau saja Hana yang melihatnya, sudah pasti ia merasa curiga kalau Bram sebenarnya adalah Aidan dari masa depan.
"Oweeeekkk!"
"Astaghfirullah, aku hampir lupa sama kalian!" Qila keluar dari kamar dan menyimpan KTP Bram itu di dalam sakunya. Pergi melihat Aiko dan Aila yang merengek, sekalian menyiapkan kompres untuk Bram yang demam tinggi.
"Nanti coba aku tanyakan saja pada Om Bram."
.
Waduh gawat, ketahuan tuh🥺