Little Twin'S Daddy

Little Twin'S Daddy
68. Dunia Milik Berdua



"Raiqa, kapan kamu bangun, Nak..."


"Kenapa harus seperti ini...." Kinan terus menundukkan kepalanya. Ia tidak berdaya melihat putra sulungnya. Melihat seluruh tubuh Raiqa yang dibalut perban, membuat hati kecilnya menangis.


Dikroyok dan hampir dibakar hidup-hidup oleh mereka yang nyaris merenggut nyawa dan hidup putranya.


Kini yang dapat dilakukan Wira hanya menenangkan istrinya. Daripada itu, tiba-tiba Kinan menoleh padanya.


"Wira...." lirih Kinan dengan mata sembab.


"Kenapa, sayang?" tanya Wira dengen lembut membelainya. Kinan pun mengatakan ia setuju Raiqa dibawa ke luar negeri, menjalankan pengobatan lanjut dari pihak rumah sakit.


"Baiklah, sekarang aku akan mengurusnya," ucap Wira bersiap menelpon anak buahnya.


"Tunggu, Wira,"


"Hmm, apa? Apa kamu ingin ikut juga?" tanya Wira.


Kinan menunduk. Hatinya berat mengatakan itu karena ia juga memikirkan Qila. Tapi membiarkan Raiqa sendiri di luar negeri, ia sudah tidak sanggup berpisah dari anaknya seperti Qila dulu.


"Ya, aku ingin ikut menjaga Raiqa, tapi-"


"Tapi kenapa?" tanya Wira.


"Aku mau Qila pulang bersamamu, sayang." Kinan memohon. Raut wajah Wira yang tadi kasihan seketika dingin.


"Tidak, dia tetap harus di sana. Belajar mandiri dan juga berbakti pada suaminya," ucap Wira menolak.


"Tapi, sayang, aku merasa Qila-" ucap Kinan belum selesai, tetapi Wira berbalik membelakanginya.


"Apapun alasannya, dia harus di sana sampai sekolahnya selesai." Wira tetap menolak dan tidak mau mendengar alasan apapun. Pria itu keluar meninggalkan Kinan yang merasa sangat terpukul. Hidup anak bungsunya yang hancur dan ditambah Raiqa yang nyaris meninggal.


Tiba-tiba, seseorang masuk.


"Kinan,"


Wanita itu mengangkat pandangannya. Melihat Rayden datang bersama satu anak buahnya.


"Bagaimana kondisi putra mu?" tanya Rayden melihat anak remaja malang itu di depannya, lebih buruk dari nasib putranya. Kinan pun menjawab, jika Dokter menyuruhnya membawa Raiqa berobat ke luar negeri.


"Jadi, kau juga ikut?" tanya Rayden lagi.


"Ya, aku terpaksa ikut," jawab Kinan sendu kemudian menatap Rayden.


"Ada apa?" tanya Rayden yang merasa kasihan padanya. Kinan sedikit enggan mengatakannya, tapi memikirkan Qila, ia tidak sanggup menahannya sendirian. Wanita itupun menceritakan apa yang ia lihat dari rekaman apartemen Aidan. Kinan juga meminta Rayden menegaskan pada Aidan untuk bertanggung jawab sepenuhnya sebagai ayah bukan hanya sebatas suami saja.


Rayden yang mendengar keluhan Kinan, pria itu tanpa sepatah kata langsung pergi dari rumah sakit.


"Bos, anda mau kemana sekarang?" tanya anak buahnya kini menyetir mobil.


"Tentu saja, ke tempat anak itu," ucap Rayden mengepal tangan. Aura kemarahannya keluar, membuat anak buahnya itu merinding takut.


"Baik, Bos." Anak buah itupun melaju ke arah apartemen Aidan.


Sampai di depan pintu Apartemen putranya, Rayden yang tahu passwordnya langsung masuk ke dalam. Seketika amarah Rayden sirna saat melihat dua cucu kecilnya tidur di dalam kereta goyang, di depan televisi. Dua bayi yang amat lucu dan menyejukkan hatinya.


"Bos, sepertinya Tuan Aidan tidak ada di kamarnya," ucap anak buahnya itu setelah mengecek ke kamar Aidan.


"Kalau begitu, di mana menantu ku?" tanya Rayden yang duduk di sofa sambil memandangi Aiko dan Aila. Mentoel-toel gemas pipi cucunya.


"Saya juga tidak tahu, tapi mungkin saja Nona Qila dan Tuan Aidan keluar sebentar," ucap anak buah itu.


"Aku tidak yakin Aidan keluar bersamanya. Mana mungkin dia tega meninggalkan mereka di sini sendirian," ucap Rayden meletakkan buku itu.


"Jika begitu, kemana kira-kira Nona Qila, Bos?" tanya anak buah itu.


"Coba kamu cek di dapur, aku merasa dia ada di sana," ucap Rayden menunjuk. Sesuai tebakannya, anak buah itu menemukan Qila. Gadis itu tampak duduk dan bersandar di tembok dapur sambil memegang keranjang yang berisi tumpukan baju kotor Aidan dan anaknya.


"Bos, saya menemukannya," panggil anak buah itu.


"Kalau begitu, suruh dia keluar," pinta Rayden.


"Mmm, tapi saya tidak tega, Bos,"


"Kenapa?" tanya Rayden berdiri dan menghampiri anak buahnya, seketika saja ia terhenyak melihat menantunya tertidur di sana. Tampak Qila kelelahan sehingga gadis itu tidur lagi begitu saja dan lupa mencuci bajunya.


"Bos..." Anak buah itu sedikit kaget melihat Rayden dengan sendiri mengangkat Qila. Menidurkan menantunya ke atas sofa. Tampak begitu pulas dan manis seperti dua cucunya.


Rayden pun menatap anak buahnya lalu menyuruhnya menelpon Aidan. Anak buah itu dengan patuh pun melakukan tugasnya.


Tapi Aidan malah menolak panggilan itu. Membuat batas kesabaran Rayden hampir habis. Tentu saja, Aidan tidak mau diganggu sekarang. Apalagi tidak mau kesempatan ia bisa berduaan dengan Hana itu hilang.


Terlihat di sebuah lapangan basket umum, Aidan dan Hana bermain berdua di sana. Canda dan tawa mereka pecah di sana. Seperti dunia milik mereka berdua.


"Bang Aidan! Hapenya bunyi lagi nih," panggil Hana mendekati Aidan yang dipenuhi peluh keringat yang bercucuran. Membuat gadis itu sejenak diam memandangi pesona Aidan dan hampir salah tingkah.


"Dari siapa? Anak buah ayahku lagi?" tanya Aidan mengusap keningnya yang basah.


"Ini dari ayahmu, Bang," jawab Hana menunduk malu karena sempat tersipu. Sedangkan Aidan segera merebut hapenya dari tangan Hana. Melihat ayahnya yang menghubunginya kali ini. Sontak saja, Aidan yang mau mengirim pesan untuk ayahnya itu tiba-tiba terkejut melihat Hana mengusap sisa keringat di dahinya.


"Bang Aidan, terima kasih sudah bersedia datang mengajari Hana, aku senang hari ini dapat banyak bantuan dari Bang Aidan dan maaf juga kalau Hana terlalu merepotkankan," ucap Hana sedikit tersenyum dan berhenti mengusap dahi Aidan. Ia memalingkan wajahnya yang merah dan tampak ada rasa aneh tumbuh di hatinya.


"Dari dulu, Bang Aidan selalu baik dan perhatian sama Hana, tapi sekarang Hana tahu sikap Bang Aidan itu karena menyukai ku, tapi apakah sekarang Bang Aidan masih menyukai Hana?" Tanya gadis itu malu-malu dan menatap Aidan lekat-lekat. Aidan pun tampak bingung menjawabnya.


"Ah itu, Hana, aku harus pulang, ayahku memanggilku sekarang. Jika kamu ada keperluan lagi, bilang saja padaku," ucap Aidan bersiap pergi, dan tidak tahu mau menjawab pertanyaan Hana.


"Tunggu, Bang," tahan Hana menangkap ujung jaket Aidan.


"Apa? Mau aku antar pulang?" tanya Aidan.


"Tidak, aku pulangnya pakai taksi," ucap Hana.


"Lalu, kenapa menahan ku?" tanya Aidan gugup.


"Emh, itu, minggu nanti, Bang Aidan ada waktu gak? Kalau ada sih, aku mau ajak Bang Aidan nonton di bioskop, kata temanku, ada film baru yang akan tayang bulan ini," ucap Hana sedikit kecewa melihat Aidan menghindari pertanyaannya.


"Kalau Bang Aidan sibuk, gak apa-apa kok, Bang Aidan bisa menolak ajakan Hana," ucap gadis itu deg-degan, seperti halnya Aidan yang juga sama merasakan itu.


"Ba-baiklah, aku rasa minggu ini, aku bisa menemanimu." Aidan tersenyum dan mengangguk. Kemudian segera pergi membawa motornya. Meninggalkan Hana yang kesenangan di sana.


"Yeah, aku rasa kali ini aku bisa menangkan dua taruhan." Hana melompat girang karena mendapat peluang besar memenangkan taruhan dari teman-temannya. Berhasil mengajak kencan Aidan dan juga yakin bisa menangkan taruhan basketnya besok.


"Duh, perasaan ini kenapa datang lagi sih!" Di tengah kesenangannya, lagi-lagi rasa aneh itu tumbuh.


"Tidak-tidak, aku tidak boleh suka sama Bang Aidan dulu." Hana menepuk dua pipinya yang merah, menolak rasa itu tumbuh di hatinya. Ia tidak mau perjuangannya selama ini sebagai kebanggaan keluarga hancur gara-gara rasa itu.


.


Ya Hana, gak usah jadi bibit pelakor😁mending fokus belajar, tapi kalau kamu berani, siap-siap aja kalau nanti kena marah sama mertua adikmušŸ˜Ž