
...***Promosi Novel karya Izoy11***...
...PERJALANAN ARWAH PENASARAN...
...(Cerita seorang arwah yang hilang ingatan. Lalu berencan mencari tahu kebenaran dirinya.)...
...(Gak horor-horor banget sih, tapi seru juga)...
(BACK TO STORY)
"Aihehehehe."
Seseorang tiba-tiba keluar dari patung yang retak, sambil tertawa serak.
Dia adalah mak Lampir. Salah satu legenda 4 ksatria bumi yang ternyata masih hidup. Hal itu tentu saja membuat Sbastain sangat terkejut, apalagi usia patung tersebut telah mencapai ratusan tahun bahkan ribuan.
"Kenapa bisa?" Gumam Sbastain terkejut ditandai kedua matanya yang perlahan melotot ke arah Mak lampir.
"Heheheheh."
Mak Lampir kembali tertawa dengan ciri khas suaranya yang serak basah. Ia juga menatap ke arah Sbastain dengan tatapan tajamnya.
"Aku merasa tidak asing dengan aura yang kau pancarkan anak muda!"
Mak Lampir terus menatap tajam ke arah Sbastain sambil menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan secara perlahan. Tidak lupa, tongkat berbentuk kepala tengkorak di pangkalan ia pegang sebagai aksesoris ciri khasnya.
Helikopter yang masih terbang di luar gedung, langsung diparkirkan oleh Agung dengan cepat.
Setelah itu, Agung berlari ke arah Ahol yang sedang melawan Selena dan Rani yang berlari ke arah Gray untuk membantu Dewi Lanjar bertarung.
Sedangkan Diki berjalan mendorong kursi roda yang mbah Jaka duduki. Tidak lupa Leena ikut berbaring di pangkuan mbah Jaka, karena masih terlihat lemas dan memang tubuhnya kecil, jadi mudah dipangku.
Saat awal mak Lampir ke luar, Mbah Jaka tercengang dan tidak mempercayainya. Hanya saja saat ia melihatnya lebih dekat, ia semakin tercengang bahwa yang keluar dari retakan patung tersebut memang benar mak Lampir, salah satu legenda dunia perghoiban yang telah menyegel raja iblis.
"Apa ini sebuah kenyataan?!"
Mbah Jaka meminta Diki untuk lebih dekat lagi ke arah Mak Lampir.
"Anak muda," ucap mak Lampir menatap tajam ke arah Sbastain dengan suara serak khasnya.
"Eem," tiba-tiba Mak Lampir menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lebih tepatnya, raja iblis!"
Mak Lampir kembali menatap tajam ke arah Sbastain. Ia juga berkata padanya dengan sebutan raja iblis. Tentu saja hal itu membuat Diki, Mbak Jaka, Agung, Rani, dan Leena yang terkapar lemas terkejut. Tentu saja, para jin Khodam mereka pun dibuat terkejut dengan pernyataan dari mulut mak Lampir.
Sbastian terdiam, tidak lama kemudian, ia tersenyum lebar dengan tatapan tajam mengarah ke arah mak Lampir.
"Heh~ hebat juga kau sebagai 4 ksatria yang terkuat di bumi dan pernah mengalahkanku menyadarinya," ucap Sbastain atau raja Iblis yang semayam di tubuhnya.
"Apa kau meremahkan kemampuanku?" Ucap mak Lampir tertawa sinis.
Ia berjalan perlahan ke arah Sbastian sambil berkata bahwa ia masih mampu mengalahkannya walaupun kekuatannya tidak sebesar dulu, karena telah terbagi ke beberapa khodam zodiak.
"Kau pun begitu bukan, Ra-ja Ib-lis!" Ucapnya berbisik tepat di telinga Sbastain.
Hal itu membuat Sbastain terkejut dan melompat, menjauhi mak Lampir.
"Orang tua! Hadapi nenek-nenek itu!"
Sbastain menyuruh kakek Ben untuk menyerang Mak Lampir. Tanpa pikir panjang, Kakek Ben langsung menyerangnya dengan kekuatan penuh.
Namun, dengan santainya, mak Lampir tersenyum saat bahaya menghampirinya. Ia mengangkat tongkatnya ke arah kakek Ben, dan seketika otot-ototnya mengempis.
"Apa yang terjadi pada otot-ototku!"
"Tidak mungkin, apa yang sebenarnya terjadi?" Ucap kakek Ben bingung.
Sbastain yang melindungi diri di atas gedung menatap tajam ke arah mak Lampir.
"Jangan-jangan kau....." Ucap Sbastain yang perkataannya terhenti.
"Benar sekali, aku adalah legenda kesatria bumi sekaligus jin zodiak tanpa pemilik. Kau pasti tahu apa zodiaknya!"
"Lib ra?" Tebak Sbastain.
"Aihehehehe." Mak Lampir kembali tertawa has serak basah.
Ia membenarkan tebakan Sbastain bahwa dirinya adalah jin Zodiak Libra. Ia juga menjelaskan kenapa dirinya bisa keluar dari patung tersebut karena energi yang terpisah dari dirinya telah berkumpul kembali.
"Aquarius, dan Gemini adalah energiku. Sekarang mereka telah berkumpul di sini untuk membebaskanku. Aku sangat berterima kasih pada mereka tentunya."
"Aihehehehe! Tentunya aku tidak akan membiarkanmu menguasai bumi ini untuk kedua kalinya, Raja Iblis!" Tambahnya kembali menatap tajam Sbastain.
"Kita lihat saja nanti," jawab Sbastain membalas tatapan tajam mak Lampir.
****
Seorang anak kecil terlihat berbaring di atas kasur dengan wajah yang nampak sedih dan lemah. Di dahinya, terdapat handuk kecil yang telah di basuh dengan air kompresan untuk meredakan suhu tinggi tubuhnya.
Di samping anak kecil tersebut, telihat seorang pria yang sedang menggenggam kedua tangan bocah tersebut sambil menatap ke arahnya dengan wajah yang terlihat sedih juga.
"Mbah, apa aku akan mati?" Tanya bocah tersebut pelan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sbastain.
"Kau tidak boleh berbicara begitu Sbastain. Mbah jamin kau akan kembali sehat... Apalagi mbah sudah berjanji akan membawamu ke sebuah tempat taman bermain!"
Sang kakek tersenyum lebar ke arah Sbastian kecil tersebut, untuk menghiburnya supaya tidak memikirkan rasa sakitnya.
Sbastain dari kecil memang sudah tinggal bersama kakeknya. Kedua orang tuanya telah meninggal saat ia masih bayi. Namun, yang membuat prihatin sang kakek atau Mbah, adalah kondisi tubuhnya yang tidak biasa seperti orang-orang lain, ia sangat lemah hingga harus diawasi kemanapun ia pergi.
Memang pernah sang kakek atau mbah jaka membiarkannya pergi sekolah sendiri. Hanya saja, belum juga sehari, mbah Jaka sudah di telpon pihak sekolah terkait Sbastain yang tiba-tiba pingsan.
Bertahun-tahun dirinya hidup sakit-sakitan, hingga kondisi tubuhnya semakin melemah. Di beri obat apapun tidak ada yang manjur satupun. Hingga akhirnya mbah Jaka harus siap dengan sesuatu yang akan terjadi pada cucunya tersebut.
Sang kakek telah siap jika sewaktu-waktu cucunya tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. Namun, di detik-detik terakhir, sebisa mungkin ia selalu berada di samping cucunya.
Suatu hari, saat sang kakek menunggu Sbastain yang terbaring di kasur, ia panik saat suhu tubuh cucunya naik secara drastis dan pernafasan terlihat tidak beraturan seperti orang sesak.
Walaupun sudah tahu dan sudah menerima apa yang akan terjadi pada cucunya, sang kakek masih merasakan panik dan sedih.
Namun, tiba-tiba tubuh Sbastain terbang hingga beberapa senti dan terbangun. Matanya merah menyala sambil tersenyum sinis ke arah Mbah Jaka.
Ia kemudian pergi meninggalkan mbah Jaka, namun dengan sigap mbah Jaka atau kakek Sbastian menggagalkan aksi kabur cucunya tersebut.
"Siapa kau?!"
Mbah Jaka, menyadari bahwa dalam tubuhnya cucunya ada mahluk yang telah menguasainya.
"Kau tidak perlu tahu!"
To Be Continued.....
...----------------...
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI