Khodam

Khodam
Latihan Tahap Dua



Hujan, itulah cuaca yang saat ini terjadi di sekitar lapangan tempat Erina melatih elemen jin khodam ketiga anak remaja.


"Hari ini kita akan berlatih tahap kedua di tempat ini. Karena latihan kali ini cukup mudah, saya harap kalian cepat menguasainya," jelas Erina yang mondar-mandir kesana-kemari.


Erina juga menambahkan, bahwa jika mereka bertiga mampu menguasai pelatihan tahap dua tersebut, dirinya akan memberika sebuah kotak hadiah.


"Lebih tepatnya, kotak tersebut adalah pemberian Sbastian. Aku harap, kalian bertiga, cepat menguasai pelatihan kedua ini."


Erina menjelaskan,  pelatihan tahap kedua tersebut ada dua yang harus dilakukan. Pertama, keluarkan elemen utama jin khodam dan yang kedua keluarkan elemen pendukung jin khodam masing-masing.


Kemudian, Erina langsung memberi perintah pada Arzan untuk melakukannya sebagai yang pertama. Erina juga menyuruh Tiara dan Diki untuk menepi ke pinggir lapangan spaya Arzan lebih leluasa mengeluarkan elemennya.


"Sebelum itu, biarkan aku merafalkan mantera."


'PINDAH DIMENSI.' Erina merafalkam mantera dan mereka semua berpindah dimensi.


Erina kemudian memersilahkan Arzan untuk melakukannya sekarang.


Arzan berdiri tegap di tengah lapang dengan didampingi oleh Genderowo yang juga terlihat berdiri tegap bak bodyguard satpam perumahan.


"Rulenya sama, pertama keluarkan dalam sembarang bentuk, dan yang kedua aku harap kalian bisa membuatnya dalam bentuk mahluk hidup," ucap Erina.


Hujan semakin deras dan Arzan bersiap untuk mengeluarkan kekuatanya.


'SEMBURAN TANAH,' Arzan merafalkan mantera.


Setelah itu Genderuwo menyemburkan tanah dari mulutnya yang di arahkan ke atas langit.


Setelah itu Arzan kembali merafal mantera.


'GOLEM!'


Dan keluarlah golem yang berukuran 10 kali lipat dari tubuhnya. Golem yang dirinya buat juga bisa bergerak sesuai perintah Arzan.


"Kau cukup pandai. Apakau kau juga bisa menggunakan kekuatan tambahan juga?" Tanya Erina penasaran.


"Tentu saja," ucap Arzan simpel.


Kemudian Arzan melirik ke berbagai arah. Namun dirinya tidak menemukam salah satu benda yang dirinya cari.


Melihat Arzan yang melirik keberbagai arah, membuat Erina bingung dan bertanya terkait apa yang sedang di cari Arzan.


Namun, Arzan tidak menjawab pertanyaan Erina. Dirinya langsung merafalkan mantera sambil menutup matanya.


'TUMBUH!'


tiba-tiba, rumput di lapangan seketika tumbuh memanjang hingga setinggi badan pria dewasa.


Hal itu membuat Erina terkejut dan menyimpulkan bahwa kekuatan tambahan dari jin khodam Arzan adalah tipe tumbuhan.


Dirasa cukup, Erina menyuruh Arzan untuk minggir ke tepi lapangan dan menyuruh Tiara untuk bersiap melakukan apa yang Arzan barusan lakukan.


Hujan deras masih menemani mereka latihan, dan Tiara bersiap untuk melakukam pelatihan tahap dua tersebut.


Dengan didampingi oleh jin khodamnya yaitu Kandita, Tiara bersiap merafal mantra.


'PANAH ANGIN!'


Kandita tiba-tiba memegang panah angin, dirinya juga langsung melepaskan busur panah anginnya ke sembarang arah.


Setalah itu Tiara juga lamgsung merafalkan mantera.


'BURUNG ELANG.'


Dan tiba-tiba burung elang dari elemen angin tercipta dari rafalan Tiara.


Dirasa cukup, Tiara kembali merafalkan mantera untuk mengeluarkan kekuatan pendukungnya.


'BENDUNGAN AIR.'


Seketika, air hujan yang turun dari atas langit pun berkumpul di satu titik, dan menciptakan sebuah kesatuan air yang sangat besar.


Dirasa cukup, Tiara melepaskan bendungan air tersebut, dan air tersebut mengalir cukup deras keberbagai arah.


Bendungan air tersebut juga, sempat mengarah ke arah Erina, Diki dan Arzan yang kemudian Noni Belanda langsung bertindak membuat kapal dari payungnya.


"Sangat menyebalkan, menggunakam payungku untuk melindungi kalian dari air yang tiba-tiba datang dengan sangat besar ini."


"Maafkan aku Noni Belanda, aku tidak tahu akan terjadi hal yang seperti ini. Dan terima kasih juga karena telah melindungi kami," ucap Erina tersenyum.


"Tapi anak itu sangat beruntung sekali, memiliki kekuatan pendukung bertipe air. Karena secara air itu sangat mudah di temui dan terkadang sangat banyak tersedia diberbagai tempat," ucap Noni Belanda menatap ke arah Tiara.


Erina kemudian menghampiri Tiara dan memberitahu bahwa latihannya dirasa sudah cukup.


Erina juga memerintahkan Tiara untuk menepi ke pinggir lapangan dan menyuruh Diki untuk bersiap.


Berjalan perlahan menuju tengah lapangan, membuat Diki sedikit gugup. Dirinya tidak yakin bisa melakukannya dengan sempurna seperti kedua temannya.


Berdiri dengan badan sedikit membungkuk dan ditemani oleh Jin khodamnya yaitu Macan Putih, Diki bersiap untuk menunjukan kemampuannya.


"Aku yakin aku juga bisa, kau tidak boleh ragu, ayo bisa," gumam Diki yang terdengar oleh Macan putih.


"Kau pasti bisa, aku percaya padamu Diki, ayo kita lakukan bersama-sama," ucap macan putih meyakinkam Diki.


Kemudian, Diki berisap untuk merafalkan mantera.


'API.'


Seketika hening. Walaupun Diki merafalkan mantera, tetapi tidak terjadi apa-apa. Hanya hujan yang deras menemani mereka.


"Fokuskan pikiranmu, kau pasti bisa," ucap Macan Putih kembali meyakinkan Diki.


Diki kemudian, memfokuskan pikirannya dan dirinya kembali merafalkan mantera.


'SEMBURAN API!'


Macan Putih kemudian menyemburkan api dari dalam mulutnya. Hal itu membuat Diki dan orang yang melihat merasa senang atas keberhasilannya.


"Kau berhasil, sekarang coba kau membuat mahluk hidup dari elemenmu itu," ucap Erina pada Diki.


Kemudian, Diki kembali memfokuskan pikirannya dan kembali mengucapkan mantera.


'ELANH API!'


Dan keluarlah Elang dengan elemen api yang kemudian menghilang akibat hujan yang cukup deras. Hal itu membuat Diki terkejut, karena pikirnya ia gagal dalam membuat makhluk hidup menggunakan elemennya.


Tetapi Erina menepisnya karena faktor cuaca yang tidak mendukung elemen jin khodam Diki.


"Kau ada kemajuan, sebaiknya sekarang kau tunjukkan elemen pendukungmu itu," perintah Erina pada Diki.


Karena Diki tidak tahu elemen pendukung milikinya membuat ia sedikit susah mengeluarkannya.


Berjam-jam ia fokus, tetapi tidak ada kemajuan pada dirinya.


Hujan semakin deras, dan angin tiba-tiba semakin membesar. Hal itu membuat orang-orang yang melihatnya dibuat takut oleh fenomena alam tersebut.


Karena cuaca yang semakin tidak terkontrol apa lagi angin yang tiba-tiba membesar membuat Noni Belanda yang memiliki elemen pendukung angin/udara bersiap untuk mengendalikan angin yang tiba-tiba besar tersebut.


Namun, Erina mengehentikannya Noni Belanda untuk tidak melakukannya sekarang. Karena Erina melihat angin yang tiba-tiba mengelilingi tubuh Macan Putih.


'PUSARAN ANGIN,' Diki merafalkan mantera.


Dan tiba-tiba angin yang berhembis tidak tentu arah, kini terkumpul di atas Macan Putih dan menghempaskannya ke arah langit.


Setelah itu angin pun terhenti dan hujan masih turun dengan cukup deras.


Dirasa cukup, Erina kemudian mengajak ketiga remaja tersebut untuk berteduh disuatu tempat. Erina juga memiliki janji untuk memberi hadiah dan memberitahu sesuatu terkait kekuatan jin khodam.


.


To Be Continued.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI