
Api terlihat telah menyala di tangan Macan Putih dan siap untuk membakar Jenglot kaku tersebut.
Namun, saat api akan disodorkan ke arah Jenglot, ia bergerak dan langsung memohon untuk tidak membakarnya.
Sontak hal itu membuat semuanya terkejut dan membuat tangan Diki refleks memegang Jenglot tersebut erat-erat.
"Aku mohon, aku masih ingin hidup di dunia ini. Tolong jangan bakar aku wahai Macan Putih yang perkasa," ucap Jenglot terlihat panik.
"Heeeeeeeh!!! Kau bisa bicara?" Tanya Diki.
"Tentu saja bisa."
"Lalu kenapa sejak kemarin kau dan pengikutmu tertawa, menangis, marah, kesal?! Bikin jantungan saja!"
"Ya itu, itu, ciri khas kami."
"Sudah, aku muak dan ingin segera beristirahat!" Ucap Tiara yang langsung merebut Jenglot dari genggaman Diki.
"Heh Jenglot buruk rupa, apa tujuanmu mengganggu desa ini, sampai ekpresi para wanita di desa ini aneh?" Tanya Tiara kesal sambil memelototi Jenglot yang digenggamnya.
"Eeeee, anu..... Anu..."
Jenglot tersebut memalingkan pandangannya. Ia sangat takut melihat Tiara yang melotot ke arahnya.
"JAWAB!!!"
Tiara berteriak. Dirinya kesal dengan Jenglot yang tidak menjawab pertanyaannya dan malah memalingkan wajahnya.
"Anu,... Aku... Aku hanya gabut, hehe," ucapnya cemas sambil nyengir.
"APA?! HANYA GABUT?!"
"Gabutmu cukup hebat, membuat satu desa menderita. MACAN PUTIH BAKAR SAJA MAHLUK MENJIJIKAN INI!"
Tiara sangat marah dengan alasan Jenglot yang gabut menyebarkan virusnya di desa. Dan menyuruh Macan Putih untuk membakarnya.
Karena sangat panik, Jenglot meminta supaya Macan Putih tidak membakarnya dan berjanji akan memberitahu alasan yang sebenarnya ia menyebarkan virusnya tersebut.
"Sebenarnya, aku disuruh seseorang untuk menyebarkan virus tersebut di desa ini," jelas Jenglot terlihat panik.
"Sudah aku duga, pasti ada dalang dibalik ini semua," ucap Tiara.
Tiara kembali bertanya sambil mengancam jika Jenglot tidak menjawabnya atau bohong maka Macan Putih akan membakarnya.
"Kemana perginya para Jenglot yang tenggelam ke dalam tanah tadi?" Tanya Tiara.
Jenglot tersebut menjawabnya, bahwa para Jenglot yang masuk ke dalam tanah sudah tidak bernyawa lagi, mereka menghilang selamanya.
"Lalu, darimana asal semua Jenglot tersebut?"
Tiara kembali bertanya pada Jenglot sambil memelototinya.
Jenglot tersebut kembali menjelaskan. Bahwa pada awalnya mereka itu tidak ada dan hanya satu Jenglot yang ada di desa tersebut yaitu dirinya.
Seseorang memberikan sebuah boneka pada anak kecil dan berubah jadi Jenglot yaitu dirinya.
Setelah ia menggigit kedua mangsanya, tubuhnya membelah diri menjadi 11 bagian dan tumbuh dengan sangat pesat ke ukuran semula.
Pada dasarnya semua Jenglot bisa membelah diri dan membuat pasukan untuk melindungi Jenglot utama. Itu juga membutuhkan waktu yang sangat lama. Sekitar 2 tahun itu membentuk satu kloning Jenglot.
Namun, cara alternatif dan efektif untuk cepat membuat kloning yaitu dengan cara menghisap darah wanita baik itu perawan, anak kecil, janda atau pun wanita yang sudah tercium bau tanahnya.
Dan itu hanya bisa satu kali hisapan. Namun, Jenglot tersebut bisa kembali menggigit dan menghisap darah wanita incaran saat wanita tersebut sedang datang bulan.
"Lalu, kenapa tidak berlaku untuk Laki-laki?" Tanya Tiara penasaran.
"Darah laki-laki itu kotor dan menjijikan. Aku tidak suka! Tcuih," jelas Jenglot sambil meludah pertanda bahwa dia memang benar-benar jijik.
"Dan lelaki itu mahluk busuk yang tidak ingin aku sentuh sedikit pun!! Tcuih," Tambahnya kembali meludah.
"Aku setuju denganmu. Lelaki itu mahluk bodoh yang kekanak-kanakan. Yang tidak tahu akan situasi sekitar. Pokonya mahluk paling menyebalkan, menjengkelkan yang pernah aku temukan!!"
Waktu terus berputar dan matahari perlahan memunculkan dirinya. Namun, lagi-lagi Jenglot tersebut enggan menjawabnya dan malah pura-pura bersiul sambil memalingkan penglihatannya.
"Hoh, kau tidak mau menjawab siapa pelaku yang menyuruhmu? Baiklah hanya ada dua pilihan untukmu. Pertama kau ingin di jemur di teriknya matahari sambil diikat, atau di bakar menggunakan api terpanas milik Macan Putih. Atau paket doble yaitu dijemur dan dibakar?" Tanya Tiara kembali memelotot ke arah Jenglot.
"Bu- bukannya itu tiga pilihan?" Tanya Jenglot terbata-bata.
Dirinya cemas dan sesekali mengucurkan keringat dingin. Karana menurutnya tidak ada pilihan yang dapat dipilih oleh dirinya.
Namun, karena ancaman tersebut terlihat sangat serius, Jenglot tersebut menjawab siapa yang menyuruhnya melakukan perbuatan meresahkan di desa tersebut.
"Madam L," jelasnya.
Semua terdiam, dan saling menatap satu sama lain.
"Siapa madam L?" Tanya Tiara pada Diki.
"Ya aku pun tidak tahu, kau malah bertanya pada orang bodoh," ucap Diki yang masih kesal disebut oleh Tiara bahwa lelaki itu makhluk bodoh dan kekanak-kanakan.
"Bagaimana denganmu Arzan?" Tiara langsung menatap Arzan dan bertanya siapa tau ia mengetahui Madam L yang dimaksud Jenglot.
Dan hal yang sama dilakukan oleh Arzan. Ia merespon pertanyaan Tiara dengan menatap sekilas matanya dengan tajam.
"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa kalian seolah-olah kesal padaku?!" Tanya Tiara bingung sedikit ngegas.
"Aku memang sedang kesal padamu! Tapi tidak tahu dengan Arzan," jelas Diki menatap Tiara dengan kesal.
"Apa kau juga sama kesal padaku Arzan?" Tany Tiara yang kemudian Arzan merespon dengan anggukan kepalanya.
"Hah? Kenapa kalian tiba-tiba kesal padaku? Apa alasanya?" Tanya Tiara bingung.
"Kau lupa telah menyebut pria adalah mahluk bodoh, menyebalkan dan kekanak-kanakan?!" Jelas Diki.
"Astaga, aku kira apa ternyata hal spele ini kalian permasalahkan?" Ucap Tiara lega karena tahu titik permasalahan mereka berdua kesal padanya.
"Ternyata ucapanmu memang benar, bahkan sekarang langsung tergambar contoh bahwa lelaki itu makhluk yang kekanak-kanakan," ucap Jenglot.
"Macan Putih, siapkan api untuk membakar mahluk rendahan itu!" Perintah Diki pada Macan Putih.
"Baik Diki."
Macan Putih pun mengeluarkan apinya dan siap untuk membakar Jenglot tersebut.
Jenglot terlihat kembali takut, bahkan dirinya juga mengucurkan keringat dingin.
"Aku mohon tolong maafkan aku. Aku hanya bercanda itu saja. Maaf. Lelaki tidak seburuk apa yang wanita ini ucapkan kok!" Ucap Jenglot membela diri.
"Terlepas dari sifat-sifatnya yang buruk, lelaki juga mahluk yang tegas, realistis dan tidak peka. Itulah sifat-sifat baik dari lelaki," tambahnya bermaksud untuk meredakan kemarahan Diki.
"Bahkan aku tidak tahu kau mengatakan sebuah kelebihan atau kembali mengatakan kekurangan lelaki lagi," ucap Tiara datar.
"Sudahlah. Maafkanlah saja dia Diki. Lebih baik kita cari tahu siapa Madam L.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI