Khodam

Khodam
Dimana Rani



Duduk santai di teras luar rumah sambil ngemil dan di temani secangkir kopi, itulah yang sedang dilakukan oleh Diki, Tiara dan Arzan.


Sambil menikmati keheningan malam dan dinginnya angin malam yang menusuk kulit.


"Capruk, capruk, capruk, capruk."


Suara Diki ngemil sambil memangku anak ayam yang sedang tertidur.


Mendengar suara Diki ngemil bak kuda makan, membuat Tiara merasa terganggu mendengarnya yang kemudian dirinya langsung menegur Diki.


"Kau manusia apa kuda hah?!, Kalau makan biasa saja kali," ucap Tiara kesal sambil mengkerutkan alisnya.


"Lah kenapa memangnya?!, Yang makan saya, ya terserah saya lah!"


Tidak terima mendapat teguran dari Tiara membuat Diki sedikit kesal.


"Nih orang dikasih tahu, malah ngelawan!, Jijik saya lihatnya, tidak etis sebagai manusia makan seperti makan kuda!. Masih mending saya yang negur, kalau orang lain bisa malu dibuatnya kau!," Ucap Tiara memalingkan wajahnya.


Namun, di sisi lain Arzan hanya menikmati suasana malam sambil ngemil, dan menghiraukan Diki dengan Tiara yang beradu argumen.


"Sruputt, ahhh."


Arzan menyeruput kopi panas miliknya. Dilihat dari ekpresinya, ia sangat menikmati kopinya itu.


Tidak ada hujan tidak ada badai, tiba-tiba Tiara dan Diki kembali akur. Mereka berdua malah membicarakan topik latihannya tadi siang.


"Kenapa kak Erina saat melatih kita tadi sifatnya berubah ya?" Ucap Diki sambil melirikan wajahnya ke kiri dan ke kanan karena takut terdengar oleh Erina.


"Kau benar. Pada awalnya aku kira akan santai saat dilatih olehnya, tapi ternyata sebaliknya. Aku juga dapat pukulan di kepala gara-gara kau!" Ucap Tiara mengelus-elus kepalanya dengah muka memelas.


"Lah itukan salah kamu juga."


"Tapi, sesuatu yang membuatku kesal adalah orang itu," tambah Diki yang perlahan matanya menatap ke arah Arzan yang kemudian diikuti oleh Tiara yang menatapnya juga.


"Lihat-lihat orang sombong itu, menguasai pelatihan tadi hanya dengan waktu 5 menit," bisik Diki pada Tiara.


"Memang benar-benar sombong," balas Tiara membisik pada Diki.


Pembicaraan meraka memang sangat acak, dan entah kenapa mereka berdua juga tiba-tiba membicaran Rani yang tidak ikut bersama ke rumah.


"Bagaimana kondisi Rani saat ini yah?" Tanya Tiara menatap ke langit.


"Oh ia benar juga, saat kita akan membawanya pulang, tiba-tiba seorang lelaki masuk ke dalam rumah Rani.


***


---Flashback---


Seorang pria baru saja datang dari rantauanya yang sangat jauh. Saat telah tiba di bandara pendaratan, ia ingin sekali menyempatkan dirinya berkunjung ke rumah tunangannya.


Beberapa jam dirinya lalui untuk menemuinya akhirnya ia sampai juga di rumah tunangannya.


Namun, saat sampai di rumah tunangannya, pertama ia dikejutkan oleh pintu rumah tunangannya yang terbuka.


Yang kedua, saat memasuki rumah tunangannya, ia dikejutkan oleh isi rumah yang berantakan.


Ia juga dikejutkan oleh tali tambang yang tergantung di tengah rumah.


"Apa yang telah terjadi disini?!"


Pria tersebut sangat terkejut saat melihat tali tambang, dirinya melangkah mundur dengan perlahan dalam keadaan syok.


"Tidak mungkin, tidak mungkin ini terjadi."


"Rani, dimana kau, Rani!" Ucapnya panik yang melirikan wajahnya ke berbagai arah.


Dan tidak terduga juga ia langsung mencari tunangannya ke berbagai tempat.


"Rani, kau dimana Rani."


Pria tersebut terus mencari tunangannya ke berbagai ruangan, dan sela-sela dengan maksud untuk menemukan tunangannya itu.


"Rani, jawab aku?! Kau dimana," ucap pria tersebut panik.


"Rani, Rani, Rani, apa kau memang bunuh diri?" Ucapnya yang tiba-tiba air mata mengalir dari matanya.


Namun, dari arah belakang pria tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Hei," ucap Sbastian mendekati pria tersebut.


Sang Pria langsung menatap ke arah orang yang memanggilnya yaitu Sbastian. Pria tersebut juga menatap ke arah orang-orang yang mengikuti Sbastian, seperti Tiara, Diki, Arzan.


"Kalian siapa?!, Dimana Rani?" Ucapnya


"Apa kalian yang telah berbuat sesuatu pada Rani?!"


Nampak dari raut wajah pria tersebut sangat frustasi. Namun, Sbastian langsung mengatakan bahwa Rani baik-baik saja.


"Dan mana dia jika benar baik-baik saja?!"


Kemudian Ayu datang dengan membawa Rani yang pingsan dipangkuannya.


"Rani!"


Pria tersebut langsung menghampiri Ayu dan meminta Ayu untuk menyerahkan tunangannya dan langsung memangkunya.


"Kenapa ini terjadi padamu Rani?" Ucap Pria tersebut sambil menangis memangku tubuh Rani.


Kemudian Diki menghampiri pria tersebut.


"Apa kau Agung, tunangan Rani?" Tanya Diki yang memegang pundak pria tersebut.


Pria tersebut menganggukkan kepalanya sambil menangis.


"Kau bodoh!, Kau sungguh pria bodoh! Rani sangat frustasi saat tidak ada kabar darimu!, Apalagi saat mendengar pesawat yang kau tumpangi mengalami kecelakaan. Dia hampir melakukan praktik bunuh diri beberapa kali," jelas Diki pada Agung sang tunangan Rani.


"Apa yang telah aku lakukan?!" Ucap Agung sambil menangis," aku memang bodoh. Aku tahu aku sempat tidak mengabarinya beberapa hari karena ponselku yang hilang dicuri orang, dan soal kecelakaan pesawat, aku tidak menaikinya karena kendala ban mobil yang bocor."


"Tetapi, syukurnya kau baik-baik saja, terima kasih telah mencegah Rani dari hal yang dapat menghilangkan nyawanya," ucap Agung yang masih menangis.


Agung juga meminta Rani untuk dirawat olehnya. Diki juga langsung angkat bicara bahwa sebagai seorang pria harus bertanggung jawab menjaga dan melindungi seorang wanita.


Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan rumah Rani. Agung membawa Rani yang pergi menggunakan mobil ke suatu tempat juga Diki dan kawan-kawan yang pergi ke rumahnya.


***


"Jika kau tidak langsung pergi ke rumah Rani dulu, mungkin ceritanya akan sedikit berbeda. Dan kemungkinan ending yang didapat juga akan berbeda," ucap Tiara sambil ngemil.


"Kau benar. Ternyata, dengan adanya sandiwara antara kau, Arzan dan Sbastian ada manfaatnya juga ya." Ucap Diki sambil ngemil.


Karena hari semakin larut malam, Arzan tiba-tiba masuk ke dalam rumah tanpa sepatah katapun.


Disusul juga dengan Tiara yang pamit untuk masuk ke dalam rumah.


"Sebaiknya aku juga masuk ke dalam rumah, hari semakin malam dan sebaiknya tidur. Memulihkan stamina itu juga penting, apalagi untuk latihan besok."


Diki masuk ke dalam rumah. Namun ia sedikit terkejut saat Erina dan Tiara yang menatap ke arah Leena. Ia kemudian langsung menghampiri dan menanyakan tentang Erina dan Tiara yang menatap Leena.


Erina menjawab bahwa ia sedikit dibuat khwatir oleh Leena yang belum sadarkan diri.


.


To Be Continued


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI