
Mata lebar bak lampu bohlam dengan tatapan yang berkaca-kaca ke arah Erina. Bocah lugu tersebut tiba-tiba menangis sejadi-jadinya saat ditanya oleh Erina.
"Aaaaaahhh, kenapa suasananya jadi sedih begini," ucapnya yang tidak kuat menahan air mata melihat bocah tepat di depannya menangis.
"Cup-cup-cup-cup-cup, kamu kuat, kamu anak baik. Sini kakak peluk."
Erina mendekati bocah yang menangis tersebut, ia memeluk tubuhnya dan mengelus-elus punggung bocah tersebut bermaksud untuk menenangkannya.
Tangisan bocah tersebut perlahan mengecil. Tidak lama kemudian tangisannya benar-benar berhenti.
Tangisannya benar-benar telah berhenti. Pelukan erat Erina kina ia lepas dan dirinya membiarkan terlebih dahulu bocah tersebut.
Merenung dengan kepala yang menunduk sambil sesekali menyedot pileknya yang tiba-tiba muncul saat menangis.
Entah kenapa, saat bocah tersebut menyedot pileknya, Erina terpikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Kok bisa ya, kalo kita nangis atau habis nangis, suka tiba-tiba pilek," ucap Erina menatap Leena dengan wajah yang bingung.
"Hiahahaha, kau bertanya pada orang yang salah Erina. Dan kau, bukannya orang terpintar saat kita sekolah dulu."
Leena menghela nafas dengan pertanyaan yang dilontarkan Erina padanya. Ia heran kenapa Erina bertanya padanya yang jelas-jelas termasuk orang dengan tingkat kriminal tinggi saat sekolah dulu.
"Aku hanya bertanya, dan aku fikir kamu mungkin mengetahuinya Leena," ucap Erina.
"Itu mudah saja. Saat menangis air mata akan di keluarkan. Produksi air mata saat menangis dapat masuk ke dalam rongga sinus. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang mengalami keluhan pilek pada saat menangis, yaitu karena sebagian air mata masuk ke dalam rongga hidung."
Bocah yang menangis barusan menjelaskan pertanyaan Erina terkait pilek saat menangis.
Tentu saja, hal tersebut membuat Erina dan Leena terkejut mendengar jawabannya.
Karena mereka pikir, kenapa bocah kecil dengan umur sekitar 4 tahunan bisa menjawab pertanyaan yang bahkan Erina tidak ketahui.
"Ke-kenapa kau bisa tahu? Bahkan wanita di belakangku tidak mengetahui jawabannya," ucap Erina sambil menunjuk ke arah Leena.
"Hiahahahah, kau pun tidak mengetahuinya Erina bodoh."
"Seseorang memberitahuku," ucap bocah tersebut.
"Wah pasti orang itu hebat dan pintar ya," ucap Erina yang memegang pundak bocah tersebut.
"Ngomong-ngomong namamu siapa?" Tanya Erina.
"Riza."
"Nama yang indah bukan," ucap Erina yang kegirangan saat mendengar nama bocah di depan matanya.
"Maaf jika kakak lancang dalam berbicara. Sebenarnya, apa yang terjadi padamu dan kedua temanmu yang tiba-tiba pergi?"
Erina bertanya pada Riza terkait masalah yang menimpanya. Erina bertanya terus terang, walaupun ucapannya yang sedikit terbata-bata.
Bocah dengan nama Riza tersebut kembali termenung dan menudukan kepalanya. Hal itu membuat Erina merasa bersalah dalam pertanyaannya.
"Yang berkulit putih adalah kakakku dan yang satunya lagi adalah temannya."
Kemudian bocah tersebut menatap ke arah Erina.
"Apakah aku ini memang pembawa sial?" Tanya Riza pada Erina dengan tatapan cemas.
Erina terkejut mendengar ucapan Riza, ia heran kenapa bocah kecil tersebut bisa berfikir bahwa dirinya adalah pembawa sial.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Erina cemas namun di sisi lain penasaran.
"Sudah banyak kejadian sial yang menimpa orang-orang saat berada didekatku," ucapnya Kembali merenung.
Erina berusah menangkan dan meyakinkan bahwa Riza bukanlah anak sial.
"Coba kau lihat, apa kakak dan kakak ini mendapatkan kesialan berada didekatmu?" Tanya Erina sambil menunjuk ke arah Leena.
Namun, Riza terdiam. Ia hanya cemberut dan menundukan kepalanya.
"Oh ia, kakak belum memperkenalkan diri. Nama kakak Erina dan kakak di belakang ini Leena," ucap Erina.
"Salam kenal Riza," ucap Leena tersenyum lebar.
Riza hanya menatap kedua wanita tersebut dan dirinya kembali menudukan kepalanya.
Tetapi, tidak ada ekspresi gembira yang terlihat dari wajah Riza tersebut.
"Kau kenapa masih cemberut?" Tanya Erina cemas.
"Percuma menunggu kakak menjemputku, dia tidak akan datang," ucapnya yang terlihat masih menundukan kepalanya.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Erina semakin cemas dan penasaran.
Riza menjelaskan bahwa jika teman kakaknya itu sudah marah apalagi marah padanya, yang bisa menenangkannya adalah kakaknya. Dan entah kenapa temang kakaknya sangat membenci dirinya.
"Makanya, kak Gilang tadi marah karena kakak mengajakku bermain juga," jelas Riza.
Mendengar cerita Riza, membuat Erina tidak kuat menahan air matanya. Ia sedih yang kemudian memeluk tubuh Riza.
"Sini kakak, peluk. Kamu kuat banget, bisa bertahan sejauh ini," ucap Erina yang melepas pelukannya.
Erian kemudian mendekati Leena, mereka berdua terlihat sedang berdiskusi masalah serius.
"Ok, sudah kakak putuskan. Bagaimana jika kamu ikut kakak pergi ke pusat perbelanjaan?" Tanya Erina pada Riza dengan wajah ceria.
Namun, Riza hanya terdiam. Ia terlihat bingung dengan apa yang harus dijawab dilihat dari ekpresi wajahnya.
"Kau jangan bingung begitu, kakak bukan orang jahat. Kakak janji setelah dari pusat perbelanjaan, kakak akan mengantarmu pulang."
Riza menerima tawaran Erian. Kemudian mereka bertiga pergi menuju pusat perbelanjaan.
***
Di setiap perjalanan, entah kenapa wajah Riza perlahan terlihat ceria. Dari cara jalannya juga semakin semangat karana sebelumnya cara jalannya terlihat malu-malu.
Dari yang selalu berjalan di belakang Erina, kini perlahan berjalan sedikit lebih cepat sampai mendahului Erina dan Leena.
Melihat Riza yang perlahan ceria, membuat Erina terharu dibuatnya.
"Entah kenapa, diriku seperti sedang merawat anak kandung," ucap Erina menangis terharu.
"Sepertinya kau sudah siap untuk menikah," Ucap Leena menggoda Erina.
"Aku siap kapanpun, namun orang itu belum saja melamarku," ucap Erina tersipu malu.
"Sampai kapan kau mau menunggu Sbastian melamarmu?. Dia orangnya ambisius, tidak mungkin memikirkan lamaran apalagi pernikahan." Ucap Leena Datar.
"Ih ngga banget deh, siapa juga yang berharap mau di lamar olehnya. Orang yang tidak bertanggung jawab sepertinya tidak pantas menikah," ucapnya kesal dengan wajah yang memerah.
Melihat Erina yang tiba-tiba kesal, membuat Riza menghampiri dan menatap Erina dengan tatapan cemasnya.
"Kak Erina kenapa?" Tanya Riza cemas.
"Kakak tidak apa-apa. Haha maafkan aku telah membuatmu cemas."
Erina membuat tawa palsu supaya Riza tidak cemas terhadapnya.
Tiba-tiba Riza tersenyum lebar ke arah Erina sehingga hal itu membuat Erina terharu dan tidak kuat menahan air mata.
"Oh tidak, dia sangat imut. Aku sangat-sangat terharu melihat dirinya ceria."
Setelah itu mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanannya menuju pusat perbelanjaan.
.
To Be Continued
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI