
Di sisi lain sebelah utara, arah yang sedang Arzan tuju terlihat ia sedang duduk santai di atas ranting pohon yang besar.
Ia duduk dengan santai karena tahu bahwa pencarian seniornya itu sia-sia dan membuang-buang waktu juga tenaga.
Terlihat sang khodam yaitu Genderuwo pun duduk di samping dirinya.
"Kau tidak mencari seniormu itu?" Tanya Genderuwo pada Arzan.
Namun, sebelum Genderuwo bertanya, Arzan telah mempersiapkan jawaban dalam pikirannya. Sehingga Genderuwo pun tahu jawaban Arzan walaupun ia tidak berbicara.
"Pencarian itu hanya sia-sia jika tidak ada petunjuk yang kuat," ucapnya dalam pikiran yang diketahui Genderuwo.
"Aku tahu pencariannya akan sia-sia, apalagi petunjuk yang sangat minim kita ketahui. Tapi setidaknya ada rasa peduli pada seniormu itu," Ucap Genderuwo menatap ke arah Arzan.
Namun Arzan hanya terdiam. Ia juga telah mempersiapkan jawaban atas kata-kata Genderuwo barusan dalam pikirannya.
"Aku peduli padanya. Bahkan menghormatinya. Bukan aku tidak ingin mencarinya, tetapi kita juga harus memikirkan segala kemungkinan tanpa harus membuang-buang waktu dan tenaga." Itulah isi pikiran Arzan.
"Aku tahu, tapi setidaknya kau mencari petunjuk lain terkait hilangnya seniormu itu."
"Apa yang akan kau harapkan dari hutan belantara ini?" Itulah yang ada dalam pikiran Arzan. Tentunya Genderuwo juga mengetahui isi pikiran parternya tersebut.
Genderuwo pun terdiam. Ia berfikir untuk mengikuti arahan Arzan saja daripada harus berdebat dengan orang yang telah memikirkan matang-matang apa yang harus ia lakukan kedepannya
Kurang lebih 5 menit tidak ada kata-kata yang keluar dari mereka hal itu membuat Genderuwo sedikit canggung untuk pengajak ngobrol Arzan.
"Hei Genderuwo," ucap Arzan dalam pikirannya yang langsung Genderuwo ketahui.
"Ada apa? Tidak biasanya kau mengajaku ngobrol."
"Entah kenapa, setelah aku bersama mereka sedemikian lamanya. Hatiku merasa kehilangan saat tidak ada kabar dari kak Erina apalagi tiba-tiba hilang begini," ucap Arzan dalam pikirannya.
"Tidak biasanya kau berbicara panjang lebar. Berarti itu tandanya kau peduli padanya," jelas Genderuwo.
"Tapi, hatiku terasa sesak. Apalagi hal ini membuatku teringan seseorang yang dulu sangat aku sayang," jelas Arzan dalam pikirannya sambil memegang dadanya yang sesak.
"Bukannya kau tidak ingin membahas hal itu?" Tanya Genderuwo menatap Arzan.
"Entahlah, hanya saja tiba-tiba ingatan itu
Muncul dipikirkanku." Arzan pun membalas tatapan Genderuwo.
"Aku tidak ingin membuatmu sedih tapi, aku turut berdukacita atas kematian kakakmu."
"Maafkan aku Genderuwo. Sebaiknya kita lupakan saja topik barusan," perintah Arzan pada Genderuwo.
"Aku tahu tapi, ka—," kata-kata Genderuwo terhenti. Ia langsung menatap tajam ke suatu titik.
"Aku merasakan kehadiran seseorang di depan sana!" Genderuwo menatap tajam ke arah depan.
"Splash splas."
Dan benar saja, tiba-tiba datang serangan dari arah depan mereka, sehingga membuat Genderuwo harus melindungi Arzan dari serangan tersebut.
"Kau tidak apa-apa Arzan?" Tanya Genderuwo yang khawatir pada Arzan.
Arzan yang tadinya terduduk dengan santai, kini ia harus berdiri dengan waspada sambil membuat pose sigap.
"Keluar kau jika berani!" Perintah Genderuwo menatap tajam ke arah asal serangan.
Begitupun dengan Arzan. Dengan pose tubuh yang sigap dan waspada, ia menatap tajam ke arah serangan muncul.
Tiba-tiba keluar seseorang berjalan dengan santai sambil membuat pose tangan yang dimasukan dalam saku celana.
Ia adalah Grey, seseorang yang ditugaskan untuk menangkap salah satu pemilik Jin Khodam Zodiak di arah Utara.
Saat melihat seseorang yang keluar dari persembunyiannya, Arzan terkejut, sangat terkejut. Ia tidak bisa berkata-kata saat melihat Gray dihadapannya itu.
Mulutnya menganga sangat lebar dengan kedua tangan yang menutupi mulut menganganya.
Air mata perlahan mengalir dari kedua matanya sehingga membasahi kedua pipinya.
"Ka...kak?" Ucap Arzan pada Gray.
"Apa benar itu kau?"
Air mata terus mengalir tanpa henti dari mata Arzan. Ia sangat senang bercampur haru saat mengetahui fakta bahwa kakaknya masih hidup.
"Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi kak, bagaimana kabarmu kak?"
Air mata masih membanjiri wajah Arzan, sambil berjalan perlahan ia mendekati seseorang yang ia sebut sebagai kakaknya.
Namun, Genderuwo berusaha menghalangi Arzan yang perlahan berjalan mendekati Gray. Genderuwo melihat tatapan mata tajam dengan aura membunuh dari arah pria yang baru datang tersebut.
"Arzan sadar, bukannya kau tahu kakakmu sudah meninggal?!"
Genderuwo berusaha melarang Arzan untuk mendekat. Ia juga berusaha menyadarkan Arzan yang tiba-tiba berlari kearah yang ia sebut kakaknya itu.
"ARZAN HENTIKAN!!!! BUKANNYA KAKAKMU SUDAH MENINGGAL???!!" Teriak Genderuwo.
"Siapa tau dia orang yang mirip dengan kakakmu!" Tambahnya.
Grey mendengar kata-kata Genderuwo. Ia langsung bertanya-tanya siapa kakak yang dimaksud tersebut. Grey juga heran melihat Arzan yang berlari ke arahnya sambil menangis.
Karena tidak ingin menghilangkan kesempatan, ia langsung bersiap untuk memukul perut Arzan saat dirinya benar-benar dekat.
Dirasa cukup dengat Arzan dengan dirinya, ia langsung meluncurkan pukulannya tepat di perut. Namun, dengan sigap Genderuwo menangkap tubuh Arzan.
"Arzan sadar!! Ia bukan kakakmu," ucap Genderuwo pergi membawa Arzan menjauhi Gray.
"Sialan kau!!" Ucap Grey yang kesal pada Genderuwo karena menggangu serangan barusannya.
Arzan terdiam. Pikirannya kini tidak karuan. Hingga Genderuwo pun dibuat cemas oleh isi pikirannya itu.
"Arzan sadar! Tidak biasanya kau seperti ini? Dimana Arzan dingin kulkas 10 pintu yang ku kenal itu?!! ARZAN!!!"
Genderuwo terus berteriak supaya Arzan tersadar. Namun, teriakan Genderuwo tidak membuahkan hasil.
Arzan terus melamun dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya.
"Kau lengah anak muda!"
Grey kembali memberikan serangan pada Arzan dengan melompat ke arahnya. Namun, lagi-lagi Genderuwo berhasil menangkap tubuh Arzan dan membawanya pergi menjauhi Gray.
Sambil membawa tubuh Arzan, Genderuwo tersebut terus memanggil-manggil nama partnernya dan sesekali menggoyangkan tubuhnya.
Namun, Arzan masih terlihat menangis atas kejadian tadi melihat wajah orang yang benar-benar mirip kakaknya.
Dirasa cukup jauh setelah berlari menghindari pria yang mirip dengan wajah kakak Arzan, Genderuwo melepaskan tubuh Arzan yang masih terlihat sedih.
Ia kemudian menampar wajah Arzan dengan cukup keras.
'PLAK!'
"Ada apa dengamu Arzan!! Sadar! apa tujuan kita sekarang ini hah?! Menangis?! Hanya karena kau melihat orang yang mirip dengan wajah kakakmu?!" Genderuwo terlihat marah pada Arzan.
Ia juga mengeluarkan semua unek-unek yang ada dalam pikirannya saat ini.
"Jika memang ia kakakmu, tidak mungkin ia berniat menyakitimu!" Jelas Genderuwo kesal.
Arzan menatap Genderuwo dalam keadaan mata dibanjiri air mata. Ia berkata bahwa tahi lalat di sebelah mata kanannya mirip dengan tahi lalat kakaknya. Ia juga berkata bahwa, tanda di lehernya membuat ia teringat kejadian yang membuat ia trouma berat.
.
To Be Continued.
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI