Khodam

Khodam
Tertangkap



Tiba-tiba Noni Belanda kembali muncul dari tubuh Erina dan berkata bahwa analisis Leena masih di bawah rata-rata dan belum bisa menandingi analisisnya.


Aku yakin kejadian mengerikan yang menimpa anak tersebut terjadi antara pukul 22.00-23.00." jelas Noni Belanda merasa yakin dengan perkataannya.


Ingin tahu dengan tebakan Noni Belanda, Leena memerintah Jelangkung untuk kembali melihat kejadian yang dialami Riza pada pukul 22.00 malam tersebut.


Jelangkung kemudian memakaikan batok kepalanya lagi dan kembali menceritakan apa yang dirinya lihat.


***


Terlihat dua bocah yang sedang tertidur di tempat tidurnya masing-masing. Terlihat juga seseorang yang sedang menatap mereka bedua dibalik pintu yang terbuka sedikit. Itulah paman buncit.


Tiba-tiba terdengar suara benturan pintu rumah sehingga membuat paman buncit segera menghampirinya.


Hal itu juga menbuat Riza dan Reza terbangun dari tempat tidurnya dan mereka berdua mengintip apa yang sebenarnya terjadi dari balik pintu.


"Ada apa kakak?" Tanya Riza yang terlihat masih mengantuk.


Terlihat sang paman sedang beradu argumen dengan seseorang dengan penampilan rapi menggunakan jas dengan rambut tersisir kebelakang berwarna putih. Terlihat juga seorang pria muda dengan ciri khas gigi taring tajam sedang berdiri di belakang pria tua tersebut dengan ekspresi yang kesal.


"Dimana kedua bocah itu?" Tanya Pria tua pada paman buncit.


"Siapa yang kau maksud?" Tanya Paman buncit kesal.


"Kau jangan pura-pura tidak tahu, dimana mereka sekarang?" Tanya pria tua dengan intonasi suara yang tinggi.


"Beraninya kau cari gara-gara denganku, kau tidak tahu siapa aku?" Teriak paman buncit bermaksud untuk menakuti pria tua tersebut.


Namun, karena sangat kesal dengan paman buncit, pria tua tersebut langsung memenggal kepala paman buncit dengan tangannya yang berubah jadi benda tajam.


Seketika tubuh paman buncit langsung tergeletak di lantai dan keluar begitu banyak darah dari leher paman buncit tersebut.


Aksi pembunuhan paman buncit tersebut dilihat boleh Riza dan Reza. Hal itu membuat Riza dan Reza syok bukan main.


Syok campur takut, itulah yang di rasakan Reza dan Riza saat ini. Mereka berdua tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Namun, Reza sang kakak menyuruh Riza sang adik untuk pergi meninggalkan rumah tersebut.


Karena tidak ingin berpisah dengan kakaknya, Riza menolak dan memilih untuk ikut dengan kakaknya.


"Kau harus selamat, biarlah kakak menghadapi mereka," ucap Riza meyakinkan Reza.


Kemudian Riza memeluk tubuh Reza dengan erat. Ia yakin dengan pendiriannya untuk tidak berpisah dengan kakaknya. Namun kakaknya langsung berkata bahwa sebenarnya ia sangat membenci sang adik.


"Dengar Riza, kakak sebenarnya sangat membencimu. Gara-gara kau kakak selalu bertengkar dengan Gilang. Gara-gara kau juga kehidupan kakak hancur berantakan," jelas Reza memegang kedua pundak Riza dengan tatapan tajam.


Mendengar hal tersebut, membuat sang adik semakin syok dan terdiam menatap wajah kakaknya dengan penuh rasa kecewa dan sedih. Air mata pun keluar, suasana hatinya pun menjadi campur aduk. Ia tidak percaya dengan kata-kata kakaknya barusan.


"Ternyata kalian di sini. Aku yakin satu diantara kalian adalah pemilik Jin Khodam Zodiak."


Pintu kamar mereka terbuka dan sang pria tua langsung datang menebak pemilik Jin Khodam Zodiak diantara mereka berdua.


"PERGIIIIII!" Teriak Reza mendorong tubuh Riza supaya ia pergi meninggalkannya sendiri.


Saat akan berlari, Riza tertangkap oleh sosok pria yang dulu pernah menangkap Indah sang pemilik Jin Khodam Zodiak Sagitarius.


"Ternyata kau cukup tenang," ucap Ace heran dengan Riza yang tidak memberontak sama sekali.


"Bodoh!, Kenapa kau tidak pergi meninggalkan tempat ini!" Teriak Reza yang kesal melihat adiknya.


"Aku tidak ingin berpisah dengan kakak," jelas Riza dengan air mata yang masih mengalir.


Tiba-tiba keluarlah Jin Khodam Reza yaitu Kuntilanak Merah  dari dalam tubuhnya.


Kepribadian dan penampilannya Reza pun berubah, yang tadinya terlihat polos berubah menjadi orang yang terlihat serius dengan tatapan tajamnya.


'SERANGAN ANGIN,' Reza melafalkan mantera dan keluarlah serangan angin dari Kuntilanak Merah ke arah Ace.


Namun, Ace terlihat tenang dan ia dengan sengaja menerima serangan dari Kuntilanak Merah tersebut.


Serangannya memang terlihat sangat kecil. Sehingga Ace yang menerima serangannya pun terlihat geli menerimanya.


"Huahahahahahah, apa kau yakin ingin menyerang kami?" Tanya Ace tertawa geli mendapat serangan dari Kuntilanak Merah tersebut.


Kemudian pria tua berjas hitam langsung mendekat ke arah Reza dan membekuk syarafnya, sehingga seketika Reza pingsan dan Kuntilanak Merah tertarik ke dalam tubuhnya.


"Lepaskan bocah itu, dan bawa dia sekarang," ucap pria tua sambil menunjuk ke arah tubuh Reza yang tergeletak pingsan di lantai.


Kemudian Ace melepaskan Riza dan mengangkat tubuh Reza yang tergeletak di lantai.


"Lalu bagaimana dengan bocah ini?" Tanya Ace menatap Riza.


"Biarkanlah saja. Aku tidak peduli dengannya."


Kemudian mereka pergi meninggalkan Riza sendiri. Namun, Riza berlari ke arah Ace dan langsung memegang kakinya. Ia berkata untuk membawa dirinya juga.


Dengan air mata yang semakin deras keluar sehingga suasna terasa sangat dramatis.


Namun, karena Ace sudah diperintah untuk tidak membawanya, ia menendang tubuh Riza hingga terpental cukup jauh. Hal itu membuat sebagian tubuhnya memar.


Tidak menyerah begitu saja, Riza kembali menghampiri Ace dan kembali memegang kakinya sambil memohon untuk membawanya juga. Air mata pun masih menyelimuti wajahnya.


Namun, lagi-lagi Ace menemdangnya hingga mengenai wajah.


Mereka pun pergi dan benar-benar meninggalkan Riza sendirian di rumah tersebut.


"KAKAAAAAAAAK, KAKAAAAAAAAAK. AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH."


Riza berteriak sangat kencang, air matanya semakin deras dan tangisannya semakin kencang.


Lemas, itulah yang Riza saat ini rasakan. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dirinya lakukan. Terdiam melamun dengan mata yang hampir tertutup karena ngantuk.


Tiba-tiba sesuatu muncul terlihat samar-samar dan membawa Riza terdang dengan sangat cepat.


***


"Hingga......, gelap, dan gelap... Gelap.. apa ini woy?" Ucap Jelangkung yang melihat ingatan Riza menjadi gelap.


"Sepertinya bocah tersebut antara pingsan dan tertidur karena ingatannya tidak bisa aku rekam," jelas Jelangkung.


Jelangkung melepaskan batok kelapanya dan terbang ke atas. Ia melihat sekeliling dan terlihat wajah orang-orang yang sangat serius. Ia juga melihat Erina yang menangis dengan air mata yang mengalir deras.


"Seandainya aku tahu kejadian tersebut, mungkin pamanmu dan kakakmu akan selamat," ucap Erina yang terlibat menangis.


"Sudahlah Erina, ini juga bukan salahmu," ucap Leena untuk menenangkan Erina.


.


To Be Continued


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI