
Disebuah ruangan luas, terdapat batu es raksasa yang di kelilingi mangkuk cawan dengan logo masing-masing zodiak dan empat patung ksatria.
Terlihat seorang pria berjas hitam berdiri di ujung pintu masuk menyender sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kalian berdua sangat tidak bisa diandalkan. Baru mengisi dua cawan zodiak," ucap pria misterius berjas hitam tersebut.
"Apalagi Zodiak Gemini yang kalian tangkap baru setengah," tambahnya.
Kakek Ben terkejut mendengar bahwa Pemilik Jin Khodam Zodiak Gemini yang mereka tangkap hanya setengah. Mereka kembali bertanya terkait setengah dari Jin Khodam Zodiak Gemini berada dimana.
Lalu pria misterius berjas hitam tersebut melempar sebuah kertas yang terjatuh ke lantai. Ia juga pergi setelah membuang kertas tersebut.
Kertas yang tergeletak di lantai diambil oleh kakek Ben, ia kemudian membaca tulisan yang terdapat di kertas tersebut.
Terlihat mulut tersenyum dengan tatapan tajam. Ia terlihat senang dengan apa yang tertulis di kertas tersebut.
"Hei, Ace. Sepertinya, untuk waktu yang lama kita akan sangat sibuk. Coba lihat ini," ucap kakek Ben yang memberi kertas pada Ace.
Terlihat senang juga terpampang di wajah Ace, setelah kakek Ben memperlihatkan sebuah kertas padanya.
"Tapi, menurutnya Jin Khodam Zodiak Gemini hanya tertangkap satu. Apakah ada dua orang, atau bagaimana menurutmu, Ace?" Tanya Kakek Ben yang berfikir sambil menatap ke arah CawanZm zodiak Gemini.
"Apakah dia orangnya?" Tebak Ace yang memikirkan Riza.
"Aku juga berpendapat bahwa dia pasti setengah pemilik Jin Khodam Zodiak Gemini," ucap kakek Ben yang memiliki pendapat yang sama dengan Ace.
"Lalu kenapa kau tidak membawa anak itu juga?" Tanya kakek Ben.
"Bukannya kau pernah berkata tidak membutuh anak itu!" Ucap Ace kesal.
"Biasanya kau selalu tidak menuruti kata-kataku, tapi kenapa kau malah menuruti kata-kataku?!" Tanya kakek Ben yang tiba-tiba terlihat kesal.
"Apasih maumu orang tua?! Serba salah aku dibuatnya!" Teriak Ace yang semakin emosi.
"Sudahlah, sebaiknya kita kembali ke tempat tersebut."
***
Ace dan Kakek Ben telah sampai di kediaman bocah pemilik Jin Khodam Zodiak Gemini.
Namun, ada yang aneh dari rumah tersebut. Mereka berdua tidak melihat mayat pria buncit yang tergeletak di lantai rumah. Bahkan darah yang memenuhi tempat tersebut pun telah hilang tanpa bekas sedikit pun.
Mereka bingung, siapa yang telah melakukan hal tersebut, pikirnya tidak mungkin bocah yang mereka tinggalkan yang melakukan ini semua. Apalagi pria buncit tidak akan ia angkat karena usianya yang masih terlihat muda.
"Coba kau lihat ke kamar Ace," perintah kakek Ben pada Ace.
Namun, Ace membantah dan malah masuk ke ruangan lain dengan wajah yang terlihat kesal.
"Dasar anak itu, seenaknya sendiri," ucap Kakek Ben.
Mereka berdua kemudian blusukan ke berbagai ruangan yang ada di rumah tersebut. Namun, blusukannya sia-sia. Mereka tidak menemukan bocah yang sedang mereka cari.
Tetapi, hal yang tidak terduga terjadi. Kakek Ben melihay seorang bocah yang sedang mengintip dari jendela luar.
Saat mata mereka saling menatap, bocah Tersebut berlari pergi menjauhi rumah tersebut.
Namun, kakek Ben langsung berlari mengejar bocah tersebut.
Saat berhasil di tangkap, bocah tersebut berontak dan meminta paman Ben untuk melepaskannya. Namun paman Ben tetap memengan bocah tersebut dengan kencang.
"Tunggu, aku bukan orang jahat. Aku hanya ingin bertanya padamu," ucap Kakek Ben membujuk Bocah tersebut.
Seketika Bocah tersebut terdiam dengan wajah cemberut memalingkan wajahnya.
"Siapa namamu nak?" Tanya kakek Ben tersenyum.
"Kau tahu kemana penghuni rumah ini?" Karena aku kerabat jauh dari penghuni rumah ini," jelas kakek Ben berbohong pada Gilang.
"Aku tidak tahu. Yang pasti saat aku ke rumah ini. Terlihat mayat paman buncit tanpa kepela hingga menbuat ku syok. Tapi aku tidak peduli tentangnya. Karena aku sangat membenci orang itu,"jelas Gilang.
"Aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku, aku tidak tahu kemana perginya dia dan adiknya," jelas Gilang yang air matanya tiba-tiba keluar.
Gilanh menjelaskan bahwa saat itu ia sangat panik dan mencoba menerobos masuk ke rumah tersebut dan mencari keberadaan sahabatnya keberbagai ruangan. Namun, yang ia cari tidak ada dimanapun. Ia juga sempat berfikir bahwa sahabatnya telah mati tergeletak di ruangan lain. Namun, ia tidak menemukan jejak apapun darinya.
Air mata terus mengalir dari mata Gilang, ia meminta pria tua dihadapannya untuk menemukan sahabatnya tersebut.
"Aku mohon, temukan sahabatku, aku tidak peduli dengan adiknya. Aku hanya peduli dengan sahabatku."
Kakek Ben mengiakan permintaan bocah di depannya dan mengusap-usap kepala bocah tersebut sambil tersenyum palsu kepadanya.
"Nanti kalau kakek mendapatkan informasi tentang sahabatmu, kakek janji akan memberi tahumu."
Perlahan, suasana Gilang Kemabli tenang. Ia kemudian pamit untuk kembali pulang.
"Tumben kau sangat baik pada anak kecil, orang tua," ucap Ace yang menatap bocah yang bejalan pergi menjauhi mereka.
"Aku yakin suatu saat nanti anak tersebut akan berguna," jelas kakek Ben yakin dengan rencananya.
"Ya sudah, sebaiknya kita kembali ke markas kita," ajak Ace pada Kakek Ben.
Namun, kakek ben mengangkat sebuah kertas pemberian pria misterius berjas hitam sambil tersenyum.
"Kau lupa Ace?, Sebaiknya kita tidak membuang-buang waktu."
***
Beberapa hari kemudian nampaknya suasana hati Riza terlihat tenang dan kembali ceria.
Ia juga sudah berbaur sengan orang-orang sekitar dan suasan di rumah Diki. Ia juga sudah menjadi salah satu bagian dari rumah tersebut.
Karena bertambahnya personil, tempat tidur mereka kembali di atur.
Leena yang tidur di kamar utama dengan Tiara, Erina yang tidur di kamar belakang dengan Riza, kemudian Diki dan Arzan yang masih tidur ditempat biasa yaitu ruang tamu tercinta.
"Nampaknya anakmu terlihat sangat ceria. Dan aura wajahnya terlihat sangat berbeda, dibanding saat pertama kali kita melihatnya," ucap Leena pada Erina sambil melihat Riza yang sedang bermain dengan Diki, Tiara dan Arzan.
"Benar, aku sangat terharu dibuatnya. Walaupun dia bukan akan kandungku."
"Tapi menurutku kau sudah pantas untuk menikah Erina. Apalagi kau sangat cocok dengan Sbastian," goda Leena pada Erina.
Karena Leena yang tiba-tiba menggoda Erina, membuat ia salah tingkah dan kedua pipinya memerah. Ia juga berkata bahwa ia sangat tidak mencintai Sbastian.
"Heeh~ kalau begitu sebaiknya aku saja yang menikah dengan Sbastian," ucap Leena kembali menggoda Erina.
Saat mendengar ucapan tersebut Erina langsung memelototi Leena.
.
To Be Continued
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI