
"Dan sampai saat ini hingga seterusnya aku akan terus membenci bocah itu!" Ucap Gilang yang terlihat kesal.
"Apa kau puas mendengar ceritaku?!" Tambahnya menatap Leena tajam.
"Tentu saja aku puas mendengarnya," ucap Leena sambil berdiri dari tempat duduknya.
Tiba-tiba dari jauh terlihat Reza yang menatap ke arah mereka berdua dengan wajah yang terlihat lega.
Tanpa pikir panjang Reza berlari ke arah mereka.
"Ya sudah lebih baik aku pergi dulu. Mendengar ceritamu membuatku sedikit simpati. Sunggu tragis sekali kisahmu ini," ucap Leena yang kemudian pergi sebelum Reza sampai.
Saat Reza benar-benar sampai, ia langsung meminta maaf pada Gilang dan menghiraukan Leena yang tadi terlihat bersama Gilang.
"Kamu kemana saja Gilang, aku mencarimu kemana-mana. Dan maafkan aku, aku tidak tahu siapa yang harus aku pilih karena kalian berdua sangat berharga bagiku."
"Hmmp, bodoh," ucap Gilang pada Reza.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita menikmati waktu kita yang tersisa. Sayangkan sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak menikmati semua permainannya," ajak Reza pada Gilang.
Kemudian mereka berdua pergi untuk kembali bermain di pusat perbelanjaan. Dan nampak terlihat wajah Gilang yang perlahan kembali ceria.
***
Di sisi lain, Erina duduk santai dengan Riza sambil menunggu kedatangan Leena yang pergi entah kemana. Sambil makan creepes mereka dengan santainya menatap senja yang perlahan menghilang.
"Kamu suka?" Tanya Erina pada Riza terkait makanan yang ia makan.
Kemudian Riza menganggukan kepalanya, yang menandakan bahwa ia menyukainya.
Tiba-tiba dari arah belakang Leena berbisik pada Erina.
"Sayang pulang yuk," bisik Leena pada Erina dengan suara yang menggoda.
Hal itu membuat Erina terkejut dan langsung menengok ke arah belakang.
"Leenaaaaa, kaget tahu!" Ucap Erina sedikit kesal.
"Bisa tidak sih munculnya biasa aja," perintah Leena yang masih terlihat kesal.
Leena tertawa melihat ekpresi Erina yang sedang marah. Memang saat marah Erina terlihat imut dan lucu menurut Leena tentunya.
Leena juga mengajak Erina dan Riza untuk pulang.
"Hei ganteng, kita pulang yu," ucap Erina mengajak Riza pulang.
Dan mereka bertiga pun pulang. Tidak lupa Erina dan Leena mengantar Riza pulang kerumahnya.
Namun, saat di tengah-tengah perjalanan, Riza meminta untuk menginap di tempat Erina dan Leena.
Tetapi, Erina menolak dengan lembut permintaan Riza. Bukan Erina tidak ingin Riza menginap, tapi ia takut orang tuanya akan khwatir saat Riza tidak berada di rumahnya.
Seketika Leena mendekati dan berbisik bahwa kedua orang tua Riza telah meninggal. Hal itu membuat Erina kembali mengeluarkan air matanya dan ia mendekati Riza kemudian memeluk tubuhnya.
Erina juga bertanya terkait Riza yang tiba-tiba ingin menginap ditempatnya.
"Aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan kakak dan Kak Gilang. Aku hanya ingin pergi menjauh dari mereka selamanya dan tinggal bersama kalian," jelas Riza menudukan kepalanya.
"Kenapa kau berkata begitu?, Kau tidak tahu betapa sayangnya kakakmu. Bagaimana jika kakakmu tidak menyetujuinya?" Tanya Erina sambil memegang kedua pundak Riza.
"Gampang, jangan sampai kakak tahu saja aku tinggal bersama kalian," ucapnya.
"Kau tahu, jika kau tidak ada kabar, kakakmu pasti akan khwatir. Kau jangan membuat kakakmu khwatir."
" Mana mungkin kakak khwatir."
"Bagaimana kalau main saja di tempat kakak?"
Erina mengajak Riza untuk pergi ke tempat lebih tepatnya rumah Diki.
Sesampainya di rumah, terlihat raut wajah Riza yang ceria. Tatapan matanya tidak bisa diam. Ia terus melirikan matanya keberbagai arah.
Erina mengangguk kepalanya dan berkata bahwa Riza boleh main dan berkunjung setiap hari. Namun, Erina berpesan pada Riza jika ingin bermain ke tempat ini, ia harus meminta izin pada kakaknya terlebih dahulu.
Hari semakin malam dan kini waktunya Erina dan Leena mengantar Riza pulang ke rumahnya.
***
Sesampainya di rumah paman Riza, terlihat bocah yang sedang duduk di teras rumah sendirian.
Ya itu adalah Reza. Bocah yang sedang duduk di teras rumah sambil memeluk kedua lututnya dengan tatapan. Yang terus menatao ke arah depan.
"Bukannya itu kakakmu?" Tanya Erina pada Riza yang kemudian Riza menganggukan kepalanya.
Melihat sang adik dari jauh, Reza sang kakak langsung berlari ke arah Riza.
"Kamu kemana saja Riza? Kakak khawtir kamu kenapa-kenapa," ucap Reza khawatir.
"Aku pergi ke rumah kak Erina," jelas Riza tersenyum.
Reza kemudian melihat ke arah Erina. Dirinya membungkukan badannya dan berterima kasih pada Erina karena telah mengantar adiknya pulang.
Setelah itu mereka berdua pergi ke rumah.
Tidak lupa Erina dan Leena pun pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Namun, saat akan melangkahkan kakinya, terdengar suara teriakan dari dalam rumah paman Riza. Suara tersebut juga terdengar tidak asing bagi Erina dan Leena.
Sontak, mereka langsung reflek pergi menuju rumah tersebut.
Karena tidak ingin gegabah, Erina dan Leena mengintip kejadian di dalam rumah dari jendela.
"Kau kemana saja, jam segini baru pulang?" Tanya Paman Riza sambil melayangkan pecutan ikat pinggang pada punggung Riza.
Melihat Riza yang sedang di siksa oleh pamannya membuat Erina dan Leena terkejut. Terutam Erina ia tidak menerima paman Riza melakukan hal tersebut. Amarah Erina memuncak yang kemudian Leena mendekati Erina untuk menenangkannya.
"Tenang Erina, kita lihat dulu maksud pamannya melakukan hal tersebut," ucap Leena menenangkan Erina sambil memeluknya dari belakang.
"Kau juga sebagai kakak, kenapa tidak menjaganya hah?" Tanya Paman pada Reza sambil memecut punggungnya.
"Kalian boleh bermain, kalian boleh pergi keluar kemana pun. Tapi ingat, jangan membuat paman khwatir, paman sayang kalian berdua. Paman tidak ingin kehilangan kalian berdua."
Paman tersebut kemudian menjatuhkan badannya, air mata pun perlahan keluar dari matanya.
"Syukurlah kita tidak langsung mengambil tindakan, ternyata paman mereka sangat baik dan sangat menyayangi mereka." Ucap Leena.
Erina juga terlihat lega melihatnya. Namun, ia masih belum bisa berbicara karena masih syok dengan kejadian barusan.
"Sebaiknya kita pulang Erina," ajak Leena.
Dan mereka berdua pun pulang ke tempat Diki.
"Syukurlah nampaknya Erina terlihat baik-baik saja. Ia juga terlihat lebih tenang. Dan seperti sedikit melupakan ketiga muridnya yang entah kemana," gumam Leena menatap Erina.
"Aaaaahhh, Diki, Tiara, Arzan apakah kalian baik-baik saja?" Ucap Erina yang kembali menangis.
Mendengar Erina kembali mengingat Diki, Tiara dan Arzan, membuat Leena merasa sia-sia membawa Erina pergi jalan-jalan.
"-_-!" Ekspresi Leena.
.
To Be Continued
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI