
Malam yang dingin terasa ramai oleh paduan suara hewan-hewan nokturnal seperti jangkrik, burung hantu, tonggeret, kelalawar dan teman-temannya. Di dalam rumah juga terlihat hanya Leena yang sedang duduk di ruang tamu sambil melamun.
Entah apa yang dirinya pikirkan, yang pasti ia terlihat cemas dengan sesuatu.
Saat melamun, tiba-tiba dari arah luar terdengar suara obrolan yang semakin terdengar jelas. Tanpa pikir panjang ia langsung berpura-pura ceria.
Pintu rumah pun terbuka, dan masuklah Tiara, Diki juga Arzan yang telah menyelesaikan misinya.
"Hiahahahahah, selamat malam kalian semua. Bagaimana misi kalian, berjalan dengan lancarkah?" Tanya Leena tertawa.
"Aku tidak menyangka misinya akan membuat kepalaku pusing," jelas Tiara yang langsung duduk di sofa.
Arzan yang pendiam juga langsung duduk di sofa, matanya hanya menatap Leena sekilas.
"Kak Leena siapa yang pasang tenda di depan halama rumah?" Tanya Diki bingung.
"Hiahahaha, itu te-Aaaaaaaakh!!"
Leena terkejut saat melihat Jenglot yang sedang duduk di punggung Diki sambil melambaikan tangan ke arahnya.
"Bukannya misi kalian membasmi Jenglot?" Tanya Leena heran.
"Banyak kejadian yang telah terjadi sehingga kami tidak bisa menjelaskannya secara singkat dan padat. Namun, ia akan tinggal di rumah ini sampai waktu yang ia tentukan sendiri," jelas Tiara.
"Mohon bimbingannya," ucap Jenglot tersenyum dan kembali melambaikan tangannya.
"Kau anak yang manis rupanya, Gadis kecil," tambah Jenglot tersebut yang tidak mengetahui bahwa Leena adalah wanita tua.
"Dia sudah tua btw," ucap Diki datar.
Jenglot terkejut, ia langsung melompat ke arah Leena lalu bertanya jenis apa Jin khodam dalam tubuh Leena.
"Apa Jin Khodamu juga Jenglot, sama sepertiku?" Tanya Jenglot.
Leena menjawab bahwa Jin Khodam dirinya bukan Jenglot. Tetapi ia menjawab Jerangkong yaitu salah satu Jin khodam Zodiak.
"Tapi kenapa kau terlihat muda?"
"Hiahahah, mungkin ini sudah takdir," ucap Leena gelisah karena merasa bersalah tidak bisa menjawab pertanyaan Jenglot. Ia juga tidak tahu kenapa ia bisa terlihat seperti anak kecil.
Lalu Tiara teringat seorang bocah yang dibawa Leena. Kemudian menanyakan kabar anak tersebut. Leena menjawab bahwa anak tersebut baik-baik saja.
"Hiahahaha, Ia hanya membutuhkan istirahat yang cukup dan perawatan rutin dari Steven. Aku yakin jika Ayu ada, proses penyembuhannya akan sangatlah cepat," jelas Leena tertawa.
"Maafkan aku jika pengobatanku tidak seahli kak Ayu, katanya."
Tiba-tiba Steven datang dan Jelangkung langsung mengatakan apa yang ada di dalam pikiran Steven.
"Hiahahahah, kau memang lamban dalam mengobati orang, namun jika tidak ada kau, pasti nyawa anak itu tidak akan selamat. Kau jangan pesimis begitu Steven," ucap Leena tertawa sambil berjalan dan merangkul Steven.
Yang tadinya wajah Steven terlihat murung, kini ia kembali ceria dan bersemangat.
"Dan kau Diki, sepertinya kau melupakan seseorang."
"Siapa yang maksud?" Tanya Diki bingung.
Namun, Leena menyuruh Diki untuk melupakan apa yang dirinya katakan barusan.
"Oh ia, kemana kak Erina?" Tiara kembali bertanya.
Namun, Leena tiba-tiba terdiam dengan tatapan serius.
"Kak Leena? Ada apaa?" Tanya Tiara. Ia cemas dengan Leena yang tiba-tiba terdiam. Karena ia tahu bahwa Leena tidak pernah melamun seperti yang dirinya lihat sekarang.
"Apa kau tahu, saat aku membawa bocah yang bernama Gilang itu, Erina membuntuti seseorang. Namun, hingga kini ia tidak pernah kembali. Dan radar posisi dirinya juga terhenti di satu titik."
Leena kemudian menunjukan radar Erina yang ia ambil di lokasi jatuhnya benda tersebut.
"Aku juga memasangnya di tubuh kalian. Benda ini sangatlah bermanfaat apalagi untuk menemukan keberadaan kalian," jelas Leena.
"Lalu, apa yang akan kakak lakukan sekarang?" Tanya Tiara.
Leena menjelaskan bahwa ia akan mencari Erina sampai ketemu. Tentu saja ia akan mencarinya di tempat ie menemukan radar milik Erina tersebut. Karena tempat itu adalah satu-satunya dirinya menemukam bukti milik Erina.
Di sisi lain, Arzan nampaknya tidak tertarik untuk membantu mencari Erina. Namun, Tiara dan Diki mendesak cowo dingin kulkas 10 pintu itu untuk ikut andil mencari Erina, yang pada akhirnya Arzan juga bersedia membantu mereka bertiga.
"Aku juga ikut, katanya," ucap Jelangkung mengatakan isi pikiran Steven.
Namun, Leena menolak keikutsertaan Steven. Hal itu membuat Steven murung dan merasa dirinya memang tidak berguna.
"Tidak begitu, kau harus fokus menyembuhkan Gilang. Bagaimana jika kau kelelahan dan energimu habis lalu tidak bisa menyembuhkannya."
Leena menyuruh Steven untuk tinggal di rumah, menjaga dan merawat Gilang.
"Manusia itu hebat dan berguna dibidangnya masing-masing. Kau jangan pesimis karena tidak bisa bertarung. Kau punya kelebihan lain yaitu mengobati orang sakit. Kau lihat kita, kita semua yang ada si sini tidak bisa melakukan pengobatan seperti kau. Makanya sekali lagi, jangan pesimis dan tetap semangat."
Leena memberi sebuah kata-kata motivasi untuk menyemangati Steven.
"Aku juga sebaiknya ikut."
Tiba-tiba Jenglot juga menawarkan diri untuk ikut mencari seseorang yang sedang mereka cari.
Namun, Leena memiliki rencana lain untuk Jenglot. Yaitu, mengawasi rumah dan menjaga Steven juga Gilang dari orang-orang yang mencurigakan.
Jenglot merasa terhormat dengan perintah Leena yang menjaga rumah. Ia kemudian berdiri tegap dan langsung memberikan hormat pada Leena.
"Wahai komandan, bawahanmu ini siap menerima titah darimu kapan saja dan dimana saja."
"Oke bagus-bagus. Sekarang lebih baik kalian beristirahat, apalagi kalian baru pulang dari misi. Dan untuk pencarian Erina kita lakukan besok sekitar pukul delapan pagi."
Leena memerintah penghuni rumah untuk istirahat.
***
Malam semakin larut, kini Leena terduduk di pagar rumah sambil menatap indahnya langit malam.
Ia mengingat-ingat kenangan bersama Erina yang membuat emosinya campur aduk.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Leena.
"Kau sedang apa? Bukannya kau harus tidur untuk mencari kawanmu yang katanya hilang itu?"
Jenglot, ikut duduk di pagar rumah bersebelahan dengan Leena. Ia juga bertanya mengenai Leena yang belum tidur.
"Kau pasti khwatir dengan temanmu yang hilang itu kan?" Tebak Jenglot.
"Aku tidak tahu perasaaamu saat ini karena aku tidak memiliki kenangan yang berkesan dengan seseorang. Hanya saja, aku ingin mengatakannya padamu pasti temanmu baik-baik saja," jelas Jenglot.
"Hiahahahah, rupanya kau cukup bijak. Maaf pada awalnya aku mengira kau adalah mahluk menjijikan yang tidak bisa diharapkan," ucap Leena tersenyum pada Jenglot.
"Sembarangan kau, tapi melihat senyumanmu barusan membuat aku kagum. Kau memiliki senyuman mansi ternyata."
"Terima kasih, Jenglot. Sekarang aku sedikit bersemangat," ucap Leena yang kemudian berdiri di atas pagar.
"Ya sudah aku tidur dulu ya."
Leena pergi meninggalkan Jenglot sendirian.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI