
"Aku mohon pada kalian untuk serius melakukan pelatihan ini," ucap Erina pada Diki dan Tiara.
Diki melepas anak ayam yang berada di tangannya. Kemudian ia dan Tiara kembali melakukan meditasi.
Mata yang terpejam, duduk sila dan kedua tangan berada di atas lutut itulah meditasi yang Diki dan Tiara lakukan.
Saat meditasi berlangsung, anak ayam datang kembali mendekati Diki, dan duduk dipangkuannya kemudian tertidur pulas.
"Bagaimana menurutmu Noni Belanda?" Tanya Erina pada Noni Belanda terkait latihan Diki, Tiara dan Arzan.
"Aku dibuat terkejut oleh lelaki pendiam itu. Aku kira yang akan duluan mengeluarkan aura elemen adalah gadis wanita si pertner jin Aquaris itu. Ternyata perkiraanku salah, hmp," jelas Noni Belanda kecewa.
"Benar, akupun berpikir begitu, secara keseluruhan wanita itu yang paling serius diantara mereka bertiga." Pungkas Erina.
***
30 menit pun berlalu, pikiran mereka berdua masih belum buyar dan mereka masih konsentrasi dalam meditasi. Akan tetapi, walaupun meditasi mereka sudah 30 menit lebih, masih belum terjadi apa-apa pada tubuh kedua anak muda tersebut.
"Sangat membosankan berdiam menatap mereka berdua melalukan meditasi," ucap Erina yang menguap.
***
4 jam pun berlalu, Diki dan Tiara masih melakukan meditasinya tanpa hasil yang jelas.
"Ah, sangat membosankan sekali," ucap Erina yang bosan melihat mereka berdua meditasi.
Namun, tiba-tiba tubuh Tiara mengeluarkan aura transparan. Lama kelamaan aura transparan tersebut berubah menjadi warna putih pekat.
Melihat aura Tiara yang berwarna putih pekat, Erina menyimpulkan bahwa elemen jin khodam utaman Tiara adalah angin.
Erina menghampiri Tiara dan menepuk pundaknya.
"Kau berhasil, Tiara. Elemen utama jin khodamu adalah angin," jelas Erina pada Tiara.
"Dan karena kau berhasil, kau boleh beristirahat meninggalkan pelatihan," tambah Erina.
Tiara pergi meninggalkan halaman belakang rumah.
Kini tinggal Diki seorang. Dirinya terlihat sangat fokus dalam bermeditasi, ampai-sampai gangguan kecil pun dirinya hiraukan.
Melihat Diki yang nampak serius, membuat Erina sedikit berbangga.
Namun, lama kelamaan Erina berfikir ada yang aneh dan janggal pada Diki. Dirinya kemudian menghampiri Diki dan mendekatkan telingnya ke arah Diki.
Dan benar saja, suara dengkuran keluar dari mulutnya. Sehinggal hal itu membuat Erina kesal dan langsung memukulnya.
"Siapa yang menyuruhmu tidur!" Ucap Erina kesal.
Diki terkejut karena mendapat pukulan dari Erina. Hal itu juga membuat anak ayam terbangung akibat gerakan Diki yang tiba-tiba.
Diki menatap ke kanan dan ke kiri. Dirinya kemudian bertanya kemana perginya Tiara yang tidak ada di sampingnya.
Erina kemudian menjawab bahwa Tiara sudah berhasil menyelesaikan pelatihan, dan yang tersisa tinggal Diki seorang.
"Oh tidak, aku juga harus cepat menyelesaikan pelatihan ini," ucap Diki yang tiba-tiba panik mendengar Tiara berhasil memunculkan aura elemen utamanya.
"Tolong beritahu aku lebih detail kak Erina," pinta Diki.
"Dalam meditasi ini, aku harap badan dan pikiranmu rileks, tenang dan fokus. Pikiran 4 elemen dasar yaitu api, air, udara dan tanah. Jika dari keempat elemen tersebut adalah udara elemen yang terus kau pikirkan, maka terus pikirkan elemen tersebut sampai benar-benar terlihat jelas dipikiranmu," jelas Erina.
Kemudian, Diki langsung melalukan pose meditasi dan fokus memikirkan ke empat elemen yang Erina ceritakan.
30 menit berlalu, masih belum ada perubahan pada Diki.
1 jam berlalu, tetap sama.
4 jam berlalu masih tetap tidak ada perubahan.
"Entahlah, yang pasti aku harus tetap sabar dalam mengajarnya. Sbastian juga sudah mempercayakan mereka padaku untuk menggati Leena melatih mereka."
Dan tidak lama kemudian, aura transparan keluar dari tubuh Diki. Sehingga hal tersebut membuat Erina senang bukan main.
"Anak itu juga sepertinya akan berhasil," ucap Noni Belanda.
"Kau benar, ah senangnya," ucap Erina.
Namun, 1 jam pun berlalu, aura trasnparan Diki masih belum mengganti warnanya.
"-_-!, Kenapa warnanya tidak berubah-berubah?!" Tanya Erina kecewa.
Karena warma aura Diki, terus transparan, membuat Erina yang ceria kembali cemberut.
Namun beberapa saat kemudian, aura transparan yang dipancarkan Diki berubah warna menjadi aura berwarna merah.
Hal itu membuat Erina senang bukan main, karena Diki berhasil memunculkan aura kekuatan utama jin khodamnya.
"Ah, aku sangat terharu. Entah kenapa aku seperti sedang membesarkan anak sendiri," ucap Erina sedih terharu.
Dirinya juga berlari mendekati Diki dan menepuk pundaknya.
"Kau berhasil, Diki," ucap Erina sambil menepuk pundaknya.
Diki langsung membuka matanya dan dirinya senang bukan main, sambil berlari menuju rumah.
***
"Anak itu sangat lama sekali," ucap Tiara duduk di sofa sambil ngemil dan nonton tv.
Begitupun dengan Arzan, dirinya juga sedang ngemil dan menonton tv sebelah Erina.
Namun, dari arah luar terdengar teriakan Diki yang semakin terdengar cukup jelas di telinga.
Benar saja, Diki datang dengan wajah yang gembira. Dirinya juga memberi tahu Arzan dan Tiara bahwa ia telah berhasil menyelesaikan pelatihan hari ini.
Sambil melompat girang dengan kedua tangannya yang ditaikan ke atas sambil membawa anak ayam.
"Ciak-ciak-ciak-ciak."
Disusul oleh Erina dirinya mengucapkan selamat kepada Diki, Tiara dan Arzan atas keberhasilannya dalam pelatihan.
Ia juga mengatakam bahwa pelatihan akan berlanjut ke tahap selanjutnya besok.
"Oh ia, kita akan melanjutkan pelatihan ke tahap selanjutnya. Aku yakin pelatihan besok akan lebih mudah dari pelatihan sekarang." Ucap Erina.
"Lokasi pelatihannya pun bukan di halaman belakang rumah lagi. Namun Sbastian sudah memberikan lokasi yang pas untuk latihan kita besok." Tambah Erina.
Setelah itu, Erina pergi ke dapur untuk mandi.
.
To Be Continued
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI