
3 bulan telah berlalu, kini keadaan Diki, Tiara dan Arzan terlihat baik-baik saja. Mereka bertiga juga telah menjalankan misi yang selalu Sbastian berikan melalui pesan di hp.
Kekuatan baru yang diperoleh Jin Khodam mereka masing-masing juga kini telah merka kuasai.
Erina juga telah memafkan kelakuan Sbastian pada ketiga anak didikannya. Ternyata selama ini Sbastian sangat peduli dan sangat memperhatikan ketiga anak remaja tersebut.
"Hiahahahahah, selamat pagi kalian semua," teriak Leena yang keluar dari kamarnya sambil mendorong pintu kamar dengan cukup keras.
Hal itu membuat Diki terbangun dari mimpi indahnya. Tak terkecuali Arzan ia juga terbangun walaupun hanya membuka kedua matanya saja yang kemudian kembali menutup matanya.
"BERISIK BOCAH TUA!!" Teriak Diki sambil melepar bantal ke arah Leena.
Dengan sigap Leena menghindari lemparan bantal Diki.
"Kakak, kenapa kau tega melakukan itu pada adikmu yang I-MUT ini," goda Leena pada Diki dengan suara yang lemah lembut.
"Briski kau! Hatiku tidak akan luluh dengan godaan seperti itu! Dasar bocah tua!"
"Ahh dasar kakak Diki, malu-malu kucing," ucap Leena tersenyum ceria sambil melompat ke punggung dan memukul-mukul punggung Diki.
"Hoooaaam."
Erina menguap sambil berjalan keluar kamar. Mata dikucek-kucek oleh kedua tangannya dengan keadaan yang masih mengantuk.
"Seperti biasa kalian sangat akur, Leena, Diki," ucap Erina yang langsung pergi ke kamar mandi.
"Hiahahaha, memang sebagai keluarga kita harus Rukun, benar kan, KA-KAK DI-KI," ucap Leena yang kembali menggoda Diki.
"Aaaah, pergi kau dari punggungku!" Perintah Diki kesal.
Setelah itu Leena menuruti perintah Diki dan ia langsung pergi menuju dapur.
"Sebaiknya aku juga pergi mandi. Tunggu aku Erina syayaaang, nanananananana~."
***
"Dan pada akhirnya aku juga ikut tinggal di rumah ini," ucap Erina sambil bercermin.
"Tapi sepertinya kau menikmati tinggal bersama mereka, Erina," ucap Noni Belanda yang tiba-tiba muncul.
"Benar juga sih, semenjak aku tinggal di sini, beban di kepala sedikit berkurang."
"Hiahahahha, itu karena di sana kau selalu memikirkan tentang Sbastian," ucap Leena yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa kau sependapat denganku, Noni Belanda?" Tanya Leena tersenyum sambil memeluk tubuh Erina dari belakang.
Noni Belanda setuju dengan apa yang dikatakan Leena. Ia juga sedikit tenang saat tinggal di rumah tersebut. Karena saat Erina tinggal di markas bersama Sbastian, setiap hari pasti selalu menangis karena Sbastian.
"Apa sih kalian berdua, so tahu banget tentangku. Aku tidak pernah memikirkan Sbatian, secuilpun."
"Hmmmm sangat mencurigakan," ucap Leena menatap Erina.
"Terserah kau saja! Lebih baik aku mandi," ucap Erina yang pergi ke bathtub untuk berendam dengan keadaan wajah yang memerah.
Diikut oleh Leena yang merendamkan dirinya di bathtub bersama Erina. Dan pada akhirnya mereka berdua mandi bersama.
***
Pada akhirnya Diki terbebas dari Leena. Walaupun dari wajahnya ia masih terlihat kesal dengan kelakuan Leena padanya.
Karena sudah terlanjur bangun dari tidurnya, Diki berencana untuk keluar rumah dan menghirup udara segar di pagi hari.
Namun, saat ia membuka pintu, terlihat seorang anak kecil tergeletak di teras rumahnya dalam keadaan memprihatinkan.
Pakaiannya kusut juga kotor, wajah dan badannya terlihat lebam bekas pukulan, dari pipinya juga terlihat air mata yang membekas.
Kemudian Diki langsung menghampiri bocah tersebut dan membawanya ke dalam rumah sambil berteriak.
"ARZAAAAAN, TIARAAAAAA, KAK ERINAAAA, KAK LEENAAAAAA."
Diki berteriak memanggil semua penghuni rumah. Dalam keadaan cemas dan khawtir, dirinya membaringkan bocah yang ia temukan di teras rumah.
Mendengar Diki yang berteriak, membuat Arzan membuka matanya dan menatap ke arah Diki. Melihat Diki sedang membaringkan bocah di kasur, membuat Arzan terbangun dan dirinya langsung membuat posisi duduk sambil menatap bocah pingsan tersebut.
"Ada apa kau berteriak?" Tanya Tiara sambil mengucek-ngucek matanya.
Tidak lama juga datanglah Erina dan Leena yang hanya memakai handuk di badannya.
Sambil bertanya pada Diki terkait teriakannya yang mengganggu.
Namun, saat kedua mata Erina dan Leena tertuju pada bocah yang terlihat pingsan di sofa, mereka berdua terkejut terutama Erina. Ia langsung menghampiri bocah tersebut dengan kedua matanya yang tiba-tiba mengeluarkan air mata.
"Kau kenapa Riza?" Tanya Erina menghampiri tubuh Riza yang pingsan.
"Kak Erina tahu dia siapa?" Tanya Diki penasaran.
"Kisah hidupnya sunggu membuat air mataku mengalir. Ingin rasanya aku ajak ia tinggal di sini. Namun, ia masih memiliki keluarga yang menyayanginya," ucap Erina sedih.
"Tidak ada gunanya menangis Erina, sebaiknya kita obati luka lebamnya terlebih dahulu," ucap Leena yang pergi masuk ke dalam kamarnya.
Namun, Leena kembali keluar kamar hingga membuat sekitar bingung. Ia kemudian mendekati Erina dan menyeretnya masuk ke dalam kamar.
"Sebaiknya kau ganti baju dulu. Aku malu melihatmu seperti ini."
Beberapa menit kemudian Erina dan Leena telah memakai pakaian. Tanpa pikir panjang Erina langsung menelpon Sbastian untuk menyuruh Ayu datang ke tempat tinggal Diki.
Sbastian mengatakan bahwa Ayu sedang sibuk, jadi ia tidak bisa datang. Namun, karena asisten Ayu sedang senggang, ia menyuruh asistennya tersebut untuk menggantikannya.
Beberapa menit kemudian asisten Ayu yaitu Steven datang.
"Se-se-se-se-se-se-se-se....." Ucap Steven gugup yang kata-katanya di potong oleh Leena karena kesal.
"Selamat pagi juga, sebaiknya kau langsung memeriksa dan mengobati anak ini saja," perintah Leena kesal.
Ia juga mendekati Steven dan langsung memepahnya.
Tanpa basa basi, Steven langsung menjulurkan kedua tangannya ke dada Riza. Kurang lebih 5 menit ia berhasil mendeteksi semua keluhan yang berada di dalam tubuh Riza.
"Bagaimana?" Tanya Erina terlihat cemas.
Steven kemudian menatap ke arah Erina. Ia tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arah Erina.
Melihat Steven memberikan jempol, membuat Erina dan orang sekitar kebingungan.
"Hah? Apa maksudnya? Bagaimana keadaan Riza?" Tanya Erina semakin panik.
"Keadaan bocah tersebut tidaklah parah. Ia hanya mengalami lebab di wajah dan dibagian tangan."
Suara misterius tiba-tiba muncul dan memberi tahu keadaan Riza. Ia juga memeberi tahu bahwa Steven tidak ahli dalam berbicara.
"Kau siapa?" Tanya Erina melihat ke arah Jin Khodam yang tiba-tiba muncul.
"Dilihat dari bentuk diriku saja pasti kau sudah tahu kan, aku adalah jelangkung, partner pria ini," jelas Jelangkung sang jin khodam Steven.
"Walaupun aku Jin Khodam, aku tidak bisa bertarung selayaknya kalian. Aku juga masih bersyukur masih ada manusia yang menerimaku, seperti Steven ini," tambahnya.
Tidak lama Riza terbangun dan langsung melirikan matanya keberbagai ruangan.
.
To Be Continued.
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI