
Kejadian itu berawal dari seorang bocah dengan usia sekitar 6 tahun yang terlihat ceria sedang berlari ke sana kemari.
Sambil memegang sebuah boneka kucal pemberian kakaknya, ia berlari mengelilingi sang kakak yang terduduk di lantai.
"Hahaha, hahaha, hahaha."
Anak kecil tersebut sangat gembira walaupun tidak ada satupun teman untuk bermain.
"Kau terlihat gembira, uhuk. Tetapi badanmu kucal. Apa kau sudah mandi Arzan? Uhuk." Tanya sang kakak melihat Arzan yang begitu kucal.
"Belum kak, air di bak mandikan sudah lama tidak berfungsi," jelasnya terdiam menatap sang kakak sambil memeluk boneka miliknya.
"Oh ia, uhuk. kakak lupa. Padahalkan sudah lama, uhuk. Sudah lama aliran air dan listrik rumah kita dipotong. Maafkan kakak ya, uhuk
Kakak tidak bisa membayar tagihan seperti listrik dan air," ucap sang kakak menutup mulut saat dirinya batuk.
Bocah tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dengan maksud bahwa dirinya tidak apa-apa walaupun rumah tanpa air dan listrik. Bocah tersebut juga kembali berlari mengitari rumahnya yang nampak kosong tersebut.
Seharian mereka berada di dalam rumah tanpa aktivitas lain. Termasuk mengisi perut dengan makanan dan minuman.
Hingga saat malam hari sang adik mengeluh pada kakaknya soal rasa sakit di perut karena lapar.
"Kak... Aku lapar," ucap Arzan sambil memegang perut keroncongnya.
'Grrrrrrr.'
Ternyata bukan hanya perut Arzan saja yang lapar. Sang kakak juga merasakan lamar sehingga bunyi di perutnya terdengar cukup jelas oleh mereka berdua. Dengan terdengarnya bunyi perut sang kakak, menandakan bahwa memang benar kakak beradik itu kelaparan.
"Kakak juga lapar?" Tanya Arzan terlihat murung.
"Hehehe." Sang kakak malah tertawa sambil menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal.
"Ya sudah, kakak akan keluar mencari makanan untuk kita makan malam ini. Kamu tetap tinggal di rumah dan jangan sampai keluar tanpa sepengetahuan kakak, oke."
Sang kakak memerintah adiknya untuk tetap di dalam rumah sampai kakaknya benar-benar pulang.
Ia kemudian pergi dari rumah untuk mencari makanan. Namun, sebelum sang kakak pergi, Arzan sempat meminta pada kakaknya untuk ikut mencari makanan.
Karena suhu udara di luar apalagi malam hari sangat dingin. Sang kakak melarang Arzan untuk ikut dengannya.
"Ingat, kakak keluar bukan untuk main-main, tapi mencari makan untuk kita. Jadi sebaiknya kau tetap di rumah."
Namun, Arzan semakin murung saat kakaknya melarang ia ikut.
"Bukannya kau adalah seorang pahlawan? Kalau kau memang seorang pahlawan seharusnya sanggup menjaga rumah sendirian," tambah sang kakak.
Ia kemudian pergi meninggalkan rumah.
Singkat cerita, Arzan yang diberi amanat oleh sang kakak untuk menjaga rumahnya, mondar-mandir ke berbagai ruangan sebagai tanda bahwa dirinya memang benar-benar sedang menjaga rumahnya.
"Nori, kita ditugaskan untuk menjaga rumah oleh kakak, jadi aku serahkan penjagaan pintu utama padamu."
Arzan kemudian meletakan Nori nama boneka miliknya di depan pintu rumah. Dan ia kembali berlari mengelilingi seluruh ruangan rumahnya dengan gaya bak superman sedang terbang di atas langit.
Namun, karena hari semakin malam dan rasa kantuk semakin menguasai pikirannya, ia tertidur di teras ruang tengah tanpa alas apapun.
Hari pun berganti. Sinar matahari terlihat melambaikan sinarnya pada Arzan yang tertidur di lantai. Seketika ia terbangun dengan mata yang tersipit-sipit karena silau oleh paparan sinar matahari.
'Grrrrrrr,'
Suara perut kembali terdengar. Ia langsung memegang perutnya dan berteriak ke sakitan.
"Akh, sakit. Kakak perutku sakit."
Arzan terus merengek sambil memegang perut dengan kedua tangannya. Ia berdiri dan mencari kakaknya keberbagai ruangan.
Namun, ia tidak menemukan sang kakak di ruangan manapun.
Dan tanpa pikir panjang, Arzan langsung membuka pintu tersebut.
"Kau baik-baik saja nak Arzan?" Tanya seorang wanita tua yang membawa sepiring makanan di tangannya.
Ia kemudian menyodorkan makanan pada Arzan bermaksud untuk memberikan makanan tersebut padanya
"Kau terlihat kurus nak, ini ibu bawakan sepiring makanan untuk kamu makan bersama kakakmu," ucap sang wanita tua merasa prihatin melihat tubuh Arzan.
Arzan pun mengambil makanan yang wanita tua itu tawarkan. Namun, tiba-tiba sang kakak datang tergesa-gesa dengan wajah yang terlihat kesal.
Benar saja, ia langsung melempar sepiring makanan yang telah diberikan wanita tua pada mereka.
Hal itu membuat wanita tua syok dan bertanya kenapa Ia membuang makanan yang hendak dirinya berikan.
"Kau jangan so baik dan so peduli pada kami!" Ucap sang kakak menatap tajam wanita tua sambil menunjuk ke arahnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, orang-orang yang sedang berjalan di depan rumah mereka terdiam dan menyaksikan keributan yang tarjadi di sana.
"Kami tahu kami miskin, tapi asal kau tahu, aku masih bisa memberi makan adiku! Ingat itu!"
"Kenapa denganmu?! Aku hanya kasihan pada kalian berdua yang kelaparan!"
Wanita tua tersebut terpancing emosinya oleh sang kakak.
"Hah kasiha?" Ucap sang kakak sambil tertawa sinis.
"Lalu kenapa kalian diam saat kedua orang tua kita difitnah?! Dan kalian warga desa malah memanas-manasi seolah-olah kedua orang tua kita memang salah!"
"Karena fintah tersebut, kedua orang tua kita frustasi, sangat frustasi hingga pada akhirnya kita menemukan mereka tergantung di ruang tengah rumah kita dalam keadaan tanpa nyawa!"
Kemudian ia pergi dan berkata bahwa dirinya tidak akan peduli lagi pada Arzan dan sang kakak.
"Aku tidak peduli dengan kebaikan kalian!"
Dalam keadaan marah dan kesal, sanga kakak langsung membubarkan kerumunan dan mengajak Arzan untuk segera masuk ke dalam rumah.
Pada awalnya wajah Arzan terlihat kecewa oleh sang kakak yang membuang makanan pemberian wanita tua barusan. Namun, sang kakak langsung memberi sepotong kue padanya sehingga Arzan kembali ceria dan langsung memakan sepotong kue pemberian kakaknya tersebut.
"Ingat Arzan, uhuk. Kau jangan sembarang membuka pintu rumah dan menerima apapun dari orang lain, apalagi makanan. Mungkin saja makanan itu mengandung racun. Kita tidak tahu hal itu."
Sang kakak menasehati Arzan supaya tidak sembarang menerima apapun dari orang lain.
"Uhuk, uhuk, uhuk."
Batuk sang kakak kembali kambuh. Ia merasakan sebuah cairah yang keluar dari dalam tubuhnya. Cairan tersebut ia tahan di dalam mulut, kemudian pergi ke kamar mandi untuk melepehkan cairan tersebut.
Ia sangat terkejut saat melihat cairan yang barusan dirinya muntahkan adalah sebuah darah yang begitu banyak.
.
To Be Continued
.
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI