Khodam

Khodam
Berkunjungnya Ivan dan Agnia



Tiga hari pun berlalu, penghuni rumah termasuk Erina kini berada di kamar Leena untuk melihat kondisinya.


Mereka semua khawatir pada Leena yang belum sadarkan diri selama tiga hari berturut-turut.


Tampak dari wajah semua penghuni rumah terlihat cemas, terkecuali Arzan yang selalu menampakan wajah datarnya.


"Apakah ia akan baik-baik saja?" Tanya Tiara yang mencemaskannya.


"Aku yakin dirinya akan baik-baik saja, walau aku bukan ahli medis seperti Ayu," ucap Erina yang meyakinkan Tiara supaya tidak mencemaskannya.


"Yang terpenting sekarang kita doakan saja, semoga Leena cepat sadarkan diri," tambah Erina.


"Oh ia, aku juga dapat kabar dari Sbastian bahwa aku harus menggantikan Leena melatih kalian."


Mereka terdiam bingung saat mendengar Erina yang akan melatihnya.


Begitupun dengan Erina, saat melihat ekspresi bingung mereka bertiga, wajah dirinya juga menjadi bingung.


"Apa kalian tidak tahu?" Tanya Erina yang dibalas oleh geleng-geleng kepala mereka bertiga.


"Aku sempat dengar dari Leena bahwa dirinya akan melatih kita, kau juga pasti ingat Diki," ucap Tiara.


Diki menggeleng-gelengkan kepalanya, dirinya juga berkata belum pernah mendengar bahwa Leena akan melatihnya.


"Sudah-sudah, pokoknya mulai besok kita akan mulai latihan. Dan berhubung halaman belakang rumah ini luas, kita akan berlatih di sana," ucap Erina.


Tiba-tiba terdengar suara motor dari arah luar rumah Diki. Sehingga Diki dan seluruh pwnghuni rumah pergi menuju sumber suara motor tersebut.


"Kyaaaa~, Pangeranku!!" Teriak Agnia girang saat melihat ke arah Arzan.


"Hei semuanya, aku mampir ke sini bawa martabak," ucap Ivan sambil memperlihatkan tentengan kresek berisi martabak ke atas.


"Apa sih kamu, ini martabaku, khusus untuk Arzan seorang!" Ucap Agnia sewot sambil mengambil martabak dari tangan Ivan begitu saja.


Berjalan menghampiri Arzan, Agnia pun memberikan kresek berisikan martabak.


"Tolong terima," ucap Agnia tersenyum lebar menatap ke arah Arzan sambil melentikan kedua matanya berkali-kali.


Arzan pun menerimanya begitu saja, dirinya juga langsung memasuki rumah sambil membawa kantung kresek berisikan martabak tersebut.


Agnia senang bukan main, karena martabak yang diberikannya khusus untuk Arzan diterima tanpa adanya penolakan.


"Ah apakah ini nyata?" Ucap Agnia girang yang kedua tangannya memegang dada.


Berjalan mendekati Diki, Ivan kemudian meminta maaf karena telah membawa mahluk yang paling Diki benci.


"Dia memaksa ingin ikut," ucap Ivan sambil menatap ke arah Agnia.


Karena Ivan dan Diki menatapnya, Agnia kesal dan langsung memberikan wajah sinisnya pada mereka berdua.


"Kenapa hah?, Gak seneng?!" Tanya Agnia sinis.


Tetapi Diki menghiraukan perkataan Agnia, dirinya kemudian mempersilahkam Ivan untuk masuk ke rumahnya.


"Eh tunggu, siapa lagi wanita itu," tanya Ivan menunjuk ke arah Erina yang di balas senyuman manis Erina.


Hal itu, membuat jantung Ivan berdegup cukup kencang.


"Oh, itu Kak Erina," ucap Diki.


"Hai," ucap Erina yang melambaikan tangannya pada Ivan sambil tersenyum.


Senyuman Erina kemudian dibalas oleh Ivan yang tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"Hei hei, apa dia sudah punya pacar?, Apa dia sudah menikah?" Bisik Ivan yang bertanya pada Diki.


"Aku tidak tahu, sebaiknya kau tanyakan saja langsung pada orangnya. Dan sebaiknya untuk saat ini mari kita masuk ke rumah," ucap Diki yang menggiring semua orang masuk ke dalam.


Namun, karena Agnia berada di paling belakang, Diki langsung menutup pintu rumah dan menguncinya, sehingga Agnia tidak sempat masuk dan terkunci di luar rumah.


"Hei aku juga ingin masuk, dasar onta!" Teriak Agnia yang kesal di kunci di luar rumah.


Tiba-tiba pintu rumah pun terbuka dan nongolah kepala Diki.


"Ops maaf, ku kira tidak ada orang lagi di luar rumah. Eh memang tidak ada orang lagi. Inikan peliharaan Ivan. Kasihan di tinggal di luar sendiri. Ayo masuk," ucap Diki yang meledek Agnia.


"Dasar kau ya, memang onta Arab!" Teriak Agnia kesal sambil masuk ke dalam rumah.


Saat di dalam ruangan, Agnia melirikan matanya ke berbagai arah, dirinya terus mencari Arzan dan ketemulah Arzan yang duduk di sofa bersebalahan dengan Tiara.


Ia pun langsung menghampiri Arzan dan menatap tajam ke arah Tiara sambil memelototinya.


"Hei kau cewe jelek, minggir aku mau duduk di situ, di sebelah Arzan!" Gumam Agnia yang tatapannya masih memelototi Tiara.


"Apa-apaan kau gendut, datang-datang langsung menyuruhku pindah tempat!" Gumam Tiara yang balik memelototi Agnia.


"Oh silakan, aku tidak akan takut padamu!" Gumam Tiara yang masih melotot ke arah Agnia.


"Oke!" Gumam Agnia masih memelototi Tiara dengan kepala yang sedikit digeleng-geleng.


"Eee, Arzan," ucap Agnia manja pada Arzan.


"Boleh aku duduk di sebelah sini," tanya Agnia yang menunjuk ke arah antara Tiara dan Arzan.


Arzan mengangguk. Melihat Arzan yang mengangguk membuat Agnia senang bukan main.


Setelah itu, Arzan berdiri dan mempersilahkan Agnia untuk duduk.


Agnia semakin senang dengan perilaku Arzan yang memperlakukannya bak putri raja.


"Terima kasih, Arzan," ucap Agnia senang.


Kemudian Arzan pergi dan menuju ke arah sofa yang masih kosong dengan wajah yang bahagia.


"Kenapa dia?" Tanya Ivan Melihat wajah Arzan.


"Aku pun tidak tahu. Tapi, entah kenapa dari raut wajanhya, dia berkata 'ah sungguh aku manusia paling peka di dunia. Sampai rela memberikan tempat dudukku pada Agnia supaya dia bisa duduk dengan Tiara. Sepertinya mereka teman dekat' begitulah," tebak Diki.


"Kau ngarang?" Tanya Ivan.


"Hehe."


Melihat Arzan yang menjauh membuat Agnia kecewa dan memelas. Dirinya juga melihat ke sekeliling.


"Martabak dari siapa?" Tanya Agnia pada Tiara yang sedang memakan martabak.


"Noh baca," ucap Tiara yang menunjukan ke arah kertas di atas martabak dengan mata kanannya.


Agnia langsung mengambil kertas tersebut dan membacanya.


___________________________________


Ivan dan Agnia sangat baik  memberikan kita martabak.


Dan Agnia menyuruhku untuk menghidangkannya.


Silakan ambil.


^^^Arzan (☞゚∀゚)☞^^^


___________________________________


"T_T."


Agnia sedih dan sedikit kecewa, karena rencananya untuk mendekati Arzan tidak berhasil sama sekali.


"Ngomong-ngomong, rumah ini makin ramai ya, aku jadi semakin iri pada mereka, haha," ucap Ivan tertawa sambil sesekali menatap ke arah Erina.


"Hei Ki, kau punya nomornya kan?" Bisik Ivan pada Diki.


"Tidak, kau normal kah?, Dia lebih tua darimu Van," bisik Diki.


"Yang disebut tidak normal itu aku suka padamu, itu baru tidak normal. Kalo aku masih suka cewe yang normal," Gumam Ivan.


Dan mereka semua pun berkumpul dan mengobrol sampai Ivan dan Agnia pamit untuk pulang.


"Aku pulang dulu Arzan, lain kali aku kesini, biar kamu aja yang ada di rumah," ucap Agina.


"Aku pulang dulu ya Ki."


Ivan dan Agnia pun pulang.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI