
Agnia yang tiba-tiba mendapat ide langsung mengatakannya pada Ivan.
"Bagaimana kalau kita menguntit saja di dekat rumahnya?"
"Maksudnya?" Tanya Ivan bingung.
"Ini loh, kita berkemah dekat rumah mereka, mungkin saja mereka keluar pagi buta atau malam, Kita tidak tahu. Dan anggap saja ini sebagai pikni atau liburan," jelas Agnia.
Ivan pun menyetujui rencana Agnia. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung pergi untuk menyiapkan apa saja yang harus disiapkan untuk berkemah.
Singkat cerita mereka telah sampai dan telah beres mempersiapkan segalanya. Yang menjadi kendala adalah bagaimana mereka tidur jika tenda yang dibawa hanya satu buah. Yang lebih parahnya lagi tenda tersebut sangat kecil sehingga hanya muat untuk dua orang saja.
"Kenapa kau membawa tenda yang kecil?" Tanya Agnia sedikit kesal.
"Mau bagaimana lagi, hanya ini tenda yang aku punya."
"Ya sudah, kalau begitu kau tidur diluar!" Jelas Agnia.
"Kenapa kau yang mengatur? Ini kan tenda miliku jadi aku berhak tidur di dalam tenda dong! Lagian kita ini saudara, ya tidak apa-apa dong tidur bersama dalam satu tenda," jelas Ivan.
"Tidak apa-apa pala bapakau! Aku takut kau akan kehilangan kendali. Dan aku tidak mau memiliki keturunan darimu!"
"Kenapa pikiranmu selalu saja jauh dari perkiraanku?"
Tiba-tiba wajah Ivan mendekati wajah Agnia. Sehingga hal itu kembali membuat Agnia salah tingkah.
"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Agnia tebata-bata.
Wajahnya juga tidak berpaling sedikit pun. Walaupun ucapannya tidak mau Ivan menodainya, tapi ia ingin sekali merasakan apa itu silaturahmi mulut dan bagaimana rasanya.
Namun, sekitar kurang lebih 5 centimeter, Ivan kembali memalingkan pandangannya.
"BODOH! DASAR MESUM!"
Agnia menampar pipi Ivan. Hal itu membuat Ivan bingung.
"Hah? Kenapa kau menamparku?" Tanya Ivan bingung.
Namun, Agnia segara memalingkan pandangannya dari Ivan. Ia sangat malu karena kejadian barusan. Apalagi pipinya sampai memerah.
"Kau sangat bodoh! Aku sangat membencimu!"
"Hah? Siapa yang menampar, siapa yang benci. Aku bingung dengan isi pikiran wanita satu ini."
"Sudah lupakan saja!"
Agnia terlihat murung dan gidak yang mau keluar dari dalam tenda. Ia juga tidak mau menatap wajah keponakannya tersebut.
Waktu terus berputar dan hari perlahan mulai gelap. Kini Ivan terlihat sedang menghangatkan dirinya di depan api unggun kecil buatannya sambil meminum secangkir kopi.
Terlihat Agnia yang masih berbaring di dalam tenda sambil membelakangi tubuh Ivan.
"Makan dulu Agnia,"perintah Ivan pada Agnia.
Namun Agnia tidak merespon ucap Ivan. Ia terus memikirkan kejadian Ivan yang selalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya.
Karena tidak mau terus memikirkan kejadian tersebut, ia memalingkan pikirannya pada Arzan supaya melupakan tingkah Ivan yang membuatnya baper.
Terbuay dan terlena dengan pikiran yang terus memikirkan Arzan hingga hal jorok, membuat Agnia tidak sadar hingga dirinya akan melakukan sesuatu diluar nalar.
Namun, karena Ivan menyadari gerak-gerik Agnia, ia langsung berpura-pura batuk.
Mendengar Ivan batuk, ia langsung tersadar dan menatap wajah Ivan dengan tajam.
"Apa kau melihatnya?!" Tanya Agnia sedikit was-was.
"Ia, aku melihatnya," ucap Ivan santai.
"DASAR MESUM!" Agnia tebang dari rebahannya dan kembali menampar Ivan.
"Kenapa kau menamparku?!" Tanya Ivan kesal sambil mengelus pipinya yang kesakitan.
"Kau ya selalu saja berpura-pura bodoh! Bukannya tadi kau melihat area terlarang tubuhku?!" Jelas Agnia kesal.
"Mana ada, aku hanya melihat gerak-gerik gerikmu yang menjijikan!"
Ivan membela diri bahwa ia tidak melihat seseuatu yang dimaksud Agnia.
Tiba-tiba, pintu rumah Diki terdengar seperti terbuka. Mereka berdua kemudian langsung mengintip siapa orang yang telah membuka pintu tersebut.
Seseorang yeng membuka pintu rumah Diki tersebut tidak dikenal oleh Agnia maupun Ivan.
Lelaki itu kemudian pergi dengan tubuh yang membungkuk dan terlihat malu-malu.
"Siapa lagi dia? Banyak sekali orang baru yang tinggal di rumahnya," ucap Ivan yang terlihat kesal.
"Aku tidak kesal. Hanya saja, kenapa Diki tidak menceritakan ada orang itu di rumahnya."
"Hiahahahahah, berkemah di tempat ini bukanlah hal yang direkomendasikan."
Agnia dan Ivan membalikan wajahnya ke arah tenda. Mereka melihat gadis mungil yang sedang tiduran di dalam tenda sambil ngemil makanan yang telah tersedia.
"Leena?"
Ivan terkejut saat melihat Leena yang tiba-tiba berbaring di dalam tenda.
"Yo," jawabnya sambil melambaikan tangannnya.
Ia kemudian berdiri dan langsung mendekati Ivan juga Agnia.
"Apa yang sedang kalian rencanakan hingga berkemah di tempat ini?" Tanya Leena santai.
"A-aku hanya ingin mencari suasana baru untuk berkemah. Haha benarkan Agnia?"
Ivan memgeles supaya rencana menguntitnya tidak diketahui Leena.
"I-i-ia," jawab Agnia gugup sambil menundukan wajahnya.
"Heeh~ benarkah? Kenapa kau terlihat cemas begitu," ucap Leena mengelua dagu Agnia.
"Hiahahahahah. Jujur saja denganku. Aku juga tidak akan marah pada kalian."
Ivan kemudian menjawab jujur, ia mengatakan bahwa ia tidak pernah bertemu dengan sahabatnya lagi.
Ia juga menambahkan bahwa maksud berkemah di tempat tersebut adalah karena ingin melihat Diki jam berapa dirinya mulai beraktivitas.
Leena langsung to the point menyebutkan bahwa Diki sedang tidak ada di rumah. Ia juga tidak akan pulang dalam beberapa hari kedepan.
"Apa Arzan juga tidak akan pulang beberapa hari kedepan?" Tanya Agnia penasaran.
Leena mengangguk sambil tersenyum ke arah Agnia.
Agnia dan Ivan terlihat murung saat mendengar bahwa Diki dan Arzan tidak akan pulang dalam waktu dekat.
"Kemana mereka pergi?" Tanya Agnia kembali.
Namun, Leena menjawab bahwa dirinya tidak mengetahui kepergian mereka.
"Apa kalian tidak diberi tahu Diki?" Tanya Leena pada Ivan.
Ivan mejawab bahwa dalam satu bulan ini mereka sudah tidak saling memberi kabar.
Ivan takut bahwa pesannya akan membuat Diki risih. Jadi saat Ivan mengetik lesan untuk sahabatnya itu, ia selalu kembali menghapus pesan yang telah ia ketika.
"Apakah benar kalian berdua sahabat?" Tanya Leena.
"Ia."
"Apakah artinya sahabat bagi dirimu? "
"Oh ia, sekedar info saja. Mungkin Diki tidak menganggapmu sahabat," jelas Leena.
Ia juga pergi meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam rumah.
Ivan terkejut saat mendengar kata-kata Leena barusan. Memang benar Diki tidak pernah mengatakan bahwa ia menyebut dirinya sebagai sahabat Ivan.
"Kau baik-baik saja Ivan?" Tanya Agnia khawatir.
"Aku baik-baik saja."
Ivan pergi meninggalkan tempat tersebut dengan keadaan lesu.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau pulang!"
.
To Be Continued
.
.
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.
.
DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI