Khodam

Khodam
Membasmi Jenglot - Akhir



Tiara menatap ke berbagai arah ruangan. Ia tidak menemukan Sutejat dan pak Sujandi di sudut manapun.


"Kemana perginya mereka berdua?" Tanya Tiara.


"Aku rasa mereka keluar," jelas Diki.


"Panggil mereka sekarang juga Diki! Aku ingin membuktikan bahwa mereka berdua membela orang ini yang benar-benar salah atau aku yang memang benar."


Diki kemudian keluar rumah untuk memanggil Sutejat dan pak Sujandi.


Setelah beberapa saat, mereka masuk kemudian Tiara langsung menanyakan siapa yang akan dipilih antara Madam L dan dirinya.


"Tentu saja aku memilih mama," ucap Sutejat yang langsung memeluk ibunya sambil menangis.


Hal itu membuat Tiara terkejut dengan pilihan Sutejat.


"Ahaha ini tidak mungkin. Oh tenang saja. Bagaimana denganmu pak Sujandi, kau pasti memilihku?"


Terlihat raut wajah Tiara yang cemas karena Sutejat memilih ibunya. Ia juga sedikit pesimis dengan pilihan yang akan pak Sujandi pilih.


"Gimana ya neng, neng tuh baik. Cuman, saya juga pasti milih mertua saya. Karena ia adalah bagian dari keluarga saya neng."


Mendengar jawaban dari mulut pak Sujandi, membuat Tiara kembali syok. Ingin rasanya marah namun ia tidak bisa karena membuat pilihan adalah rencananya.


"Haha, sudah terbuktikan, bahwa mereka memilihku. Sebaiknya kalian semua pergi dari rumahku! Pergi dari desa ini dan jangan pernah kembali!"


Madam L mengusir Tiara dan kawan-kawannya.


"Ta-tapi, untuk perbuatan mama, aku tidak menyetujuinya dan pasti menolak keras-keras. Apalagi perbuatan mama membuat istri dan anaku menderita," ucap Sujandi yang terbata-bata saat mengucapkannya.


"Itu benar mama, aku juga tidak membenarkan perbuatan mama!" Ucap Sutejat sambil menangis.


Mendengar hal tersebut, rasa kecewa dan syok Tiara hilang. Kini ia terlihat percaya diri sambil menatap tajam Madam L dengan gaya kacak pinggangnya.


"Hahaha, sudah aku bilang mereka pasti tidak membenarkan perbuatanmu. Sekarang juga lepas kontrak dengan Jenglot atau nyawamu yang jadi taruhannya?"


Tiara kembali mengancam Madam L, ia tidak segan-segan untuk membunuh Madam L jika ia terus keras kepala yang tidak ingin melepas kontrak dengan Jenglot.


Sang anak yaitu Sutejat yang mendengar percakapan tersebut, mendesak ibunya itu mengikuti apa yang diperintahkan Tiara.


"Mama, kenapa mama melakukan semua ini?" Tanya Sutejat menangis.


"Mama hanya kesal dengan mantan suami mama yaitu papamu. Ia mengatakan bahwa kulit mama terlihat kendor. Hal itu juga yang membuat ia menceraikan mama,"  jelas Madam L.


"Mama juga sangat kesepian setelah ia meninggalkan mama. Walaupun mama masih merasa sakit hati, di sisi lain mama masih mencintai papamu," tambahnya.


"Mama, aku tahu mama sangat sakit hati. Tapi mama hentika perbuatan mama yang meresahkan seluruh warga desa. Apa mama tidak menganggap aku sebagai anakmu? Apa mama tidak merasakan kehangatan dari kehadiranku selama ini, walaupun tidak ada papa?"


Sutejat menyuruh ibunya untuk menghentikan perbuatannya. Di sisi lain Sutejat memang benar-benar merasa sedih saat mamanya tidak menganggap dirinya orang spesial dihidupnya.


"Bukan begitu nak, memang benar mama tidak peduli padamu selama ini. Mama hanya ingin membalas dendam pada papamu itu. Bahwa mama tidak terlihat kendor walaupun di usia mama yang sudah tua renta ini."


"Hal ini terus mama lakukan dan menjadi kebiasaan karena memang hasilnya yang memuaskan dan kulit mama terlihat kencang, awet muda seperti usia 18 tahun."


"Mama terlena dengan semua itu sehingga mama tidak peduli lagi padamu dan warga desa ini. Maafkan mama."


"Aku memaafkanmu mama. Dan aku menerima mama apa adanya, walaupun kulit mama kendor sekalipun. Jadi aku mohon, lakukan apa yang mereka perintahkan pada mama."


Sutejat meminta mamanya untuk melepas kontrak dengan Jenglot, sesuai apa yang diperintahkan oleh Tiara.


Lalu, Madam L menuruti kata-kata anaknya tersebut walaupun hatinya terasa berat. Dirinya kemudian meminta Diki supaya melepas ikatan di tubuhnya.


Setelah Diki melepas ikatan tersebut, Madam L membuat suatu ritual untuk melepaskan kontrak dengan Jenglot.


Kurang lebih 4 menit ritual ia lakukan dan kontrak dengan Jenglot benar-benar telah lepas.


Dan saat bola putih atau orbs terakhir keluar, ia terlihat menjadi nenek tua dan orbs tersebut masuk kedalam tubuh Sutejat.


Kini raut wajah Sutejat yang selalu menangis berubah kembali normal.


Ia juga kembali memeluk tubuh ibunya yang terkapar lemah di lantai karena energinya terkuras saat melakukan ritual.


Tubuhnya melemah juga gara-gara banyaknya orbs yang keluar dari tubuh Madam L.


"Mama."


Sutejat meneteskan air mata. Ia sedih campur haru karena ibunya mau menjalani kehidupan normal. Sambil memangku Madam L, tetesan air mata kini berubah menjadi air terjun Niagara.


"Sepertinya ekspresi wajah warga kembali normal," ucap Tiara yang tersenyum lebar karena telah berhasil menyelesaikan misinya.


"Rumah ini akan digeledah oleh pihak kami terutama kamar Madam L. Dan aku tidak tahu hukuman seperti apa yang Madam L akan terima," jelas Tiara.


Beberapa saat kemudian, pihak yang disebutkan oleh Tiara pun datang. Mereka adalah anggota pembasmi kejahatan yang menyebabkan kekacauan dan di sisi lain organisasi tersebut juga memiliki misi melindungi orang-orang yang memiliki Jin Khodam Zodiak.


Pria jas hitam pun datang. Tidak lain dan tidak bukan adalah Sbastian.


Sebelum mendekati Tiara, Jenglot sang mantan Jin Khidam Madam L dibuat takut oleh Sbastian.


Ia meminta Diki agar Pergi menjauhi pria berjas hitam tersebut.


"Ada apa dengamu?" Tanya Diki heran sambil berjalan pergi meninggalkan lokasi.


"Aku takut berhadapan dengan pria itu," Jelasnya.


Setelah Diki dan Jenglot pergi, Sbastian datang menghampiri Tiara dna Arzan.


"Kemana Diki?" Tanya Sbastian.


"Aku tidak tahu, seperti ia pergi keluar," jelas Tiara yang tidak mengetahui kepergian Diki.


"Ya sudah. Pertama-tama aku ucapkan selamat atas kerja keras kalian. Yang kedua, terima kasih telah menyelesaikan misi ini. Dan yang ketiga, ini bayaran kalian karena telah menyelesaikan misi ini."


Sbastian memberikan tiga lembar uang merah pada Tiara.


Ia juga pergi menghampiri Madam L dan langsung mengusap seluru wajahnya.


"Kau telah mengambil jalan yang salah Madam L. Dan sebagai hukumannya indera keenammu aku hapus dan kau tidak akan pernah bisa lagi memiliki khodam."


"Oh ia sebagai hukuman lain, aku menyita semua barang-barang mistismu," tambah Sbastian.


Dan misi membasmi Jenglot dinyatakan selesai. Kini Tiara dan Arzan pamit untuk pergi. Dan sisanya mereka serahkan pada Sbastian juga kawan-kawannya.


.


To Be Continued


.


.


.


JANGAN LUPA DUKUNG TERUS NOVEL "KHODAM" DENGAN CARA LIKE, SHARE VOTE DAN JADIKAN NOVEL FAVORIT. JANGAN LUPA JUGA TINGGALKAN JEJAK DENGAN CARA BERKOMENTAR DI KOLOM KOMENTAR.


.


DUKUNGAN KALIAN ADALAH SEMANGAT BAGI KAMI